Papi Untuk Mami

Papi Untuk Mami
Cemburu


__ADS_3

Kenny menggendong Icha di punggungnya menyusuri sepanjang koridor di mall itu, kemudian turun menggunakan eskalator.


Pertemuan dengan Dini yang baru saja terjadi membuat sedikit perdebatan antara Icha dan Dini.


Tidak mau berurusan panjang, Kenny langsung membawa Icha pergi dari hadapan Dini.


Setelah sampai di parkiran motor, Kenny mulai menurunkan Icha.


"Cha, pakai jaket dan helm mu, kita pulang sekarang!" Kata Kenny sambil membantu Icha memasang jaket dan helmnya.


"Mister marah ya sama aku?" tanya Icha.


"Bukannya marah Cha, tapi Icha bisa kan bersikap sopan terhadap orang yang lebih tua ..." sahut Kenny.


"Tapi Tante itu kan sudah peluk-peluk Mister, cuma aku dan Mami yang boleh peluk Mister!" cetus Icha.


"Cha, Tante itu tadi, mantan pacarnya Mister yang dulu, dia kan lagi sedih, ya mungkin dia peluk Mister supaya kesedihannya hilang ..." Kenny mencoba menjelaskan dengan bahasa yang bisa di mengerti oleh Icha.


"Tapi masa setiap orang yang sedih harus peluk Mister??"


"Cha! Maksudnya kan dia sedih karena Mister sudah putusin dia ..."


"Tapi dia kan bisa cari lagi yang lain, cowok ganteng kayak Mister kan banyak di mana-mana, kenapa dia harus peluk Mister??"


"Sudahlah Cha, mungkin belum waktunya kamu ngerti, sekarang yuk kita pulang, nanti Mami cemas tungguin Icha ..."


Kenny segera mengangkat tubuh Icha naik di motornya, kemudian dia langsung menyalakan mesin motornya itu dan melaju keluar dari parkiran menuju rumah Icha.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah Icha, Felly terlihat sedang duduk menunggu di depan teras rumahnya.


Setelah turun dari motor Icha langsung mendapati Felly dan memeluknya.


"Mamiii!!!" seru Icha.


"Gimana Cha jalan-jalannya? Kamu senang hari ini?" tanya Felly sambil membelai rambut Icha.


"Tadinya senang sih, tapi gara-gara Tante itu!!"


"Tante? Tante siapa?"


"Fell, penjelasan Icha tidak sepenuhnya betul, kau jangan berpikir aneh-aneh!" sergah Kenny tiba-tiba.


"Apa maksudmu Ken? Aku tambah tidak mengerti?" tanya Felly sambil memandang keduanya bergantian.


"Tadi Mister Kenny pelukan sama Tante itu Ma, tapi aku sudah marahi kok tantenya, aku sudah bilang jangan peluk-peluk Mister lagi ..." jelas Icha.


"Hah? Peluk? Tante siapa?"


"Dini Fell, tadi kita ketemu Dini di restoran, kami bukannya berpelukan, tapi dia yang ..."

__ADS_1


"Sudahlah Ken, tidak apa-apa juga kalau kalian berpelukan, apa hubungannya denganku? Icha, kamu kedalam ganti baju dan siapkan buku untuk besok!" Kata Felly.


"Iya Mami ..." Icha langsung masuk kedalam rumahnya.


"Ken, kamu tidak pulang? Ini sudah gelap lho! Apalagi yang kamu tunggu?" tanya Felly.


"Fell, Jangan salah paham, dengar aku dulu, Dini datang bersama Leo temanku, rupanya dia curhat karena baru aku putusin, saat melihatku dia langsung reflek memelukku, dan Icha mengira kalau aku ..."


"Sudahlah Ken, aku tidak apa-apa, kamu pikir aku kenapa? Hanya masalah berpelukan, dengan siapa kamu berpelukan itu adalah hakmu, maafkan Icha kalau dia terlalu mengekang mu ..." ungkap Felly.


"Felly, tapi kau tidak salah paham seperti Icha kan?" tanya Kenny sambil menggenggam tangan Felly.


"Salah paham apalagi? Aku bukan anak kecil yang mudah menilai sesuatu, dan tidak ada alasan untuk aku marah padamu ..." jelas Felly.


"Terimakasih Fell ..." Kenny langsung memeluk Felly dan mengecup keningnya.


"Ken, jangan seperti ini ..." Felly berusaha mengurai pelukan Kenny. Namun Kenny semakin erat memeluknya.


"Hanya tubuh ini yang ingin ku peluk dengan erat, bukan yang lain ..." Bisik Kenny.


"Ken ..."


"I Love You Felly, kalimat pertama yang aku ucapkan dengan tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam ..."


"Kenny, jangan membuatku semakin dalam jatuh dengan perasaan ini ..." Lirih Felly.


