
Ini untuk kedua kalinya Kenny gelisah menunggu di rumah sakit.
Namun suasana saat ini berbeda dengan waktu itu.
Perkataan Dokter Dimas terngiang-ngiang di telinga Kenny.
Mbak Nur dan Mbok Sumi juga nampak menunggu di depan ruang operasi, Icha dan Pak Banu duduk di bangku koridor di depan ruangan itu.
Tak lama kemudian Pak Budi dan beberapa guru datang, termasuk Dini.
Bahkan Pak Chandra dan beberapa guru di sekolah lama Kenny juga ikut berdatangan.
Mereka semua sudah tau mengenai kondisi Felly yang sedang berjuang melawan tumor dalam keadaan hamil.
Mereka sangat berempati pada keluarga Kenny.
"Oweeek ... Oweeek ..."
Terdengar sayup-sayup suara tangisan bayi, suara itu begitu kecil dan lirih, nyaris tak terdengar.
"Ken, seperti nya bayimu sudah lahir!" ucap Pak Banu.
"Iya Ayah, aku juga mendengarnya, mudah-mudahan mereka semua sehat!" ucap Kenny.
Wajahnya terlihat cemas, tubuhnya lebih kurus dari sebelumnya, entah dia susut berapa kilo, kini mata Kenny terlihat lebih cekung.
beberapa lama kemudian, seorang perawat keluar dari ruang operasi dengan mendorong sebuah box bayi dari kaca.
Kenny langsung menghampiri perawat itu.
"Suster, apakah itu bayi saya?" tanya Kenny.
"Iya Pak, selamat Pak, bayinya laki-laki, tapi bayinya lahir prematur, hanya 1,5 kilo beratnya, ini harus masuk ruang NICU segera Pak!" jawab perawat itu.
Terlihat dalam box bayi yang sangat kecil sedang bergerak-gerak.
Pak Banu dan Icha, juga yang lainnya nampak mendekat.
"Walau kecil, bayimu terlihat sangat tampan Ken! Persis sepertimu!" ujar Pak Banu.
"Suster, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Kenny lagi.
"Maaf Pak, Dokter yang lebih tau kondisi istri Bapak, saya hanya mengurus bayinya, permisi, saya harus ke ruang NiCU segera!" kata suster sambil mendorong box kaca itu menuju ke ruang NiCU yang terletak tidak jauh dari ruang operasi.
Semua yang ada di depan ruangan sakit itu menyalami Kenny satu persatu.
"Selamat Mr. Ken, sekarang kau sudah jadi Ayah beneran!" kata Pak Budi.
"Trimakasih Pak Budi!" balas Kenny.
"Selamat ya Mr, akhirnya bayinya bisa lahir, walau sebelum waktunya!" ucap Pak Chandra sambil menepuk bahu Kenny.
__ADS_1
"Selamat ya, Mr. Ken akhirnya punya bayi mungil, dia pasti akan sangat tampan, saingan dengan Papinya!" ucap Mam Indah yang ikut menjenguk dengan Pak Chandra.
Terakhir Dini yang mendekati Kenny lalu mulai menjabat tangan Kenny.
"Selamat Ken, bayimu tampan, semoga ibu dan bayinya sehat, kau juga harus semangat!" ucap Dini.
"Trimakasih Din!" ucap Kenny.
Tak lama kemudian Dokter Dimas keluar dari ruangan itu.
Kenny langsung bergegas menghampirinya.
"Bagaimana keadaan istri saya Dok?" tanya Kenny tanpa basa basi.
"Pak Kenny, saat ini istri anda mengalami pendarahan hebat, kondisinya benar-benar kritis, Pak Kenny boleh menemuinya untuk bicara dengannya!" jelas Dokter Dimas.
Semua orang yang ada di tempat itu terlihat sangat cemas.
"Papi! Mami kenapa?" tanya Icha dengan berurai air mata.
Kenny langsung menggendong Icha.
"Kita temui Mami sekarang ya!" bisik Kenny.
Kenny sambil menggendong Icha segera masuk kedalam.
Felly terlihat sangat lemah, banyak sekali selang yang menempel di tubuhnya.
"Sayang, apakah kau mendengar aku?" bisik Kenny.
Felly Menganggukan kepalanya lemah, meski matanya terpejam.
"Ini Icha Fell, dia sangat mencemaskanmu!" ucap Kenny.
Icha turun dari gendongan Kenny, lalu mulai menggenggam tangan Felly.
