Papi Untuk Mami

Papi Untuk Mami
Menunggu Dengan Berdebar


__ADS_3

Sebelum Felly masuk dan berbaring di meja operasi, perlahan Kenny mendekati Felly.


Di ciumnya kening Felly dengan lembut.


"Kau pasti bisa melewati ini, aku menunggumu!" bisik Kenny di telinga Felly.


Ada butiran bening yang menetes dari mata Felly.


"Ken, aku akan berjuang dan bertahan. demi Kenny dan anak kita!" lirih Felly.


"Kau pasti bisa sayang ... cintaku menyertaimu!" ucap Kenny sambil mencium kedua mata Felly yang memerah.


Lampu ruang operasi sudah menyala, menandakan operasi sedang berlangsung.


Kenny, Icha dan Mbak Nur menunggu dengan perasaan tak menentu.


"Mister, ini tadi saya bawa makanan, Mister makan dulu, supaya tetap kuat menjaga ibu!" kata Mbak Nur sambil menyodorkan sebuah bungkusan ke arah Kenny.


"Mana bisa aku makan Mbak, kau simpanlah dulu, atau berikan pada Icha!" sahut Kenny.


"Tapi Mister, kalau Bu Felly tau Mister belum makan, dia pasti sedih!" ujar Mbak Nur setengah memaksa.


"Papi, ayo makan, kalau Papi makan aku dan Mami pasti senang!" tambah Icha.


"Iya Cha!" Akhirnya Kenny mengambil bungkusan makanan itu, kemudian langsung memakannya.


Sudah hampir satu jam mereka menunggu di depan ruang operasi. Icha sudah nampak bosan dan kelelahan.


"Mbak Nur, kalau Icha kelamaan menunggu, Icha akan capek, tolong bawa Icha pulang Mbak!" ucap Kenny.


"Tidak mau! Aku mau menunggu Mami di sini!" seru Icha.


"Cha, Icha masih kecil untuk menunggu di rumah sakit, Icha ikut Mbak Nur pulang untuk istirahat, nanti sore, baru Icha boleh kesini lagi!" kata Kenny.


"Betul Cha, Icha tidur siang dulu, makan yang banyak, istirahat, kan kita bisa datang lagi nanti!" timpal Mbak Nur.


Akhirnya Icha Menganggukan kepalanya.


"Janji ya Mbak, nanti sore kita kesini lagi!" ujar Icha.


"Iya, Mbak Nur janji deh!" sahut Mbak Nur yang langsung menggandeng tangan Icha berjalan meninggalkan tempat itu.


Kenny menyandarkan punggung nya di tembok rumah sakit yang dingin itu.


Sesekali dia berjalan mondar-mandir di depan ruang itu, tanpa menghiraukan tubuhnya yang sudah mulai letih.


Menunggu adalah hal yang mendebarkan baginya, apalagi Kenny menunggu istrinya yang akan di operasi.


Dari ujung lorong rumah sakit itu, Pak Budi dan beberapa orang guru datang menghampiri Kenny, mereka berniat akan menjenguk keadaan Felly.

__ADS_1


"Masih di ruang operasi ya Mr?" tanya Bu Iren. Kenny menganggukan kepalanya.


"Semoga operasinya berjalan lancar ya Mr!" ucap Pak Budi menguatkan.


"Trima kasih Pak, juga untuk guru-guru semua atas perhatian kalian semua!" balas Kenny.


"Mr. Ken jangan kuatir, kista itu tidak berbahaya kok, cuma kebetulan saja Ibu Felly pas lagi hamil!" kata Bu Ira.


"Iya Bu, mudah-mudahan tidak berbahaya, maklum belum pengalaman !" ujar Kenny.


"Betul Mr, jadi jangan terlalu cemas, pasti akan baik-baik saja kok!" timpal Bu Iren.


"Kista itu adalah hal yang wajar bagi wanita Mr, dan tempatnya berbeda dengan tempat bayi, jadi Mr jangan terlalu cemas!" tambah Bu Ira.


Wajah Kenny terlihat sedikit lega dan tenang.


Mereka duduk di bangku di depan ruang operasi.


Sesekali Kenny berdiri dan berjalan mondar-mandir di depan ruangan yang pintunya masih tertutup itu. Hatinya benar-benar gelisah.


