
Di sebuah Cafe yang cukup ramai pengunjung, Dini duduk di sudut ruangan dengan pandangan menghadap ke jalan raya, sore itu dia sudah menunggu Kenny di sana.
Dari kejauhan Kenny nampak berjalan cepat menuju meja tempat Dini duduk menunggunya.
"Kamu terlambat lagi!" Seru Dini.
"Maaf...tadi siang aku ketiduran, apalagi hujan yang membuat hawa semakin sejuk..." ujar Kenny yang mulai duduk di depan Dini.
"Apa yang mau kamu katakan Ken...?" tanya Dini.
"Din...aku senang kita bisa ngobrol, dan selama ini sudah bersamaku...menemaniku..."
"Apa maksudmu Ken?"
"Aku merasa kita sangat cocok tapi sebagai teman, sahabat...bukan sebagai sepasang kekasih...." Lanjut Kenny.
Dini terkesiap mendengar perkataan Kenny, perkataan yang tidak pernah di duganya selama ini.
"Ken, kamu sudah bosan padaku?" tanya Dini dengan suara yang agak bergetar.
"Maaf Din, bosan itu kata negatif, dan aku sama sekali tidak merasa bosan ngobrol denganmu..."
"Lalu...?"
"Kau ingat, dulu saat aku memintamu untuk menjadi pacarku, aku sudah mengatakan bahwa kita menjalani ini cuma hanya karena status...dan kamu sudah tau itu..."
"Ken, tapi aku sungguh-sungguh mencintaimu...selama ini aku tidak pernah menuntut mu untuk memiliki perasaan yang sama denganku...tapi paling tidak, hargailah perasaanku..." Ungkap Dini, butiran bening mulai berjatuhan dari matanya.
"Maafkan aku Din..."
"Ken...banyak orang yang memiliki hubungan tanpa status, tapi kita memiliki status tanpa hubungan...tapi aku sudah cukup senang...bisa bersamamu selama ini..." Ungkap Dini.
"Bisakah kita seperti dulu Din...menjadi teman baik..."
"Jadi, kau mau memutuskan aku??"
Kenny terdiam tanpa mampu memberikan jawaban atas pertanyaan Dini, sesungguhnya dia tidak tahan juga melihat orang menangis di hadapannya.
"Maafkan aku Din..."
"Ken...apa yang membuatmu berubah seperti ini...dulu kamu nyaman-nyaman saja jalan denganku...apa semua ini ada hubungannya dengan Icha ?"
"Ya...aku mulai jatuh cinta dengan Felly, Maminya Icha..." Ucap Kenny.
Perasaan sakit yang amat dalam kini datang menghampiri Dini, dia menggigit bibirnya, menahan air mata yang akan kembali berjatuhan.
"Ken...aku sudah menduga itu sebelumnya...tapi aku takut untuk menanyakannya padamu...takut hal yang kau katakan barusan terjadi padaku...tapi kini semuanya sudah terjadi..." Dini kembali menangis.
"Maafkan aku Din...Maaf...bisakah kita kini menjadi teman baik...seperti sebelum kita memulai hubungan ini?" tanya Kenny.
"Tidak Ken...itu tidak mungkin...bagaimana bisa, aku sudah terlanjur menyayangimu..." Sahut Dini.
"Tapi Din...aku tidak bisa membalas perasaanmu...hati tidak bisa di paksakan..."
"Ken...ini terlalu menyakitkan..." Dini segera berdiri dari tempat duduknya.
Tiba-tiba gadis itu sudah membalikkan tubuhnya dan berjalan menuju keluar Cafe.
"Din...tunggu! Kamu mau kemana??" Kenny berusaha mengejar Dini.
__ADS_1
Sampai di halaman cafe, Kenny menangkap tangan Dini.
"Lepaskan Ken! Aku mau pulang...!" Seru Dini.
"Aku antar ya Din..."
"Tidak perlu! Aku mau pulang naik taksi saja...trimakasih...!" Dini langsung mencegat taksi yang kebetulan lewat di depannya.
"Din...maafkan aku...!!" Seru Kenny.
Dini tidak menoleh, dia terus masuk ke dalam dan tak lama kemudian taksi itu sudah bergerak meninggalkan Kenny yang masih berdiri.
****
Kenny langsung melajukan motornya ke tempat kos Leo, setidaknya dia bisa mencurahkan isi hatinya pada Leo, walaupun Leo mempunyai sisi kehidupan yang gelap.
Di sebuah rumah kos yang cukup besar, Kenny memarkirkan motornya, dia langsung masuk dan menuju ke atas, ke kamar Leo, kemudian dia langsung masuk.
Leo yang sedang tidur di bawah selimut sangat kaget melihat kedatangan Kenny yang tiba-tiba itu.
"Gila kau Ken! Masuk ke kamar orang sembarangan...kau tau aku sedang apa??" Semprot Leo.
"Leo...aku sudah memutuskan hubunganku dengan Dini..." Ucap Kenny.
