Papi Untuk Mami

Papi Untuk Mami
Masih Ada Harapan


__ADS_3

Kenny melajukan motornya cepat menuju kesebuah cafe yang terletak tidak jauh dari tempat Icha.


Sore itu dia ada janji dengan Dini. Dini adalah kekasih Kenny, rekan sesama guru di sekolah internasional tempat Kenny mengajar.


Mereka menjalin hubungan sudah hampir setahun.


"Maaf menunggu lama!" ujar Kenny sambil mengatur nafasnya, kemudian dia segera duduk di hadapan Dini yang nampak cemberut.


"Aku menunggumu hampir satu jam tau! Untung saja kulitku tidak berjamur ...!" sungut Dini.


"Sorry, aku lupa bilang kalau hari ini aku mulai mengajar privat!" kata Kenny.


"Oh, pantas saja, kamu dapat murid dari sekolah mana? Cantik tidak?" tanya Dini.


"Pertanyaan yang malas ku jawab..."


"Kenapa?"


"Muridku seorang anak SD kelas 1, bahkan aku tak tau dia cantik atau tidak, kelakuannya membuat aku frustasi!" sungut Kenny. Dini tertawa.


"Sejak kapan kamu mulai frustasi dengan anak SD? Ada-ada saja, biasanya kamu menolak murid SMP, ini malah murid SD kamu terima juga, Hmm ... bukan seperti Kenny yang kukenal!" Gumam Dini.


"Ini semua gara-gara ayahku! Dia akan menyuruhku berhenti kalau kebiasaan lamaku hilang ..."


"Kebiasaan yang mana Ken?"


"Nongkrong di klub malam dan bersenang-senang hehe ..." ujar Kenny sambil menggaruk kepalanya.


Dini tersenyum kecut, tapi setidaknya dia lebih tenang, murid privat Kenny hanya seorang anak SD, biasanya kalau Kenny mengajar anak SMA selalu membuatnya ketar-ketir, pasalnya Kenny sering mendapat godaan dari sang murid yang sering terpesona oleh ketampanan Kenny.


Untungnya Kenny bukan tipe laki-laki mata keranjang.


Hubungan Kenny dengan Dini sebenarnya hanya karena sebuah status, agar Kenny bisa membendung para kaum hawa diluar sana yang mengejarnya.


Namun sepertinya Dini sudah benar-benar jatuh cinta pada Kenny, dan berharap hubungan mereka lebih dari pada sebuah status.


Drrt drrt drrt ...


Suara ponsel Kenny bergetar, buru-buru Kenny merogoh saku celananya.


Ada nomor yang tidak di kenal yang meneleponnya, lalu dia langsung mengusap layar ponselnya itu.


"Halo ...!"


"Halo Mister, saya Maminya Icha, mau minta maaf, tadi kata Mbak Nur, Icha bersikap tidak sopan ya sama Mister, mohon di maafkan ya Mister, Icha sudah saya marahi tadi ...!" Ungkap Felly, Maminya Icha.

__ADS_1


"Oh, iya, tidak apa-apa Bu, saya maklum ..."


"Jadi Icha bagaimana Mister? Apa masih ada harapan untuk Icha?"


Entah mengapa ada yang tersentuh di sudut hati Kenny, mendengar suara wanita yang mempunyai harapan akan putrinya yang kelakuannya teramat sangat menjengkelkan.


"Harapan akan selalu ada Bu, tenang saja, hari Rabu nanti kita akan coba lagi!" Ucap Kenny.


"Terima kasih Mister, terima kasih!"


Kemudian ponsel di matikan, Kenny menarik nafas panjang.


"Bodoh! Bodoh!" Sungut Kenny merutuki dirinya sendiri.


"Ada apa sih? Tadi siapa yang meneleponmu?" Tanya Dini.


"Kenapa aku memberinya harapan? Seharusnya kubilang saja kalau anaknya sangat bermasalah dan tidak ada harapan, jadi aku bisa terbebas darinya, ah ... Aku akan bertemu dengan setan kecil itu lagi!"


"Sudahlah Ken, kamu jalani saja dulu, mana tau tuh anak berubah nanti ..."


"Huh...dia tidak mungkin berubah, kelakuannya persis seperti zombi!"


"Zombi?"


"Iya, zombi yang suka melompat dan menemplok seenak jidatnya sendiri!" Cetus Kenny.


****


Malam itu, Felly melongok ke kamar Icha, gadis kecil itu sudah tidur dengan memeluk boneka hello Kitty kesayangannya.


