
Kenny terus berlari dan menerobos, masuk ke dalam ruangan itu, tubuh Felly terbujur dan baru di tutupi kain putih oleh suster, Kenny lalu membuka kain itu.
Wajah pucat dengan senyuman kecil yang terlihat tenang kini ada di hadapan Kenny.
Tubuh Kenny bergetar, bulir-bulir air matanya mulai berjatuhan. Perlahan tangannya menyentuh wajah itu.
"Sayang!! Kau jangan bercanda padaku! Sekarang buka matamu!! Kau jangan mengerjai aku sayang!! Aku menyerah! Buka matamu!!" jerit Kenny.
Pak Banu dan yang lainnya mulai masuk ke dalam ruangan, mereka mencoba menenangkan Kenny.
"Ken! Kuasai dirimu!" ujar Pak Banu yang wajahnya juga terlihat sangat sedih.
"Tidak! Dia hanya pura-pura Ayah, Ayah lihat kan dia sedang tersenyum, dia hanya pura-pura!! Sayang, buka matamu!!" Kenny mulai mengguncang-guncang tubuh Felly.
Pak Chandra dan Rio mencoba menenangkan Kenny, mereka menahan tubuh Kenny hingga Kenny tak bisa lagi menjangkau tubuh Felly yang mulai kaku.
"Felly!! Apa yang kau lakukan padaku?? Bangun Felly!!" jerit Kenny.
Tangisannya berubah menjadi ratapan pilu, dia bersimpuh di lantai ruangan itu.
Semua orang menangis melihat pemandangan menyedihkan dan memilukan hati itu.
Tiba-tiba Icha masuk ke ruangan, matanya menatap tubuh Felly yang terbujur dan kini sudah di tutupi kain itu.
"Mami!! Mami kenapa?? Papi!!! Mami kenapa!??" teriak Icha.
Kenny merengkuh tubuh Icha dalam pelukannya. Dia menangis dengan keras. Icha juga menangis dalam pelukan Kenny.
"Mami pergi tinggalin kita Cha!! Sekarang Icha cuma punya Papi, Please Icha jangan menangis, kita harus hadapi kenyataan ini sama-sama ya! Papi janji akan terus menyayangi Icha sampai dewasa!" ucap Kenny dengan menahan rasa sesak yang menghimpit dadanya.
"Kenapa Mami pergi tinggalin aku?? Apa Mami tidak sayang aku lagi?? Apa aku begitu nakal hingga Mami sudah tidak mau mengurus aku??" tangis Icha.
Kenny tidak menjawab pertanyaan Icha, hatinya juga begitu sangat hancur.
Mam Indah dan Dini perlahan mendekati mereka, mereka mulai menarik Icha dari pelukan Kenny.
"Sini Cha, jangan sedih, Mam Indah dan Miss Dini sayang Icha, sini Cha, biarkan Papi sebentar!" ucap Mam Indah.
Mereka lalu membawa Icha yang masih menangis sesenggukan keluar dari ruangan itu.
Sementara Kenny juga masih menangis, sambil sesekali tangannya memukul-mukul lantai, melampiaskan segala rasa kecewa dan kesedihannya.
Pak Banu merengkuh Bahu Kenny.
"Ken, kau masih punya tanggung jawab, Icha dan bayimu membutuhkanmu!" ujar Pak Banu.
Tiba-tiba Kenny mengangkat wajahnya.
__ADS_1
"Bayiku! Anakku! Dimana dia?? Dimana bayiku??" jerit Kenny.
Seorang perawat datang menghampirinya.
"Mari Pak, saya antar ke ruangan NICU, bayi bapak ada di sana!" ucap sang perawat.
Kenny berdiri dan berjalan gontai, mengikuti sang perawat keluar dari ruangan itu dan masuk ke ruang intensif bayi.
Sementara Pak Banu dan yang lainnya mulai mengurus jenazah Felly yang akan di pindahkan segera dari tempat itu.
Kenny terpekur menatap bayi kecilnya yang berada dalam inkubator.
Bayi itu begitu mungil, bahkan tubuhnya juga penuh dengan selang karena lahir terlalu dini.
"Apakah Bapak mau menggendongnya?" tanya seorang perawat. Kenny menganggukan kepalanya.
Perlahan bayi mungil itu di keluarkan dari inkubator, lalu dengan hati-hati di berikannya pada Kenny.
Bayinya belum di beri nama Pak, silahkan bapak memberinya nama biar akan kami catat.
"Namanya Aldio, Aldio Wijaya!" ucap Kenny. Perawat itu langsung mencatatnya.
