Papi Untuk Mami

Papi Untuk Mami
Dini Menjenguk Felly


__ADS_3

Icha yang baru turun dari motor Dini langsung berlari ke arah Kenny.


"Papi! Kenapa Papi tinggalin aku sih!! Aku bingung tau cari Papi! Untung ada Miss Dini, kalau tidak aku pasti nginep di sekolah!!" sungut Icha.


"Maafin Papi Cha, tadi Papi panik karena Mbak Nur telepon, katanya Mami sakit, maafin Papi!" ucap Kenny sambil memeluk Icha.


Dini yang turun dari motor langsung mendekati Kenny.


"Ken, Felly sakit apa?" tanya Dini.


Kenny mengangkat wajahnya, matanya yang coklat terlihat sembab, banyak kecemasan yang terpancar di sana.


"Sudahlah Din ... " ucap Kenny akhirnya.


"Miss Dini masuk dulu yuk kita lihat Mami!" ajak Icha.


"Tidak Cha, Miss Dini pulang saja, Papi Kenny sepertinya keberatan mengajak Miss Dini masuk!" sahut Dini.


"Papi, Miss Dini boleh masuk ya, supaya Mami senang karena ada temannya!" pinta Icha.


Mau tidak mau Kenny menganggukan kepalanya.


Mereka pun mulai masuk ke dalam rumah.


Icha langsung masuk ke kamarnya berganti pakaian, Dini duduk menunggu di ruang tamu.


Kenny langsung naik ke atas menuju di kamarnya, Felly masih berbaring memiringkan badannya.


"Ken, bagaimana Icha? Kau cepat sekali!" tanya Felly dengan tidak merubah posisi tidurnya.


"Tadi aku baru saja mau menjemput Icha, ternyata Icha pulang di antar Dini!" sahut Kenny.


"Dini? Dimana dia sekarang?" tanya Felly sambil bangkit dari posisi berbaringnya.


"Dia, ada di bawah Fell, katanya dia ingin menjengukmu!" jawab Kenny.


"Kenapa kau tidak suruh dia kesini saja? Suruh masuk kesini lah Ken, aku ingin mengobrol dengannya!" kata Felly antusias.


Kenny tertegun, biasanya Felly selalu cemburu jika berhubungan dengan Dini, namun hari ini dia terlihat berbeda.


"Eh, Fell, mungkin Dini juga akan pulang sebentar lagi!" sergah Kenny.


"Pulang? Kenapa cepat sekali, tolong panggil Ken, aku ingin ngobrol sama Dini!" Felly mulai mendorong tubuh Kenny.


Kenny akhirnya keluar dari kamarnya, dia langsung turun dan menemui Dini yang masih menunggunya.


"Din, Felly memintamu naik ke atas," kata Kenny.

__ADS_1


"Oh, ke kamar kalian maksudnya?" tanya Dini.


"Iya, ke kamar, tidak apa kau naik saja, Felly memintanya, aku akan tunggu di sini!" sahut Kenny sambil duduk di hadapan Dini.


"Tapi Ken ..." Dini nampak ragu-ragu.


"Naiklah, aku tidak suka kalau istriku menunggu!" tukas Kenny.


Akhirnya Dini beranjak dari tempatnya, dia perlahan berjalan menaiki tangga, lalu menuju ke kamar yang terlihat paling besar, ada kamar Icha dan 1 kamar kosong.


Tok ... Tok ... Tok ...


Perlahan Dini mengetuk pintu kamar itu.


"Masuk!" Seru Felly dari dalam kamarnya.


Perlahan Dini membuka pintu kamar itu, Felly sudah duduk di sisi tempat tidurnya.


"Ayo sini duduk Din!" ajak Felly sambil menepuk tempat di sampingnya.


Perlahan Dini mendekati Felly lalu duduk di sampingnya.


Ada yang bergetar di dada Dini, berada di dalam kamar itu, dia menggigit bibirnya menahan rasa.


"Aku senang kau datang Din, trimakasih ya sudah mengantar Icha," ucap Felly.


"Iya Mbak, tadi Icha kebingungan cari Papinya, sebagian guru sudah pulang, makanya aku mengantarnya!" sahut Dini.


"Mbak, yang aku tau, orang hamil itu tidak sakit, kenapa Mbak Felly sakit perutnya? Apakah sudah berobat ke dokter?" tanya Dini.


