
Setelah makan malam, acara api unggun pun akan segera di mulai, Icha nampak merajuk dengan Felly, karena Kenny yang harus mengantar Dini turun mencari Dokter.
"Mami Mister mana? Kok lama banget!?" Tanya Icha. Sudah beberapa kali Icha menanyakan keberadaan Kenny.
"Mister kan sedang mengantar temannya yang sedang sakit Cha!" Sahut Felly.
"Lama banget! Aku kan mau sama Mister!" Sungut Icha. Felly hanya membelai rambut Icha sambil menarik nafas panjang.
Sementara Kenny yang sedang mengantar Dini terus melajukan mobilnya menuruni jalanan, saat itu cuaca puncak begitu Dingin. Dini yang duduk di samping Kenny nampak menggigil kedinginan.
"Sabarlah Din, bertahanlah, sebentar lagi kita sampai di jalan besar!" Ujar Kenny sambil berusaha melepas jaketnya dan menyelimuti Dini.
Tak lama mereka pun sudah sampai di jalan raya, Kemudian Kenny mulai mencari klinik.
Sebuah Klinik yang cukup besar sudah di temukan, letaknya tepat di pinggir jalan raya.
Kenny langsung memapah Dini untuk menuju ke ruang praktek Dokter, kebetulan suasana sedang sepi karena hari sudah melewati magrib.
Seorang Dokter memeriksa Dini, tak lama kemudian Dokter itu kembali duduk di kursi kerjanya.
"Bagaimana kondisi teman saya Dok?" tanya Kenny.
"Sepertinya teman anda ini mengalami gejala tipes, nanti akan saya berikan resep obatnya!" Kata Dokter.
"Baik Dokter, tapi dia tidak perlu di rawat kan?!" tanya Kenny lagi.
"Harusnya sih di rawat, karena kondisinya yang sangat lemah, tapi di coba minum obat yang saya anjurkan dulu, kalau kondisi tidak membaik, silahkan datang lagi ke sini!" Jelas Dokter.
"Baik Dokter, trima kasih!" Ucap Kenny yang langsung memapah Dini keluar dari ruangan Dokter dan duduk di lobby menunggu obat.
"Ken ... !" Panggil Dini.
"Iya Din, ada apa?" tanya Kenny.
"Kenapa kamu begitu baik padaku? Kenapa kamu selalu membuatku susah move on darimu? Kenapa?" Dini balik bertanya sambil mengusap air matanya yang mulai menetes.
"Din, kamu pikirkan saja kesehatanmu, jangan pikirkan yang lain!" Sahut Kenny.
"Kenapa harus kamu yang mengantarku? Kenapa bukan yang lain?" Dini menatap wajah Kenny.
"Kamu mau tau jawabannya apa? Mister Rio tidak bisa mengendarai mobil, Pak Chandra harus memimpin acara, sedangkan guru dan staf yang lain perempuan, yang laki-laki harus membantu acara malam ini dan mereka juga tidak bisa menyetir ... Jadi hanya aku yang bisa untuk mengantarmu ke Dokter, kau paham?" Jelas Kenny. Dini menganggukkan kepalanya.
"Ya, aku paham ... hanya karena sebuah tugas dan perintah, bukan karena kau perhatian denganku!" Ucap Dini dengan pandangan sendu.
__ADS_1
"Sudahlah Din, kamu juga adalah teman masa kecilku, aku bertanggung jawab atas dirimu, Om Brata sudah menitipkanmu padaku...!" Jawab Kenny.
Tak lama nama Dini sudah di panggil untuk mengambil obat, setelah itu kembali Kenny memapah Dini menuju ke mobil, mereka akan kembali ke villa.
Ternyata jalan menuju ke atas puncak terjadi kemacetan yang cukup parah, mungkin karena hari libur banyak orang yang menuju ke atas puncak.
"Ah sial! Kenapa harus macet sih!!" Sungut Kenny sambil memukul kemudi yang ada di depannya.
Dalam hati Dini cukup senang, akan lebih lama dia bisa bersama Kenny. Senyuman kecil tersungging dari bibirnya.
"Ken, aku mau meminum obatnya, supaya kepalaku tidak pusing lagi!" Ujar Dini.
"Tapi bukankah kamu belum makan Din? Bagaimana sambil menunggu macet kita menepi dulu, supaya kamu bisa makan setelah itu minum obat!" Tawar Kenny. Dini Menganggukan kepalanya.
Kemudian Kenny segera menepikan mobilnya dan mampir ke sebuah restoran kecil yang kebetulan ada di dekat situ. Mereka pun masuk ke dalam restoran itu dan mulai memesan makanan.
Sambil makan Kenny segera merogoh ponselnya namun tidak ketemu, ternyata ponsel Kenny ketinggalan.
