
Felly menyodorkan kotak yang berisi roti dan aneka kue yang di bawa dari tokonya.
"Mau makan roti Ken?" tanya Felly.
"Ayo Mister, makan rotinya, biar cepat sembuh ... Nanti kita bisa main lagi!" Cetus Icha.
"Ya sayang, tapi Mister maunya di suapin Mami!" Ujar Kenny.
"Idih...Mister manja, masa sudah besar di suapin, kalah dong sama aku!" Kata Icha.
"Makan sendiri lah Ken, bukannya tadi kamu sudah di suapi Dini?" tanya Felly.
"Itu Dini yang inisiatif menyuapiku, bukan aku yang minta!" Sahut Kenny.
"Iya, kamu memang tidak memintanya, tapi kamu juga tidak menolaknya kan??" tanya Felly lagi sambil mulai membuka bungkus roti itu.
"Sudah dong cemburunya sayang, aku ini lagi sakit, seharusnya di sayang, di belai, di manja ...!" Ucap Kenny.
Dini mulai menyodorkan roti coklat itu ke mulut Kenny, sementara Icha duduk di atas ranjang di samping Kenny sambil sesekali memijit kaki Kenny.
Kenny makan dengan bersemangat sampai satu bungkus roti itu habis.
"Wah, kalau kalian di sini terus aku akan cepat sembuh!" Ujar Kenny.
"Bagus dong Mister, biar kita cepat ke pantai!" Sahut Icha senang.
"Icha, masa kalau Mister sembuh langsung di ajak ke pantai? Kan harus istirahat dulu, pulihkan badannya dulu...begitu Cha!" ucap Felly memberi pengertian.
"Mister tenang saja, aku selalu siap pijitin Mister, aku kan jago pijat, Mami saja sering kok aku pijitin!" Ujar Icha bangga.
Tiba-tiba wajah Kenny berubah kemerahan, seperti sedang menahan sesuatu.
"Ada apa Ken?" tanya Felly cemas.
"Fell, aku ... Aku mau pipis, udah kebelet dari tadi ... !" Lirih Kenny malu.
"Oh, aku panggilan suster ya!" Sahut Felly yang langsung hendak beranjak berdiri.
"Jangan!" Cegah Kenny sambil menarik tangan Felly. Dia tidak mau suster Lela yang membantunya.
"Lalu bagaimana Ken? Tanganmu ada infusnya, tubuhmu juga terlihat lemah!" Ucap Felly.
"Antar aku ke toilet Fell, tolong pegangin infusnya!" Pinta Kenny.
__ADS_1
Akhirnya Felly membantu Kenny berjalan perlahan ke toilet, kepala Kenny pusing sehingga dia memegangi kepalanya dengan tangannya.
"Mami mau kemana bawa Mister?" Tanya Icha.
"Mister mau pipis Cha, Mami cuma antar ke toilet!" Jawab Felly.
Setelah di toilet, ternyata Kenny kesulitan untuk membuka celananya sendiri karena dia masih memakai celana jeans.
Darah sudah keluar dari tangan Kenny karena selang infus yang ketarik.
"Aku panggilkan Leo temanmu ya?" tawar Felly yang merasa mulai tidak enak.
"Jangan Fell, kelamaan, lebih baik kau bantu aku cepat aku sudah kebelet, kau buka saja resleting celanaku, buang saja rasa malu, toh suatu hari kita juga akan menikah, anggap saja ini praktek melayani suami!" Kata Kenny.
"Tapi ... !"
"Ayo cepat Fell, tolong pegangin, apa kau mau aku ngompol?" tangan kiri Kenny sudah berusaha membuka celananya tapi belum berhasil.
Akhirnya dengan menutup matanya, Felly membuka resleting celana Kenny, lalu mulai mengeluarkan benda yang ada di dalamnya, tanpa menunggu lama Kenny langsung pipis sampai air seni Kenny terkena di tangan Felly.
"Felly buka saja matamu, karena kamu memejamkan mata, malah jadi berantakan kan ... !" Pekik Kenny saat melihat pipisnya kemana-mana bahkan tercecer di lantai toilet.
