Papi Untuk Mami

Papi Untuk Mami
Kesakitan Felly


__ADS_3

Kenny baru akan masuk ke ruangan Felly untuk memberikanna segelas jus buah, tiba-tiba Pak Banu dan Icha sudah mengagetkannya dari belakang.


"Doorr!!! Papi dari mana?" tanya Icha yang langsung bergelayut manja pada Kenny.


"Beli jus buat Mami, masuk yuk!" ajak Kenny sambil menggendong Icha. Pak Banu mengikutinya dari belakang.


"Aku kangen Papi dan Mami, kapan Mami pulang kerumah? Aku kangen ingin bermain bersama lagi!" kata Icha sambil melompat duduk di sisi ranjang Felly.


"Icha doain Mami supaya cepat sembuh, bisa keluar dari rumah sakit, nanti kita main sama dedek!" ujar Kenny.


"Kapan dedek lahir? Kenapa dedek buat mami sakit, kalau aku tau Mami akan sakit karena dedek, lebih baik aku tidak usah punya adik bayi saja!" cetus Icha.


"Icha, dedek tidak salah, tanpa ada dedek mami juga akan sakit, Icha harus sayang sama dedek ya, nanti Icha bantu jagain dedek, bantu papi juga untuk jaga dedek!" ucap Felly.


"Tidak! Kita akan jaga dedek sama-sama, kan ada Mami juga, memangnya Mami mau kemana?" tanya Icha.


"Tidak kemana-mana, Mami akan terrus bersama kalian, melihat kalian, dan sayang sama kalian!" ucap Felly.


Kenny langsung beranjak ke toilet, di dalam toilet Kenny mengis menumpahkan air matanya yang sejak tadi sudah di tahannya.


Tak berapa lama Kenny sudah kembali dari toilet, dengan terlebih dahulu sudah membasuh wajahnya.


Felly sudah nampak tertidur memejamkan matanya, Icha masih duduk di sisi ranjang itu sambil memijiti kaki Felly.


Kenny duduk di sofa di sudut kamar itu, Pak Banu menghampirinya sambil menepuk bahu Kenny.


"Kau yang sabar Ken, ini ujian buatmu!" ucap Pak Banu menguatkan Kenny.


"Iya Ayah!" sahut Kenny singkat.


"Manusia hanya bisa berusaha, tapi semua yang akan terjadi adalah di atas kehendakNya, jadi jangan sekali-kali kau menyalahkan Tuhan Ken!" ujar Pak Banu.


"Iya Ayah, tapi aku hanya tidak rela Tuhan menimpakan penderitaan pada Felly, kalau boleh, aku saja yang mengalaminya!" ucap Kenny, matanya menyiratkan kesedihan yang amat dalam.


Tiba-tiba Icha turun dari ranjang Felly, lalu menghapiri pak Banu dan Kenny.

__ADS_1


"Papi, itu kenapa di ranjang Mami ada darah?" tanya Icha.


"Apa?" seru Kenny panik, dia langsung berjalan ke arah Felly.


Felly nampak menggigit bibirnya sambil menangis, sementara Icha di gandeng oleh Pak Banu.


"Kau kenapa sayang? Katakan padaku apa yang sakit? Kau jangan menahannya, kau boleh teriak, menangis atau apa saja, aku lebih tersiksa melihatmu seperti ini!!" ujar Kenny sambil mengangkat tubuh Felly dan langsung membawanya keluar dari ruangan itu.


Kenny terus berjalan menyusuri koridor rumah sakit yang saat itu sedang ramai pengunjung karena bertepatan dengan jam besuk.


Tanpa memperdulikan antrian, Kenny langsung masuk ke ruangan Dokter Dimas.


"Dokter!! Tolong istriku!! Dia kesakitan!!" teriak Kenny.


Dokter dimas terkejut, dengan cepat dia menyuruh Kenny untuk membaringkan Felly. Lalu dia mulai memeriksanya.


"Pak Kenny, ini sepertinya bayinya memang harus segera di lahirkan, sudah terjadi infeksi di dalam, akan beresiko terhadap bayi anda nanti!" jelas Dokter Dimas.


"Lakukan yang terbaik buat istri saya dokter, saya percaya dengan dokter, tolong, keselamatan istri dan bayi saya ada di tangan anda!" ucap Kenny panik.


