Papi Untuk Mami

Papi Untuk Mami
Kebahagiaan Kenny


__ADS_3

Di kantin rumah sakit yang cukup luas itu, Kenny memesan beraneka macam makanan, semuanya penuh terhidang di meja.


Felly menggaruk kepalanya bingung melihat tingkah Kenny yang terlalu berlebihan hari ini.


"Ken, kau ini apa-apaan sih? Aku cuma butuh makan satu jenis makanan, kenapa kau memesan begitu banyak makanan?!" tanya Felly.


"Supaya anakku sehat, dan cepat besar, juga cepat lahir!" sahut Kenny.


"Ken, tetap saja bayinya akan lahir sembilan bulan, mana bisa di percepat, kau ini lebay deh!" sungut Felly.


"Yah, aku hanya mengekspresikan kebahagiaanmu saja, pokoknya aku akan terus di sisimu selama kau hamil, kau jangan masak, jangan capek, jangan kerja berat, jangan ...."


"Ken! Kau ini, ribut sekali! Lihat tuh banyak orang yang melihat ke arah kita, mereka tertawa melihat begitu banyak makanan di meja ini!" ujar Felly cemberut.


"Aku tak perduli dengan pandangan orang, yang penting anak dan istriku sehat!" ucap Kenny sambil mencoba menyuapkan beberapa sendok makanan ke mulut Felly.


"Kenny ah, malu!" sergah Felly saat melihat orang-orang memperhatikannya.


Setelah mereka menyelesaikan makannya, Kenny segera mendaftarkan Felly ke poli kandungan, ada beberapa orang yang mengantri.


Kenny duduk di sebelah Felly sambil mengelus perut Felly yang masih rata itu.


"Kenny ah, malu tuh di liatin, orang masih rata perutnya di elus-elus!" sungut Felly.


"Ehm, tidak apa-apa, masa orang tidak boleh seneng sih!" kilah Kenny.


"Yah tapi jangan lebay juga kali, emangnya cuma kamu aja yang mau jadi calon Papi, tuh lihat yang lain banyak!" ujar Felly sambil menunjuk pasangan yang mengantri dengan dagunya.


"Iya iya, tapi jangan sewot dong sayang, tadi Icha telepon tanya kapan kita pulang, aku bilang kita pulang agak lama soalnya mau kasih kejutan!" kata Kenny.


"Tapi Icha titip oleh-oleh lho Ken!" sergah Felly.


"Ini lebih membahagiakan dari pada oleh-oleh apapun! Dia pasti akan senang mendapatkan adik bayi!" ucap Kenny sambil mencium perut Felly, sehingga menimbulkan senyuman pada orang yang melihatnya.


"Kenny ih, maluu Ken, bisa tahan tidak sih, di rumah aja kalau mau begitu!" cetus Felly sambil mendorong kepala Kenny menjauhi perutnya.


Setelah cukup lama mengantri, akhirnya tiba giliran Felly dan Kenny yang masuk ke dalam ruang praktek Dokter kandungan.

__ADS_1


Seorang Dokter perempuan yang terlihat ramah dan cantik, yang bernama Dokter Lia.


"Ayo silahkan Pak, Bu, ada yang mau di konsultasikan?" tanya Dokter Lia ramah sambil tersenyum.


"Ini Dok, tolong periksa istri saya, katanya dia hamil!" ujar Kenny polos. Dokter Lia nampak tertawa.


"Oya? Baiklah, silahkan berbaring Bu, saya akan periksa dengan USG, supaya lebih akurat dan tidak menebak-nebak.


Kemudian Felly berbaring di tempat yang telah di sediakan. Dokter Lia mulai mengoleskan gel di perut Felly, kemudian mulai melihat ke layar monitor yang ada di hadapan mereka.


"Nah, tuh kantong hamilnya dah kelihatan, tapi ini masih kecil sekali ya, masih rentan, di usia kehamilan yang sekarang ini, janin masih sangat rentan!" jelas Dokter Lia.


"Tenang Dok, selama kehamilannya, saya akan melarangnya untuk bekerja, saya akan menjaganya bahkan kalau perlu saya juga akan cuti selama kehamilan istri saya!" sahut Kenny bersemangat.


"Kenny! Kau ini, kan aku sudah bilang jangan berlebihan, lagi pula untuk apa kau cuti segala? Bukankah kau juga mengajar di sekolah hanya sampai jam 3?" sengit Felly.


