
Malam itu, Felly berdiri di balkon kamarnya. Dia mengingat kejadian siang tadi di depan sekolah Icha, perkataan Roy mengenai mantan ibu mertuanya terngiang-ngiang di telinganya.
Dulu memang mantan ibu mertua Felly kurang menyetujui pernikahan Felly dan Diego, dengan alasan Felly bukan berasal dari keluarga yang jelas.
Di tambah lagi Diego meninggal saat Felly melahirkan Icha, kebencian ibu mertuanya semakin menjadi-jadi, bahkan dia dan Roy, adik Diego selalu menyalahkan Felly atas kematian Diego.
Karena dendam inilah, Roy berusaha untuk selalu mengganggu kehidupan Felly dan Icha dengan selalu mengejar Felly, membuat Felly dan Icha hidup dalam tekanan dan ancaman.
Ceklek!!
Suara pintu di buka dari luar. Kenny masuk kedalam kamarnya, melihat Felly yang masih berdiri di balkon, Kenny segera menghampiri istrinya itu.
"Sudah malam masih di luar, anginnya dingin sayang!" ucap Kenny sambil memeluk Felly dari belakang.
"Ken, kamu dari mana?" tanya Felly.
"Aku habis mengobrol dengan ayah, sudah lama aku tak mengobrol dengan dia, padahal dulu hampir tiap malam aku selalu mengobrol dengannya!" jawab Kenny.
Kenny terus memeluk Felly dan mengelus perutnya. Kemudian Kenny mencium tengkuk Felly kembali, membuat Felly bergidik kegelian.
"Ken, geli tau!" ujar Felly.
"Kapan adik bayinya besar ya?" tanya Kenny.
"Tiap bulan dia akan semakin membesar Ken, kau sabar saja!" sahut Felly.
"Masuk yuk, aku mau mencium adik bayinya, calon anakku!" ucap Kenny.
Felly Menganggukan kepalanya dan dia segera membalikan tubuhnya. Setelah menutup gorden dan pintu balkon, Felly segera merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Kenny sudah berbaring di sampingnya sambil tersenyum.
Dengan lembut Kenny mengelus kembali perut Felly dengan tangannya sambil menciuminya.
Felly pun membelai rambut Kenny yang kini di rebahkan di atas perutnya.
"Aku ingin anakku setampan Kenny!" ucap Felly.
"Dari mana kau tau kalau anakku ini laki-laki?" tanya Kenny.
"Hmm, feeling saja, karena Papinya selalu menciumnya setiap hari!" sahut Felly.
"Aku tak sabar melihat dia bertambah besar!" ucap Kenny. Dia terus membelai dan menciumi perut istrinya yang masih rata itu.
"Ken ..."
__ADS_1
"Hmm?"
"Ada yang mau aku bicarakan padamu!" ucap Felly lirih.
"Apa itu? katakan saja!" ujar Kenny.
"Ini mengenai mantan ibu mertuaku Ken!" kata Felly.
Kenny terperangah, dia langsung bangkit dari posisinya dan menatap dalam wajah istrinya itu.
"Apa maksudmu?" tanya Kenny.
"Tadi siang, Roy mengatakan kalau mantan ibu mertuaku itu sedang sakit, dia terkena tumor otak, dan dia juga terus menanyakan Icha!" jelas Felly.
"Tidak! Itu hanya alasannya saja untuk mengelabuimu, agar kau menuruti kehendaknya!" tukas Kenny.
"Bukan begitu Ken, tadi Roy sangat berubah, dia tidak lagi arogan dan garang seperti dulu, bahkan dia memohon padaku agar aku dan Icha menemui ibu!" ujar Felly.
"Bukankah kau dulu mengatakan kalau mereka semua membencimu dan Icha, dan menyalahkan kalian atas kematian mantan suamimu itu??" tanya Kenny.
"Benar Ken, mereka memang sangat membenciku dan dendam padaku, tapi bukankah setiap orang bisa berubah??" Felly menatap dalam wajah Kenny.
"Aku tau Fell, tapi aku sangat mengkhawatirkan mu, aku takut terjadi apa-apa padamu dan bayi kita!" ucap Kenny.
"Ken, boleh kah aku minta ijin padamu untuk menengok mantan ibu mertuaku? Oma nya Icha?" tanya Felly.
"Aku tau, beliau masih tinggal di kota ini juga, aku sungguh ingin melihat keadaannya!" ucap Felly.
