
Kenny mengusap layar ponsel yang sudah di genggamnya di tangan, perasaannya tak menentu.
"Halo..."
"Halo Mister...Huuu....kenapa Mister tidak datang ke rumahku? Aku menunggu Mister dari tadi...huuuu... kenapa Mister?" tangis Icha terdengar dari sebrang telepon. Tiba-tiba hati Kenny menjadi pilu.
"Cha...jangan menangis sayang...Mister ingin sekali datang, Tapi... Mami Icha tidak mau Mister datang..."
"Aku mau Mister datang, aku mau ketemu Mister...maafin aku Mister, kalau Mister mau kembali sama pacar Mister, aku janji tidak akan marah lagi sama Mister...asal Mister mau datang ketemu sama aku...Huuu...." tangis Icha terdengar menghiba.
"Cha...siapa yang bilang Mister mau kembali sama pacar Mister? Kan di hati Mister cuma ada Icha dan Mami...jangan menangis Cha, baiklah...Mister akan datang sekarang...tapi Icha janji jangan nangis.. " ucap Kenny.
"Trima kasih Mister...aku sayang sama Mister!" Icha lalu menutup teleponnya.
Kenny berbalik arah menuju rumah Icha, saat itu mendung menggantung di langit.
Mendengar suara Icha yang menangis dan sedih, hati Kenny menjadi perih.
Tak lama kemudian, Kenny sudah berada di depan gerbang rumah Icha. Tidak seperti biasa, gerbang itu tertutup rapat dan di gembok dari dalam.
Dari balik gerbang pagar, tangan Icha terlihat menjulur keluar, Kenny mendekati Icha dan menggenggam tangannya.
"Mister...kata Mami, Mister tidak boleh masuk...Mami jahat Mister...masa Mister tidak boleh mengajari aku lagi..." kata Icha.
"Mungkin Mami punya alasan Cha, Icha jangan buruk sangka dulu..." Ucap Kenny.
"Mister...jangan pergi, aku kangen sama Mister..."
"Sama Cha...Mister juga kangen sama Icha..."
Tiba-tiba ada yang menarik tubuh Icha dari dalam, hingga genggaman tangan Kenny terlepas.
"Jangan Mami! Aku masih mau sama Mister! Mami jahat...!" Terdengar suara Icha.
"Cukup Icha!! Sekarang masuk kedalam, masuk!!" Bentak Felly.
Icha berlari masuk kedalam rumah sambil menangis.
"Felly...apa yang terjadi denganmu Fell...mengapa kau memperlakukan aku seolah-olah aku adalah penjahat...apa salahku Felly..." tanya Kenny yang masih berdiri di balik gerbang.
"Pergilah Ken! Aku sudah bilang kalau kami tak lagi membutuhkanmu...!" Jawab Felly, matanya mulai menggenang air.
"Kalau aku punya salah, katakan padaku Felly...tapi jangan perlakukan aku seperti ini, apalagi Icha..."
"Pergi Ken...!" Seru Felly.
"Tidak! Setidaknya katakan padaku satu alasan yang membuatmu berubah seperti ini padaku..." Ucap Kenny.
Gerimis mulai turun perlahan, Kenny yang masih berdiri diluar mulai terkena air hujan yang semakin lama semakin deras. Rambut dan pakaiannya mulai basah.
"Pulanglah Ken!"
__ADS_1
"Tidak! Aku akan tetap disini menunggu jawabanmu...!" Cetus Kenny.
"Jangan seperti ini Ken...aku mohon...pulanglah...atau kau akan sakit terus terkena air hujan..." Ucap Felly sambil mulai mengusap wajahnya yang basah.
"Beri aku satu alasan mengapa kau bersikap seperti ini padaku..."
"Baiklah...kamu dengar baik-baik Ken...aku tidak punya perasaan apapun terhadapmu! Kamu dengar itu? Jadi kamu juga harus melupakan aku dan Icha...sekarang pergilah!!" Ucap Felly sambil menggigit bibirnya.
"Kamu bohong Felly! Aku tidak percaya...kamu bohong!!"
"Terserah! Kamu mau percaya atau tidak...tapi kamu harus pergi dari rumah ini...dan jangan kembali lagi...!"
"Baiklah Fell...Aku akan pergi, tapi kamu harus tau...aku sangat mencintaimu...juga Icha...!"
Kemudian Kenny mulai menyalakan mesin motornya, perasaan sakit di hatinya terus menggelayutinya, air matanya bercampur dengan air hujan.
Tak lama kemudian Kenny mulai bergerak meninggalkan rumah itu dengan tubuh yang basah kuyup.
Felly bersimpuh dan menangis sejadi-jadinya di balik gerbang rumahnya. Sampai Mbak Nur mendekatinya.