"Ken, tapi aku tidak pantas untukmu, kamu begitu sempurna di mataku, kamu begitu baik dan tampan, semua orang memujamu, sedangkan aku, hanya seorang janda yang bahkan lebih tua darimu ..." Felly mulai menangis.


"Jangan katakan itu lagi Fell, Cinta itu bisa menembus batas apapun, percayalah padaku ..." Kenny mengusap air mata Felly dengan tangannya.


"Trima kasih Ken ..." ucap Felly.


"Sudah malam Fell, Aku pamit ya ..." Felly menganggukkan kepalanya.


"Hati-hati Ken, nanti aku bilang Icha, mungkin sekarang dia sudah tidur kecapekan ..." Felly mengantar Kenny sampai depan gerbang.


"Felly, kamu tidak ingin menciumku dulu sebelum pulang?" tanya Kenny sambil memakai jaketnya.


"Kamu ini apa sih, kita kan belum ada hubungan apa-apa!" Sergah Felly, wajahnya mulai memerah.


"Siapa bilang? Bahkan namamu kini sudah memenuhi hatiku ..." Ucap Kenny sambil tersenyum.


Dengan perlahan dan ragu-ragu, Felly maju mendekati wajah Kenny, kemudian mencium pipinya.


"Ah, manis sekali, kalau begini aku pasti sangat nyenyak tidurnya ..." kata Kenny sambil memakai helmnya.


"Hati-hati Ken, kamu jangan ngebut bawa motornya, pelan-pelan saja ..."


"Aku senang kamu mengkhawatirkan aku ..." Kenny mulai menyalakan mesin motornya, lalu mengusap lembut rambut Felly, setelah itu motor itu bergerak perlahan dan menghilang di tikungan jalan.

__ADS_1


****


Suasana rumah sudah sepi saat Kenny tiba di rumahnya. Setelah motornya terparkir dia bergegas masuk kedalam, kemudian masuk ke kamarnya dan mulai berganti pakaian.


"Kau baru pulang Ken??" Tanya Pak Banu yang tiba-tiba muncul dari arah dapur. Kenny terperanjat.


"Eh, Ayah! Ayah seperti hantu saja yang mengagetkan aku!" seru Kenny sambil mengelus dadanya.


"Duduklah Ken, Ayah mau bicara padamu ..." Pak Banu mulai duduk di kursi depan kamar Kenny, kemudian Kenny duduk di depannya.


"Ada apa Ayah?" tanya Kenny.


"Ken, tadi orang tua Dini menelepon Ayah, mereka meminta kalian segera menikah secepatnya, karena usia kalian sudah matang untuk itu ..." kata Pak Banu. Kenny terkesiap mendengarnya.


"Apa Ayah? Menikah? Ayah tidak salah kan?"


"Tentu saja tidak, Ayah dan orang tua Dini adalah teman sejawat, kami sama-sama PNS dan pernah mengabdi di tempat yang sama.


"Tapi Yah, aku kan baru putusin Dini, aku tidak bisa mencintai Dini Ayah, ini masalah perasaan yang tidak bisa di paksakan ..." Jelas Kenny.


"Ken, Ayah tidak enak dengan orang tua Dini, walau bagaimana kalian sudah berteman sejak kecil, dan kita sudah lama mengenal keluarga Dini, kau membuat Ayah bingung saja Ken!"


"Ayah, aku mencintai Felly, Maminya Icha ..."


"Ken, sadarkah Kau, kita ini di pandang masyarakat sebagai keluarga yang di hormati, karena profesi kita sebagai guru ..."


"Lalu?"


"Maminya Icha itu kan janda, kau tidak memikirkan pandangan orang lain?" tanya Pak Banu.


"Ayah jangan melihat status janda atau bukan...tapi kami bahagia dan saling mencintai..." sahut Kenny.


"Mencintai? Kau sudah ada hubungan dengan dia?"


"Ya Belum sih Ayah, Felly belum memberikan jawaban padaku, tapi aku yakin dia sangat sayang padaku, aku juga sangat sayang dia dan Icha ..."


Pak Banu menarik nafas panjang. Kemudian dia menepuk-nepuk bahu Kenny.


"Tapi Ayah lebih setuju kau dengan Dini Ken, kalian sama-sama pendidik, orang tuanya juga sama seperti Ayah, berkecimpung dalam dunia pendidikan ..."


"Hidup itu kan tidak harus selalu sama Ayah, memangnya salah kalau aku guru berjodoh dengan seorang pengusaha roti? Tidak kan?!"


"Ken!! Jangan bicara keras dengan Ayahmu!" hardik Pak Banu.


Kenny terdiam mendengar perkataan Pak Banu. Dia tidak mau cinta membuat dia melawan Ayahnya.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2