
Kenny membuka pintu kamarnya sore itu, dia baru sampai rumah bersama Icha, setelah macet yang mereka alami di jalan.
Felly nampak masih membaringkan tubuhnya membelakangi Kenny.
Perlahan Kenny mendekati tubuh istrinya itu. Di belainya rambutnya dengan penuh sayang. Felly tetap tak bergeming.
"Sayang, kau masih marah?" tanya Kenny.
Felly hanya diam tanpa memberikan jawaban apapun.
"Maafkan aku sayang, waktu itu, aku terpaksa mengantar Bu Ana karena aku tidak tega melihat dia jalan kaki, sementara aku naik mobil melewatinya, aku sudah menyarankan dia untuk mengambil sepeda motor dengan gaji yang di naikan!" ucap Kenny.
"Soal kejadian aku terjatuh dengan Bu Ana, itu karena pintu TU terkunci saat aku hendak menanyakan laporan keuangan, sepertinya itu ulah orang yang tidak menyukai aku!" lanjut Kenny.
"Aku di fitnah sayang, percayalah padaku, aku mencintaimu di atas segalanya!" ucap Kenny sambil mengguncang lembut bahu istrinya itu.
Perlahan Felly membalikan tubuhnya, matanya terlihat sembab, menandakan dia terlalu banyak menangis.
"Benarkah apa yang kau katakan itu ken?" tanya Felly.
"Coba kau tatap mataku, adakah aku menyembunyikan sesuatu padamu? Apa kau tidak mempercayaiku?" ucap Kenny sambil menatap dalam wajah Felly.
Sesaat lamanya mereka saling bertatapan.
"Aku percaya padamu Ken....kau laki-laki yang baik, tidak mungkin akan berbuat serendah itu!" ucap Felly.
"Lalu, mengapa kau menangis?" tanya Kenny.
"Aku hanya takut Ken, aku takut akan kehilanganmu, akan kehilangan cintamu!" jawab Felly, air matanya kembali tumpah membasahi pipinya.
Kenny langsung memeluk erat Felly.
"Jangan takut sayang, kau tidak mungkin kehilangan aku, aku adalah milikmu, aku suamimu sayang!" bisik Kenny
"Tapi Ken ... " Felly menghentikan ucapannya.
"Sudahlah sayang, kau hanya cukup percaya padaku, maka aku akan bahagia, untuk urusan rumor itu, aku akan cepat-cepat untuk membereskannya, sebentar lagi juga akan terungkap siapa pelakunya!" ujar Kenny.
"Maaf kan aku ya Ken, Kenny pasti sedih, dari pagi aku bersikap seperti ini padamu!" ucap Felly sambil mengusap wajah Kenny.
"Tidak apa-apa sayang, aku maklum, bawaan bayi!" bisik Kenny.
"Ah Kenny, kau selalu saja begitu!" sahut Felly.
"Kok cuma di belai saja wajahku sayang, di cium dong!" ujar Kenny.
"Kenny mau berapa ciuman hari ini? Aku akan memberikan sebanyak yang Kenny mau!" jawab Felly.
"Tapi aku belum mandi!" sergah Kenny.
"Tidak apa, Kenny ku selalu wangi walaupun belum mandi!" ujar Felly
__ADS_1
"Kalau begitu aku minta sepuluh ciuman!" kata Kenny.
"Oke, siapa takut!" tantang Felly.
Kemudian Felly segera duduk dari posisi berbaringnya.
Kemudian dengan lembut Felly menciumi seluruh wajah Kenny dengan penuh perasaan.
"Kenny, I Love you ..." bisik Felly sambil terus menciumi Kenny.
Kenny memejamkan matanya menikmati setiap ciuman dan sentuhan Felly.
"Kenny ku yang manis dan tampan, aku sangat mencintaimu!" bisik Felly sekali lagi.
"Sayang, kalau kau seperti itu terus, lama-lama aku tidak kuat menahan hasratku, apa kau melihat kalau aku sudah begini tegang?" ucap Kenny sambil menggigit bibirnya menahan gejolak rasa.
"Biarin! siapa suruh minta di cium!" sahut Felly.
"Felly ah! Tidak tahan aku!" seru Kenny sambil terus memeluk pinggang Felly.
Tok ... Tok ... Tok
Suara ketukan pintu kamar Kenny menghentikan aktifitas mereka.
