
Siang itu, Kenny bersiap akan pulang ke rumahnya, setelah dia mengadakan rapat dengan dewan guru dan para staff.
Sementara, yang menjadi kordinator pimpinan adalah Pak Yudi, wakil kepala sekolah yang baru menggantikan Bu Nuri.
"Pak Yudi, saya serahkan segala hal mengenai sekolah ini pada Pak Yudi, termasuk pelatihan untuk semua guru!" kata Kenny.
"Baik Mister, nanti laporannya saya akan kirimkan ke Mister!" sahut Pak Yudi.
"Mungkin saya juga tidak akan terlalu sering datang ke sekolah, semua tugas dan tanggung jawab sudah saya serahkan juga ke bagiannya masing-masing!" tambah Kenny.
Pak Yudi Menganggukan kepalanya.
"Jangan kuatir Mister Kenny, kami akan melaksanakan tugas sebaik mungkin demi kemajuan sekolah ini, kami dan para guru yang lain juga bersama-sama bertanggung jawab untuk sekolah ini Mister!" ucap Pak Yudi.
Kenny tersenyum sambil menepuk pundak Pak Yudi.
Kemudian dia melangkah menyusuri koridor sekolah hendak menjemput Icha di kelasnya.
Pak Banu nampak berdiri di depan kelas Icha sambil berbincang dengan Bu Ira.
"Icha banyak sekali mengalami kemajuan yang pesat Pak, apalagi sejak Maminya menikah dengan Mister Kenny, bahkan kini Icha semakin berprestasi!" ujar Bu Ira kepada Pak Banu.
"Saya ikut senang mendengarnya Bu, padahal dulu kita sama-sama tau, Icha seperti apa, bahkan sampai tidak ada sekolah yang mau menerimanya!" sahut Pak Banu.
"Sekarang Icha kelihatan sangat bahagia Pak, di tambah lagi, Mister Ken yang selalu memanjakannya!" tambah Bi Ira.
Mereka menghentikan pembicaraan saat Kenny mendekat ke arah mereka.
"Kalian serius sekali, sedang membicarakan apa nih?" tanya Kenny.
"Ini Lho, soal perkembangan Icha, anak itu semakin hari semakin pintar!" sahut Pak Banu.
Icha terlihat baru keluar dari dalam kelasnya, bersama dengan teman-teman lainnya.
Melihat Kenny dan Pak Banu ada di depan kelasnya, dia langsung menghambur menghampirinya.
"Papi! Kakek! Kalian pasti lagi nungguin aku ya!" tebak Icha.
"Salah Cha, kita memang lagi ngobrol kok, eh kebetulan Icha pas baru pulang!" sahut Kenny meledek.
"Iiiih Papi, ayo kita pulang Pi, aku sudah lapar!" cetus Icha sambil bergelayut manja di lengan Kenny.
__ADS_1
"Siapa tadi yang bilang mau pulang? Sini deh, pulang sama kakek!" kata Pak Banu.
Mereka lalu berjalan beriringan menuju mobil mereka yang terparkir di dekat gerbang sekolah.
Icha bernyanyi-nyanyi riang saat dalam perjalanan pulang ke rumahnya.
"Cha, seneng betul kelihatannya!" kata Pak Banu.
"Iya dong kek, sekarang aku punya banyak teman, apalagi waktu teman-temanku tau aku anaknya Mr. Ken dan cucu Kakek Banu!" seloroh Icha.
Pak Banu tertawa terpingkal-pingkal.
"Kau ini Cha, mendadak terkenal kamu ya!" ujar Pak Banu sambil mencubit pipi Icha.
"Iya dong Kek! Jadi kan kakek juga terkenal gara-gara aku, semua guru sekarang pada takut ngomongin kakek sama Papi karena ada aku!" ujar Icha bangga.
Sementara Icha dan Pak Banu tertawa riang, wajah Kenny nampak murung, matanya sayu memandang ke rah depan jalanan sambil mengemudikan mobilnya.
"Seperti nya Papi Kenny sedang sedih, apa yang terjadi Ken?" tanya Pak Banu.
"Ayah, Dini melamar di sekolah kita!" jawab Kenny dengan pandangan yang masih lurus ke dapan.
