
Bu Nuri, wakil kepala sekolah berjalan dengan gontai menuju ke ruangan Kenny.
Agak ragu-ragu dia mengetuk pintu ruangan itu.
Perlahan dia membuka pintu ruangan itu, Kenny nampak duduk di kursi kebesarannya.
"Silahkan duduk!" titah Kenny pada Bu Nuri, Bu Nuri segera duduk di hadapan Kenny.
Bu Nuri diam dan menunduk, tidak berani menengadahkan kepalanya.
"Bu Nuri tau apa maksud saya memanggil Bu Nuri keruangan saya?" tanya Kenny.
"Tidak Mister, kata Pak Budi, Mister hanya memanggil saya keruangan Mister!" jawab Bu Nuri.
"Bu Nuri, menurut Pak Budi, Bu Nuri sudah bekerja di sekolah ini selama 10 tahun, kalau saya boleh bertanya, berapa usia Bu Nuri sekarang?" tanya Kenny.
"34 tahun Mister!" jawab Bu Nuri.
"Berarti dari sejak usia 24 tahun, Bu Nuri sudah bekerja di sini dengan Ayah saya, dan itu masa kerja yang cukup lama, sampai Bu Nuri kini di angkat menjadi wakil kepala sekolah!" jelas Kenny.
"Iya Mister!" singkat Bu Nuri.
Kenny terdiam, sesungguhnya hatinya sangat tidak tega untuk mengeluarkan orang yang sudah bertahun-tahun mengabdi di sekolah ini, hanya karena sebuah kesalahan sekali.
"Bu Nuri, katakan pada saya, apa maksud Bu Nuri melakukan itu semua terhadap saya dan Bu Ana?" tanya Kenny sambil menatap Bu Nuri dengan lembut, tidak ada kemarahan sama sekali.
Bu Nuri terperangah mendengar pertanyaan Kenny.
"A ... Apa maksud Mister?" tanya Bu Nuri gugup.
"Saya sudah tau siapa pelaku yang sudah mengunci saya di ruang TU dan mengikuti saya pulang dan mengantar Bu Ana!" sahut Kenny tegas.
Wajah Bu Nuri mendadak pucat, keringat dingin mengucur deras di keningnya, tangannya juga sedikit gemetar.
"Tidak! Mister tidak ada bukti kalau itu adalah perbuatan saya!" sangkal Bu Nuri.
"Jadi Bu Nuri masih belum mau mengakuinya, baiklah, saya akan panggilkan saksi mata!" ujar Kenny yang langsung berdiri hendak melangkahkan kakinya.
"Jangan!" cegah Bu Nuri.
Kenny menoleh ke arah Bu Nuri yang masih duduk di tempatnya.
__ADS_1
"Baiklah Mister, maafkan saya, sebenarnya ... saya tidak sengaja melakukan itu Mister!" lanjut Bu Nuri dengan ucapan lirih.
Kenny kembali duduk di tempatnya.
"Jelaskan apa motivasi mu melakukan hal serendah itu!" cetus Kenny.
"Sebenarnya, saya dendam dengan Bu Ana, karena saat Pak Banu masih mengelola sekolah ini, Bu Ana selalu di prioritaskan mendapat tunjangan, bonus dan kenaikan gaji, padahal dia belum lama kerja di sini!" jawab Bu Nuri.
"Lalu?"
"Sedangkan saya yang sudah 10 tahun bekerja, hanya di beri jabatan, tapi tidak ada kenaikan gaji yang signifikan, tidak pernah dapat bonus dari sekolah!" lanjut Bu Nuri.
"Hanya itu?" tanya Kenny.
"Bukan hanya itu Mister, alasan yang lain, sebenarnya ... sudah sejak lama, saya menyukai Mister, namun saya tidak berani mengutarakannya, saya cemburu saat melihat Mister mengantar Bu Ana pulang, saya lantas mengikuti kalian dan merekam dengan video di ponsel saya!" ucap Bu Nuri dengan wajah menunduk dan air mata yang sudah berjatuhan.
"Bukankah kau tau aku sudah beristri??" tanya Kenny.
"Ya Mister, saya tau, waktu itu juga saya begitu marah, apalagi Mister menikahi Maminya Icha yang janda, sementara saya, masih perawan sampai saat ini!" ungkap Bu Nuri.
Kenny menatap tajam ke arah Bu Nuri setelah mendengar pengakuan dari mulut wanita itu.