"Mami, dedek nya sudah lahir, tadi aku lihat, dia sangat lucu dan ganteng kayak Papi!" kata Icha.
"Icha ... jaga dedek ya ..." ucap Felly lirih, nyaris tak terdengar.
"Aku akan jadi anak baik, sayang sama dedek, belajar yang pintar, asal Mami cepat sembuh dan pulang kerumah!" ujar Icha.
"Kau dengar itu Fell ... tugasmu masih banyak, kau harus mengurus Icha, mengurus bayimu, juga mengurusku! Ayo semangat Fell, kau pasti bisa!" seru Kenny sambil mengguncang tubuh Felly.
"Jangan seperti itu pak Kenny!" sergah seorang suster.
"Kenny ... I Love You ... aku mau mencium mu, boleh ya ..." Kenny menoleh ke arah Dokter.
Dokter Dimas lalu membuka selang oksigen yang menutup sebagian wajah Felly, wajah itu terlihat sangat pucat.
"Lakukan saja apa yang menjadi keinginannya!" ujar Dokter Dimas.
__ADS_1
Kenny perlahan mendekatkan wajahnya ke wajah Felly, kemudian menciumi wajah itu, mulai dari kening, pipi, dan yang terakhir bibirnya.
Kenny mencium bibir Felly dengan hangat dan lembut, beberapa kali dia melakukan itu, Felly nampak tersenyum bahagia.
"Trimakasih Ken ... tadi aku sempat bermimpi, aku bertemu dengan Diego ... Papinya Icha, dia tersenyum padaku ... dia mengajakku pergi ke suatu tempat yang indah!" ucap Felly dengan bibir bergetar.
"Jangan sayang, aku sangat mencintaimu, jangan membuat aku gila sayang please ..." bisik Kenny mulai terisak.
"Mami, apakah Mami sakit, padahal aku sudah berdoa sama Tuhan supaya Mami sembuh!" ujar Icha.
"Tidak Cha, sebentar lagi Mami tidak sakit lagi, Icha janji jadi anak baik dan pintar ya, jaga dedek dan jangan merepotkan Papi dan Kakek ... " lirih Felly.
Setelah itu Felly menarik nafas panjang, dia seperti orang yang sesak nafas.
Dokter langsung kembali memasang selang oksigen.
"Sayang! Katakan padaku kau pasti akan terus bersama kami!!" teriak Kenny berusaha untuk menjangkau Felly.
"Pak Kenny keluar dulu, ini kondisi gawat darurat!" kata Dokter Dimas.
"Tidak!! Aku mau di sini menemani istriku!" tolak Kenny.
"Papi! Mami kenapa?? Mamiii!!" Icha mulai menangis.
Seorang perawat membawa masuk dua orang security, mereka langsung membawa Kenny dan Icha keluar dari ruangan itu.
Semua orang yang ada di situ menghampiri Kenny, memeluk dan memberinya penghiburan.
Icha langsung di gendong oleh Mbak Nur, anak itu juga nampak menangis sedih.
"Tenangkan dirimu Ken!!" seru Pak Banu sambil menepuk-nepuk pipi Kenny yang kini nampak histeris.
Dini yang berdiri di sudut nampak menangis melihat kondisi Kenny.
"Mam Indah, beri Mr. Ken air putih!" titah Pak Chandra.
Dengan sigap Mam Indah menyodorkan botol air mineral yang sudah di buka ke mulut Kenny.
Kenny meneguknya beberapa kali.
Pakaiannya mulai basah oleh keringat yang terus mengucur di tubuhnya.
"Nur! Sumi! Tolong jaga Icha, saat ini Papinya sedang depresi!" ujar Pak Banu yang menoleh ke arah Mbak Nur dan Mbok Sumi yang sedang menenangkan Icha.
Dokter Dimas keluar dari ruangan itu, lalu dia menghampiri Kenny yang sedang di kelilingi oleh beberapa orang.
"Maaf Pak Kenny, dengan berat hati saya harus menyampaikan, ibu Felly sudah pergi mendahului kita, semua sudah menjadi kehendakNya, kami sudah berusaha semaksimal mungkin!" ucap Dokter Dimas.
Semua orang terkesiap mendengar berita itu, Kenny langsung menerobos masuk kedalam ruang operasi itu tanpa memperdulikan teriakan orang-orang di sekitarnya.
Bersambung ...
__ADS_1
****