
Pagi itu dengan mata yang masih merah Kenny telah bersiap berangkat mengajar ke sekolah.
Seperti biasa, Felly mulai memasangkan dasi Kenny, sambil sesekali mengecup bibir Kenny.
"Suamiku tampan sekali!" ucap Felly.
"Kau mulai agresif sekarang, aku suka!" bisik Kenny.
"Hmm, bawaan bayi!" kata Felly.
"Bayi atau Maminya?" tanya kenny menggoda. Felly mencubit hidung Kenny.
"Sudah sana berangkat! Icha juga sudah menunggumu di bawah!" ujar Felly.
Mereka kemudian mulai turun kebawah, bersiap akan berangkat.
Kenny menyambar roti bakar dan susu hangat yang sudah di sediakan di meja.
Pak Banu nampak duduk di ruang tamu sambil membaca koran, secangkir teh hangat ada di meja di hadapannya.
"Hari ini Ayah di rumah kan?" tanya Kenny.
"Iya, Ayah di rumah, tapi nanti pas Icha pulang Ayah jemput Icha!" kata Pak Banu.
"Jangan Ayah, biar aku saja yang menjemput Icha!" sergah Felly.
"Bukankah kau sering mual? Nanti malah ada apa-apa di jalan!" tukas Pak Banu.
"Tidak Ayah, biar aku yang jemput Icha, sekalian aku mau ngobrol dengan Bu Ira mengenai perkembangan Icha!" kata Felly.
"Baiklah," sahut Pak Banu singkat.
"Oke Cha, kita berangkat sekarang!" Ujar Kenny sambil mulai menggandeng Icha menuju ke garasi mobilnya, Felly mengikuti mereka di belakangnya.
"Dah Mami!" pamit Icha sambil melambaikan tangannya, kemudian dia langsung naik kedalam mobil Kenny.
"Bekalnya di habiskan ya!" seru Felly.
"Beres Mami!" sahut Icha.
Kenny masih berdiri sambil mengelus perut Felly, kemudian menciumnya.
"Papi berangkat ya Dek, baik-baik sama Mami, jangan bikin mami mual lagi!" ucap Kenny.
"Iya Papi!" sahut Felly.
Kemudian Kenny mencium sekilas bibir Felly.
"Aku akan cepat pulang sayang!" bisik Kenny.
"Ayo Papi!! Jangan ciuman terus!! Nanti aku terlambat!!" teriak Icha dari dalam mobilnya.
__ADS_1
"Sudah sana! Nanti kalian terlambat beneran!" Felly mendorong dada Kenny menjauhinya.
Akhirnya Kenny bergegas masuk ke mobilnya dan segera melajukan nya meninggalkan rumahnya.
"Papi, kenapa sih Papi suka cium-cium perut Mami? Adik bayinya kan masih belum kelihatan!" cetus Icha tiba-tiba.
"Ya tidak apa-apa dong Cha, itu artinya Papi kan sayang adik bayi!" sahut Kenny.
"Huh! Ternyata punya adik bayi menyebalkan, belum lahir saja sudah membuat Papi ku menyayanginya, apalagi sudah lahir!" sungut Icha.
Kenny langsung membelai rambut Icha yang duduk di sampingnya.
"Icha cemburu ya sama adik bayi?" tanya Kenny.
"Tau ah gelap!" cetus Icha. Kenny tertawa.
"Icha, dengar ya, Papi itu sayang sama Icha, sama Mami, juga sama calon adik bayi! Sayang Papi itu sama kok, jadi Icha jangan marah kalau Papi sayang adik!" jelas Kenny.
"Terus? Aku di cuekin gitu?" tanya Icha.
"Ya tidak dong, masa Icha nya Papi di cuekin sih! Kan Icha tau Papi sayang sama Icha dari dulu, dari Papi masih jadi mister hehehe!" jawab Kenny sambil terkekeh.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di sekolah Icha. Icha langsung turun dari dalam mobilnya.
"Icha nanti tunggu Mami jemput ya, kalau mau kemana-mana ijin sama ibu guru!" seru Kenny memperingatkan.
"Beres Papi! Bye Papi!!" Icha melambaikan tangannya ke arah Kenny sebelum dia berlari memasuki gerbang sekolahnya.
Setelah Icha masuk, Kenny kembali mengemudikan mobilnya meninggalkan sekolah Icha.
