
Kenny memarkirkan mobilnya di depan gerbang rumahnya. Kemudian dia membukakan pintu Felly, dan mereka pun segera keluar dari dalam mobil.
"Sayang, kau istirahat duluan ya, aku ijin mau menemui Dini, besok katanya dia sudah berangkat, aku takut tidak ada kesempatan lagi untuk bicara padanya, aku ingin semua kesalahpahaman ini berakhir, jadi aku bisa menikahimu dengan tenang ..." ucap Kenny. Felly Menganggukan kepalanya.
"Iya Ken, temuilah Dini, bicara dari hati ke hati padanya, aku berharap dia akan baik-baik saja!" sahut Felly.
Kenny mengelus kepala Felly, kemudian dia mengecup bibir Felly sekilas.
"Kenny, bukannya bibirmu masih sakit?!" sergah Felly saat Kenny menciumnya.
"Kalau sedang menciummu rasa sakitnya hilang!" sahut Kenny.
"Dasar Kenny, sudah sana, nanti keburu kemaleman," kata Felly sambil beranjak masuk ke dalam gerbang rumah itu.
"Kau langsung istirahat ya Fell, besok kita fitting baju pengantin, kau harus sehat-sehat!" seru Kenny sambil kembali masuk ke dalam mobilnya dan mulai melajukannya perlahan.
Tak lama Kenny pun tiba di depan rumah Dini, rumah itu nampak sepi, namun lampunya masih terlihat terang.
Kenny mulai meraih ponselnya dan mencoba untuk menelepon Dini.
"Halo, Kenny?" Suara Dini terdengar dari seberang telepon.
"Iya Din, kau ada waktu? Aku ada di depan rumahmu sekarang," ujar Kenny.
"Hah? Sekarang? Kenapa kau tidak masuk Ken?" tanya Dini.
"Aku ingin bicara padamu Din, kau keluarlah sebentar saja!" sahut Kenny.
"Apalagi yang mau kau bicarakan Ken? Aku rasa sudah cukup!" kata Dini.
"Sungguh kau tidak mau keluar Din? Baiklah, aku akan pergi!" ujar Kenny.
Kemudian Kenny mematikan ponselnya, dia baru saja ingin kembali melajukan mobilnya, namun pintu gerbang rumah Dini terbuka, Dini keluar setengah berlari dari gerbang rumahnya mendapati Kenny yang masih ada di dalam mobil.
"Kenny!" panggil Dini. Kenny membuka jendela mobilnya.
"Din? Masuklah sebentar ke dalam mobilku, aku mau bicara sebentar!" seru Kenny.
Dini langsung masuk ke dalam mobil Kenny dan duduk di sebelah Kenny.
"Apa yang mau kau bicarakan padaku Ken?" tanya Dini.
__ADS_1
"Aku dengar dari Leo, besok kau sudah pergi ke Malaysia? Kau sungguh mau melanjutkan study mu atau menghindar dari aku?" Kenny menatap dalam mata Dini.
Dini selalu tidak tahan menatap wajah Kenny. Dia menundukkan wajahnya.
"Entahlah, pokoknya aku mau pergi saja! Memangnya apa perdulimu?" ucap Dini.
"Aku perduli Din, aku akan merasa sangat bersalah jika kepergianmu ada hubungannya denganku!" kata Kenny.
"Kau percaya diri sekali Ken! Kau pikir aku akan perduli dengan kau mau menikah atau tidak? Aku punya hak untuk melakukan apapun seturut hatiku!" cetus Dini.
"Maafkan aku Din ... Maafkan aku!" ucap Kenny sambil menggenggam erat tangan Dini.
Dini tak dapat lagi menyembunyikan air matanya yang saat itu langsung berjatuhan begitu saja membasahi pipinya.
Gadis itu menangis sesenggukan dengan suara yang begitu dalam menyimpan kesedihan.
Kenny merengkuh tubuh Dini, di peluknya gadis yang sudah dia anggap sebagai adik itu dengan erat. Kenny tak mampu lagi untuk berbicara apapun. Dia hanya menepuk-nepuk bahu Dini dengan lembut.
"Jangan menangis Din, aku hargai setiap keputusanmu, apapun yang kau lakukan aku pasti mendukung mu!" ucap Kenny lembut.
"Kenny ... Besok aku sudah pergi darimu, entah sampai kapan, aku juga tidak tau, aku hanya ingin menenangkan hatiku, kau jangan khawatir, aku akan baik-baik saja!" ujar Dini sambil mengurai pelukan Kenny.
