Papi Untuk Mami

Papi Untuk Mami
Pencarian Icha


__ADS_3

Icha duduk di bangku paling depan di dalam bus tujuan Jakarta. Tekadnya sudah bulat mencari Kenny.


Di sebelahnya duduk seorang ibu, laki-laki yang tadi berniat mengantar Icha mengurungkan niatnya karena Icha menolak di antar siapapun.


"Namamu siapa Dek?" tanya ibu yang duduk di samping Icha.


"Icha!" Sahut Icha singkat.


"Icha ke Jakarta mencari siapa?" tanya Ibu itu.


"Aku mencari Mister Kenny!" jawab Icha.


"Icha sudah tau alamatnya belum?" tanya ibu itu lagi. Icha menggelengkan kepalanya.


"Aku tidak tau alamat Mister, tapi aku tau nama sekolah tempat Mister ngajar!" Kata Icha.


"Apa nama sekolahnya?"


"Mercy International School!" Jawab Icha.


"Oh, itu kan nama sekolah internasional yang terkenal di Jakarta, kalau orang yang Icha cari ngajar di sana, bukankah saat ini masih libur? Atau sudah masuk?" Tanya Ibu itu. Icha kembali menggelengkan kepalanya.


Bus terus melaju melewati jalan tol yang cukup panjang. Karena lelah Icha tertidur sebentar.


Si ibu yang kasihan melihat Icha, memberikan bahunya untuk tempat Icha bersandar dalam tidur.


Tak berapa lama kemudian Icha sudah terbangun karena kondisi jalan yang agak macet.


"Kita sudah sampai di mana Tante?" Tanya Icha sambil mengucek matanya.


"Masih di tol nih Cha, sampai Jakarta bakalan tengah malam, nanti Icha mau bobo di mana?" Tanya Ibu di sebelah Icha.


"Nanti saja di terminal, besok pagi aku baru cari Mister!" Sahut Icha.


"Bahaya lho tidur di terminal sendirian, apalagi Icha masih kecil, Icha ikut Tante saja ya, besok pagi baru Icha lanjutin cari Mister Icha!" Tawar ibu itu. Tanpa ragu Icha pun Menganggukan kepalanya.


Waktu sudah menunjukkan jam 11.30 malam saat Bus yang di tumpangi Icha tiba di salah satu terminal di Jakarta.


"Pak kondektur, jadi aku berapa bayar ongkosnya?" tanya Icha sambil merogoh tas kecilnya yang berisi uang dari celengannya.


"Memangnya kamu bawa ongkos dek?" tanya kondektur itu.

__ADS_1


"Bawa dong, aku kan bongkar celengan sebelum berangkat!" Sahut Icha sambil menunjukkan uang yang ada di dalam tas kecilnya.


"Sudah deh Dek, karena kamu masih kecil, kamu tidak usah bayar ongkos, itu uangnya untuk bekal di jalan saja!" Kata sang kondektur.


"Trima kasih!" Sahut Icha.


Si ibu yang duduk di samping Icha langsung menuntun tangan Icha turun dari dalam bus itu, dia terus membawa Icha hingga keluar dari terminal.


"Kita mau kemana Tante?" tanya Icha yang merasa mereka sudah cukup jauh berjalan.


"Ke tempat Tante, sebentar lagi sampe kok!"


Tak lama mereka sampai di sebuah pemukiman kumuh di pinggir sebuah rel kereta api, si ibu langsung membawa Icha masuk ke dalam gubuknya yang sederhana.


"Ini gubug Tante, Icha bobo dulu di kamar itu ya, besok pagi baru mencari Mister Icha lagi!" titah sang Ibu.


Dengan ragu-ragu Icha masuk ke dalam kamar yang dindingnya semua dari kardus bekas, Icha mencoba membaringkan tubuhnya di sebuah dipan.


Icha coba memejamkan matanya, namun dia tidak bisa tidur karena tidak terbiasa tidur di tempat yang keras, Dia hanya bolak balik sambil memeluk bonekanya.


Sayup-sayup Icha mendengar percakapan di ruang tengah gubug itu.


Icha beranjak dari tidurnya dan mencoba mendengar apa yang di bicarakan di ruang tengah itu, ternyata sang ibu tidak tinggal sendirian di tempat ini.


"Anak yang aku temukan di bus, dia mencari orang yang alamatnya tidak jelas, anak itu bisa membawa rejeki buat kita!" Kata si ibu.