Felly langsung beranjak dari tidurnya dan melangkah menuju pintu kamar lalu membuka pintunya.
"Mbak Nur? Ada apa?" tanya Felly.
"Bu, di gerbang luar banyak orang berkerumun menanyakan Mister!" kata Mbak Nur.
"Tidak tau Mister, tapi yang sempat aku dengar sih katanya mereka wartawan!" sahut Mbak Nur.
"Hah? Wartawan??!" seru Kenny dan Felly hampir bersamaan.
Dengan cepat Kenny langsung keluar dari kamarnya.
"Sayang, kau di kamar saja!" seru Kenny.
"Tidak Ken! Aku mau ikut!" bantah Felly.
Kenny tidak menjawab bantahan Felly, dia terus berjalan menuruni tangga.
Pak Banu nampak masih ada di dalam kamarnya.
Kenny menoleh ke arah Mbak Nur yang berjalan di belakangnya sambil menuntun Felly.
"Mbak, tolong jangan beritahu ini Pada Ayah, aku takut dia akan shock!" pinta Kenny.
"Iya Mister!" sahut Mbak Nur.
"Kalau Ayah tanya, bilang saja ada orang berantem di luar, usahakan Ayah jangan sampai melihat!" ujar Kenny.
__ADS_1
"Iya Mister, nanti saya juga akan bilang sama Mbok Sumi!" jawab Mbak Nur.
Kenny kembali melangkah menuju ke gerbang depan.
Nampak kerumunan orang sedang berdiri di depan pintu gerbang rumah Kenny.
Kenny segera keluar dari gerbang rumahnya.
Melihat Kenny muncul, kerumunan orang itu langsung mendatangi Kenny.
Mereka terlihat antusias, ada yang membawa ponsel, ada yang membawa kamera, bahkan alat untuk merekam.
"Selamat sore Mister Kenny! Apa tanggapan Mister terkait dengan video yang kini viral di media sosial?" tanya seorang yang di ketahui ternyata adalah seorang wartawan.
"Video itu tidak sesuai dengan cerita yang sebenarnya, jadi saya tidak mau berkomentar!" jawab Kenny.
"Lalu, mengapa dalam video itu Anda sedang berdua dengan seorang staff di sekolah anda? Apakah kalian sedang menjalin hubungan?" tanya wartawan yang lain.
Kenny pusing mendengar banyak sekali pertanyaan yang mewawancarainya.
"Kalian pulang!! Jangan Suka membesarkan sesuatu yang belum di ketahui kebenarannya, saya tidak akan menjawab kalian! Permisi!!" Kenny segera masuk dan menutup gerbang.
Wajah para wartawan itu nampak kecewa. Mereka malah menyeruak masuk ke halaman rumah Kenny, Kenny semakin panik.
Tiba-tiba Felly muncul dari arah dalam rumah.
"Biar saya yang menjelaskan!!" seru Felly, para wartawan itu sudah mulai agak tenang.
"Suami saya tidak seperti apa yang di tuduhkan! Saya istrinya sepenuhnya percaya padanya, niat dia hanya menolong, namun ada oknum yang memanfaatkan situasi ini, aku harap kalian mengerti semuanya!" ujar Felly dengan sangat lugas dan jelas.
"Apakah Nyonya tidak cemburu melihat video suami anda yang kini viral?" tanya salah seorang wartawan
"Tidak! Karena saya percaya suami saya melebihi apapun! Dengan hormat saya minta kalian semua bubar dari rumah kami, karena kalian sudah mengganggu ketenangan kami!" tegas Felly.
Akhirnya satu persatu wartawan itu pergi meninggalkan rumah Kenny.
Kenny menarik nafas lega.
"Trimakasih sayang!" ucap Kenny.
"Iya Ken, mudah-mudahan mereka tidak datang lagi.
Pak Banu nampak keluar dari kamarnya
"Sepertinya tadi aku mendengar suara keributan?" tanya Pak Banu.
"Oh, itu ayah, tadi ada orang yang berkelahi di depan rumah kita!" sahut Kenny.
"Masa berkelahi suaranya seperti tanding bola!" gumam Pak Banu.
"Sudahlah Ayah, Ayah enjoy saja tidak usah banyak pikiran!" cetus Kenny.
__ADS_1
Pak Banu segera duduk di depan TV dan mulai menyalakan TV nya.
****