"Hmm, baiklah kalau kamu mau menemuinya, aku akan mengantarmu, kapan kamu mau kesana sayang?" tanya Kenny sambil membelai rambut Felly.
"Hari Sabtu ya Ken, sekalian aku mau periksa kandungan ke dokter!" jawab Felly.
"Baiklah, hari sabtu tinggal beberapa hari lagi, nanti kita jadwalkan menjenguk mantan mertuamu dan setelah itu kita tengok calon bayi kita!" ucap Kenny.
Felly langsung membenamkan kepalanya di dada bidang Kenny.
"Trimakasih Ken, kau sangat baik, aku sayang sama kamu!" bisik Felly.
"Bolehkah aku minta jatahku malam ini sayang!" gumam Kenny setengah berbisik. Felly Menganggukan kepalanya.
****
Hari Sabtu pagi, mereka sudah bersiap-siap untuk pergi ke rumah mantan mertua Felly, Icha juga sudah nampak siap, dia mengenakan dress cantik dengan rambut di kuncir dua.
Setelah sarapan dan pamit dengan Pak Banu, mereka bertiga berangkat dengan menggunakan mobil Kenny.
__ADS_1
Felly nampak mengingat-ingat jalanan menuju ke rumah yang mereka tuju, beberapa kali berputar dan salah jalan, akhirnya mereka menemukan lokasi rumah itu.
"Kita dari tadi muter-muter terus! Kapan sampenya?" keluh Icha.
"Sabar Cha, nanti Icha akan bertemu Oma, Icha salam ya sama Oma, Icha harus bersikap baik dan sopan sama Oma!" jelas Felly.
"Iya Mami, Oma itu Oma ku ya Mami, kenapa aku tidak pernah ketemu sama dia?" tanya Icha.
"Karena Tuhan menakdirkan Icha bertemu sekarang, sudahlah Icha, yang penting hari ini Icha bertemu dengan Oma, katanya Oma sedang sakit, Icha harus sopan dan hormat ya!" jawab Felly.
"Siap Mami!" sahut Icha.
Mereka memarkirkan mobilnya di sebuah rumah yang cukup besar.
"Kau yakin ini rumahnya sayang?" tanya Kenny.
"Iya Ken, aku yakin, dulu saat aku baru menikah dengan Diego, aku tinggal di rumah itu, setelah aku hamil Icha, kita baru pindah ke rumah sendiri!" jawab Felly.
Tiba-tiba dia teringat beberapa tahun silam, bagaimana keluarga Diego memperlakukannya, dan dia sempat menderita tekanan batin saat tinggal di rumah ini.
Felly kemudian memencet bel yang ada di samping gerbang rumah itu.
Tak lama kemudian seorang wanita membuka pintu gerbang rumah itu.
"Cari siapa ya?" tanya wanita itu.
"Ibu Tatik nya ada?" Felly balik bertanya.
"Ibu Tatik? Di sini tidak ada yang namanya Bu Tatik, saya Ida pemilik rumah ini!" kata wanita itu.
"Lho, bukankah ini rumah Bu Tatik? Bu Tatik yang punya dua putra, yang satu sudah meninggal, dia janda!" Felly berusaha menjelaskan.
"Ooh, mungkin Bu Tatik pemilik lama rumah ini, saya membeli rumah ini dua tahun yang lalu Mbak!" kata Ida si wanita itu.
"Jadi Bu Tatik sudah tidak tinggal di sini? Lalu di mana dia?" tanya Felly.
"Entahlah Mbak, saya juga tidak tau, dulu saya dan suami membeli rumah ini karena di jual di bawah harga pasaran, katanya sih mereka sedang butuh uang!" jelas Bu Ida.
"Ya ampun, bagaimana kami bisa tau rumah baru mereka?" gumam Felly.
"Kalian coba tanya sama pak RT saja, barangkali dia tau di mana rumah Bu Tatik yang baru!" usul Bu Ida.
"Baiklah kalau begitu, apakah rumah RT nya di depan situ?" tanya Felly lagi sambil menunjuk ke sebuah rumah di depan rumah besar itu uang ada tulisan ketua RT.
"Ya benar, itu rumah ketua RT nya!" jawab Bu Ida.
__ADS_1
Kenny, Felly dan Icha langsung bergegas menuju ke rumah ketua RT itu.
****