
Pagi-pagi Kenny di kejutkan dengan suara panggilan di ponselnya, matanya masih nampak merah karena masih mengantuk.
Dengan malas Kenny mengusap layar ponselnya.
"Selamat pagi Mister Kenny, maaf mengganggu, hari ini Mister datang ke sekolah kan?" tanya Bu Ira, yang ternyata si penelepon itu.
"Pagi Bu Ira, hari ini sebenarnya saya enggan datang ke sekolah, karena kemarin sore, banyak wartawan dari berbagai media yang handak mewawancarai saya!" jawab Kenny.
"Oh, begitu ya Pak, saya baru dapat kabar dari satpam sekolah, ada beberapa orang tua murid yang demo di sekolah, bisa di lihat Mister?!" tanya Bu Ira.
"Oya? Baiklah Bu, saya akan kesekolah hari ini, semoga masalah ini cepat selesai, saya pusing di teror dengan banyak pertanyaan dari para orang tua murid!"
"Baik Mister, trimakasih!" ucap Bu Ira sebelum menutup teleponnya.
Kenny segera bergegas bangun dari tidurnya dan menyambar handuknya lalu masuk ke kamar mandi.
Sekilas dia melirik ke ranjangnya, Felly sudah tidak ada, dia sudah bangun sejak tadi.
Setelah Kenny selesai mandi dan berpakaian, dia langsung turun ke bawah, menuju ke ruang makan.
Icha nampak sudah siap berangkat ke sekolah, Felly juga sudah rapi, siap mengantarkan Icha.
"Lho Ken? Bukankah kau mau off hari ini? Kenapa sudah rapi begini?" tanya Felly.
"Aku tidak jadi Off sayang, aku ada urusan yang harus segera di selesaikan di sekolah!" sahut Kenny sambil mencomot sandwich yang ada di atas meja.
"Asyiik! Hari ini Papi ke sekolah!" seru Icha senang.
"Kita berangkat sama-sama saja, yuk jalan ... Nanti Icha terlambat lagi!" ajak Kenny sambil melangkah keluar menuju garasi mobil.
Setelah pamit dengan Pak Banu, mereka segera berangkat bersama-sama di sekolah.
"Waah, sering-sering saja begini, kita seperti keluarga bahagia, ada Mami, Papi, dan calon adik bayi aku!" seru Icha senang.
Sepanjang jalan Icha bernyanyi dengan sangat riang.
Tak lama mereka sudah sampai di sekolah, banyak orang tua murid yang berkerumun di depan sekolah.
Pak Budi nampak sibuk menertibkan mereka, sepertinya mereka sedang berdemo.
__ADS_1
Kenny lalu memarkirkan mobilnya tidak jauh dari depan gerbang.
"Icha, Kau langsung masuk kelas ya, Felly, kau tetap di mobil, jangan kemana-mana!" ujar Kenny.
Icha pun turun, menyeruak di antara orang-orang yang berdemo, kemudian langsung berlari menuju ke kelasnya.
Kenny turun dari mobil, melihat kedatangan Kenny, banyak orang tua murid yang menuding Kenny.
"Nah itu dia, panutan sekolah yang memberi contoh buruk pada muridnya!" seru salah seorang bapak.
"Sekolah apa yang di dalamnya banyak terdapat skandal!" teriak salah satu dari mereka.
"Seorang pemimpin yang berselingkuh dengan staffnya itu banyak di mana-mana, tapi jangan di sekolah!! Ini mencemarkan dunia pendidikan!" teriak yang lain.
Kenny berdiri di atas gerbang. Dia ngambil toa yang sejak tadi di pegang oleh Pak Budi.
"Bapak-bapak dan Ibu-ibu! Mohon tenang sebentar, kita bicara dengan kepala dingin dan jangan pakai emosi!" seru Kenny.
"Mana bisa kami tenang! Ini menyangkut masa depan anak-anak kami!!" seru seorang dari arah belakang.
Sementara Felly yang ada di dalam mobil terlihat sangat cemas, dia beberapa kali menengok keluar jendela, melihat keadaan suaminya yang kini tengah menghadapi masalah itu.
