Papi Untuk Mami

Papi Untuk Mami
Ingin Menjalin Persahabatan


__ADS_3

Sejak Felly kembali di rawat di rumah sakit, Kenny menjalani hari-harinya sebagian besar di rumah sakit.


Terkadang Pak Banu, Icha dan Mbak Nur bergantian datang ke rumah sakit, kadang Mbok Sumi membawakan makanan ke rumah sakit.


Kini kehamilan Felly sudah memasuki usia 7 bulan, perutnya sudah terlihat membesar, bayi di dalam kandungan Felly juga semakin lincah, seolah memberikan harapan dan semangat kedua orang tuanya.


Namun, kondisi fisik Felly terlihat semakin melemah, dia sering pusing tiba-tiba, perutnya sering merasa sakit, terkadang juga terjadi pendarahan.


Tim dokter berupaya memberikan nutrisi dan vitamin melalui makanan dan infusan.


"Pak Kenny, kalau memungkinkan sepertinya bayi anda harus di lahirkan prematur!" ucap Dokter Dimas pagi itu saat berkunjung ke ruang rawat Felly.


"Kenapa harus begitu Dok?" tanya Kenny.


"Kondisi seperti ini adalah kondisi yang langka, semakin cepat bayi anda di lahirkan, semakin cepat penanganan kami untuk tumor istri anda!" jelas Dokter Dimas.


Kenny nampak menghembuskan nafas berat. Dia mengusap wajahnya yang kini mulai kusut tak terurus.


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya, saya percayakan semuanya pada Dokter!" ucap Kenny.


"Baiklah Pak Kenny, kalau begitu saya permisi dulu, mau mengunjungi pasien yang lain!" sahut Dokter Dimas sambil beranjak meninggalkan ruangan itu.


Kenny perlahan menghampiri istrinya yang masih berbaring. Dia duduk di sisi pembaringan istrinya itu, lalu mengecup keningnya.


Felly mulai membuka matanya lalu mencoba tersenyum. Tangannya mengusap wajah Kenny dengan lembut.


"Ken, kau tampak muram, mana senyum yang dulu pernah menggetarkan hatiku?" tanya Felly dengan tatapan mata yang sayu.


"Sayang, seandainya sakit mu bisa di pindahkan, aku ikhlas asalkan kau selalu sehat, tetaplah berjuang untukku, untuk Icha dan juga calon bayi kita!" jawab Kenny sambil menggenggam tangan Felly.


"Ken, seandainya aku memang harus pergi, aku titip Icha, juga bayi kita padamu, aku benci kesedihan, aku tak ingin Kenny ku juga terus larut dalam kesedihan, aku capek Ken, aku bosan ... aku ingin hidup di dunia yang lain, aku capek harus melawan takdir yang sudah di tetapkan untukku!" ucap Felly.


Kenny memeluk istrinya itu sambil menangis.


"Jangan pernah katakan itu padaku, ku mohon, kau harus berjuang, tunjukan kalau kau memang menyayangi aku, ayo tunjukan padaku!!" seru Kenny.


"Aku mulai jenuh Ken ..." ucap Felly. Dia mulai memejamkan matanya.


Dia kembali tertidur. Kenny lalu menyelimuti tubuh Felly.


Ceklek!


Seseorang masuk ke dalam ruangan itu.

__ADS_1


Kenny menoleh ke belakang, Roy, adik ipar Felly sudah berdiri di depan ranjang Felly, di tangannya ada satu kantong plastik yang di jinjingnya.


"Kau Roy?" Ujar Kenny. Roy berjalan mendekat.


"Ini ada buah pisang!" Roy menyodorkan bungkusan kantong plastiknya ke arah Kenny.


"Trima kasih!" ucap Roy.


"Bagaimana kabar ibumu?" tanya Kenny.


"Ibu sudah meninggal satu Minggu yang lalu!" jawab Roy. Kenny terkesiap mendengarnya.


"Aku turut berdukacita!" ucap Kenny.


"Ya, trimakasih, aku sangat terkejut ketika mendengar Felly sakit cukup parah dalam keadaan hamil, aku sangat menyesal pernah berlaku kasar terhadapnya!" kata Roy.


"Sudahlah Roy, kau lupakan saja masa lalu, tak ada gunanya juga mengingat hal itu, saat ini aku hanya fokus pada kesembuhan istriku saja!" ucap Kenny.


