
Kenny berjalan menanjak kembali menuju Villa sambil menggendong Dini di punggungnya.
Dia berjalan dengan perlahan karena jalan bebatuan dan jarak yang lumayan jauh.
Dini menyandarkan kepalanya di punggung Kenny, entah mengapa ada perasaan hangat dalam diri gadis itu.
Akhirnya Kenny sampai di Villa, dia menurunkan Dini di sebuah sofa di aula Villa itu, suasana Villa sangat sepi, karena semua menikmati momen waktu bebas itu dengan jalan-jalan.
Dengan cepat Kenny mengambil kotak obat, lalu mulai mengeluarkan perban, plester dan obat.
Parlahan Kenny membersihkan luka Dini. Dini meringis menahan perih, namun jauh di lubuk hatinya tersimpan rasa bahagia.
"Lukanya sudah tidak berdarah lagi, tapi kamu harus banyak istirahat Din, kelihatannya kakimu agak sedikit bengkak, mungkin terkilir." Ucap Kenny.
"Trimakasih Ken!" sahut Dini yang tak mampu untuk mengucapkan apa-apa lagi.
"Ya..." Jawab Kenny yang masih melilitkan perban di lutut Dini, dia juga memberi obat dan plester di tempat luka yang lain.
"Maafkan aku Ken, seharusnya sekarang kamu sudah bersenang-senang dengan Icha dan Maminya, gara-gara aku ... Kamu malah sibuk mengurusiku!" ujar Dini.
"Sudahlah Din, aku juga akan melakukan hal yang sama pada siapapun yang membutuhkan bantuan ku ..." ucap Kenny.
"Yah, kau memang baik Ken, pantas saja banyak orang yang menyalah gunakan kebaikanmu!" Kata Dini. Dia mulai meneteskan air matanya.
"Kamu kenapa Din, aku antar kamu ke kamarmu ya?" tanya Kenny sambil menatap cemas Dini. Karena gadis itu menangis tiba-tiba. Dini menggelengkan kepalanya.
Setelah membereskan perlengkapan kesehatan ke kotak obat. Kenny kembali menghampiri Dini dan mengelus punggungnya.
"Kita sudah lama berteman Din, kalau kamu ada kesulitan aku pasti membantumu ... !" ucap Kenny.
"Trimakasih Ken, aku tidak ada masalah apapun, hatiku yang bermasalah!" Jawab Dini.
"Sepertinya kamu memang butuh istirahat Din, aku akan membawamu ke kamarmu!" Tanpa menunggu jawaban Dini, Kenny langsung mengangkat Dini dan berjalan menuju ke kamar Dini yang berada di lantai dua.
Dini melingkarkan tangannya di leher Kenny, dia berharap waktu akan berhenti dan berpihak padanya.
Namun angannya sirna seketika saat Kenny sudah membaringkan dia di tempat tidurnya.
"Kamu istirahatlah Din, aku mau kembali ke air terjun menyusul Icha!" Ujar Kenny. Dini mengangguk dengan hati kecewa.
"Ya, kamu pergilah Ken!" Sahut Dini.
__ADS_1
Kenny segera membalikan tubuhnya dan bergegas pergi meninggalkan Dini. Dini terus memandang Kenny sampai bayangannya benar-benar hilang.
Setelah Kenny benar-benar pergi, Dini kembali menangis di tempat tidurnya, hatinya benar-benar perih, harus tersiksa dengan perasaan cintanya sendiri. Cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Sementara Kenny setengah berlari kembali menyusuri jalan setapak menuju ke air terjun, sampai di bawah, nampak beberapa orang guru sedang duduk di bebatuan sambil merendam kaki di air, mereka tidak ada yang berani mandi di air terjun itu, karena waktunya juga tidak akan cukup, jam enam mereka sudah harus tiba di Villa.
Felly nampak duduk menyendiri agak jauh dari kumpulan para guru, sementara Icha terlihat bermain air di dekat Felly duduk. Dengan cepat Kenny segera menghampiri mereka.
"Hai Fell, Kenapa kalian tidak bergabung dengan yang lain?" Tanya Kenny sambil duduk di sebelah Felly.
"Tidak Ken, Icha terus merengek ingin berenang, di sini lah tempat yang paling dangkal!" Sahut Felly.
"Mister Kenny! Ayo kesini! Kita berenang sama-sama, enak lho Mister, airnya dingin dan bening!" Teriak Icha sambil melambaikan tangannya.
"Jangan lama-lama Cha, sebentar lagi kita harus segera kembali ke Vila!" Balas Kenny.