"Berjanjilah kau akan baik-baik saja Din!" bisik Kenny. Dini Menganggukan kepalanya.
"Ken ..."
"Bo ... Boleh aku punya permintaan padamu?" tanya Dini ragu-ragu.
"Permintaan apa Din? Kalau aku mampu aku akan memberikannya padamu, apapun itu ..." jawab Kenny.
"Aku, aku ingin mengukir kenangan bersamamu, dan aku akan membawa pergi kenangan itu bersamaku!" kata Dini. Kenny mengerutkan keningnya.
"Apa maksudmu Din?" tanya Kenny tidak mengerti.
"Ken, maafkan aku ... bolehkah ..." Dini menghentikan perkataannya, ada raut kebimbangan dalam diri gadis itu.
"Katakanlah Din!" ucap Kenny.
"Ken, bolehkah aku mencium bibirmu?" tanya Dini sambil menundukkan wajahnya.
Kenny terdiam tanpa mampu berkata apa-apa lagi. Hatinya begitu sedih dan galau, dia tau Dini amat mencintainya, namun bibirnya hanya milik Felly, dia tidak mampu untuk memberikan itu pada Dini, namun di sisi lain, Dini memintanya dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
Kenny menggigit bibirnya, bingung apa yang harus di perbuatanya.
"Oh, maafkan aku Ken, lupakan permintaan konyol ku itu! Aku benar-benar bodoh! Hanya karena aku pernah melihatmu berciuman dengan Felly, lantas aku menginginkannya, benar-benar bodoh!" sungut Dini sambil memukul kepalanya sendiri.
Kenny menangkal tangan Dini, kemudian dengan tiba-tiba Kenny mencium bibir Dini, Kenny ingin memenuhi permintaan Dini, dia tidak ingin membuat gadis itu kecewa untuk kesekian kalinya, lagi pula itu hanya sebuah ciuman, tidak ada hubungan sama sekali dengan masalah hati, pikir Kenny.
Dini melotot saat Kenny mendaratkan kecupannya ke bibirnya. Ciuman yang begitu lembut dan hangat, hampir saja Kenny juga terlena karenanya.
"Ken!" Dini membalas ciuman Kenny, ada semburat kegembiraan di matanya, sekaligus kesedihan.
Kenny menarik wajahnya dari wajah Dini, dia menyudahi ciumannya. Wajah Dini nampak kecewa. Namun senyum manis merekah di wajahnya.
"Trimakasih Ken, akan ku simpan kenangan indah ini sampai kapanpun!" ucap Dini.
"Din, bukalah hatimu pada pria lain yang dengan tulus mencintaimu, aku akan bahagia jika melihatmu bahagia!" ujar Kenny.
"Ken, bukankah kau tau kalau kebahagiaanku adalah dirimu? Kau jangan kuatir, aku sudah bahagia cukup seperti ini!" kata Dini.
"Din! Berjanjilah padaku kau akan baik-baik saja, sering-seringlah berkirim kabar padaku! Aku selalu menunggu kabarmu!" ucap Kenny.
"Iya Ken, hari sudah malam, sebaiknya kau pulang, aku juga harus pulang, besok pagi-pagi aku sudah berangkat!" ujar Dini sambil mulai membuka pintu mobil Kenny.
"Iya Din, kau juga hati-hati besok! Jaga dirimu, kalau ada apa-apa kau cepat hubungi aku!" sahut Kenny.
"Sampaikan salamku untuk Felly dan Icha Ken, juga Om Banu!" kata Dini.
"Iya Din, pasti akan ku sampaikan!" sahut Kenny.
"Ken ..."
"Ya Din ...!"
"Trimakasih untuk ciumanmu malam ini, aku sangat bahagia, walaupun aku tak bisa memilikimu, akan ku bawa rasa cinta ini kemanapun aku pergi!" ucap Dini sambil mulai melangkah keluar dari mobil Kenny dan berjalan menuju ke gerbang rumahnya.
Tiba-tiba Kenny keluar dari mobilnya. Dia menatap kepergian Dini dengan tatapan sendu
Setelah Dini sudah menghilang di balik tembok gerbang, Kenny kembali masuk kedalam mobilnya dan mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah Dini.
Sementara Dini yang masih ada di balik gerbang rumahnya menatap kepergian Kenny dengan air mata yang menetes.
"Trima kasih Ken, ciumanmu malam ini akan menjadi kenangan yang terindah dalam hidupku ..." gumam Dini. Kemudian dia pun masuk ke dalam rumahnya.
__ADS_1
Bersambung ....
****