
Ini adalah hari ke tiga Kenny study banding ke Singapura.
Icha nampak duduk sendirian di ruang tamu sambil memeluk boneka pemberian Kenny, biasanya hari ini dia sudah bersama Kenny.
Felly yang sejak tadi mengamatinya perlahan mulai mendekati Icha, di belainya rambut Icha dengan lembut.
"Icha, kok melamun, lagi pikirin apa sih?" tanya Felly yang langsung duduk di samping Icha.
"Ada deh! Mami kepo aja!" sahut Icha.
"Cha, cerita dong sama Mami ... Icha kangen ya sama Mister Kenny? Baru juga tiga hari Cha, apalagi Mister Kenny pergi setahun ..." kata Felly.
"Mami tidak tau aja sih, tiga hari itu seperti tiga tahun tau!" cetus Icha. Felly tertawa geli mendengarnya.
"Icha, Icha, dulu Icha tidak pernah seperti ini, sekarang kenapa Icha begitu sama Mister Kenny?" tanya Felly.
"Mami mau tau jawabannya??" Felly menganggukkan kepalanya.
"Karena aku sayang sama Mister Kenny ..."
"Sayang?"
"Iya Mami, aku mau Mister Kenny jadi Papi aku ..."
"Icha! Kenapa Icha berpikir seperti itu?" Felly menatap Icha dengan tatapan sedih.
"Tapi sayang, Mister Kenny sudah punya pacar ..." Wajah Icha terlihat kecewa.
"Dari mana Icha tau?"
"Mister sendiri yang bilang sama aku, kalau Mister sudah punya pacar ..." Sahut Icha.
Mendadak Felly terdiam, ada perasaan sedih disudut hatinya yang terdalam.
Kring ....kriiing ...kring ...
Suara telepon rumah berdering. Felly segera bangkit dari duduknya kemudian menghampiri meja telepon, lalu mulai mengangkat teleponnya.
"Halo ..."
"Halo, selamat sore Bu Felly ...."
"Mister Kenny?" ucap Felly.
"Kamu baik-baik saja Bu? Bagaimana Icha? Dia mau belajar hari ini?" tanya Kenny beruntun.
"Ah Mister, kamu telepon hanya menanyakan itu, Icha baru saja menanyakanmu ..."
"Mana Icha? Aku mau bicara dengannya ..." Kata Kenny.
Felly segera mendekati Icha yang masih duduk di tempatnya.
"Cha, Mister Kenny telepon, ingat, ngomongnya jangan lama-lama!" Kata Felly.
Mendengar nama Mister Kenny, Icha langsung meloncat dari tempatnya, dan segera meraih teleponnya.
"Halo Mister! Kok lama bangettt, aku kangeeeen sama Mister, cepat pulang Mister!!" Kata Icha antusias.
"Iya sayang, 3 hari lagi Mister pulang kok...sabar ya..." jawab Kenny.
"Mana bisa sabar?? 3 hari itu lama tau, ayo pulang Mister!!" Rajuk Icha.
__ADS_1
"Iya Cha, Icha mau Mister belikan apa? Boneka atau coklat? Atau apa?" tanya Kenny.
"Tidak mau! Aku mau Mister pulang saja ..."
"Pulang? Lalu kalau Mister sudah pulang Icha mau ngapain?" tanya Kenny.
"Aku janji bakal rajin belajar, kerjain semua Pr, asal Mister cepat pulang, ayo dong Mister!"
Felly yang melihat tingkah laku Icha langsung menarik teleponnya dari tangan Icha.
"Maaf Mister, sebaiknya jangan sering menelepon, Icha jadi ngambek dan tau sendiri kalau anak itu sudah ngamuk, Maaf Mister, aku tutup ya teleponnya ..."
Felly langsung menarik tangan Icha kasar, lalu menutup telepon Kenny. Icha langsung menangis keras.
"Mami jahat!! Mami jahat!! Kenapa Mami matikan telepon nya, aku masih mau ngobrol sama Mister, aku kangen tau! Mami Jahat!!" teriak Icha.
"Icha dengar! Kamu tidak berhak memaksa Mister untuk mengikuti semua kemauan mu, ingat Cha, dia itu bukan siapa-siapa kita, dia hanya guru privat Icha ...!" hardik Felly.
"Mami jahat!! Aku masih mau ngomong sama Mister, kenapa Mami matikan, itu bikin aku sedih tau ...!!" Icha kembali menangis sambil berlari masuk ke kamarnya.
Felly menghempaskan tubuhnya di sofa, air matanya juga sudah mengalir.
Mbak Nur yang melihatnya langsung beringsut mendekatinya.
"Bu, sabar, Icha masih kecil, di maklumi saja Bu ..." Kata Mbak Nur menenangkan. Felly mengusap air matanya.
"Tapi kalau di biarkan terus, lama-kelamaan Icha akan terus terikat dengan Mister Kenny Mbak ..."