"Sudah Bu...ayo masuk...Icha masih menangis di dalam..." Kata Mbak Nur sambil membantu Felly berdiri.
Sementara Kenny masih melajukan motornya yang kini melesat dengan kecepatan tinggi, hingga tak lama kemudian dia telah sampai di rumahnya.
Sehabis memarkirkan motornya Kenny langsung beranjak masuk kedalam dengan pakaian yang sudah basah kuyup oleh air hujan.
Pak Banu yang duduk di kursi sambil menikmati secangkir kopi menatapnya heran.
Kenny tidak menjawab pertanyaan Ayahnya, dia langsung bergegas menuju ke kamarnya dan mandi. Pak Banu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sudah hampir satu jam Kenny ada di dalam kamarnya dan belum muncul keluar, hingga Pak Banu mengetuk pintu kamar Kenny.
"Ken...keluarlah...ayah mau bicara...!" Panggil Pak Banu.
Tidak ada jawaban dari dalam kamar, sampai Pak Banu membuka sendiri pintu kamar Kenny yang memang tidak terkunci.
Kenny nampak terbaring menghadap tembok. Pak Banu menepuk bahu Kenny perlahan.
"Ken...ada apa denganmu? Kau tidak mau makan bersama ayah?" tanya Pak Banu. Kenny menggelengkan kepalanya.
"Ayah makan saja duluan...aku tidak lapar...." Sahut Kenny.
"Ken, nanti malam kita di undang keluarganya Dini makan malam di rumahnya...kau siap-siap ya, jam 7 kita sudah harus di sana..."
"Aku tidak mau ayah...!" Cetus Kenny.
"Ini undangan dari keluarganya Dini Ken...kenapa kau tidak mau? Kau jangan buat Ayah malu...!"
"Ayah saja yang datang, aku tidak!"
"Ken...sejak kapan kau menentang Ayah?" tanya Pak Banu.
__ADS_1
Kenny bangkit dari posisi tidurnya, kemudian dia duduk di tepi ranjangnya.
"Ayah...aku tidak mencintai Dini, untuk apa Ayah menerima undangannya?"
"Tapi bukankah dulu kau sangat akrab dengan Dini?"
"Akrab bukan berarti cinta Ayah..." sahut Kenny.
"Ken...Cinta akan datang saat kau sering bersamanya...dulu Ayah juga begitu terhadap ibumu..."
"Tapi aku cinta pada pandangan pertama Ayah...aku harap Ayah mengerti...!"
"Ken, kau adalah pria terhormat, baik-baiklah memilih pasangan hidup, Ayah tidak ingin kau salah memilih pasangan..." ungkap Pak Banu.
"Apa maksud Ayah?"
"Lupakan janda dan anaknya itu...mereka sudah punya kehidupannya sendiri...dulu ayah menyuruhmu mengajar anaknya karena kau yang sering nongkrong dan balapan dengan teman-temanmu... tapi malah kebablasan...Ayah salah telah memintamu..."
Tiba-tiba Kenny berdiri dari duduknya, matanya menyorot tajam ke arah Pak Banu.
"Ayah...jangan katakan kalau Ayah yang sudah meminta Felly untuk menjauhiku..." Ucap Kenny.
"Maafkan Ayah Kenny....Ayah memang datang kerumahnya dan memintanya untuk menjauhi mu, anaknya sudah pintar dan tidak lagi membutuhkanmu..." Jujur Pak Banu.
"Ayah keterlaluan!!" Dengus Kenny.
"Maafkan Ayah Ken...saat ini hanya dirimu yang Ayah punya....Ayah ingin kau punya masa depan yang baik, juga pendamping hidup yang baik dan bermartabat!" jelas Pak Banu.
"Jadi ayah kira Felly tidak bermartabat? Ayah salah! Bermartabat atau tidaknya seseorang tidak bisa di lihat dari statusnya apa...Aku benar-benar kecewa dengan Ayah!!"
Kenny segera keluar dari kamarnya dan meninggalkan Pak Banu.
"Kenny tunggu!!" panggil Pak Banu.
Kenny tidak perduli teriakan Ayahnya, dia langsung keluar dan kembali menyalakan mesin motornya.
Lalu sejurus kemudian, suara deru mesin motor sudah tak terdengar lagi dari rumah Kenny.
Pak Banu berdiri terpaku menatap pintu gerbang yang terbuka dan tidak tertutup lagi.
Kemudian Pak Banu merogoh ponselnya dan mulai menelepon seseorang.
"Halo..."
"Halo Pak Brata...sepertinya malam ini kami tidak bisa datang makan malam di rumahmu...nanti lain waktu lagi ya..."
"Baiklah Pak Banu...nanti kita akan atur lagi pertemuan keluarga kita...semoga anak-anak kita berjodoh...."
Bersambung ...
****
__ADS_1