"Entahlah Din, sejak aku habis operasi pengangkatan kista, entah mengapa aku lebih sering merasa nyeri, mungkin itu karena efek jahitan, sudahlah, yang penting bayi Kenny sehat!" ucap Felly.


Dini terdiam untuk beberapa saat lamanya.


"Oya Din, kamu tau tidak, si Leo kan mau menikah, waktu itu dia memberikan undangan pada kami!" ujar Felly sambil mengambil posisi bersandar di dipan ranjang.


"Aku sudah tau dia akan menikah!" sahut Dini singkat.


"Maaf Din, sepertinya Leo juga kecewa atas penolakanmu terhadapnya, andai kau memberikan dia kesempatan ..." Felly menghentikan ucapannya.


"Kesempatan apa? Bersama dengan Leo? cinta itu rahasia hati yang tidak bisa di paksakan Mbak!" pungkas Dini.


"Maaf, aku tidak bermaksud untuk ..."


"Mbak Felly, sepertinya aku sudah terlalu lama di sini, kau juga perlu istirahat kan, kalau begitu aku pamit ya!" Dini beranjak berdiri dari tempatnya.


"Din, aku masih mau mengobrol banyak denganmu, sering-seringlah kau datang kesini!" kata Felly.

__ADS_1


"Ya, nanti kalau ada kesempatan, aku akan mampir lagi!" sahut Dini sambil berlalu meninggalkan kamar itu.


Dini terus menuruni tangga dan berjalan ke arah ruang tamu, Kenny nampak sedang asyik bermain puzzle dengan Icha.


"Ken, aku pulang ya!" pamit Dini saat melewati Kenny.


"Oh, iya Din!" Kenny langsung berdiri dari duduknya, mengikuti Dini yang berjalan menuju ke depan gerbang.


" Trima kasih Din, hati-hati!" seru Kenny.


Dini menoleh kebelakang, dia tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


"Kau jaga istrimu baik-baik Ken, saat ini dia pasti sangat membutuhkanmu!" ucap Dini.


"Iya Din, trima kasih!" ucap Kenny.


Tak lama Dini sudah naik ke atas motornya dan mulai melajukan nya perlahan meninggalkan rumah Kenny.


Kenny masih termangu di depan teras rumahnya, sampai Mbak Nur datang menghampirinya.


"Mister!" Suara Mbak Nur mengagetkan Kenny.


"Ya Mbak? Icha mana?" tanya Kenny saat tersadar dari lamunannya.


"Icha sedang nonton TV Mister, sebenarnya, tadi pagi Ibu mengalami sedikit pendarahan, saat dia mengeluh perutnya nyeri, tapi dia wanti-wanti agar saya tidak memberitahu Mister, Ibu takut Mister terlalu mengkhawatirkannya!" ungkap Mbak Nur.


"Trimakasih informasinya Mbak, hari ini aku akan membawa istriku ke rumah sakit!" jawab Kenny.


"Sepertinya Ibu sudah tau ada yang tidak beres di dalam perutnya, cuma dia enggan memberitahu Mister, tadi saja saya di marahi karena telepon mister!" lanjut Mbak Nur.


Kenny langsung beranjak dari tempatnya, dia terus berjalan naik ke atas menuju ke kamarnya, saat membuka pintu, Felly nampak sedang tidur, Kenny langsung memeluk istrinya itu.


"Kalau ada yang sakit, katakan saja padaku, jangan ada yang di sembunyikan, supaya beban mu bisa terbagi padaku!" ucap Kenny.


"Kau sendiri menyembunyikan sesuatu!" sahut Felly.


Kenny mempererat pelukannya, kepedihan hatinya sudah tidak terbendung lagi.


"Kita kerumah sakit sekarang!" bisik Kenny.


"Untuk apa?" tanya Felly.


"Memeriksakan kondisimu!" sahut Kenny.


Felly mengurai pelukan, di tatapnya wajah Kenny yang sendu.


"Aku sudah tau, apa yang terjadi padaku, aku sudah tau di dalam rahimku terdapat tumor ganas, aku sudah tau mungkin aku tidak akan hidup lama lagi, dan aku tau, ini adalah sebuah kenyataan yang kau coba sembunyikan dari aku!" ucap Felly yang matanya mulai tergenang air.

__ADS_1


Kenny tidak tahan lagi, dia kembali memeluk istrinya itu dengan erat sambil menangis.


****


__ADS_2