Papi Untuk Mami

Papi Untuk Mami
Permintaan Felly


__ADS_3

Dini datang tergopoh-gopoh menyusuri koridor rumah sakit siang itu.


Dia tertegun sejenak saat berada di depan ruangan rawat Felly.


Perlahan Dini membuka pintu ruangan yang tidak tertutup rapat itu, Kenny nampak sedang duduk di sisi pembaringan Felly sambil menyuapi Felly.


Mendengar suara langkah Dini, Kenny menoleh, Felly juga menoleh kearah Dini.


"Hei Din! Ayo sini, aku baru selesai makan nih!" sapa Felly sambil tersenyum.


Perlahan Dini mendekat ke arah mereka.


"Ini aku bawakan makanan nasi Padang, ada dua bungkus, tadinya untuk kalian!" kata Dini sambil menyodorkan bungkusan itu ke arah Felly.


"Yah, tapi aku baru makan, perutku sudah kenyang, buat Kenny saja ya, Kenny pasti belum makan kan?" Felly langsung menyodorkan nasi Bungkus itu ke tangan Kenny.


"Tapi aku tidak lapar!" sergah Kenny.


"Kenny ku harus makan, aku tidak rela kau menjadi kurus! Makanlah!" titah Felly.


Mau tidak mau Kenny membuka nasi bungkus itu dan memakannya.


"Enak Ken?" tanya Dini.


"Enak!" sahut Kenny.


"Din, sering-seringlah kau kemari, tidak usah bawa apa-apa, aku hanya butuh teman ngobrol!" kata Felly.


"Kau mau teman ngobrol? Sudah ada Kenny yang siaga 24 jam di sini!" sahut Dini.


"Ah, tapi kan enakan curhat sesama wanita, curhat sama Kenny belum tuntas dia sudah baper!" kata Felly.


"Yah paling tidak kamu tidak sendirian di sini!" ujar Dini.


"Kasihan Kenny, dia membuang waktunya hanya untuk menjagaku, Kenny, kau keluarlah cari angin, belikan kami jus buah di kantin rumah sakit, aku mau ngobrol sama Dini!" kata Felly memberi kode.


"Baik!" Kenny segera beranjak dari tempatnya dan segera keluar dari ruangan itu.


Felly dan Dini saling diam dengan pikirannya masing-masing. Mereka nampak seperti dua orang yang canggung satu sama lain, padahal mereka sudah saling mengenal.


"Mbak Fell, kau mau makan sesuatu?" tanya Dini.

__ADS_1


"Tidak Din, dari tadi Kenny sudah banyak menyuapiku!" sahut Felly.


"Kalau kau mau makan buah atau apa, bilang aku ya!" kata Dini.


"Siap Din, kalau soal itu gampang, kalau aku lagi pengen, aku pasti akan memintamu mengambilkannya!" ujar Felly.


"Baiklah, jangan sungkan padaku ya Mbak!" kata Dini.


"Din ..."


"Ya Mbak!"


"Kamu masih cinta sama Kenny?" tanya Felly.


Dini tertegun mendengar pertanyaan dari Felly.


"Umm, tidak kok Mbak, jangan khawatir!" jawab Dini.


"Justru aku khawatir kalau kau sudah tidak cinta lagi sama Kenny!" ucap Felly.


"Apa maksud Mbak Felly? Jangan bilang begitu Mbak, Kenny itu suami Mbak Felly, dan dia mencintai Mbak Felly!" kata Dini. Dadanya mulai bergemuruh.


"Din ... tetaplah mencintai Kenny!" ucap Felly.


"Sudah, kau tak perlu menjawabnya Din, aku tau kau masih sangat mencintai Kenny, terlihat dari sorot matamu, bahkan cintamu pada Kenny jauh lebih besar dari pada aku!" ungkap Felly.


Dini menundukkan wajahnya, tak berani lagi dia membantah perkataan Felly.


"Tolong Mbak, jangan bahas itu lagi, apa pentingnya aku masih cinta atau tidak sama Kenny, itu bukan hal yang penting!" sergah Dini.


"Tapi itu penting buat aku Din!" ujar Felly.


"Apa pentingnya?"


"Kalau aku pergi, aku bisa menitipkan Kenny padamu!" ucap Felly lirih, ada butiran bening yang menetes dari sudut matanya.


