Papi Untuk Mami

Papi Untuk Mami
Sebuah Pemberian


__ADS_3

Felly termenung di dalam mobil setelah menengok dan melihat langsung keadaan Bu Tatik, mantan ibu mertuanya.


Dia sungguh tidak menyangka keluarganya mantan suaminya yang dahulu sangat kaya raya, kini berubah drastis.


Bahkan Roy yang dahulu sering pergi ke klub malam dan selalu menghamburkan uang, kini harus berjerih lelah mengumpulkan sedikit uang melalui ojek online.


"Kau melamun apa sayang?" tanya Kenny sambil mengendarai mobilnya.


"Eh, aku cuma tidak menyangka melihat kondisi ibu, kasihan dia, saat sakit dia hanya bisa berbaring di rumah, tanpa ada perawatan seperti di rumah sakit!" jawab Felly.


Icha terlihat ketiduran di jok mobil belakang.


"Besok kita akan membawanya kerumah sakit!" ujar Kenny. Felly tertegun.


"Ken, mungkin uangku tidak akan cukup, kau tau sejak aku menikah denganmu aku belum memproduksi roti lagi, apalagi sekarang aku hamil begini!" ucap Felly.


"Siapa yang bilang pakai uangmu? Pakailah uang tabunganku, besok aku akan membawa Bu Tatik ke rumah sakit untuk menjalankan perawatan!" kata Kenny.


"Ken, bahkan kau tidak ada hubungan apapun dengan mereka, Roy juga telah menyakitimu berkali-kali, kenapa kau melakukan ini?" tanya Felly.


"Karena aku mencintaimu!" jawab Kenny.


"Apa hubungannya kau mencintaiku dengan Bu Tatik?" tanya Felly lagi.


"Apa yang berhubungan dengan istriku, akan menjadi urusanku!" sahut Kenny.


"Trima kasih Ken, sudah menerimaku apa adanya, aku lagi-lagi jatuh cinta padamu!" Felly merebahkan bahunya di bahu Kenny.


Tak lama mereka sampai di sebuah rumah sakit. Setelah Icha terbangun dari tidurnya, mereka langsung bergegas turun dan berjalan menuju ke poli kandungan.


Drrrt ... Drrrt ... Drrrt


Ponsel Kenny bergetar, dia langsung merogoh ponselnya di saku celananya, ada panggilan masuk dari telepon rumahnya.


Kenny lalu mengusap layar ponselnya itu.


"Halo ..."


"Halo, Mas Kenny, ini Mbok Sumi, Bapak Mas, Bapak!" seru Mbok Sumi panik.


"Kenapa Bapak Mbok??" tanya Kenny cemas.


"Bapak mendadak pingsan, sekarang lagi di pesankan taksi sama Nur, supaya cepat bawa ke rumah sakit!" kata Mbok Sumi.

__ADS_1


"Apa Ayah pingsan?? Tolong cepat di bawa kerumah sakit terdekat ya Mbok, kami akan segera pulang sekarang juga!" ujar Kenny.


"Iya Mas!" sahut Mbok Sumi. Setelah itu telepon di matikan.


Wajah Kenny berubah pucat, setelah mendengar tentang kabar mengenai Pak Banu.


"Ada apa Ken? Apa yang terjadi dengan Ayah?" tanya Felly.


"Fell, Ayah pingsan, mungkin darah tingginya kumat lagi, maaf sepertinya harus menunda periksa kandungan dedek!" jawab Kenny.


"Iya Ken, kita langsung balik saja, lagi pula periksa kandungan kan bisa kapan-kapan, yang penting Ayah dulu!" ujar Felly.


"Kakek kenapa Papi?" tanya Icha.


"Kakek sedang sakit sayang, kita pulang yuk!" ajak Kenny sambil menggandeng Icha kembali keluar dari rumah sakit itu.


Kenny kembali melajukan mobilnya, kali ini dengan kecepatan agak tinggi, wajahnya terlihat cemas.


"Fell, coba kau tanyakan Mbak Nur, sekarang Ayah ada di mana?!" ujar Kenny.


"Ayah baru di bawa ke rumah sakit yang dekat rumah Ken, saat ini Mbak Nur dan Mbok Sumi sedang menemani ya!" sahut Felly.


"Kalau begitu, kita langsung saja kerumah sakit itu ya, kalau kau lelah, aku akan mengantarmu dan Icha pulang ke rumah!" kata Kenny.


