Papi Untuk Mami

Papi Untuk Mami
Restu Yang Terlambat


__ADS_3

Pagi itu Kenny tengah bersiap-siap untuk mencari pujaan hatinya, Felly. Dia memasukan beberapa baju ke dalam tas ranselnya.


Setelah selesai, Kenny menyambar jaketnya, dia melangkah menuju ke depan, Pak Banu nampak duduk termenung di depan teras rumahnya.


"Kau mau berangkat sekarang Ken?" tanya Pak Banu.


"Iya Ayah, aku mau ke rumah Leo dulu, biasanya dia selalu banyak ide untuk mencari seseorang!" ujar Kenny.


"Tapi kau jangan lama-lama Ken, Ayah sendirian! Lagi pula kau juga sudah aktif mengajar beberapa hari lagi!" kata Pak Banu memberi peringatan.


"Beres Ayah, doakan aku segera menemukan mereka, aku juga sangat ingin mengajak mereka tinggal di sini bersama Ayah!" ucap Kenny.


"Pergilah Ken!" sahut Pak Banu.


Kenny mencium tangan Ayah nya sebelum beranjak naik kedalam mobilnya dan mulai menyalakan mesinnya.


"Ayah hati-hati di rumah! Minum obat yang teratur! Jangan lupa sering-sering menghubungiku!" seru Kenny sebelum mobilnya bergerak meninggalkan rumah itu, Pak Banu hanya termangu menatap kepergian putranya itu untuk mengejar cintanya.


Kenny mengarahkan mobilnya menuju ke tempat kos Leo, tidak sampai 20 menit Kenny sudah memarkirkan mobilnya di parkiran kos minimalis itu.


Dia segera keluar dari mobilnya dan naik keatas menuju ke kamar Leo.


Tanpa basa-basi Kenny segera membuka pintu kamar Leo yang memang jarang terkunci, Kenny sedikit terkejut melihat Dini sudah ada di sana, mereka sedang ngobrol di sofa yang ada di sudut ruangan itu.


"Nah, panjang umur lu Ken! Baru di omongin!" seru Leo. Dini nampak menepuk tangan Leo.


"Kalian ngomongin aku??" tanya Kenny sambil ikut duduk bergabung dengan mereka.


"Bukan Ken, Leo hanya bilang kalau Felly dan Icha pergi dari rumah, karena Ayahmu memarahi Felly saat di rumah sakit!" jelas Dini.


"Yah, itu benar, tapi sekarang kalian tau? Ayahku sudah merestuiku dengan Felly, makanya sekarang aku mau mencari mereka, aku minta bantuan mu Le!" ujar Kenny. Dini membulatkan matanya.


"Jadi ... Om Banu sudah bisa menerima Felly?" tanya Dini.

__ADS_1


"Ya, Ayah sudah bisa berlapang hati menerima mereka, Ayah ingin aku bahagia! Karena katanya, cuma aku yang Ayah miliki!" jawab Kenny. Tiba-tiba Dini menundukkan wajahnya.


"Syukurlah kalau Om Banu sudah bisa restuin lu Ken! Gue juga ikut seneng!" timpal Leo.


"Leo, waktu itu Icha sempet telepon sebelum Felly merebut teleponnya, ini nomornya kira-kira kau bisa selidiki tidak? Ini asalnya dari daerah mana?" tanya Kenny sambil menunjukkan nomor yang di maksud.


"Kenapa Lu tidak menghubungi balik?" tanya Leo balik


"Sudah Le, cuma nomornya langsung di blokir! Mungkin Felly takut aku akan menemukannya!" sahut Kenny.


"Ken, ini kan nomor ponsel biasa, bisa aja kan si Felly beli nomor ini di Jakarta, lalu dia pakai di tempat barunya ... tidak bisa mendeteksi dengan nomor ponsel, apalagi sudah di blokir! Pakai cara lain saja!" ujar Leo. Kenny terlihat sedih.


"Jadi aku harus mencari mereka kemana Le??" tanya Kenny yang terlihat putus asa.


"Ken, atau kau buat status saja di media sosial, lalu minta teman-temanmu untuk memviaralkannya, masa iya Felly tidak tersentuh ... kau buat status yang romantis dan menyentuh Ken!" usul Dini tiba-tiba.