"Hah??! Serius??" Leo membulatkan matanya dan segera duduk dari posisi tidurnya.
"Ya serius lah...ngapain dateng-dateng cuma buat ngerjain lu...!" Sungut Kenny.
"Terus gimana??"
"Dini tidak bisa terima aku putusin...dia marah Le..." Sahut Kenny.
"Dia belum bilang apa-apa Le...Aku jadi bingung...sebenarnya kita sudah putus belum sih ...!"
Leo tertawa mendengar perkataan Kenny, walaupun Kenny anak geng dan suka nongkrong sampai pagi, tapi menurut Leo, Kenny sangat payah untuk urusan wanita.
"Hahaha...bro...bro....kan dari mulut you udah bilang kata putus...ya secara status kalian udah putus...walaupun Dini tidak bisa terima...lagian sih...orang cantik-cantik malah di putusin...lu mah aneh!!" Ujar Leo sewot.
"Kan cinta tidak bisa di paksa bro...!!"
"Hahahaha....you itu lugu banget sih dalam urusan cinta...udah ah...mending lanjut aktifitas lagi...pusing kepala dengerin orang galau!!" Leo kembali berbaring dan menarik selimutnya.
"Leo....!!!" Dengan wajah kesal Kenny keluar dari dalam kamar Leo.
Benar kata Leo, hati Kenny galau saat ini.
Akhirnya dia memutuskan untuk kembali pulang kerumahnya, tidur seperti Leo untuk menghilangkan semua kegalauan hatinya.
****
Pagi itu Kenny dan Pak Banu sarapan pagi bersama seperti biasanya. Mereka akan melakukan aktifitas sepanjang hari ini.
"Ken...pagi ini antar Ayah ke SD ya..." Pinta Pak Banu.
"Lho...kenapa Ayah tidak bawa mobil ayah sendiri?" tanya Kenny.
"Ayah ada janji dengan kepala sekolah mau meninjau lokasi yang baru untuk membangun sekolah....pulangnya nanti ayah langsung pulang..."
"Oke...ayo kita berangkat sekarang Yah...atau aku akan telat sampai sekolahku..." Kata Kenny yang buru-buru menyelesaikan sarapannya.
__ADS_1
Di depan sebuah gedung sekolah SD, Kenny menghentikan mobilnya.
"Ayah langsung ya Ken...kau hati-hati bawa mobil...jangan ngebut!" Ujar Pak Baju memperingatkan.
"Beres Ayah...!" Sahut Kenny.
Kemudian Pak Banu segera turun dari dalam mobilnya dan bergegas masuk ke gerbang sekolah.
Tiba-tiba Kenny melihat Felly yang sedang menggandeng Icha, tanpa menunggu dia turun dari mobilnya dan mendekati mereka.
"Halo Icha...good morning...!" Sapa Kenny.
"Mister Kenny...!! Kok ada di sekolah aku??" tanya Icha heran.
"Mister baru mengantar ayah Mister Cha...Icha mau berangkat sekolah ya..."
"Iya Mister...ayo antar aku ke kelas...sama Mami...!" Icha langsung menarik tangan Kenny.
"Icha...jangan seperti itu...Mister kan ada urusan lain...!" Sergah Felly.
"Iiih Mami nih! Aku kan mau tunjukkin ke teman-teman kalau aku juga punya Papi...!" Ujar Icha.
"Cha! Tapi Mister kan bukan Papi Icha! Udah jangan macem-macem!!" Tukas Felly.
"Biarkan saja Felly...aku tidak keberatan kok...asal Icha senang..."
"Asyiik...tuh kan...Mister aja mau...!" Ujar Icha senang.
Dengan penuh semangat Icha menggandeng tangan Kenny menuju ke kelasnya.
Dan dengan rasa bangga ia menunjukkan ke teman-temannya kalau ia sudah punya Papi. Kenny bahagia melihat keceriaan di wajah Icha.
"Maafkan Icha Ken..." Ucap Felly saat sudah keluar dari gerbang sekolah.
"Tidak ada yang perlu di maafkan...Icha tidak salah..." Sahut Kenny.
"Kalau begitu aku pamit pulang saja..."
"Kau pulang naik apa? biar aku antar!" tawar Kenny.
"Tadi aku naik taksi...kau tau sendiri aku tidak bisa menyetir..." Felly tersenyum.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu...sekarang..."
"Jangan Ken...nanti kamu akan terlambat mengajar di sekolah, ini sudah hampir jam 7..." Tolak Felly.
"Tidak...aku mengajar mulai jam 8, aku masih punya waktu..." tukas Kenny.
Akhirnya Felly masuk kedalam mobil Kenny.
"Felly...aku sudah memutuskan hubunganku dengan Dini..." Ucap Kenny tiba-tiba.
"Hah? Kamu serius Ken...?"
"Ya...sekarang aku boleh kan mengejar mu...?!" Goda Kenny sambil mencolek dagu Felly.
"Iiih...Kenny...kau ini...!" Wajah Felly berubah warna menjadi kemerahan.
Bersambung ....
__ADS_1
****