"Aku juga kini tinggal seorang diri, ibu sudah tidak ada, aku berencana akan pergi ke Hongkong untuk menjadi TKI. Salah satu temanku menawari itu!" ucap Roy.


"Jadi kau akan pergi ke Hongkong? Kapan kau berangkat? Aku doakan kau akan sukses di sana!" kata Kenny.


"Trimakasih Ken, aku berhutang banyak padamu, walau ibuku sudah tiada, tapi selama dia di rawat kau banyak memberikan kami bantuan!" ucap Roy.


"Ya, semoga beliau tenang di alam sana," sahut Kenny.


Kembali sepi ruangan itu, seolah orang datang silih berganti, namun akhirnya kembali hanya tinggal berdua lagi.


Hati Kenny semakin sunyi, sekilas Kenny menoleh ke arah Felly yang terbaring, wajah itu semakin hari semakin pucat, membuat hati Kenny semakin teriris.


Tiba-tiba tubuh Felly bergerak, dia mulai mengerjapkan matanya, Kenny langsung mendekatinya.


"Kau sudah bangun sayang?" sapa Kenny.


"Ken ... aku butuh teman!" ucap Felly.


"Teman? Bukankah ada aku di sini?" tanya Kenny.


"Ya aku tau, kau memang selalu ada untukku, tapi aku butuh teman perempuan Ken," sahut Felly.


"Teman perempuan? Siapa?" tanya Kenny semakin tak mengerti.


"Dini Ken, panggil Dini kemari, aku butuh teman ngobrol, sejak aku di rawat lagi, sekali pun Dini tak pernah muncul, tolong panggil dia Ken!" pinta Felly.

__ADS_1


"Tapi, kenapa harus Dini?" tanya Kenny.


"Coba kau jawab aku, siapa lagi teman perempuanku selain Dini, aku tidak punya ibu juga mertua perempuan, Mbak Nur sibuk mengurus Icha, siapa lagi kalau bukan Dini?" jawab Felly.


"Tapi sayang, bukankah kau selalu cemburu jika ada Dini di antara kita?" tanya Kenny lagi.


"Kenny ... Kenny, saat seperti ini mana sempat aku memikirkan rasa cemburu, aku juga harus belajar cara berbagi!" tukas Felly.


"Berbagi? Apa maksudmu?"


"Berbagi suka dan duka Ken, siapa tau, saat aku menjalin persahabatan dengan Dini, beban ku menjadi ringan!" sahut Felly.


"Baiklah, nanti akan aku suruh Dini untuk datang menemui mu!" kata Kenny singkat.


Felly kembali memejamkan matanya.


Kenny beranjak dari tempatnya, dia kemudian keluar dari ruangan itu, sekedar untuk mencari udara luar yang segar dan melepaskan sedikit kepenatannya.


Kenny duduk di bangku taman rumah sakit itu, yang kelihatan teduh karena banyaknya pepohonan yang rindang.


Kenny merogoh ponsel di saku jaketnya, dia mulai menelepon ke sekertariat sekolah.


"Halo selamat siang dengan sekolah Rajawali, ada yang bisa kami bantu?!" sapa seorang karyawan yang bertugas di bagian sekertariat sekolah.


"Halo! Ini Indi bukan? Ini Mr. Ken, apakah semua guru sudah selesai mengajar?" tanya Kenny.


"Oh Mr. Ken, maaf ... Semua guru baru selesai mengajar Mr, sebagian dari mereka sudah ada yang pulang!" jawab Indi.


"Apakah Miss Dini sudah pulang? Bisakah kau cek?" tanya Kenny.


"Miss Dini masih ada di sekolah Mr, dia sedang mengatur kurikulum untuk tahun ajaran baru nanti! Baik akan saya panggilkan dulu ..."


Hening, Kenny menunggu Indi memanggil Dini.


Dalam hati Kenny bertanya, mengapa Dini bisa sedetil itu mengatur kurikulum, bukankah itu tugas pak Yudi selaku kordinator kesiswaan?


"Halo ..." suara Dini terdengar di sebrang telepon.


"Halo Din, maaf mengganggu, kalau sempat, bisakah kau datang ke rumah sakit untuk menemani Felly ngobrol?" tanya Kenny.


"Kenny? Tumben sekali kau mengajakku datang ke rumah sakit!" ucap Dini.


"Bukan aku yang mengajak, tapi istriku yang menginginkannya!" sahut Kenny.

__ADS_1


Dini terdiam untuk beberapa saat lamanya.


****


__ADS_2