Papi Untuk Mami

Papi Untuk Mami
Melamar Jadi Guru


__ADS_3

Seperti biasa, pagi hari adalah waktu yang paling sibuk di tempat kediaman Kenny, Felly dan Mbak Nur akan menyiapkan bekal dan perlengkapan Icha.


Mbok Sumi sibuk masak dan menyiapkan sarapan di meja makan.


Kenny sibuk mandi dan berpakaian, serta memakai dasi yang membutuhkan waktu beberapa lama hingga menjadi rapi.


"Lama-kelamaan Ayah bosan juga di rumah terus Ken, ajaklah Ayah ke sekolah, Ayah kan juga ingin lihat perkembangan sekolah Rajawali sekarang!" ujar Pak Banu pagi itu.


"Ayah mau ke sekolah? Baiklah Ayah, kita akan ke sekolah sama-sama, Ayo Cha, apa kau sudah siap?" tanya Kenny sambil melirik ke arah Icha.


"Siap Papi, Ayo Kek kita ke sekolah, teman-temanku pasti kaget saat lihat kakek nanti!" seru Icha antusias.


"Lho, kenapa teman-temanmu harus kaget?" tanya Pak Banu.


"Karena Kakek adalah kakek aku, aku punya kakek dong!" kata Icha bangga.


Mereka pun langsung berangkat ke sekolah bersama-sama, Pak Banu kini sudah bisa berjalan dengan menggunakan tongkat.


Sesampainya di sekolah, mereka lalu bergegas turun dari dalam mobil, Kenny membantu Ayahnya turun, mereka pun berjalan beriringan memasuki lobby.


Semua orang yang berpapasan dengan mereka nampak menunduk hormat.


"Nah, sekarang Icha masuk ke kelas ya, Papi sama Kakek mau masuk ke ruangan Papi dulu!" ucap Kenny sambil mengelus rambut Icha.


Setelah Icha masuk ke dalam kelas, Kenny dan Ayahnya langsung bergegas menuju ke ruangan Kenny.


"Wah, hebat ... sejak Ayah tidak kemari, sudah banyak perubahan di sekolah ini, Ayah sampai pangling!" ujar Pak Banu sambil berdecak kagum, dan memandang ke sekeliling sekolah yang memang sudah banyak perubahan di sana sini.


"Sekolah ini memang harus berubah Ayah, seiring dengan perkembangan jaman, kalau ketinggalan jaman, nanti tidak ada lagi murid yang mau belajar di sekolah ini!" cetus Kenny.


"Kau benar Ken, buatlah sesuka hatimu, Ayah juga kan memang sudah mewariskan sekolah ini untuk kau kelola, Ayah yakin, di tanganmu sekolah ini pasti akan maju dan berkembang!" ucap Pak Banu sambil menepuk bahu Kenny.


Mereka lalu mulai masuk ke ruangan Kenny, ruangan yang cukup luas dan desainnya terlihat modern, padahal tadinya itu adalah gudang yang tak terpakai, di pugar sedikit berubah jadi ruangan yang nyaman.


Pak Banu baru duduk menikmati ruangan itu, Pak Budi, kepala sekolah langsung masuk dan berbincang dengan Pak Banu.


"Hei Pak Budi, apa kabar??" tanya Pak Banu sambil menepuk punggung Pak Budi yang kini duduk di sebelahnya.


"Wah, Pak Banu kelihatan makin sehat saja! sering-sering main kesini Pak, sekarang sekolah kita bertambah maju, sejak Mister Kenny yang mengurusnya!" jawab Pak Budi.


"Ya, nanti aku akan sering-sering main ke sini!" jawab Pak Banu.

__ADS_1


"Oya Mister Kenny, hari ini ada beberapa calon guru yang akan interview, apakah Mister Kenny yang akan interview langsung?" tanya Pak Budi.


"Boleh Pak, jam 9 saya siap di ruangan saya, hari ada berapa orang yang interview, lihat latar belakang dan pengalamannya, saya tidak mau kasus Bu Nuri terulang kembali!" kata Kenny.


"Iya Mister, 3 orang ini adalah yang terpilih dari berapa banyak yang melamar di sini!" ujar Pak Budi.


"Baiklah kalau begitu!"