Saat dia sudah tiba di sekolahnya, dia segera berjalan cepat masuk ke ruang guru, masih ada sekitar 20 menit untuk di bisa tidur sebentar di ruangannya.
"Kau kenapa Mister Kenny? Jalan seperti di kejar anjing!" tanya Pak Chandra yang melihat Kenny berjalan sangat cepat.
"Tidak Pak, hanya mau merebahkan kepala di ruang guru saja!" sahut Kenny.
"Hah? Merebahkan kepala?" tanya Pak Chandra heran. Namun Kenny sudah keburu masuk di ruang guru.
Tanpa menunggu, Kenny langsung merebahkan kepalanya di atas meja.
Namun baru beberapa menit dia tertidur ponselnya sudah berbunyi, dengan malas Kenny langsung mengusap layar ponselnya itu, ada panggilan dari nomor tak di kenal.
"Halo, selamat pagi!" sapa Kenny sambil terus memejamkan matanya.
Tidak terdengar suara dari seberang, membuat Kenny sedikit membuka matanya.
"Halo, ini siapa?" tanya Kenny.
"Ken!"
Tiba-tiba Kenny melebarkan matanya saat mendengar suara yang di kenalnya selama ini.
__ADS_1
"Dini? Ini Dini bukan?" tanya Kenny untuk meyakinkan.
"Iya Ken, kau apa kabar?" tanya Dini balik.
"Aku baik Din! Kau di mana sekarang?" ucap Kenny agak gugup. Dia mengangkat wajahnya.
"Aku, aku masih di sini Ken, di Malaysia!" jawab Dini.
"Bagaimana kuliahmu Din? Kau sudah bertemu Leo kan di sana?" tanya Kenny.
Terdengar suara helaan nafas dari seberang.
"Ya Ken, aku sudah ketemu Leo, bahkan dia, sudah mengungkapkan isi hatinya padaku!" ucap Dini.
"Aku berharap kau bisa membuka hatimu untuk Leo Din, Leo benar-benar tulus padamu!" ujar Kenny.
"Ken, haruskah aku bersama Leo, sedangkan hatiku selalu untukmu?" tanya Dini agak terisak.
"Din ... Aku sudah bersama Felly, aku mohon hilangkan lah aku dari ingatanmu!" lirih Kenny. Dadanya mulai bergemuruh.
"Ya Ken, aku tidak akan pernah mengganggumu, apalagi merebut mu dari Felly, aku hanya ... aku hanya rindu padamu, ingin mendengar suaramu, siang malam bahkan aku selalu mengingat dirimu!" kini Dini terdengar menangis.
"Maafkan aku Din, maafkan aku, aku tidak bisa melakukan apa-apa untuk mengurangi perasaan hatimu!" ucap Kenny.
"Tidak Ken! Kau tidak salah, aku yang bodoh, aku yang bodoh!" isak Dini.
"Din, aku pikir setelah kau pergi, kau bisa menemukan kebahagiaanmu, tapi mengapa? Kau membuat aku merasa bersalah padamu, maafkan aku!" ucap Kenny.
"Tidak Ken, aku yang salah, Oya, bagaimana kabar istrimu? juga Icha?" tanya Dini.
"Felly baik-baik saja, kini dia telah hamil anakku, Icha juga sehat!" jawab Kenny.
"Felly hamil? Cepat sekali!" gumam Dini.
"Iya Din, cepat sekali, aku sendiri juga tidak pernah menyangka akan secepat ini!" jawab Kenny.
"Kamu hebat Ken! Kau pasti sangat bahagia saat ini, aku juga turut berbahagia untukmu Ken!" ucap Dini.
"Trima kasih Din!"
Terdengar suara telepon di matikan dari seberang, Kenny yakin saat ini Dini pasti sedang menangis, Kenny menyadari, cinta Dini yang terlalu dalam untuknya.
"Hei Mister Kenny! Kau tidak siap-siap mengajar?!" seru Mam Indah mengagetkan Kenny.
"Eh, Mam, memangnya sudah bell ya?" tanya Kenny panik.
"Sudah dari tadi! Kau telepon begitu serius, sampai tidak mendengar suara bell!" kata Mam Indah.
Kenny langsung mempersiapkan diri untuk masuk ke dalam kelasnya.
"Good Morning every body!" sapa Kenny di depan kelasnya.
__ADS_1
Bersambung ....
****