Papi Untuk Mami

Papi Untuk Mami
Masih Dalam Pencarian


__ADS_3

Kenny dan Felly menuju ke sekolah Icha yang lama, SD Rajawali. Mereka berharap akan menemukan Icha di sana.


Cuaca yang tadinya panas terik berubah menjadi mendung, sinar matahari yang tadinya menyilaukan kini tertutup oleh awan gelap.


Perlahan gerimis pun mulai turun membasahi bumi, Kenny segera menepikan motornya di pinggir jalan, mereka akhirnya berteduh di sebuah kedai kopi, banyak orang-orang yang berteduh di sana.


"Wajahmu basah Fell!" Ucap Kenny Sambil merogoh sapu tangan di saku celananya, kemudian mulai mengusap wajah Felly.


Ada getaran yang aneh di dada mereka masing-masing.


"Trima kasih Ken," ucap Felly.


"Kamu mau minum minuman hangat? Aku akan memesankannya untukmu!" Tawar Kenny.


"Tidak Ken, aku hanya ingin secepatnya menemukan Icha, aku khawatir sekali, Icha, di mana dia?" Gumam Felly. Wajahnya menyiratkan rasa khawatir.


Perlahan Kenny menggenggam tangan Felly, ada perasaan hangat yang mengalir di sekujur tubuh Felly, tangan itu begitu hangat, juga memberikan rasa nyaman dan aman.


Felly sekilas melirik ke arah Kenny yang rambut dan wajahnya juga basah karena gerimis, sinar matanya menyimpan keteduhan dan kedamaian.


Aura ketampanannya juga terlihat makin bersinar saat wajahnya yang begitu dekat terlihat oleh Felly, kulitnya yang mulus di tambah sebuah lesung pipi yang tercetak dengan sempurna saat Kenny tersenyum, menambah manisnya wajah itu.


Tanpa sadar Felly mengeratkan tangannya, Kenny menoleh karena merasakan ada tangan yang bergerak.


"Ken," panggil Felly.


"Ya?"


"Berapa usiamu sekarang?" tanya Felly.


"Kenapa tiba-tiba kau menanyakan umurku?" Kenny menatap Felly dengan heran.


"Tidak, aku hanya merasa kau lebih muda dariku, kenapa kau tidak mencari yang sepadan denganmu Ken?" tanya Felly.


"Sepadan? Aku hanya merasa cocok denganmu, bahkan aku tidak melihat usia, kau pikir itu hal yang penting?" Felly menunduk mendengar pertanyaan Kenny.


"Apa kamu akan siap memiliki anak yang sudah sebesar Icha?" tanya Felly.


"Siap!" Sahut Kenny singkat.


"Kenny, aku tidak tau lagi harus berkata apa padamu ... !" Felly menghentikan perkataannya.


"Tidak perlu mengatakan apapun, cukup katakan kau mencintai aku, maka aku akan bahagia!" ucap Kenny.


"Aku mencintaimu Ken ... " Lirih Felly.

__ADS_1


"Apa? Katakan sekali lagi!" Pinta Kenny.


"Aku mencintaimu Ken!"


"Katakan lebih keras Fell, Aku sangat ingin mendengarnya lagi!" Ujar Kenny.


"Aku mencintaimu Kenny Wijaya!!!" Seru Felly. Semua mata memandang kearah mereka.


"Aku lebih lagi mencintaimu Fell, Trima Kasih!" Ucap Kenny lembut.


Hujan yang tadinya gerimis kini turun semakin deras, Felly merapatkan tubuhnya dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Kenny. Ada perasaan nyaman di sana.


"Berapa usiamu Ken?" tanya Felly sekali lagi.


"Aku berumur 27 tahun 4 bulan lagi!" Jawab Kenny.


"Apa kau tidak ingin tau berapa usiaku?" Tanya Felly lagi.


"Tidak, aku tidak perduli berapa usiamu!" Sahut Kenny.


"Usiaku sudah kepala 3 Ken, waktu itu aku berulang tahun yang ke 30, saat aku mengajakmu makan di rumahku!" Ujar Kenny.


"Ya, tidak masalah, walau kau lebih dewasa dariku, tetap cintaku yang lebih besar darimu!" Ucap Kenny.


"Trimakasih Ken, sudah memberikan hatimu untukku, juga Icha," ucap Felly sambil terus merebahkan kepalanya di dada Kenny.