"Pak Budi, sepertinya kita perlu ngobrol di ruanganmu, biar Kenny menyelesaikan pekerjaannya di sini, apalagi sebentar ada yang mau interview!" ujar Pak Banu sambil beranjak berdiri.


"Baik Pak Banu, kita akan lanjutkan ngobrol kita di ruangan saya!" sahut Pak Budi sambil ikut beranjak dari duduknya.


"Ayah, kalau Ayah capek dan mau pulang kapanpun, bilang aku ya, nanti aku antar Ayah pulang ke rumah!" ucap Kenny.


"Kau tenang saja Ken, nanti aku pasti bilang padamu kalau aku mulai bosan!" sahut Pak Banu yang segera melangkah meninggalkan ruangan Kenny.


Kenny duduk di ruangannya, waktu sudah hampir menunjukan jam 9 pagi, Kenny mulai menginterview satu per satu calon guru yang datang ke ruangannya pagi itu.


Semua berjalan dengan lancar.


Para calon guru telah memenuhi kriteria sebagai tenaga pengajar profesional.


Hingga giliran interview yang terakhir.


Kenny membulatkan matanya saat melihat siapa orang yang akan menjadi calon tenaga pengajar itu.


"Dini??!" pekik Kenny.


Ternyata calon tenaga pengajar itu adalah Dini.


"Maaf Ken, eh, Mister Ken, bolehkan saya melamar di sekolah ini?" tanya Dini sambil tersenyum.


"Bukankah kamu ambil kuliah lagi di Malaysia?!" tanya Kenny.


"Kamu benar Ken, tapi aku telah menyelesaikan semuanya!" jawab Dini.


"Secepat itu kah?"


"Ya, karena sistem pembelajaran kami bisa di lakukan melalui online, jadi di manapun kami berada, tetap bisa melakukan perkuliahan!" jelas Dini.


"Bagaimana dengan orang tuamu yang katanya juga tinggal di Malaysia?" tanya Kenny lagi.

__ADS_1


"Mereka baik -baik saja, dan tetap tinggal di sana, entah mengapa, aku begitu merindukan Indonesia, aku merasa sangat nyaman di sini!" ucap Dini.


Kenny menghela nafas panjang.


"Maaf Din, kenapa kau tidak kembali mengajar di sekolah internasional, di tempat Pak Chandra?" tanya Kenny.


"Aku mau punya pengalaman mengajar di SD Ken, aku bosan mengajar anak SMA!" jawab Dini.


"Din, apakah kau punya maksud lain di balik ini semua?" tanya Kenny sambil mengecilkan volume suaranya.


"Tidak Ken, Kau jangan besar kepala, aku tidak ada maksud lain selain murni untuk mengajar anak-anak SD!" sahut Dini.


"Aku tidak bisa menerimamu Din, maaf!" ucap Kenny.


"Kenapa?" tanya Dini.


"Kamu guru profesional, aku tak akan mampu untuk menggajimu!" jawab Kenny.


"Tidak masalah kau memberiku gaji yang kecil, bagiku uang bukan segalanya!" sahut Dini.


"Jadi, sekarang apa mau mu?" tanya Kenny.


"Ijinkan aku di terima di sekolah ini, aku benar-benar ingin mengajar di sini Ken!" mohon Dini.


"Tapi ..."


"Lupakan masa lalu kita, aku juga sudah tak berniat untuk mengejarmu lagi Ken, kau abaikan saja diriku, aku sama dengan guru-guru yang lain!" ujar Dini.


"Baiklah, tapi aku perlu diskusi dulu dengan Pak Budi dan dewan guru yang lain, jadi bukan berdasarkan keputusanku sendiri!" kata Kenny.


"Tidak masalah, yang penting aku bisa di terima di sini!" sahut Dini.


"Baik, aku rasa cukup, kau boleh keluar dari ruanganku!" ucap Kenny.


Dini langsung berdiri dari posisi duduknya.


"Aku mohon diri, trimakasih atas kesempatannya!" ucap Dini sambil mulai membalikan tubuhnya dan melangkah keluar dari ruangan Kenny.


Kenny mulai menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya.


Kenapa hidupnya terus di bayang-bayangi oleh Dini, namun Kenny juga tidak bisa menolak, karena Dini melamar di sini secara profesional, dia juga harus bersikap profesional.

__ADS_1


****


__ADS_2