
Kenny memarkirkan mobilnya di depan sebuah minimarket, kemudian mereka turun dari mobil dan mulai menyusuri gang sempit.
Tak lama kemudian mereka tiba di sebuah rumah sederhana yang terletak tidak jauh dari jalan depan.
Felly terkesiap melihat rumah yang ada di depannya, sebuah rumah kecil yang ada di dalam sebuah gang sempit.
Padahal dulu rumah mereka begitu besar dengan segala fasilitas yang ada di dalamnya.
Dulu mereka menumpang hidup dari Diego yang memang berkecukupan dan terbilang sukses di usia muda.
Namun kini setelah Diego tiada, mereka harus bertahan untuk hidup, karena mereka tidak terbiasa bekerja, di tambah lagi gaya hidup Roy yang sering berfoya-foya dan menghamburkan uang.
Sehingga semua uang dan harta benda yang di wariskan Diego habis tak tersisa.
Bahkan rumah besar peninggalan Diego juga sudah mereka jual, kini mereka sudah tidak punya apa-apa lagi, bahkan ibu nya Diego kini menderita penyakit kronis. Sungguh miris hidup mereka.
"Coba kau ketuk pintunya sayang!" kata Kenny mengagetkan lamunan Felly.
"Ah, iya Ken!" Sahut Felly yang mulai mengetuk pintu rumah itu.
Beberapa kali tidak ada jawaban, hingga seorang tetangga datang menghampiri mereka.
"Langsung masuk saja Bu, Bu Tatik di dalam, dia kan tidak bisa jalan lagi, anaknya mungkin masih ngojek di luar!" kata seorang wanita tetangga Bu Tatik.
"Iya Mbak, tidak apa-apa nih kami langsung masuk?" tanya Felly meyakinkan.
"Tidak apa-apa, tetangga di sini juga kalau mau kasih makanan ke Bu Tatik langsung masuk saja!" sahut tetangga itu.
"Baiklah!" ujar Felly.
Mereka akhirnya langsung membuka pintu rumah yang memang tidak terkunci itu.
Seorang wanita baya terlihat sedang berbaring di sebuah tempat tidur kayu di ruang tamu rumah itu.
Tubuhnya nampak kurus dan terlihat lemah, perlahan merekapun mendekatinya.
"Selamat siang Bu!" sapa Felly. Lalu dia menaruh sekantong plastik buah yang dia bawa di meja samping tempat tidur itu.
"Siapa?" tanya Bu Tatik dengan suara yang terdengar parau.
"Felly Bu, Maminya Icha, di sini juga ada Icha!" jawab Felly.
Bu Tatik nampak terkejut, matanya terbuka lebar dan dia pun langsung menoleh kearah Felly dan Icha yang ada di sebelahnya.
"Icha?" gumam Bu Tatik.
__ADS_1
"Iya Bu, Icha cucu Ibu, anak dari Diego!" jawab Felly.
Tiba-tiba Bu Tatik menangis, air matanya langsung berjatuhan, bibirnya bergetar tanpa mampu mengucapkan perkataan apapun, wanita itu menangis pilu.
Felly duduk di tepi tempat tidur itu, mengusap bahu Bu Tatik berusaha untuk menenangkannya.
"Jangan menangis Bu, maafkan aku dan Icha, baru tau keadaan ibu sekarang, setelah sekian lama kita tidak bertemu!" ucap Felly.
"Untuk apa kau datang mengunjungi Ibu Nak? Kami sudah tidak seperti dulu lagi, semuanya sudah berubah!" isak Bu Tatik.
"Aku tau Bu, tidak ada yang abadi di dunia ini, Icha, ini Oma Icha, sapalah dia!" titah Felly.
Icha mendekat, lalu memegang tangan Bu Tatik.
"Halo Oma, ini Icha, maafkan Icha Oma, karena Icha baru menjenguk Oma!" kata Icha.
"Icha!!"
Bu Tatik langsung menarik tangan Icha dalam pelukannya, air matanya bertambah deras mengalir.
"Maafin Oma Icha! Oma jahat padamu juga Mamimu! Oma jahat, dulu tidak mau menerima Icha, maafin Oma!" Bu Tatik menangis sesenggukan.
"Jangan menangis Oma!" ujar Icha sambil menghapus air mata Bu Tatik dengan tangannya.
