Papi Untuk Mami

Papi Untuk Mami
Terpaksa Di Rawat Lagi


__ADS_3

Sore itu juga, Kenny membawa Felly ke rumah sakit.


Sesekali felly mengusap perutnya yang terkadang merasa nyeri.


Ada raut kecemasan di wajah Kenny, namun sebisa mungkin Kenny berusaha untuk menyembunyikannya.


Mereka berjalan bergandengan tangan menyusuri koridor rumah sakit.


Kenny dan Felly saling diam, dengan pikirannya masing-masing, hingga mereka sampai di depan ruang praktek dokter, ada beberapa pasien yang mengantri.


Kenny duduk di sebelah Dini, ada kecemasan di dalam hati mereka masing-masing, namun tidak bisa terungkapkan dengan kata-kata.


Saat tiba giliran Felly, mereka langsung masuk ke dalam ruang praktek itu.


"Selamat sore ibu Felly, apakah ada keluhan yang berarti?" tanya Dokter Lia.


"Perut saya nyeri Dokter, tadi pagi saya juga mengalami sedikit pendarahan!" ucap Felly ragu-ragu.


"Katakan saja terus terang pada dokter, aku juga sudah tau kondisimu dari Mbak Nur!" kata Kenny.


"Pak Kenny, sudah saat nya Bu Felly mengetahui tentang kondisi sebenarnya, supaya bisa lebih mempersiapkan ya mulai dari sekarang, kita harus menguatkan hati dan mental kita!" ucap Dokter Lia.


Felly mulai menunduk, feeling-nya selama ini benar.


"Sebenarnya, sudah lama saya merasa ada yang tidak beres dalam tubuh saya, cuma saya mengabaikannya!" ucap Felly.


"Ibu Felly jangan khawatir, tenangkan pikiran, karena kecemasan akan menurunkan daya tahan tubuh!" ujar Dokter.


"Ya dokter, kalau memang saya sakit parah, katakan saja terus terang, saya siap mendengarkannya," sahut Felly.


Dokter Lia mulai menuturkan masalah penyakit yang di derita oleh Felly, Kenny menggigit bibirnya, mencoba menahan rasa sedih yang menghimpitnya.


Sementara Felly terlihat sedih, walaupun dia agak tenang, tidak panik seperti Kenny saat pertama kali mendengar kabar ini.


Namun butiran air mata Felly tetap jatuh membasahi pipinya, sudah tak terbendung lagi.


"Sabar Bu, tetap percaya bahwa mujizat itu masih ada, apalagi ada seorang bayi di dalam kandungan Bu Felly ..." ucap Dokter Lia mengingatkan.


"Jadi, apa yang harus saya lakukan sekarang dokter?" tanya Felly yang nampak putus asa.


"Ibu Felly harus di rawat, paling tidak sampai bayi nya lahir, karena ini penyakit serius!" jawab Dokter.

__ADS_1


"Lama sekali ... apakah tidak bisa di rawat di rumah saja?" tanya Felly lagi.


"Bayi yang ada dalam kandungan anda akan beresiko, makanya harus lebih sering di pantau, tapi nanti kita lihat, kalau perkembangan bagus, Bu Felly bisa di rawat di rumah, tapi untuk saat ini, saya anjurkan di rawat di rumah sakit dulu!" tutur Dokter Lia.


"Baiklah Dok, lakukan yang terbaik buat istri saya, semua fasilitas terbaik di rumah sakit ini berikan padanya, aku tidak ingin melihatnya kesakitan, hatiku perih!" ungkap Kenny.


"Ya pak Kenny, saya juga turut merasakan apa yang bapak dan ibu rasakan!" sahut Dokter Lia.


Akhirnya hari itu juga, Felly mulai di rawat inap di rumah sakit itu, perawat mulai memasang jarum infus padanya, juga selang oksigen tersedia, jika sewaktu-waktu terjadi komplikasi.


Kenny duduk di sisi ranjang Felly sambil terus menggenggam tangan Felly.


"Ken, ini kedua kalinya aku di rawat di sini!" ujar Felly.


"Aku akan terus mendampingimu sayang!" ucap Kenny.


"Tapi lama kelamaan Kenny akan bosan!" sahut Felly.


"Tidak, aku tidak akan pernah bosan!" ujar Kenny.


"Trimakasih Ken!" ucap Felly sambil mulai memejamkan matanya yang tiba-tiba mengantuk setelah di infus.