"Nah, tuh pinter idenya Dini, betul tuh Ken! Coba kau buat status deh...nanti gue dan temen-temen bantu viralkan! Jaman now gitu loh!" ujar Leo bersemangat.


"Aduuh ... tapi aku tidak biasa menulis kata romantis Le! Kau tau sendiri aku bukan playboy sepertimu!" kata Kenny.


"Sudah, sudah! Kalian berdua pikir saja, aku mau pamit pulang!" Kata Dini yang kini beranjak berdiri.


"Din, biar aku antar sekalian, aku mau ke rumah Icha yang lama, mau ke rumah pak RT. Siapa tau aku mendapat petunjuk!" Ucap Kenny. Dini Menganggukan kepalanya.


"Jangan lupa Ken! Lu rancang kata-kata romantis yang mau di viral kan!" teriak Leo saat Kenny dan Dini mulai keluar dari kamar Leo.


****


Sementara di tempat kediaman Felly yang baru, Icha nampak duduk melamun di kursi teras rumahnya, beberapa orang sedang mengecat dan merapikan ruko kecil yang ada di depan rumahnya, rencana Felly akan mulai membuka toko rotinya yang baru di komplek ini.


Mbak Nur yang melihat Icha duduk sendirian lantas mendekati gadis kecil itu.


"Cha, makan dulu sana, Mbak Nur sudah masakin ayam goreng kesukaan Icha, nanti kalau Mami tau Icha belum makan, Mami bisa marah lho!" ujar Mbak Nur sambil duduk di sebelah Icha.

__ADS_1


"Aku belum lapar Mbak! Mbak Nur saja yang makan duluan!" Cetus Icha sambil terus memeluk boneka kesayangannya.


"Sudah berapa hari ini Icha murung terus, kalau begini terus kan Icha bisa sakit, kasihan Mami Cha!" Ucap Mbak Nur.


"Mbak Nur, sudah di belikan ponsel yang baru sama Mami? Nomor Mbak Nur yang lama mana?" tanya Icha.


"Sudah Cha, tapi nomor lama Mbak Nur di buang sama Ibu! Mbak Nur pakai nomor yang baru deh!" Sahut Mbak Nur.


"Yah ... padahal kan di kartu Mbak Nur yang lama ada nomor Mister!" keluh Icha. Wajahnya nampak sedih.


"Sabar Cha, bukan cuma Icha yang kangen Mister, Mbak Nur juga, Mami juga, nanti suatu saat juga pasti ketemu lagi!" ucap Mbak Nur bijak.


"Tapi kapan Mbak? Aku kangen banget! Biasanya aku dan Mister suka cerita dan main bareng, sekarang aku kesepian lagi!" Sungut Icha.


Tiba-tiba Felly datang dari arah depan dengan pakaian rapi, sambil membawa sebuah map di tangannya.


"Cha, Icha! Mami sudah daftarin Icha lho di sekolah yang baru itu, sekolahnya bagus deh Cha, Icha pasti senang deh!" Kata Felly antusias.


"Oh, ibu dari sekolahan toh, kirain tadi keluar kemana ... " ujar Mbak Nur.


Icha diam saja tidak menanggapi perkataan Felly.


"Cha, guru-guru di sekolah itu juga asyik-asyik orangnya, teman-temannya baik-baik, mulai Senin besok Icha sudah mulai masuk sekolah, nih ... Mami juga sudah membelikan Icha seragam!" kata Felly sambil menunjukan bungkusan kantong yang berisi beberapa baju seragam.


"Iya Cha, aduuh ... bagus-bagus deh seragam Icha, Mbak Nur jadi pengen sekolah lagi deh!" tambah Mbak Nur.


"Ya sudah, Mbak Nur saja yang sekolah! Aku tidak mau!" cetus Icha yang langsung berdiri dan melangkah pergi masuk ke dalam rumahnya.


"Icha!!!" Panggil Felly dengan suara keras. Namun Icha tidak menggubris dan tetap melangkah pergi.


"Sabar Bu ... Icha hanya sedang kangen sama Mister, tadi dia yang bilang begitu!" ucap Mbak Nur.


Felly terdiam dan tidak tau lagi bagaimana cara membuat Icha bisa melupakan Kenny. Ada yang perih di sudut hatinya yang paling dalam.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2