"Iya Oma, aku maafin Oma kok, kata Papi kita harus bisa memaafkan orang yang bersalah kepada kita, termasuk Oma!" kata Icha.
"Papi?" Bu Tatik melirik ke arah Kenny yang berdiri di samping Felly.
"Ini Kenny Bu, suami aku!" kata Felly.
"Kata Roy, kau telah menikah lagi, syukurlah kalau kau bisa menemukan pengganti anakku Diego!" ucap Bu Tatik.
"Iya Oma, Papi ku ini orangnya baik, dia sayang sama aku dan Mami, malah sebentar lagi kita akan punya adik bayi!" cetus Icha.
Ceklek!
Terdengar suara pintu yang di buka dari luar, Roy datang dan nampak terkejut melihat kehadiran Felly, Kenny dan Icha.
"Kalian datang?" tanya Roy dengan wajah kagetnya.
Kenny maju dan langsung menepuk bahu Roy.
"Kenapa tidak dari awal kau katakan keadaan hidupmu bro? Kalau tau dari dulu kita tidak akan pernah saling membenci dan dendam!" ucap Kenny.
"Maafkan aku!" ucap Roy sambil menunduk. Wajahnya terlihat berbeda dari biasanya.
__ADS_1
"Cepat kau ke belakang Roy, buatkan minuman untuk mereka!" titah Bu Tatik.
"Jangan terlalu repot Bu, kami juga tidak akan lama, karena kami masih mau mampir ke suatu tempat!" ujar Felly.
Tak lama Roy muncul dengan membawa beberapa gelas air minum di atas sebuah nampan.
"Minumlah! Harap maklum, beginilah keadaan kami sekarang, ibu sudah tidak bisa ngapa-ngapain lagi, sementara aku harus bekerja di luar mencari uang!" ucap Roy.
"Waktu itu katanya kau mau membeli rumah ku Roy!" cetus Felly.
"Maafkan aku, waktu itu aku cuma menggertakmu supaya kau menyerahkan rumahmu padaku, maaf!" jawab Roy.
"Sudahlah Roy, tidak usah mengungkit masa lalu, yang penting kita sekarang sudah sama-sama tau keadaan kalian!" ucap Felly.
Kenny kemudian mengeluarkan dompetnya, mengeluarkan beberapa lembar uang, kemudian menyerahkan uangnya itu kepada Bu Tatik.
"Ini aku hanya bawa sedikit Bu, kalian carilah rumah sakit, soal biaya aku yang akan menanggungnya!" ucap Kenny.
Bu Tatik kembali menangis haru.
"Trimakasih Nak, trimakasih, kau bukan cuma tampan, tapi hatimu juga mulia, beruntung Felly bisa mendapatkanmu Nak!" ujar Bu Tatik.
"Kalau begitu kami pamit pulang Bu, semoga lekas pulih!" pamit Felly sambil menggandeng tangan Icha.
"Aku pulang ya Oma, Oma cepat sehat supaya bisa bermain denganku!" pamit Icha.
"Iya sayang, sekali lagi maafin Oma ya ..." ucap Bu Tatik.
Merekapun segera meninggalkan rumah itu, kemudian kembali ke mobilnya yang terparkir di ujung gang di depan minimarket, Roy mengantar sampai di depan.
"Kau jaga ibu baik-baik Roy, dan jangan berbuat salah lagi!" kata Felly
"Iya Felly, maafkan aku, aku janji tidak akan mengganggumu dan Icha lagi!" ucap Roy.
"Lalu, teror yang di Bali itu? Apakah juga kau pelakunya?" tanya Felly menyelidik.
"Maafkan aku, aku memang menyuruh temanku untuk meneror kalian, supaya hidup kalian tidak tenang, itu semua ku lakukan karena aku sangat iri pada kalian, tapi sekarang, aku sudah benar-benar menyesal!" ujar Roy.
"Sudahlah, kau bekerjalah dengan baik, supaya hidupmu juga tambah baik, sehingga kau mengerti tentang rasa tanggung jawab!" Kata Kenny.
"Baik!" sahut Roy.
"Ayo sayang, kita lanjutkan perjalanan kita ke rumah sakit!" ucap Kenny sambil menggandeng tangan Felly masuk kedalam mobilnya, sementara Icha sudah naik duluan ke dalam mobil.
****
__ADS_1