Papi Untuk Mami

Papi Untuk Mami
Duri Dalam Daging


__ADS_3

Felly menatap tajam ke arah pria yang ada di hadapannya.


"Roy?!! Dari mana kau tau dimana aku tinggal??" tanya Felly setengah berteriak.


"Kurang ajar kau Felly! Kau sama sekali tidak menghargai keluargaku, bahkan kau menikah tanpa bilang pada ibuku! Walau bagaimana, dia itu mantan mertuamu! Neneknya Icha!!" sentak Roy dengan mata yang merah menahan amarah.


"Aku sendiri tidak pernah di terima di keluargamu! Untuk apa aku. bilang-bilang?! Lebih baik kau pergi dari sini, sebelum suamiku datang menghajar mu!" cetus Felly.


"Oke, ini belum selesai, aku belum puas kalau belum mendapatkan mu! Juga sertifikat rumah atas nama Diego!" ujar Roy.


Felly terperangah mendengar perkataan Roy, rupanya selama ini modusnya bukan saja untuk mendapatkan Felly, tapi mengincar rumah warisan dari Diego, mantan suami Felly.


"Ternyata kau pecundang! Hanya harta sedikit saja kalian ributkan! Dasar tidak tau malu! Sekarang kau pergilah! Sebelum aku berteriak dan semua orang menghajar mu!" ancam Felly.


Roy mulai menyalakan motornya, kemudian memakai helmnya.


"Aku jamin hidupmu tidak akan tenang Felly! Aku beritahu satu hal padamu, saat ini ibuku sedang sakit, Neneknya Icha! Kalau sampai terjadi apa-apa padanya, seumur hidup aku tak akan maafkan mu! Cam Kan itu!!" sentak Roy sebelum dia melajukan motornya dan pergi meninggalkan rumah itu.


Felly bersandar lemas pada gerbang rumah itu, sampai Kenny datang mendapatinya.


"Apa yang terjadi padamu sayang? Kenapa wajahmu begitu pucat?" tanya Kenny.


"Tadi Roy datang kemari Ken, dia marah karena saat kita menikah aku tidak mengundang keluarga mantan suamiku!" kata Felly.


"Untuk apa mengundang keluarga yang selalu menyudutkanmu? Bukankah kau bilang mereka selalu menyalahkanmu atas meninggalnya suamimu?" tanya Kenny.


"Ya, mereka memang dendam dan menyalahkan aku, karena suamiku dulu adalah tulang punggung keluarga yang berhasil dan menopang seluruh keluarganya dengan hartanya, namun setelah kematiannya, harta benda peninggalan Diego mulai habis karena di gunakan oleh Roy untuk berfoya-fota, sekarang dia malah mengincar rumah satu-satunya peninggalan Diego untukku dan Icha!" jelas Felly.


"Sudahlah sayang, lain kali kalau ada dia, segera memanggilku, yuk kita masuk kedalam, aku sudah menyiapkan nasi goreng spesial!" Kenny langsung menuntun Felly masuk ke dalam rumahnya.


Mereka berjalan menuju meja makan, dengan penuh kasih sayang, Kenny menyuapi Felly makan sesuap demi sesuap.


"Sudah kenyang Ken!" sergah Felly saat Kenny akan menyiapkan nasi gorengnya lagi, sementara di piring masih ada setengah yang tersisa.


"Lho, kok makannya sedikit sekali, tidak enak ya!" ucap Kenny.


"Enak, cuma aku kenyang!" sahut Felly.


"Baiklah, sekarang istirahat ya, kasihan si Adek, aku antar ke kamar ya!" ucap Kenny lembut sambil mengusap perut Felly yang masih rata.


Setelah Kenny menghabiskan nasi goreng Felly, mereka kemudian ke atas menuju ke kamarnya hendak beristirahat.


Kenny membantu Felly merebahkan tubuhnya dan menyelimutinya, kemudian dia duduk di tepi ranjang sambil mengusap rambut Felly.


"Kau tidak istirahat Ken?" tanya Felly.


"Kau istirahatlah sayang, aku mau ke kamar Icha, sepertinya dia masih marah padaku!" ucap Kenny.

__ADS_1


"Anak itu kalau ngambek tidak akan lama!" kata Felly.


"Ya, tapi aku merasa bersalah padanya, dia pasti salah paham padaku, sudahlah, aku harus menemuinya sekarang juga!" ucap Kenny sambil beranjak dari duduknya.


"Ken!" panggil Felly.