"Bapak-bapak dan Ibu-ibu, saya tidak menyangkal bahwa saya pernah mengantar staff saya pulang kerumahnya, alasannya adalah saya sebagai pemimpin dengan naik mobil melihat salah satu staffnya jalan kaki dengan jarang yang lumayan jauh, apakah saya harus mengabaikannya??" tanya Kenny dengan suara lantangnya.
Mereka semuanya yang ada di situ terdiam tanpa ada satupun yang menyangkal pembicaraan Kenny.
"Mengenai kejadian saya terjatuh bersama dengan Bu Ana, saya juga punya alasan yang kuat datang ke ruang TU, ingin menanyakan laporan keuangan yang ada kesalahan, ada oknum yang mengunci kami dari luar, dan sebentar lagi semuanya akan terungkap!" lanjut Kenny.
Lagi-lagi para orang tua murid itu terdiam tanpa mampu menyanggah perkataan Kenny.
Tiba-tiba ada seseorang yang menyeruak diantara para kerumunan itu. Dia adalah Bu Ana.
Bu Ana datang mendekati Kenny dan langsung mengambil toa yang ada di tangan Kenny.
"Maaf! Kalau kalian semua menyalahkan Mr. Ken, saya akan mengakui satu hal pada Bapak dan ibu sekalian!" teriak Bu Ana.
Semua orang langsung fokus menatap Bu Ana.
"Mr. Ken tidak bersalah! Dia adalah pemimpin yang baik! Saya adalah orang yang memancing supaya Mr kasihan dengan saya, melalui saya sengaja jalan kaki pulang kerumah!" Seru Bu Ana.
__ADS_1
Mata Kenny dan semua yang ada di situ, membulat seketika.
"Mengenai kejadian kami terjatuh dalam posisi seperti itu, saya mengakui kalau saya telah menyuruh orang untuk mengunci pintu ruangan saya, sehingga saya bisa membuat skenario, dan saya juga yang telah menyuruh menyebarkan video itu!" lanjut Bu Ana.
Semua mata menyorot tajam ke arah Bu Ana.
"Mister Kenny tidak salah, saya yang salah telah mencoba mencari perhatiannya dengan cara yang memalukan!!" sambung Bu Ana.
"Mister Kenny tidak pernah berbuat macam-macam! Saya yang salah, karena itu saya keluar dari sekolah!!" Bu Ana mulai meneteskan air mata.
Tempat itu mendadak menjadi sunyi. Semua orang mendengar segala pengakuan Bu Ana.
"Melalui peristiwa ini saya minta maaf, jujur saya diam-diam menyukai Mister, sejak saya mulai bekerja di sekolah, apalagi saat Mister menggantikan posisi Ayahnya, saya jadi lebih sering melihat dia!" ucap Bu Ana dengan suara agak bergetar.
"Saya hanya ingin sekali saja saya dekat dengan dia, saya tidak punya cara lain, maafkan saya, maaf, telah membuat reputasi sekolah ini buruk dan nama Mister Kenny jadi tercemar!!" seru Bu Ana.
Tiba-tiba Bu Ana meletakan toa di bawah, lalu dia langsung berlari dengan cepat hingga tubuhnya menghilang di ujung jalan.
Semua mata menatap dengan tatapan yang sulit untuk di artikan.
Akhirnya kerumunan orang yang awalnya ingin berdemo, kini mulai bubar satu persatu.
Dan gerbang sekolah itu pun kembali sunyi. Pak Budi masuk kedalam sekolah, di susul oleh guru yang lain.
Felly mulai turun dari mobilnya dan mendekati Kenny.
"Ken!" panggil Felly.
Kenny menoleh, lalu di rangkul nya bahu Felly.
"Aku tidak menyangka Bu Ana yang begitu pendiam dan polos, bisa melakukan hal senekad itu!" gumam Kenny.
"Sudahlah Ken, yang penting sekarang semuanya sudah clear!" jawab Felly.
"Sayang, aku antar kau pulang ya, nanti aku akan balik lagi untuk berbicara dengan pak Budi, kau akan lelah kalau ikut aku!" kata Kenny.
"Ken, ijinkan aku untuk mendampingi suamiku ini, aku dan bayi kita akan baik-baik saja!" ucap Felly sambil tersenyum.
Mereka berdua akhirnya masuk ke dalam gedung sekolah.
__ADS_1
****