"Tidak Ken, aku dan Icha akan menemanimu, kita akan tetap bersama-sama!" ucap Felly.


"Baiklah, tapi janji kalian jangan sampai kelelahan ya!" kata Kenny.


Akhirnya mobil mereka langsung melaju ke salah satu rumah sakit swasta yang lokasinya tidak jauh dari rumah Kenny.


Mereka berjalan cepat menyusuri koridor rumah sakit, di ruang IGD, Mbok Sumi dan Mbak Nur nampak sedang duduk di kursi tunggu ruangan itu.


Kenny dengan cepat langsung menghampiri mereka.


"Bagaimana konsisi Ayah?" tanya Kenny cemas.


"Pak Banu sedang di tangani dokter mas!" jawab Mbok Sumi.


Seorang Dokter keluar dari ruang IGD, Kenny langsung menghampiri dokter itu.


"Dokter, bagaimana kondisi Ayah saya?" tanya Kenny.


"Pak Banu kembali terserang struk ringan Pak, tekanan darahnya juga tinggi, dia masih belum sadar, dan dia harus di rawat di rumah sakit!" jelas Dokter.

__ADS_1


"Bagaimana bisa Ayahku kembali terserang struk ringan? Dia benar-benar menjaga pola makannya!" sergah Kenny.


"Bukan hanya pola makan yang di jaga, tubuh dan jiwa juga perlu di jaga, mungkin ada tekanan atau pikiran yang berat sehingga beliau bisa tinggi tensinya!" kata dokter.


"Apa yang di pikirkan Ayah? Bahkan dia terlihat sangat enjoy dan menikmati hidupnya!" gumam Kenny.


"Entahlah Pak, mungkin hanya Pak Banu sendiri yang tau jawabannya!" jawab dokter itu, kemudian sang dokter segera berlalu dari tempat itu.


Kenny terduduk di kursi depan ruang IGD itu, perlahan Felly mendekatinya.


"Jangan cemas Ken, Ayah pasti akan bisa melalui ini semua!" kata Felly.


"Aku takut Fell, ini kedua kalinya Ayah mengalami hal semacam ini!" ucap Kenny.


"Lain kali kita harus lebih lagi memperhatikannya, mungkin selama ini ada yang beliau pendam di hati, kau anak satu-satunya Ken, kau harus bisa membantu setiap permasalahan Ayah!" ungkap Felly.


"Ayah tak pernah cerita apapun yang menyedihkan, dia selalu ceria dengan cerita-ceritanya!" ujar Kenny.


"Ayolah Ken, kau harus semangat dan optimis Ayah segera sembuh, kalau kau muram begini, bagaimana kalau Ayah melihatmu?" Felly menepuk bahu Kenny sambil mencium pipinya, berusaha membuat suaminya itu semangat.


Seorang perawat mendorong ranjang pasien keluar dari ruang UGD, Pak Banu nampak sedang berbaring lemah dengan mata uang terpejam.


"Mau di bawa kemana Ayah?" tanya Kenny saat melihat Ayah nya di dorong keluar.


"Mau di pindahkan ke ruang perawatan Pak, supaya bisa segera di tangani intensif!" jawab salah seorang perawat.


Kenny dan Felly mengikuti perawat itu membawa Pak Banu ke ruang perawatan.


Sementara Mbok Sumi, Mbak Nur dan Icha masih duduk di tuang tunggu.


Setelah Pak Banu di pindahkan, seorang perawat langsung memasang cairan infus di tangan Pak Banu. Yang seorang lagi memasang kateter dan selang oksigen.


Kenny bersimpuh di sisi ranjang Ayahnya.


"Ayah, bukalah matamu, jangan membuat aku khawatir Ayah, hanya Ayah orang tua yang aku miliki!" ucap Kenny sambil menitikkan air matanya.


Felly membiarkan suaminya itu menumpahkan seluruh isi hatinya. Dia hanya duduk menemani Kenny sambil sesekali mengusap bahu suaminya itu.


"Menangislah Ken, kalau itu akan membuatmu tenang!" ucap Felly.


"Ayah Fell, aku sangat takut kehilangan Ayah!" lirih Kenny.


Kemudian Kenny mulai menangis di samping ayahnya sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya di sisi ranjang itu.

__ADS_1


Felly membelai rambut suaminya itu dengan lembut.


****


__ADS_2