"Apa? Dia melamar di sekolah kita? Apa tidak salah Ken? Bukankah standar sekolah kita masih di bawah sekolah lama dia? Apa yang dia harapkan dengan mengajar SD di sekolah Rajawali??" tanya Pak Banu.
"Hmm, coba nanti aku ngobrol sama orang tuanya Dini, dulu aku sangat merestuimu dengan dia, tapi sekarang walau bagaimana kau pria yang telah menikah, bahkan akan punya bayi!" gumam Pak Banu.
Tak lama mereka pun sampai di rumah. Aroma masakan dari arah dapur tercium nikmat.
Felly langsung menyambut ketiganya dengan senyum manisnya.
"Anak Mami audah pulang sekolah, pasti lapar! Tebak Mami masak apa?" tanya Felly sambil berjalan dan membawakan tas Icha.
"Masak apa ya? Kalau dari bau nya sih, pasti Mami masak Ayam goreng!" tebak Icha.
"Seratus buat Icha!!" seru Felly sambil bertepuk tangan.
Pak Banu setelah berganti pakaian, telah siap menunggu di meja makan, mereka akan makan siang bersama.
Icha juga langsung masuk ke kamar dan berganti pakaian, tak lupa mencuci tangan dan kakinya, lalu segera duduk bergabung di meja makan.
Felly dan Mbok Sumi nampak sibuk mempersiapkan makanan di meja, sementara Mbak Nur masih terlihat membereskan dapur.
__ADS_1
"Dulu aku cuma tinggal berdua dengan putra kesayanganku, sekarang aku tidak menyangka kalau rumah ku begitu ramai!" ujar Pak Banu.
"Tapi kakek suka kan? Dulu saja, Kakek pura-pura tidak suka aku dan Mami, coba dari dulu kakek begitu, kan aku bisa lebih lama jadi cucu Kakek!" timpal Icha.
"Cha! Mana Papimu? Kenapa dia belum turun?" tanya Pak Banu.
"Tau tuh Papi! Lama banget! Aku kan sudah lapar!" cetus Icha.
"Sebentar Ayah, aku akan lihat ke atas dulu!" kata Felly yang langsung bergegas naik ke atas menuju ke kamarnya.
Felly langsung membuka pintu kamarnya itu.
Kenny nampak sedang duduk di sisi ranjang sambil termenung.
"Ken? Kau sedang apa? Icha dan Ayah menunggumu di bawah!" ujar Felly.
Kenny menoleh dan menatap Felly dengan tatapan sendu.
Perlahan Felly mendekati suaminya itu dan duduk di sampingnya.
"Kau kenapa Ken?" tanya Felly sambil mengelus bahu Kenny.
"Felly, maafkan aku ya ..." ucap Kenny.
"Ada apa? Kenapa kau minta maaf?" tanya Felly.
"Dini melamar mengajar di sekolah Fell, aku tak kuasa menolak, tapi aku juga tidak mau membuatmu tidak nyaman!" ucap Kenny.
"Oh, Kenny, jadi itu yang membuatmu murung dan tidak bersemangat?" tanya Felly. Kenny menganggukan kepalanya.
"Kau dengar Kenny sayang, aku memang cemburu pada Dini, tapi aku percaya kau suami yang baik dan setia, tidak masalah dia mengajar di mana, bahkan di rumah ini sekalipun, asalkan hatimu terus terpaut padaku, itu sudah cukup, jadi kau jangan terlalu memikirkan perasaanku!" ucap Felly sambil membelai wajah Kenny.
"Sungguh kau tak marah padaku?" tanya Kenny dengan tatapan dalam.
"Tidak Ken, kau milikku, suamiku, sampai kapanpun kau akan tetap jadi milikku, selamanya!" tegas Felly.
Dia mulai berdiri dan mencium bibir Kenny.
"Jangan sekarang Fell!" ujar Kenny sambil menarik wajahnya.
"Siapa yang mau sekarang, aku hanya menciummu saja kok, bukti kalau aku tak pernah marah padamu, trima kasih ya kau telah jujur padaku!" ucap Felly sambil sekali lagi mencium bibir Kenny.
__ADS_1
Mau tidak mau Kenny akhirnya membalas ciuman itu.
****