"Anda salah Pak Kenny, keselamatan mereka ada di tangan Tuhan!"


"Sayang , bertahanlah, aku yakin kau npasti akan bisa melewati ini!" bisik Kenny di telinga Felly.


"Ken ... Aku sudah memberimu seorang anak, aku percayakan dirimu untuk memberikan nama padanya," ucap Felly.


"Iya sayang, kau harus kuat, demi aku, demi Icha, juga bayi kita!" kata Kenny sambil menggenggam tangan Felly.


"Kalau takdir mengatakan aku harus pergi, kau jangan larut dalam kesedihan, titip Icha, karena hanya kau yang menyayangi dia dengan sepenuh hati!" ucap Felly. Kenny mulai menangis.


"Tidak! Jangan ucapkan itu!" lirih Kenny.


"Kenny, aku sayang padamu, karena aku begitu sayang, aku tidak rela meninggalkanmu begitu saja ... Dini sangat mencintaimu, bahkan dia sudah banyak berkorban untukmu, aku ikhlas kau mengambil Dini menjadi istrimu, dia baik, bahkan sangat baik, cintanya padamu bahkan lebih besar dari pada aku, aku mohon Ken ... aku ingin Kenny ku bahagia, jangan menangis!" Dini mengusap air mata Kenny dengan tangan kurusnya.


"Tidak sayang, jangan ucapkan itu!" Kenny menangis dan membenamkan kepalanga di sisi ranjang itu, hatinya begitu hancur dan sedih.

__ADS_1


Dua orang perawat datang, mereka langsung mendorong ranjang Felly menuju ke ruang operasi, Kenny sambil menangis mengikutinya dari belakang.


Pak Banu dan Icha yang melihat Felly di dorong juga ikut mengikutinya sampai di ruang operasi.


"Papi, Mami kenapa? Apa Mami mau di operasi lagi?" tanya Icha.


Kenny langsung menggendong Icha dan memluknya.


"Mami sedang berjuang untuk mengeluarkan dedek bayi, Icha doain Mami ya!" ucap Kenny sambil mengecup Kening Icha.


"Tapi kenapa Papi menangis?" tanya Icha.


Kenny terus memeluk Icha tanpa menjawab pertanyaan Icha, dia tidak sanggup mengatakan hal sesedih ini pada Icha, anak yang baru berusia 6 tahun itu.


"Ken, berikan Icha pada Ayah, kau butuh berada di samping istrimu!" ujar Pak Banu yang langsung mengambil Icha dari gendongan Kenny.


Dokter Dimas keluar dari ruangan, lalu memanggil Kenny, tanpa menunggu Kenny segera masuk ke dalam ruang Operasi, tim dokter bedah dan dokter kandungan sudah mengenakan pakaian hijau untuk operasi. Kenny duduk di hadapan Dokter Dimas.


"Pak Kenny, ada hal yang akan saya sampaikan sebelu melakukan operasi!" kata Dojkter Dimas.


"Apa itu Dokter?" tanya Kenny.


"Karena selama berbulan-bulan tidak Kemo karena bayi yang ada dalam kandungan, kondisi Bu Felly sudah sangat tipis harapan, infeksinya sudah menyebar ke organ tubuh yang lain, operasi ini adalah untuk mengeluarkan bayi yang dia kandung, walaupun masih belum waktunya lahir!" jelas Dokter Dimas.


"Jadi, dengan kata lain Felly akan meninggal??" tanya Kenny dengan nada tinggi.


"Kita berharap akan ada ke ajaiban dari Tuhan, mujizat itu masih ada Pak Kenny!" jawab Dokter Dimas.


Lidah kenny kelu untuk mengucapkan kata-kata, dia melirik Felly yang masih berbaring dengan selang oksigen yang telah terpasang, air matanya kering sudah.


Perlahan Kenny mendekati Felly, membelai keningnya lalu mengecupnya.


"I Love You ..." hanya kata-kata itu yang mampu Kenny ucapkan, setelah itu Kenny hanya bisa menangis sambil memeluk tubuh Felly.


Felly sedikit membuka matanya lalu berucap, "I Love You too Kenny ... "

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2