Setelah Felly tidur, Kenny mulai merogoh ponselnya, lalu menelepon Mbak Nur.


"Halo Mbak Nur, istriku harus di rawat lagi, aku titip Icha ya, dan tolong antarkan Icha besok ke sekolah!" pinta Kenny.


"Ya ampun, kasihan amat ibu, belum lama di rawat, di operasi, sekarang di rawat lagi!" ujar Mbak Nur.


"Sudahlah Mbak, aku minta tolong siapkan baju-baju Felly, setelah itu bawalah kemari, untuk baju-bajuku, tolong minta Ayahku untuk menyiapkannya!" titah Kenny.


"Baik Mister, nanti kalau sudah selesai,


pasti akan saya antar ke rumah sakit, sama kan kayak kemarin?" tanya Mbak Nur.


"Iya Mbak, sama kayak waktu itu, trimakasih ya, aku tunggu!" jawab Kenny sambil menutup teleponnya.


Felly sudah nampak lelap tertidur, Kenny menyandarkan tubuhnya di sofa sudut ruangan itu.


Dia akan menjalani hari-hari sedih selama berapa bulan kedepan, Kenny sudah nampak putus asa dan tak bertenaga lagi, bahkan untuk berteriak sekalipun.


Kini Kenny lebih memilih diam dan pasrah menghadapi kenyataan yang kini sedang di hadapinya.

__ADS_1


Kenny kembali meraih ponselnya, dia mulai memencet nomor ponsel Pak Budi, kepala sekolah di sekolahnya.


"Halo Mr. Ken!" sapa Pak Budi ramah.


"Pak Budi, mulai saat ini aku akan jarang datang ke sekolah, aku percayakan sekolah Rajawali padamu dan Pak Yudi, tolong atur dan kelola dengan baik sekolah kita!" ujar Kenny.


"Baik Mr, tapi kenapa Mr akan jarang datang ke sekolah? Maaf, apa karena Miss Dini yang mulai mengajar di sekolah? Saya dengar, dulu Miss Dini itu adalah mantan Mr. Ken!" tutur pak Budi.


"Oh, bukan karena itu Pak, jangan salah paham, saat ini istri saya sakit dan sedang di rawat di rumah sakit, saya harus terus menjaganya, itulah sebabnya saya minta tolong Bapak yang bertanggung jawab atas sekolah kita!" jelas Kenny.


"Baiklah Mr, saya turut prihatin apa yang di alami oleh keluarga Mr. Ken, semoga badai ini cepat berlalu ya Mr!" jawab Pak Budi.


"Trima kasih atas kerjasama nya Pak Budi, mungkin itu dulu informasi dari saya, kalau ada apa-apa tolong hubungi saya!" kata Kenny.


"Siap Mr, nanti saya akan kordinasi dengan Pak Yudi!" sahut Pak Budi sebelum sambungan telefon terputus.


"Aaarrgghhh!!"


Terdengar teriakan dari Felly yang tiba-tiba, Kenny langsung bangkit dan mendekati istrinya.


"Ada apa sayang? Kau kenapa?" tanya Kenny panik.


"Ahh!! Perutku sakit Ken! Sakit sekali, rasanya begitu nyeri!" seru Felly.


"Tunggu sebentar sayang, aku akan panggil kan dokter!" Kenny berlari secepat mungkin keluar dari ruangan itu.


Seperti orang gila, Kenny berteriak-teriak di sepanjang koridor memanggil-manggil Dokter.


"Dokter!! Dokter!! Tolong istriku Dokter!!" teriak Kenny.


Dua orang perawat datang untuk menenangkan Kenny.


"Sabar Pak, jangan membuat kericuhan di sini, sebentar lagi Dokter juga datang!" kata salah satu suster.


"Mana bisa aku sabar melihat istriku yang kesakitan begitu!!" sentak Kenny.


Tak lama, seorang Dokter pria keluar dari ruangan dan datang menghampiri Kenny.


"Maaf, anda ini Pak Kenny Wijaya, yang istrinya di rawat di ruang 202?" tanya Dokter itu.


"Benar Dok, di mana Dokter Lia??" tanya Kenny.

__ADS_1


"Dokter Lia sedang ada pasien, lagi pula dia dokter kandungan, saya dokter Dimas, spesialis penyakit dalam!" kata Dokter Dimas sambil menjabat tangan Kenny.


****


__ADS_2