"Aku kan bisa keluar dari sekolah dan membuka les private di rumah, supaya bisa lebih menjagamu!" tukas Kenny.


"Sudah, sudah, tidak perlu meributkan hal yang baru mulai, menjaga kandungan bukan berarti tidak melakukan pekerjaan apapun, hanya tetap di lakukan sesuai kapasitasnya, juga jangan terlalu lelah!" jelas Dokter Lia.


"Maaf dokter, suami saya ini memang kadang suka berlebihan, harap maklum!" ujar Felly.


"Tidak apa-apa, maklum anak pertama ya Pak!" sahut Dokter Lia.


"Sebenarnya saya sudah punya anak umur 6 tahun Dok, suami saya ini yang baru mau punya anak kandung!" jujur Felly. Dokter Lia manggut-manggut.


"Oh pantesan!" kata Dokter Lia.


"Tapi sayang saya lebih dari sekedar anak kandung Dok," tambah Kenny.


"Iya Pak, saya percaya, Bapak ini kelihatan sekali penyayang keluarga!" puji Dokter Lia.


Setelah Dokter Lia memberikan resep untuk penguat kandungan. Kenny dan Felly beranjak keluar dari ruangan dokter dengan wajah cerah.


Mereka mulai menebus obat, tak lama setelah itu, mereka berjalan ke parkiran, kemudian mulai menaiki mobilnya menuju ke rumahnya.


Hari sudah menjelang sore, saat mereka hampir tiba di rumahnya. Felly mengajak Kenny mampir ke sebuah toko kue untuk membelikan Icha oleh-oleh.

__ADS_1


"Ken, bagaimana dengan ruko yang kau berikan padaku itu? Aku sangat ingin membuka usaha toko Roti di sana!" ungkap Felly.


"Kau boleh membuka toko roti itu sayang, tapi aku tidak memperbolehkan kamu mengelolanya sendirian!" jawab Kenny.


"Benarkah?? Aku kira kau melarang ku untuk membuka kembali toko roti impianku!" ujar Felly sambil memeluk Kenny.


"Lakukanlah apa yang kamu suka, asal anakku ini aman dan nyaman di dalam perut Maminya, aku sangat tak sabar ingin melihatnya lahir ke dunia!" ucap Kenny yang kembali mengelus dan menciumi perut Felly.


Kemudian mereka langsung pulang kerumah mereka. Waktu sudah menunjukan jam 5 sore saat mereka tiba di rumah mereka.


Pak Banu nampak duduk santai di depan teras rumahnya, Icha duduk di sebelahnya, kelihatannya mereka sedang terlibat suatu pembicaraan.


Mbok Sumi membukakan pintu gerbang saat mobil Kenny sudah terparkir di depan gerbang.


"Tuh Mami dan Papi sudah pulang!" seru Icha sambil berlari ke arah gerbang.


"Cha! Icha sudah mandi belum?" tanya Felly saat turun dari mobil.


"Sudah dong Mami, aku baru selesai mandi, terus ngobrol deh sama kakek, kakek punya cerita seru tentang masa mudanya dulu!" sahut Icha semangat.


"Oya? Ngobrol apa saja sama kakek?" tanya Kenny yang langsung menggendong Icha saat turun dari mobilnya.


"Kata Kakek, dulu waktu Papi masih kecil, Papi nakal suka berantem, tapi kalau di rumah suka ngompol, dan Papi malu kalau aibnya ketauan Hahaha!" ujar Icha sambil tertawa senang.


"Kau cerita apa saja dengan Icha Ayah? Jangan mengumbar aibku! Buat malu saja!" cetus Kenny dengan wajah cemberut.


"Ooh, jadi Papi Kenny dulu jagoan tapi suka ngompol ya!" ledek Felly sambil menahan senyum.


"Diam kau! Masa lalu tak usah di ungkit!" sahut Kenny malu dengan wajah merah padam.


"Tidak apa-apa Papi, aku juga masih suka ngompol kok! Semalam saja aku ngompol di kasur, cuma karena takut di marahi Mami, aku tutup ompolku pakai selimut!" jujur Icha.


"Ichaaa!!" Felly langsung melotot ke arah Icha yang masih tertawa cekikikan.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2