
Para guru dan staff sudah naik ke dalam bus, sementara kendaraan mereka di titipkan di sekolah.
Kenny menggandeng Felly dan Icha naik ke dalam bus, mereka duduk di baris tiga bagian tengah.
Pak Chandra nampak duduk di kursi paling depan bersama dengan istrinya.
Sementara Mam Indah duduk di depan Kenny dengan seorang anaknya yang berusia remaja.
Sebelum duduk Mam Indah bersalaman dengan Kenny dan Felly, juga Icha.
"Oh, ini Icha ya ... murid kesayangannya Mister Kenny!" Sapa Mam Indah saat menyalami Icha.
"Iyes, ini Tante siapa?" Tanya Icha tak kalah ramah.
"Panggil saja Mam Indah, Mam Indah teman Mister Ken di sekolah ... " Jawab Mam Indah.
"Lho, kok Mam Indah sudah tua, seperti Oma-oma!" Cetus Icha polos.
"Hush Icha! Kok begitu bicaranya? Maaf ya Mam ... !" Kata Felly yang merasa tidak enak.
"Mam Indah ini biar tua tapi gaul Cha! Dia itu guru senior di sini, sudah dua puluh tahun mengajar di sekolah ini, Icha harus patuh lho sama Mam Indah!" Ujar Kenny sambil mengacak rambut Icha.
"Huh, kamu ini lucu sekali, pantas saja Kenny tidak bisa lepas darimu!" Mam Indah mencubit gemas pipi Icha.
Tak lama Mr. Rio masuk, dia juga membawa pacarnya, mereka jalan bergandengan menuju ke kursi di bagian belakang pojok. Mr. Rio pintar mencari posisi enak.
Setelah semua guru dan staf sudah siap di dalam Bus, Pak Chandra mulai mengabsen mereka satu persatu.
Namun ternyata Dini belum tiba di tempat itu, mereka mulai gelisah menunggu. Sudah hampir tiga puluh menit menunggu Dini belum juga muncul, Pak Chandra beberapa kali menelepon namun tak kunjung di angkat.
Tiba-tiba Dini muncul dari pintu depan bus, dia berjalan sendirian tidak mengajak siapapun.
Kemudian dia duduk di samping Mam Indah di bangku baris tiga di depan Kenny.
Dini tersenyum sekilas ke arah Kenny dan Felly, tak lama kemudian bus pun bergerak perlahan meninggalkan sekolah menuju ke puncak.
Perjalanan hari itu lumayan lancar, sepanjang perjalanan mereka bernyanyi-nyanyi dengan gembira, sekolah menyediakan berbagai alat musik sebagai fasilitas bagi para guru.
Icha terlihat sangat gembira dan antusias, dia terus bernyanyi dengan riangnya sepanjang jalan.
Akhirnya mereka sampai di puncak, bus segera menuju kesebuah villa yang besar, villa itu terdiri dari banyak kamar.
__ADS_1
Para guru mulai mengatur posisi kamar masing masing. Bagi yang sudah berkeluarga mereka akan mendapat satu kamar yang besar. Bagi yang belum menikah, mereka akan tidur terpisah.
Kenny satu kamar dengan Mr. Rio dan Anton, anaknya Mam Indah. Dini satu kamar dengan Mam Indah, sedangkan Felly satu kamar dengan Icha.
Pak Chandra dan istrinya mendapat kamar yang paling besar, sementara para guru dan staf yang lain masing-masing mendapat kamar sesuai dengan bagiannya.
Setelah mereka semua mendapat kamar, mereka langsung makan siang prasmanan yang telah di sediakan oleh pihak pengelola.
Kenny nampak makan satu meja dengan Felly dan Icha, sementara Dini bergabung dengan Mam Indah dan guru yang lain.
"Kau tidak bergabung dengan mereka Ken?" Tanya Felly.
"Tidak, aku sudah sering bergabung dengan mereka di sekolah, sekarang saatnya aku bergabung dengan kalian ... " Sahut Kenny.
"Mister, aku senang deh, acaranya seru, aku jadi tidak sabar mau menunggu api unggun nanti malam!" Seru Icha senang. Wajahnya sangat cerah dari tadi.
"Sabar Cha, habis ini kita masih ada waktu untuk istirahat sampai jam 4 sore, setelah itu kita kembali berkumpul di Aula Villa!" Jelas Kenny.
"Mister, kok aku tidak satu kamar dengan Mister? Aku cuma berdua sama Mami saja?" Tanya Icha.