Felly menyelimuti tubuh mungil itu, di kecupnya dengan lembut Kening Icha yang nampak pulas tertidur.


Tanpa sadar, air matanya menetes saat dia teringat kejadian sekitar 7 tahun lalu, saat dalam keadaan hamil besar, Felly terpaksa di tinggal mati suaminya yang sangat dicintainya, Diego, Papinya Icha.


Diego meninggal dalam kecelakaan saat dia terburu-buru mengendarai mobilnya kerumah sakit karena Felly akan melahirkan.


Dia sempat kritis beberapa jam lamanya, namun karena kondisinya yang sangat parah, akhirnya Diego meninggal.


Kehilangan suami saat baru melahirkan adalah suatu pukulan yang besar buat Felly, bahkan Diego belum sempat melihat wajah putrinya, Icha.


Hal itu membuat Felly begitu depresi dalam beberapa bulan, padahal saat itu Icha sangat membutuhkan kasih sayang, akhirnya Icha hanya di rawat oleh seorang asisten rumah tangga, sampai Felly kembali bangun dalam keterpurukannya.


Felly membangun usaha toko roti adalah untuk menyibukkan diri, sehingga dia bisa melupakan kenangan pahit yang menimpanya di masa lampau.


Tak disangka usahanya berbuah manis, toko roti di komplek ini adalah toko roti pertama yang paling besar dan paling laris, lama-lama Felly kerepotan mengelolanya, dan mulai mengambil beberapa anak buah untuk membantunya.

__ADS_1


Icha tumbuh tanpa hadirnya sosok ayah, membuat Icha selalu mencari perhatian orang sekitar, sejak kecil Icha di kenal sebagai anak yang super aktif.


Bahkan seringkali membuat kesal orang di sekitarnya karena kelakuannya yang diatas rata-rata normal.


Waktu Icha TK, dia pernah menyemprot wajah guru dengan air, menimpuk kepala temannya dengan batu sampai berdarah, hanya karena hal sepele.


Bahkan saat TK, Icha sudah tiga kali pindah sekolah.


Icha pernah di tolak di beberapa sekolah SD karena sikapnya yang buruk, namun di sekolah yang sekarang ini Icha di terima dengan baik setelah bertemu dengan Pak Banu Wijaya, sang pemilik sekolahan, yang di kenal sangat Arif dan bijaksana.


Padahal Icha adalah anak yang cerdas, terbukti dari hasil tes IQ, Icha di atas rata-rata.


Namun anehnya, Icha selalu mendapat nilai terjelek disekolahnya.


Ada beberapa guru yang memang sentimen dengan Icha karena tingkah lakunya yang kurang elok, dan seringkali membuat kerusuhan.


Tetapi walau bagaimana, Icha adalah anak Felly, dan Felly sangat menyayangi Icha, berusaha membahagiakan Icha, walaupun tanpa memiliki ayah.


Felly menutup perlahan pintu kamar Icha, kemudian dia beranjak ke kamarnya.


Sebelum ke kamar, Felly melihat Mbak Nur, asisten rumah tangganya yang sudah bekerja dengannya sejak dirinya Baru menikah, sedang membereskan meja makan.


"Mbak Nur belum tidur? Ini sudah malam lho!" tanya Felly sambil mendekati Mbak Nur yang nampak sibuk.


"Ini Bu, mengelap meja sebentar, sepertinya ada noda bekas coklat di meja, nanti banyak semut Bu!" jawab Mbak Nur.


"Hmm, pasti ulah Icha lagi!" Gumam Felly.


"Iya sih Bu, tadi dia makan roti yang buat Mister."


"Apa?! Keterlaluan anak itu!"


"Yah Bu, mau gimana lagi, tapi kelihatannya Mister yang ini beda Bu, dia tidak marah sama sekali lho, tidak seperti guru-guru yang sebelumnya ..." jelas Mbak Nur.


"Beda gimana sih Mbak, ini kan baru awal, bahkan dia belum mendapat bayarannya, aku belum sempat tansfer dia, karena kesibukan mentraining buat roti ..." Keluh Felly.


"Ya mudah-mudahan Mister yang ini bisa betah ya Bu, aku seneng liatnya lho!"


"Memangnya kenapa Mbak?"


"Itu Bu, dia ganteng banget hehehe..."


"Ah, kamu mbak, ada-ada saja, sudah cepat tidur sana ...!" ujar Felly yang kemudian langsung beranjak masuk ke kamarnya.


Bersambung ....

__ADS_1


****


__ADS_2