"Cepatlah kau sehat dan besar, Papi akan menjagamu, kau adalah hadiah istimewa dari Mami mu, lahir dari benih cinta yang murni, Papi akan bertahan demi kamu, juga Icha kakakmu!" bisik Kenny.
****
Kenny duduk terpekur di sisi makam itu, hatinya kosong dan hampa, seolah setengah dari jiwanya telah Pergi.
Icha sedari tadi terus-menerus menangisi kepergian ibunya, membuat siapa saja yang melihatnya menjadi pilu.
Kenny harus bisa terus kuat dan tegar demi Icha, walau hatinya begitu rapuh.
Satu persatu pelayat mulai pergi meninggalkan pekuburan itu, Icha juga sudah di bawa oleh Mbak Nur dan Mbok Sumi, walaupun Icha terus berteriak tidak mau pergi.
Hati Kenny semakin hancur, semua mimpi-mimpi yang ingin di bangunnya bersama Felly seolah sirna seketika.
Kini Felly tinggal kenangan, yang selalu tersimpan di sudut hati Kenny yang terdalam.
Sebuah tepukan lembut di bahu Kenny membuat laki-laki itu menoleh kebelakang.
Leo sudah berdiri di sana dengan seorang wanita di sampingnya.
Kenny lalu segera berdiri dari posisinya.
"Aku turut berdukacita cita Ken! Semoga kau selalu di beri ketabahan!" ucap Leo sambil memeluk Kenny.
"Trimakasih Le, maafkan aku, waktu itu tidak sempat datang ke pernikahanku!" kata Kenny.
__ADS_1
"Sudahlah Ken, kita seperti baru kenal saja, aku juga maklum kali, kau begitu sibuk mengurus istrimu di rumah sakit!" ujar Leo.
"Sekarang Felly sudah pergi, kau baru menikah, sementara aku menjadi duda beranak dua!" ungkap Kenny. Wajahnya menyiratkan duka yang amat dalam.
"Sudahlah Ken, kau masih muda dan sangat tampan, mudah bagimu untuk mendapatkan pengganti Felly!" kata Leo.
"Enak saja! Kau pikir cintaku serendah itu?? Aku tidak akan menikah lagi!" cetus Kenny.
"Oke baiklah, dari pada kau di sini seorang diri, aku akan mengantarmu pulang Ken, Oya, aku sampai lupa, ini Rena istriku!" ujar Leo memperkenalkan istrinya.
Rena, Istri Leo langsung menjabat tangan Kenny.
"Kenny!" ucap Kenny lirih saat memperkenalkan diri.
"Ayo kita kembali Ken, lihatlah, langit sudah gelap, pasti sebentar lagi akan turun hujan!" kata Leo.
"Tidak Le! Kau pulang saja duluan, aku masih mau di sini!" cetus Kenny.
"Ken, jangan seperti ini, kau akan kehujanan nanti, tadi Ayah mu sudah wanti-wanti agar aku bisa membujuk mu pulang!" sahut Leo.
"Tidak Le! Aku belum mau pulang, aku masih mau menemani Felly disini, kasihan dia sendirian, apalagi mau hujan, dia akan kedinginan!" ucap Kenny.
"Sadar Ken! Felly sudah tidak ada, kau harus berlapang hati menerima kenyataan ini, demi Icha, juga bayi kecilmu!" seru Leo.
Terdengar suara petir menggelegar, mendung mulai berwarna pekat. Dengan hembusan angin yang seolah turut merasakan kesedihan dan kehilangan.
"Ayo Ken, kau akan basah nanti! Hujan lebat akan turun!" Leo mencoba meraih tangan Kenny, namun Kenny menepisnya.
"Kau pulanglah duluan Le, aku mau disini!" seru Kenny.
Akhirnya setelah tidak dapat di bujuk lagi, Leo dan Rena istrinya, segera pergi meninggalkan Kenny sendiri.
Kenny kembali duduk terpekur di sisi makam itu, sampai air hujan turun dan membasahi tubuhnya, bercampur dengan air matanya.
Jauh di ujung sana, Dini berdiri dengan berpayung dan menatap Kenny sambil menangis, melihat laki-laki yang sangat di cintainya dengan dalam itu rapuh dan hancur hatinya, penderitaan Kenny adalah penderitaan Dini, dia tidak rela melihat air mata Kenny yang terus berjatuhan menangisi kepergian Felly, hatinya begitu sakit dan perih.
Tamat
*****
Hai readers .... tetap setia yuk ...
Mulai besok akan ada session 2 kisah ini, dengan judul "Menggapai Hati Sang Duda"
Tetap dukung Author ya ...
Trimakasih ....
__ADS_1