"Mr, sepertinya kami tidak bisa lama-lama, sekolah kami tinggal, jadi kami harus segera kembali!" kata Pak Budi.


"Oh, iya Pak, trimakasih atas kunjungannya!" ucap Kenny.


Mereka pun mulai berjalan menjauh dari ruangan itu.


Bu Ira maju dan menghampiri Kenny.


"Lho, kenapa semua orang pada tau kalau istriku di operasi hari ini?" tanya Kenny heran.


"Tadi Icha sempat ijin, katanya Maminya mau di operasi, langsung deh menyebar!" sahut Bu Ira malu, karena terciduk menyebarkan berita.


Mau tidak mau, Kenny mengambil amplop coklat itu walaupun sebenarnya dia tidak terlalu membutuhkannya.


"Trimakasih Bu Ira, mohon sampaikan trimakasih saya pada orang tua murid atas apresiasinya!" ucap Kenny.


"Baik Mr, kalau begitu kami mohon diri!" kata Bu Ira yang langsung berjalan cepat menyusul yang lainnya.


Sudah berapa jam Kenny menunggu, akhirnya lampu ruang operasi mati, dan ruangan operasi pun terbuka.


Seorang Dokter keluar dari ruangan itu, tanpa membuang waktu, Kenny segera menghampiri dokter itu.


"Dokter! Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Kenny tak sabar.


"Tenang Pak, operasinya berjalan dengan lancar, dan ini baru selesai, istri bapak belum sadar karena di bius total!" jelas Dokter.


Dua orang perawat mendorong ranjang Felly keluar dari ruangan itu, menuju ke ruang perawatan.


"Felly!" seru Kenny yang langsung mengejar perawat untuk mensejajari nya.

__ADS_1


"Bapak tenang dulu, istrinya belum sadar Pak!" ujar seorang suster.


"Suster! Jalannya jangan ceoat-cepat, kasihan istri saya, nanti dia kesakitan kena guncangan!" seru Kenny.


"Kami cukup profesional dalam melakukan ini Pak, Pak Kenny jangan lebay!" cetus seorang suster.


Akhirnya Felly sudah berhasil di pindahkan keruangannya semula.


Para perawat menyelimuti Felly dan membetulkan posisi berbaringnya.


"Pak, bagian perut jangan di sentuh dulu, ini bekas operasi besar, dan Bu Felly juga akan menjalani operasi cesar untuk melahirkan nanti!" ujar seorang suster memberikan peringatan.


"Iya suster!" sahut Kenny.


Setelah selesai, para suster itu langsung keluar meninggalkan ruangan itu.


Kenny terpekur menatap istri nya yang masih terbaring tak sadar.


"Fell, cepatlah buka matamu, aku tak sabar ingin bicara padamu!" ujar Kenny.


Namun Felly masih nampak memejamkan matanya.


Karena mengantuk dan kurang tidur, Kenny lalu tertidur di sisi ranjang Felly sambil terduduk.


Kepalanya dia letakan di samping Felly, sementara tubuhnya duduk di bangku.


Sebuah belaian lembut menyentuh kepala Kenny. Kenny langsung membuka matanya.


"Sayang? Kau sudah sadar??" seru Kenny berbinar sambil menatap wajah Felly.


"Suami siapa ini yang ketiduran di sini, pasti capek menungguku di operasi, iya kan?" Goda Felly sambil mencubit hidung mancung Kenny.


"Kau terlihat sudah sehat sayang!" ucap Kenny sambil menggenggam tangan Felly.


"Berkat doamu Ken!" sahut Felly.


"Syukurlah, apa ku bilang, semua akan baik-baik saja!" bisik Kenny.


"Kata Dokter, bayi kita laki-laki Ken!" kata Felly.


"Oya? Akhirnya aku akan punya bayi laki-laki!" seru Kenny senang.


"Pasti tampan seperti Papinya, aku jadi tidak sabar ingin melihatnya nanti beberapa bulan lagi!" ujar Felly.


"Sabar sayang, jangan lupa makan makanan yang sehat, aku ingin jagoan ku sehat di dalam!" sahut Kenny sambil mengecup kening Felly.


Ceklek!


Pintu ruangan Felly di buka dari luar, sesosok wanita anggun nampak masuk dan berjalan mendekati mereka.

__ADS_1


Melihat siapa wanita yang datang, Felly dan Kenny saling berpandangan.


****


__ADS_2