"Icha kalau punya mau memang seperti itu Ken! Tidak ada yang bisa melarangnya!" Ujar Felly. Kenny tersenyum sambil mulai membelai rambut Felly.
"Tidak apa-apa Fell, hanya cinta yang bisa membuatnya berubah ... "
"Yah, cinta dari seorang mantan gurunya!" Potong Felly. Kenny tertawa.
"Sekarang bukan lagi mantan guru, tapi calon Papi!" Ucap Kenny sambil mengangkat dagu Felly dan menatap dalam wajah itu. Ada semburat warna merah di pipi Felly.
Icha beranjak naik ke atas batu, sepertinya dia sudah puas berenang. Dengan cepat Felly menghanduki tubuh Icha yang mulai menggigil kedinginan.
"Kita mandi di Villa saja ya, ada air hangat!" Kata Kenny, Felly kemudian menganggukan kepalanya.
Semua guru dan staf yang lain sudah berjalan naik ke atas, kini di air terjun itu sudah tidak ada lagi orang. Matahari sudah semakin turun berganti dengan warna jingga.
Kenny menggendong Icha naik, sementara Felly berjalan di sebelahnya.
Akhirnya mereka sampai di villa, walaupun agak terlambat karena Kenny dan Felly berjalan dengan pelan.
Para guru dan yang lain nampak sudah mempersiapkan diri untuk makan malam.
"Kau dari mana saja Ken? Lama sekali!" Cetus Rio saat Kenny baru beranjak akan mandi.
"Dari air terjun lah, jalanku lama karena aku menggendong Icha!" Sahut Kenny.
"Kau ini Ken, belum jadi Ayah sudah repot! Oya, tadi pak Chandra mencarimu, lebih baik setelah ini kau langsung menemuinya!" Tambah Rio yang segera keluar dari kamar itu.
__ADS_1
Acara makan malam pun di mulai, mereka makan makanan prasmanan yang disediakan oleh pengelola, Felly nampak makan berdua dengan Icha, sementara Kenny terlibat pembicaraan serius dengan Pak Chandra.
"Mister Kenny, kata Mam Indah Miss Dini sedang demam, apa kau sudah lihat kondisinya bagaimana?" tanya Pak Chandra.
"Tadi dia jatuh Pak, ada luka di kakinya, tapi saya sudah mengobatinya, mungkin saja ada yang infeksi, maka nya dia demam!" jawab Kenny.
Tiba-tiba Mam Indah datang tergopoh-gopoh menghampiri mereka.
"Pak Chandra! Dini panas tinggi, 39 derajat, dia menggigil dan wajahnya sangat pucat Pak!" lapor Mam Indah.
"Oya? Mister Ken, ayo kita lihat kondisi Miss Dini!" Kata Pak Chandra dengan wajah cemas.
Mereka lalu segera berdiri dan dengan cepat berjalan menuju kamar Dini.
Dini nampak terbaring dengan selimut yang menutupi tubuhnya, wajahnya pucat, tubuhnya kelihatan lemah. Perlahan Pak Chandra dan Kenny mendekati Dini.
"Kau tidak apa-apa Din?" tanya Kenny cemas. Dini menggelengkan kepalanya pelan.
"Bagaimana ini Mister Kenny?" Pak Chandra nampak bingung.
"Sepertinya Dini harus di bawa ke Dokter Pak!" Usul Mam Indah.
Pak Chandra nampak berpikir sambil mengerutkan keningnya.
"Tapi ... Apakah di sekitar daerah ini ada dokter?" tanya Pak Chandra.
"Ada Pak, tapi harus turun dulu, di pinggir jalan besar itu ada dokter dan klinik juga!" Jawab Mam Indah.
"Baiklah, Mister Kenny, tolong kau antarkan Dini berobat ke dokter, pastikan dia sudah mendapat obatnya!" perintah Pak Chandra.
"Tapi naik apa Pak?" tanya Kenny.
"Nih, kunci mobil pemilik Villa, kau pakailah untuk mengantar Dini ke Dokter ...!" sahut Pak Chandra.
Kenny langsung mengambil kunci mobil itu dan segera mengangkat Dini dari ranjangnya dan langsung membawanya ke halaman depan Villa, kemudian membaringkan Dini di jok mobil.
Semua para guru dan staf memandang heran ke arah Kenny, termasuk Felly dan Icha.
Bersambung....
****
__ADS_1
Halo guys ...
Novel horor misteri "Lelaki Bayangan" Sudah update lagi ya, bagi pecinta kisah horor dan misteri boleh merapat ... jangan baca malam-malam ya guys ... 😁👽