"Karena cuma Mister yang bisa membuat Icha berubah, selama ini kan tidak pernah ada guru yang bisa mengambil hati Icha selain Mister ..."
"Aku takut Mbak, aku takut...." isak Felly.
"Takut kenapa to Bu, bukankah itu hal yang baik, Icha sudah bisa berubah sikap jadi lebih baik, sekarang bahkan Icha sudah bersikap sangat manis pada semua orang ..."
"Maksud Ibu?" tanya Mbak Nur tidak mengerti.
"Mbak, Mister Kenny tidak mungkin akan selamanya menjadi guru privat Icha, dia juga punya kehidupan pribadi, suatu hari, mungkin dia akan menikah dan memiliki kehidupannya sendiri ..." ucap Felly.
"Sudahlah Bu, Jangan memikirkan yang belum terjadi...kita tidak tau bagaimana besok, sekarang sabar saja menghadapi Icha, mungkin dia cuma kangen bu, maklum saja ..." ujar Mbak Nur.
"Iya Mbak, sekarang aku mau ke kamar Icha, sepertinya dia masih marah padaku ..."
Felly segera bangkit berdiri lalu berjalan menuju kamar Icha yang tertutup rapat.
****
Malam itu di hotel tempat Kenny menginap di Singapura, Kenny gelisah tidak dapat memejamkan matanya, padahal kegiatan seharian ini cukup padat dan menyita tenaga dan pikirannya.
Entah mengapa pikirannya melayang, dia teringat Icha, dengan segala gaya dan celotehannya. Entah mengapa hati Kenny begitu rindu.
"Ah...sial!! Kenapa pikiranku jatuh pada anak itu??" gerutu Kenny.
Dia meraih ponselnya, banyak notifikasi dari Dini, rupanya Dini juga beberapa kali meneleponnya. Tapi Kenny tidak membalas pesan Dini.
Hingga tak lama kemudian ponselnya kembali bergetar.
Dini kembali meneleponnya. Dengan enggan Kenny mengusap layar di ponselnya.
"Halo Din..."
"Kenny, kenapa kau tidak mengangkat teleponku?"
__ADS_1
"Maaf, tadi aku sibuk..." sahut Kenny.
"Ken...nanti sepulang dari sana...aku jemput ya di bandara..."
"Tidak usah repot Din, aku bisa pulang naik taksi..." tolak Kenny.
"Ken, bukankah aku ini pacarmu, wajar kan kalau aku jemput..."
"Ya...ya...terserah deh..." ujar Kenny akhirnya.
"Nanti kamu kabari aku kapan pulangnya ya Ken..."
"Ya..."
"Ken..."
"Apa lagi Din..."
"Aku kangen..."
"Kau sama saja dengan Icha...!"
"Apa? Icha? Apakah dia sering meneleponmu?"
"Sudahlah Din...aku mengantuk...besok pagi aku ada kunjungan ke sebuah sekolah..."
"Baiklah Ken, tidurlah...I Love You..." Ucap Dini sebelum menutup teleponnya.
Kenny duduk di tepi ranjangnya, pikirannya melayang.
Dia tau Dini amat mencintainya, namun Kenny sepertinya tidak pernah bisa sepenuhnya mencintai Dini, ada perasaan bersalah dalam hati Kenny.
Kenny kembali memencet tombol ponselnya, dia mau menelepon Leo temannya, sekedar untuk berkonsultasi masalah hati.
"Halo...Leo...kau belum tidur kan...?"
"Halo bro...kau ganggu kesenanganku saja! Aku sedang di klub..."
"Jangan bilang kalau kau sedang di kamar dengan wanita mu..."
"Ah...kau sudah mengatakannya bro...ada apa meneleponku?"
"Dini..."
"Dini? Pacarmu itu? Ku pikir kalian baik-baik saja..." Ujar Leo.
"Memang kami sedang tidak ada masalah...tapi bukan itu poinnya..."
"Lantas apa lagi?"
"Leo...aku tidak bisa mencintai Dini...aku harus bagaimana??"
"Hah? tapi bukankah kalian pacaran?"
"Makanya itu bro...dulu aku tuh nembak dia karena pusing di kejar-kejar cewek terus, tapi tidak disangka, Dini begitu dalam mencintaiku, aku jadi tidak tega, kalau harus memutuskannya..." Ungkap Kenny.
"Hahaha....makanya punya wajah jangan terlalu tampan bro, susah sendiri kan, sudah, nanti saja kau cerita lagi kalau kau sudah di Jakarta, sekarang aku tanggung nih...sudah diujung tanduk....aaah...!" terdengar suara erangan dari Leo dan seorang wanita.
"Sial...! Bisa tidak jangan bersuara??!" Kenny langsung mematikan ponselnya.
Bersambung....
__ADS_1
****