"Aku tidak menyangka, seorang wakil kepala sekolah bisa melakukan hal se memalukan itu! Besok, kau buat surat pengunduran diri, dan berhentilah bekerja disini!" tegas Kenny.
Tiba-tiba Bu Nuri juga berdiri dan langsung bersimpuh di belakang Kenny sambi memeluk kaki Kenny.
"Lepaskan!" sentak Kenny sambil mencoba menepiskan pegangan Bu Nuri.
Namun Bu Nuri terlalu kuat memeluk kaki Kenny.
"Ampun Mister, jangan pecat saya! Saya sudah 10 tahun mengabdi di sini, apa kata orang tua saya kalau saya tak lagi menjabat sebagai wakil kepala sekolah, apalagi sebentar lagi sekolah ini statusnya akan naik!" tangis Bu Nuri menghiba-hiba.
"Aku tidak mau memiliki guru yang harusnya jadi panutan malah berbuat kejahatan, dengan alasan pribadi! Maaf, keputusan saya sudah bulat, mulai besok saya tunggu surat pengunduran dirimu, atau kau sama sekali tidak dapat pesangon!" ancam Kenny.
Akhirnya perlahan Bu Nuri melepas pegangannya dan menangis sesenggukan di ruangan itu.
Sementara Kenny sudah berjalan keluar dari ruangannya dan berjalan menuju ruang kepala sekolah.
Sesampainya di ruang kepala sekolah, Kenny langsung duduk di hadapan Pak Budi yang sedang menyusun struktur organisasi guru.
Pak Budi agak terkejut melihat kedatangan Kenny yang mendadak itu. Apalagi dengan wajah yang sulit untuk di artikan.
__ADS_1
"Pak Budi, saya sudah memberhentikan Bu Nuri dari sekolah ini, besok kalau dia datang dan membawa surat pengunduran diri, tolong beritahu saya!" kata Kenny.
"Baik Mister, tapi siapa yang akan menggantikan jabatan Bu Nuri?" Pak Budi balik bertanya.
Kenny nampak berpikir sebentar sebelum mengambil keputusan.
"Sementara, biar Pak Yudi yang akan menggantikan kedudukan Bu Nuri, aku lihat Pak Yudi cukup berkompeten, walau dia guru olah raga, namun. dia selalu kreatif dan inovatif!" ujar Kenny.
"Baiklah Mister!" jawab Pak Budi.
"Oya, Pak Budi tolong hubungi Bu Ana untuk segera mempersiapkan diri bekerja lagi di sini, jangan lupa beri dia fasilitas kendaraan, kalau motor belum mencukupi, sepeda lebih baik?!" ujar Kenny.
"Baik Mister!" sahut Pak Budi.
Tak lama kemudian, Kenny keluar dari ruangan Pak Budi, bersamaan dengan bunyi bel pulang sekolah untuk kelas 1 dan 2.
Cepat-cepat Kenny menuju ke kelas Icha, berniat akan menjemputnya.
Para orang tua yang berkerumun untuk menjemput anak mereka nampak mendekati Kenny.
"Mister Kenny! Maafin kita ya, yang hampir percaya gosip murahan itu!" kata Seorang ibu.
"Iya Bu, tidak apa-apa!" sahut Kenny.
"Sekarang sudah tidak viral lagi kok Mister, karena sudah ada klarifikasi sama yang membuat berita!" tambah yang lain.
"Oya? Klarifikasi apa maksudnya?" tanya Kenny.
Seorang ibu menyodorkan ponselnya di hadapan Kenny.
"Ini baru saja di post Mister, dia minta maaf karena telah menyebar gosip murahan itu!" kata Ibu yang lain.
Kenny tercengang saat melihat ada Bu Nuri yang berbicara dengan begitu jelas perihal permohonan maaf kepada semua pengguna media sosial.
"Tidak sangka ya, pelakunya wakil kepala sekolah yang selama ini di hormati orang!" bisik seorang ibu lainnya.
"Iya ya, kasihan deh Mister Kenny, nama yang harum jadi tercemar!" timpal yang lain.
"Tapi yang penting sudah beres ya ibu-ibu, Mister Kenny tidak mungkin melakukan hal serendah itu!" ujar Ibu yang lain.
Icha yang sudah keluar kelas nampak mendekati Kenny yang berdiri menunggunya.
__ADS_1
****