"Ya sayang?!"


"Adeknya kayaknya pengen di ... cium!" ujar Felly sambil menyembunyikan wajahnya di balik bantal.


Kenny kembali menghampiri Felly dan perlahan mengangkat bantal yang menutupi wajah Felly.


"Yang pengen di cium adeknya atau Maminya?" bisik Kenny.


"Adeknya lah!" cetus Kenny.


"Oke lah, Maminya kalau pengen tinggal bilang saja!" ucap Kenny.


Cup!


Kecupan manis mendarat di bibir Felly.


"Trima kasih Ken!" ucap Felly.


"Iya sayang, nanti malam kita lanjut lagi ya, aku mau ke kamar Icha!" Kenny mengecup sekali lagi kening Felly sebelum melangkah keluar meninggalkan kamarnya.


****


Tok ... Tok ... Tok ...


Beberapa kali mengetuk tidak ada jawaban, namun Kenny kembali mencoba lagi.


Akhirnya pintu kamar Icha terbuka, Icha berdiri dengan wajah kusut.


"Icha, Papi boleh masuk tidak ke kamar Icha?" tanya Kenny.


"Terserah!" sahut Icha jutek.


"Lho, kok terserah, Icha masih marah sama Papi, karena tadi Papi marah dan menampar Satria?" tanya Kenny.


"Pikir aja sendiri!" sahut Icha.


"Papi minta maaf Cha, Papi hanya kuatir sama Icha, takut Icha di apa-apain sama dia, dia kan lebih besar dari Icha, usianya saja sudah belasan tahun!" ungkap Kenny.


Icha masuk ke kamarnya dan duduk di tempat tidurnya, Kenny menyusul Icha di belakangnya.


"Tapi kan bang Satria itu baik! Dulu saja aku pernah dia antar sama dia waktu cari Papi!" cetus Icha.

__ADS_1


"Iya deh Papi salah, kan Papi sudah minta maaf, masa Icha tidak mau maafin Papi sih?" tanya Kenny.


"Habisnya Papi nyebelin!" sungut Icha.


"Papi janji deh, tidak akan marahin Satria lagi!" kata Kenny.


"Sudah telat Papi! Bang Satria sudah pergi! Dia pergi jauh melanjutkan sekolahnya, aku tidak akan bertemu dia lagi!" Icha mulai menangis.


Kenny perlahan mendekati Icha dan memeluk anak itu.


"Maafin Papi Cha!" bisik Kenny menyesal.


"Padahal Bang Satria itu temanku yang baik, dia rela menutup warung kopinya hanya untuk mengantarku mencari Papi, aku sedih sekarang dia pergi!" isak Icha dalam pelukan Kenny.


"Jadi Icha tuh sedih karena Satria pergi ya!" gumam Kenny. Icha Menganggukan kepalanya.


"Baiklah Cha, Papi janji deh, nanti akan cari tau nomor Satria, atau alamat barunya, jaman sekarang kan sudah ada internet!" hibur Kenny.


Icha mengangkat kepalanya.


"Benarkah Papi?" tanya Icha. Kenny menganggukan kepalanya.


"Iya Cha, tapi Icha janji maafin Papi ya, dan jangan marah lagi sama Papi!" jawab Kenny.


Icha Menganggukan kepalanya. Wajahnya kembali ceria.


"Bang Satria janji lho Papi, kalau nanti dia sudah sukses, dia akan mencariku!" ujar Icha.


"Oya? Bagus dong, jadi Icha tidak usah mencarinya lagi!" sahut Kenny.


"Tapi tetap saja aku kan juga ingin tau kabarnya Papi!" Rajuk Icha.


"Iya, iya ... Icha sabar dulu ya, perjalanan Icha kan masih jauh, Icha saja sekarang baru kelas 1 SD, masih jauh kan?" Kenny membelai rambut Icha.


"Iya Papi!" sahut Icha.


"Yuk sekarang Icha ikut Papi!" ajak Kenny.


"Kemana Papi?" tanya Icha.


"Kita ke kamar Papi, lihat adik bayi Icha di perut Mami!" jawab Kenny.


"Huh, perut Mami masih kecil, Adik bayi nya belum kelihatan!" sungut Icha.


"Beberapa bulan lagi juga kelihatan, Icha pasti tidak sabar kan lihat adik bayinya lahir, sama Cha, Papi juga tidak sabar!" ujar Kenny yang langsung menghendong Icha menuju ke kamarnya.


****

__ADS_1


__ADS_2