"Maaf Ken, aku kan malu ... masa harus lihat punyamu sebelum waktunya!" Sahut Felly.
Akhirnya dengan terpaksa Felly membuka matanya, kemudian dengan menahan rasa malu dia membersihkan milik Kenny dengan air, lalu memasukan kembali ke dalam celananya.
Setelah selesai, Felly kembali memapah Kenny kembali ke ranjangnya.
Icha nampak sedang bermain dengan bonekanya di sofa di sudut ruangan itu.
"Sekarang kau istirahat saja Ken! Dan mohon lupakan kejadian yang barusan itu!" Ucap Felly dengan wajahnya yang memerah menahan malu karena dia sudah melihat milik Kenny.
"Sini ... sini ... duduklah di sini sayang, bareng Icha ... kamu tidak usah malu, tenang saja Fell, cuma kamu satu-satunya wanita yang pernah melihat dan menyentuh milikku!" Ujar Kenny sambil tersenyum.
"Jangan di bahas lagi!" Sentak Felly.
Kenny tertawa sambil menjawil dan mencubit lembut pipi Felly.
"Cha ... sini Cha, kita duduk disini sama-sama, kita kan calon keluarga!" Panggil Kenny. Icha langsung datang dan bergabung duduk dengan mereka sambil menggendong bonekanya.
****
Sementara Leo masih menikmati makan siangnya di kantin rumah sakit bersama Dini.
__ADS_1
Dini tidak menyantap makanannya, dia hanya memutar-mutar sendok dan garpu di piringnya.
"Cepat habiskan makananmu Din! Dari tadi bengong saja!" Seru Leo.
"Aku capek Le, Rasanya aku mau pulang saja!" Kata Dini yang terlihat tidak nafsu makan itu.
"Makan yang banyak Din, kau kan baru sembuh dari sakit, buat apa pikirin si Kenny terus ... belum tentu dia juga memikirkan mu!" Cetus Leo sambil terus melanjutkan makannya.
"Tapi aku susah banget move on dari dia Le, Ada saja kejadian yang membuat aku semakin hari malah semakin ... mencintainya!" Ucap Dini.
"Apa sih bagusnya si Kenny, cuma menang ganteng saja dia!" Cetus Leo.
"Entahlah, aku juga tidak tau Le, Perasaan itu datang dan mengalir begitu saja!" Sahut Dini.
"Sabar Din, si Kenny itu kan cuma satu, jadi ya salah satu dari kalian yang harus mengalah, benar-benar beruntung tuh si Kenny, banyak wanita yang tulus mencintainya ... tidak seperti aku!" Sungut Leo.
Dini tertawa mendengar perkataan Leo.
"Leo ... Leo ... makanya, hentikan dulu kebiasaanmu yang suka nongkrong di klub malam, berganti-ganti teman wanita, nanti juga banyak yang mengejar mu!" Hibur Dini.
"Ah, mana ada wanita yang mau mencintaiku dengan tulus, selama ini mereka hanya bersamaku sebatas bersenang-senang saja!" Jawab Leo.
Setelah Leo selesai makan, dia mengajak Dini kembali ke kamar Kenny, merekapun segera kembali keruangan Kenny.
Ceklek..!
Pintu ruangan itu langsung di buka dari luar, Leo dan Dini langsung masuk kedalam, dan mereka tertegun saat melihat Kenny dan Felly saling berpelukan Icha ada di tengah-tengah mereka.
Melihat kedatangan Leo dan Dini yang tiba-tiba, spontan Felly langsung melepas pelukan Kenny.
"Tidak apa-apa di lanjutkan, aku mau pulang, aku hanya mau mengambil tas ku saja!" Cetus Dini yang langsung mengambil tasnya yang terletak di atas nakas.
Setelah mengambil tasnya, Dini langsung membalikan badannya berjalan keluar ruangan meninggalkan mereka.
"Din ... Din ... tunggu!!" Panggil Leo. Dini tak bergeming, dia tetap berjalan tanpa menoleh lagi.
"Leo, kau kejar Dini, dan tolong antarkan dia pulang!" Seru Kenny.
Leo lalu ikut keluar dari ruangan itu untuk mengejar Dini.
Bersambung ...
****
__ADS_1