Dini menggigit bibirnya, seolah ikut merasakan apa yang Felly rasakan.


"Kau tidak akan pergi Mbak, kau pasti sembuh, berjuanglah demi Kenny, juga calon bayi kalian!" tukas Dini.


"Tidak Din, ini terlalu sakit, asal kau tau, aku harus berpura-pura kuat dan menahan rasa sakit ku ini, demi supaya Kenny tidak khawatir, dia itu sensitif, aku merintih sedikit dia sudah begitu cemas!" ungkap Felly.

__ADS_1


"Itu karena Kenny mencintai Mbak Felly!" kata Dini.


"Aku tau, tapi aku tidak mau cinta itu merusaknya, membuat dia terpuruk apalagi menderita! Aku juga sayang banget sama Kenny, karena rasa sayangku yang besar, makanya aku mau menitipkan dia padamu, karena aku tau, kau juga sangat mencintainya!" ucap Felly.


"Tidak Mbak, aku tidak mau, kau harus berjuang kalau kau memang menyayangi Kenny dan anaknya, jangan lagi ungkit tentang aku, itu sudah berlalu!" Dini mulai meraih tasnya, bermaksud pergi meninggalkan ruangan itu.


"Tunggu Din, paling tidak kau mendengarkan permohonanku yang terakhir!" cegah Felly, Dini menghentikan langkahnya.


Dini tetap berdiri di tempatnya, pandangannya ke depan, ke arah pintu keluar.


"Aku sudah punya firasat Din, aku harus bicara ini sebelum terlambat, di antara semua wanita yang aku kenal, yang aku tau hanya kau yang mengenal Kenny secara mendalam, apalagi sejak dulu kalian sudah saling mengenal, aku tidak akan salah memberi wasiat, kau lah orang yang tepat untuk Kenny, aku akan bahagia dan tenang jika kau membantuku, aku tidak khawatir Kenny akan terpuruk, kan sudah ada kau Din!" ucap Felly.


Dini tetap tak bergeming dari tempatnya, air matanya mengalir perlahan. Dia memang masih sangat mencintai Kenny, tapi bukan begini caranya. Ada yang pedih di sudut hati Dini.


Tiba-tiba Dini membalikkan tubuhnya, lalu dia kembali mendekat kearah Felly, di tatapnya wanita itu dengan tajam.


"Baik, permohonanmu akan aku turuti, tapi kau harus berjuang untuk melawan penyakitmu, karena kalau tidak, aku akan merebut Kenny mu dan anakmu, masa kau rela orang yang kau cintai aku ambil dengan mudahnya!" ucap Dini.


Felly tersenyum setelah mendengar ucapan Dini.


"Trima kasih Din, aku akan berjuang untuk bisa melewati badai ini, mulai saat ini kita adalah saingan untuk mendapatkan Kenny, tapi kalau aku kalah, kau harus memberikan sepenuh hatimu padanya, juga anakku!" sahut Felly.


"Baiklah Mbak, sepertinya aku pamit, kalau kau butuh teman, besok aku akan datang lagi, untuk menggoda Kenny mu!" ujar Dini sambil mulai kembali beranjak menuju ke arah pintu.


"Ya, aku selalu menunggu kedatanganmu Din!" sahut Felly.


Dini tersenyum, lalu dia segera membuka pintu dan berjalan meninggalkan ruangan itu.


Di koridor luar, Kenny nampak duduk di kursi koridor menunggu dengan membawa dua gelas jus, dia segera berdiri saat Dini keluar dari ruangan itu.


"Kau sudah selesai Din? Ini minumlah!" tanya Kenny sambil menyodorkan segelas jus pada Dini.


"Ya Ken, kau urus lah dirimu sendiri Ken, jangan terlihat kusut di depan Mbak Felly, atau dia akan semakin putus asa terhadapmu!" ujar Dini sambil meminum habis jusnya.


"Trima kasih Din, setidaknya kau sudah support aku dan Felly!" sahut Kenny.


"Mbak Felly itu milikmu Ken, pertahankan agar milikmu bisa selalu ada di genggamanmu, jangan biarkan dia hilang!" tambah Dini.


"Iya Din!"


"Untuk urusan sekolah kau tak perlu pikirkan, biar aku dan tim guru yang akan mengurusnya!" ucap Dini sambil berlalu meninggalkan Kenny yang masih berdiri.

__ADS_1


****


__ADS_2