****


"Kita neduh disini dulu dek, hujannya deres banget, Abang tidak bawa jas hujan!" Kata Satria sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya.


"Maaf ya Bang Sat, gara-gara antar aku cari Mister, warungnya jadi tutup deh, Bang Sat jadi tidak dapat uang hari ini!" Kata Icha.


"Tidak apa-apa dek, uang kan bisa datang lagi besok, tapi kalau persahabatan susah di cari lho!" Sahut Satria.


"Persahabatan??"


"Iya, Adek mau kan jadi sahabat Abang?" tanya Satria.


"Diih, bang Sat kan sudah besar, pantasnya jadi kakak aku lah, masa sahabat sih!" Sahut Icha.


"Eh Dek, persahabatan itu tidak mengenal usia, kalau hubungan kakak adik kan sudah biasa, cuma sahabat yang bisa mengalami susah senang sama-sama!" Jelas Satria yang nampak dewasa dari usianya.


"Iya deh Bang, tapi kita kapan cari Mister nih? Kita sudah lama di sini tau, aku bosan!" Sungut Icha.


"Sabar sebentar lagi dek, tuh hujannya juga sudah mau berhenti, setelah ini kita kemana?" tanya Satria.

__ADS_1


"Kita ke sekolah lamaku saja ya bang, ke SD Rajawali, dia itu ada di Jakarta pusat, jauh tidak ya dari sini ... "


Satria mengeluarkan ponselnya, dia menjelajah sesuatu.


"Betul Dek, SD Rajawali memang ada di Jakarta Pusat, dari sini sekitar 20 menitan kalau tidak macet!" Ujar Satria.


Tak lama kemudian hujan sudah mulai reda, Satria menuntun Icha kembali naik ke motornya, Icha mulai memakai helmnya.


"Nanti di sana kamu akan ketemu siapa?" tanya Satria saat motor sudah melaju di jalan raya itu.


"Di dekat sekolah itu, ada rumah ibu guruku dulu, Bu Ira, dia tinggal di samping sekolah, aku mau ketemu dia saja!" Jawab Icha.


"Baiklah, yang penting kamu sudah tau tujuanmu, setelah kamu ketemu ibu gurumu, apa yang mau kamu lakukan lagi dek? Kan belum ketemu Mister?" tanya Satria lagi.


"Aku mau minta Bu Ira antarkan aku kerumah Mister!" Sahut Icha.


"Memangnya Bu Ira tau?"


"Tau lah, kan Ayahnya Mister itu yang punya sekolah itu, namanya Pak Banu, dia calon kakek aku lho!" Jelas Icha.


"Ooo, pintar juga kamu dek, Abang doain deh semoga kamu bisa ketemu mereka, dan hidup bahagia!" Kata Satria.


"Aku juga akan doain Bang Sat supaya bahagia dan jadi orang sukses, apalagi bang Sat itu baik orangnya!" tambah Icha.


"Trimakasih Dek, semoga setelah ini kita masih bisa ketemu lagi!" Ucap Satria.


Mereka akhirnya sampai di lokasi SD Rajawali, Setelah Satria memarkirkan motornya, Icha turun sambil mengamati kondisi sekolahnya yang saat itu sedang sepi.


"Yah, sepi, masih liburan juga!" Gumam Icha.


"Sabar Dek, katanya kamu mau kerumah gurumu!" Kata Satria mengingatkan.


"Iya ya, aku lupa bang! Ayo deh kita langsung cuss kerumah Bu Ira!"


Mereka kemudian berjalan kaki pergi kesamping sekolah, kesebuah komplek kavling, Icha langsung menuju kesebuah rumah yang lumayan besar, yang ada tepat di samping sekolah itu.


Perlahan Icha mengetuk pintu pagar rumah itu, tak sampai menunggu lama, seorang wanita muda keluar dari dalam rumah itu.


"Icha!!" Pekik wanita itu yang tak lain adalah Bu Ira, mantan wali kelas Icha dulu.


"Bu Ira!" Icha langsung menghambur ke pelukan Bu Ira.


"Ayo masuk Cha! Ceritakan pada ibu apa yang terjadi padamu? Ibu melihat gambarmu banyak di media sosial ...!" Kata Bu Ira sambil menggandeng Icha masuk ke dalam rumahnya.


Bersambung ....

__ADS_1


****


__ADS_2