"Apa maksudmu?" tanya laki-laki itu.


"Besok saat kita ngamen, kita bawa dia, pasti banyak orang akan kasihan dan memberikan uang lebih, dan saat memulung kita juga bisa memanfaatkan dia untuk membantu mencari barang bekas, pasti hasilnya lebih cepat!" Jelas si ibu. Laki-laki itu menganggukan kepalanya.


Icha yang mencuri dengar membulatkan matanya, ternyata maksud sang ibu membantunya tidak benar-benar tulus. Icha mencari cara agar bisa keluar dari tempat itu.


Icha kembali ke dipan dan pura-pura tidur, karena tidak mungkin dia meninggalkan gubug itu di tengah malam seperti ini, Icha berniat akan pergi dari gubug ini diam-diam menjelang subuh.


Icha terus berjaga-jaga dalam tidurnya, sampai dia tertidur beneran karena lelah, Icha terbangun saat terdengar suara ayam berkokok.


Icha mengendap-endap keluar dari kamar itu, sang ibu masih terlihat lelap tertidur di ruang tengah, bersama dengan laki-laki yang ada di sampingnya.


Icha meraih tas dan bonekanya, lalu berjalan perlahan keluar dari rumah itu.


Namun saat dia membuka pintu depan, suara pintu yang berbunyi kencang mengagetkan sang ibu dan laki-laki itu, mereka melotot melihat Icha yang sudah berdiri hendak keluar meninggalkan gubuk itu.

__ADS_1


"Hei! Icha mau kemana? Katanya mau bareng tante mencari Mister kamu?!" teriak sang ibu.


Tanpa bicara lagi Icha langsung berlari keluar meninggalkan gubug itu, si ibu dan laki-laki itu langsung mengejar Icha.


"Hei! Tunggu! Jangan pergi!!" Teriak si ibu sambil terus berlari mengejar Icha.


Icha terus berlari keluar dari daerah kumuh itu, dia terus berlari menyusuri jalanan yang masih nampak gelap, karena matahari belum muncul.


Sampai akhirnya di sebuah warung kopi, Icha berhenti dengan nafas terengah-engah. Seorang pemuda muncul dari dalam warung kopi itu.


"Hei dek? Kamu kenapa lari-lari?" Tanya pemuda itu yang tak lain adalah pemilik warung kopi sederhana yang buka 24 jam itu.


"Aku lagi di kejar orang jahat bang!" Seru Icha dengan nafas tersengal-sengal.


"Orang jahat? Memangnya Adek mau kemana subuh-subuh begini?" tanyanya lagi.


"Aku mau mencari Mister aku di Jakarta bang!" Sahut Icha. Wajahnya nampak pucat.


"Ya sudah masuk dulu sini, di luar masih gelap!" Pemuda itu menuntun Icha masuk kedalam warung kopinya yang kecil itu.


Kemudian setelah Icha duduk dan agak tenang, pemuda itu menyodorkan segelas air putih. Icha meneguknya dengan cepat.


"Kamu lapar dek? Abang buatin mie instan ya?" Tawar pemuda itu. Icha Menganggukan kepalanya karena perutnya memang sudah lapar.


Tak lama kemudian pemuda itu muncul kembali dari belakang sambil membawa semangkok mie instan, Icha langsung menyantapnya tanpa basa basi.


"Kasihan kamu dek, sampai kelaparan begitu, kalau kamu mau cari orang, nanti kalau sudah terang Abang antar deh dek!" Tawar pemuda itu.


"Memangnya Abang tau Mercy internasional school?" Tanya Icha.


"Apaan tuh dek?" Tanya pemuda itu balik.


"Sekolah tempat Mister aku mengajar, kalau masih libur kan aku bisa minta anterin orang yang ada di sana!" Sahut Icha.


"Ya Abang browsing dulu deh, jaman sekarang cari alamat tidak susah kok, apalagi cari sekolah, pasti ketemu alamatnya dari internet!" Kata Pemuda itu.


"Abang pinter juga ternyata, oya bang, namanya siapa? Kalau namaku Icha bang!" Icha mengulurkan tangannya.


"Nama Abang Satria, panggil aja bang Sat!" Kata pemuda itu yang namanya tak lain adalah Satria.


"Hah? Bang Sat?" Tanya Icha sambil melongo.

__ADS_1


Bersambung ....


*****


__ADS_2