"Iya Cha, kan Mister dan Mami belum menikah, nanti kalau Mister sudah menikah dengan Mami, kita baru bisa tidur satu kamar!" Jawab Kenny.
"Oh, begitu ya ... Makanya Mister cepat dong menikah sama Mami!" Cetus Icha.
"Fell, Jangan terlalu keras dengan Icha, dia belum mengerti sayang ... Icha, Mister janji secepatnya akan menikahi Mami Icha, Mister harus minta restu dulu dengan Ayah Mister!" Ucap Kenny sambil mengelus kepala Icha.
Mereka di beri waktu istirahat sampai jam empat sore, setelah itu mereka harus kembali berkumpul di aula villa untuk acara selanjutnya.
Kenny menghempaskan tubuhnya di kasur kamar villanya, Mister Rio nampak sudah berbaring duluan sambil memainkan ponselnya.
"Ken, kau ini seperti sudah berkeluarga saja, two in one!" Seru Rio meledek.
"Terserah orang mau bilang apa! Kau seperti orang yang tidak pernah jatuh cinta saja!" Sahut Kenny cuek.
"Kasihan tuh si Dini Ken, dia datang sendirian lho, tidak mengajak siapapun, mungkin dia berharap kau yang akan mendampinginya nanti!" Ujar Rio.
"Aku sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Dini, semua orang juga sudah tau, kau jangan memperkeruh suasana deh!" Jawab Kenny.
Dia langsung menutup kepalanya dengan bantal, tidak mau mendengar lagi komentar Rio.
******
__ADS_1
Sore itu, semua guru dan staf sudah berkumpul di aula villa, Pak Chandra berdiri di depan memberikan pengarahan.
"Saat ini kita akan jalan-jalan ke daerah wisata dekat villa, setelah itu kembali kesini dan makan malam bersama, lalu kita akan mempersiapkan acara api unggun dan acara spesial!" Jelas Pak Chandra.
"Kita jalannya bersama atau berpencar Pak? Atau bebas?" tanya Mam Indah.
"Jalan-jalannya bebas saja, boleh sendiri atau berkelompok atau apalah terserah kalian, tapi yang pasti jam enam sore sudah harus kembali ke villa!" Jawab Pak Chandra.
Mereka pun mulai berjalan dengan keluarganya masing-masing, Kenny nampak menuntun Icha berjalan ke arah air terjun. Beberapa guru juga berjalan menuju kesana.
Dini berjalan sendirian di depan Kenny, tadinya dia bergabung dengan guru yang lain, tapi entah mengapa sekarang mereka berpencar.
Jalan setapak menuju ke air terjun cukup curam, sambil menggendong Icha karena lelah, Kenny menggandeng tangan Felly.
Tiba-tiba Dini tergelincir di jalan bebatuan saat menuruni jalan setapak menuju ke air terjun.
Kenny yang berjalan di belakang Dini nampak terkejut, kemudian dia langsung menurunkan Icha dan menghampiri Dini yang terjatuh. Kaki Dini berdarah.
"Din! Kau tidak apa-apa?" tanya Kenny.
Matanya tertuju pada darah yang mengalir dari lutut Dini, beberapa guru dan staf yang melihatnya langsung menghampirinya.
"Yah, Miss Dini sih jalan sendirian, darahnya banyak juga, langsung balik ke villa saja ya Miss?!" Kata seorang guru.
Dini berusaha bangkit, namun kaki nya terlihat gemetar.
"Mister Kenny, ayo gendong Miss Dini ke villa, dia tidak kuat jalan tuh!" Cetus seorang guru yang lain.
Kenny nampak salah tingkah, dia melirik sekilas ke arah Felly.
Kebetulan semua guru laki-laki termasuk pak Chandra tidak menuju ke air terjun, mereka jalan ke arah yang lain.
"Dia butuh pertolonganmu Ken, kamu bawa saja kembali ke villa, aku dan Icha tidak apa-apa!" Ucap Felly.
"Tapi ... " Kenny nampak ragu-ragu.
"Sudahlah, aku dan Icha sendiri saja ke air terjun, kamu pergilah sekarang, atau darahnya akan semakin banyak yang mengalir?" Kata Felly sambil menggandeng tangan Icha.
Akhirnya Kenny mulai menggendong Dini kembali ke Villa, sementara Felly dan Icha juga guru-guru yang lain melanjutkan perjalanannya menuju ke air terjun.
Bersambung ...
__ADS_1
*****