"Huh, ponsel pakai tertinggal di kamar lagi!" Sungut Kenny.
"Kamu mau menelepon siapa Ken? Pakai ponselku saja ... !" tawar Dini.
"Tidak Usah!" Cetus Kenny.
****
Sementara di Villa, acara api unggun sudah di mulai, acara begitu meriah karena banyak kegiatan, namun Icha terlihat cemberut sambil duduk di pinggir kolam, acara malam ini adalah bakar-bakar ikan sambil bernyanyi karaoke.
"Icha, makan dulu yuk!" Ajak Felly.
"Tidak mau! Aku mau tunggu Mister!" Tolak Icha.
"Icha! Untuk apa kau menunggu Mister? Kita tidak tau dia kapan kembali!" Sergah Felly.
"Ya Mami telepon dong! Tanya Mister kapan balik ke sini!" Sahut Icha.
"Ya...ya...Mami telepon Mister, tapi janji Icha makan ya!" Kemudian Felly segera memencet nomor ponsel Kenny, namun beberapa kali mencoba, ponselnya tidak diangkat-angkat.
Ada wajah kecewa di wajah Felly. Biasanya Kenny paling cepat mengangkat telepon.
"Sudahlah Cha, kita jangan terlalu berharap banyak sama Mister, bukan cuma kita yang menyayanginya!" Ucap Felly sambil terduduk.
"Tapi Mami, kan Mister yang ajak kita kesini! Masa Mister malah tinggalin kita!" Gerutu Icha. Felly mulai kehabisan akal menghadapi Icha.
__ADS_1
"Terserah deh Icha mau makan atau tidak, Mami pusing mau tidur!!" Sentak Felly yang kemudian langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya.
Sementara para guru yang lain sedang menikmati acara malam itu.
Sementara itu Kenny dan Dini masih terjebak macet, Kenny nampak gelisah, karena macet yang begitu panjang, menurut informasi, telah terjadi kecelakaan di ujung jalan menuju ke puncak, karena akses yang sulit, kecelakaan belum bisa di evakuasi, mau tidak mau semua pengguna jalan harus macet tanpa bergerak.
"Din, aku boleh pinjam ponselmu?" Tanya Kenny. Otaknya terus memikirkan Icha dan Felly. Sementara waktu sudah menunjukan jam sepuluh malam.
Dini langsung merogoh tasnya dan mengeluarkan ponselnya.
"Ya Ampun Ken, ponselku lowbath, bahkan sekarang sudah mati total!" Seru Dini.
Kenny menjambak rambutnya frustasi, kemudian di memukul kemudi dengan kesal.
"Sial! Kenapa harus terjebak macet begini? Mau sampai kapan kita sampai ke Villa??" Ujarnya putus asa.
"Maafkan aku Ken, kalau kamu tidak mengantarku ... pasti tidak akan seperti ini!" Ucap Dini menyesal.
"Sudahlah Din, aku juga tidak menyalahkanmu, bagaimana kondisimu sekarang? Masih pusing kah?" Tanya Kenny. Dini menggelengkan kepalanya.
"Setelah tadi minum obat, kepalaku sudah enakan Ken, aku jadi merasa sembuh!" Jawab Dini.
"Syukurlah, ini sudah malam Din, kalau kamu mau tiduran kau pindah saja di jok belakang, supaya kakimu bisa lurus ... !" tawar Kenny.
"Tidak Ken, aku di sini saja, kamu pasti akan sangat bosan tidak ada teman ngobrol, aku akan menemanimu!" Sahut Dini.
Sementara di Villa, acara api unggun sudah selesai, beberapa guru sudah kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat bersama keluarga. Sementara Pak Chandra masih terlibat pembicaraan.
"Pak Chandra, Ponselnya Mister Kenny tertinggal di kamar! Pantas saja dari tadi tidak bisa di hubungi!" Kata Rio.
"Ponsel Miss Dini juga tidak aktif di hubungi, sebenarnya mereka berdua kemana sih? Mencari Dokter atau mencari harta Karun? Lama sekali!!" Dengus Pak Chandra kesal.
Tiba-tiba Icha datang menghampiri pak Chandra dan menarik tangannya.
"Pak kepala sekolah, antarkan aku mencari Mister Kenny! Ayo pak! Dari tadi aku menunggunya!" Kata Icha.
Pak Chandra menunduk sambil membelai rambut Icha.
"Ini Icha murid kesayangan Mister Kenny ya? Bapak juga sedang menunggu Mister Kenny, kita sama dong, sama-sama menunggu, Icha mau menunggu sama Bapak di sini?" tanya Pak Chandra. Icha dengan antusias Menganggukan kepalanya.
Bersambung ....
****
__ADS_1