
Felly baru saja mengobati kaki Icha yang sedikit memar karena terjatuh, tiba-tiba Mbak Nur datang tergopoh-gopoh mendapati Felly.
"Bu ... Bu ... Lihat ponsel Mbak Nur tidak?" Tanya Mbak Nur. Wajahnya kelihatan cemas.
"Lho, memangnya Mbak Nur taruh di mana?" tanya Felly.
"Di laci meja Bu, padahal kan baru tadi pagi di taruh di situ, mau telepon ke kampung malah hilang ponselnya!" Jawab Mbak Nur.
"Mbak Nur cari aja di sekitar kamar Mbak Nur, siapa tau Mbak Nur lupa, di atas lemari kek, di kolong tempat tidur kek, di mana kek!" Celetuk Icha dengan wajah tanpa dosa.
"Betul Mbak, siapa tau Mbak Nur lupa, coba cari sekali lagi ... Kalau benar-benar hilang nanti kita beli lagi deh!" Ujar Felly.
"Baik Bu, saya coba cari sekali lagi!" Mbak Nur segera membalikan tubuhnya dan berjalan kembali ke kamarnya.
"Mami, di rumah ini tidak ada teleponnya ya?" Tanya Icha.
"Ada, cuma belum terpasang, dan Mami tidak mau pasang telepon rumah, memangnya kenapa Cha?" Felly balik bertanya.
"Ah, tidak apa-apa kok!" Sahut Icha.
"Ya sudah, Icha istirahat di kamar dulu, Mami mau lihat Mbak Nur, sudah ketemu belum tuh ponselnya!" Ujar Felly yang beranjak berdiri.
"Tunggu Mami! Aku pinjam ponsel Mami dong ... Aku mau main game Mami, bosen!" Seru Icha.
"Di ponsel Mami belum terpasang game Cha, kan Mami baru ganti nomor dan ponsel, main yang lain saja ya ... atau nonton kartun kesukaan Icha!" Kata Felly. Wajah Icha nampak kecewa.
"Yah, Mami pelit ... Aku kan mau main game di ponsel Mami, aku bosan liburan di rumah terus!" Rajuk Icha.
Perlahan Felly menghampiri Icha dan membelai lembut rambutnya.
"Baiklah, kalau Icha mau main game boleh, Icha bisa kan instal game nya?" Icha Menganggukan kepalanya, kemudian Felly menyodorkan ponselnya ke arah Icha, setelah Icha mengambilnya, Felly bergegas keluar dari kamar Icha.
Setelah Felly keluar, dengan cepat Icha menutup pintu kamarnya dan dia mulai memencet nomor Kenny yang sudah di catat sebelumnya di sebuah buku kecil, teleponpun tersambung.
"Halo..."
"Halo Mister! Ini Icha, aku kangen...kangen banget sama Mister!" Ucap Icha.
__ADS_1
"Cha, katakan dimana kalian sekarang? nanti Mister akan jemput kalian, ayo bilang Cha!" tanya Kenny antusias.
"Mister ... Ini nomor Mami yang baru, kita baru pindah rumah, sekarang kita ada di ..." tiba-tiba ponsel yang Icha pakai di rebut oleh Felly.
"Bagus Cha! Kamu sudah bohongin Mami! Katanya kamu mau main game!! Icha belajar bohong di mana?!" Bentak Felly.
"Halo ... Halo ... !" Suara Kenny masih terdengar di sebrang telepon. Buru-buru Felly mematikan ponselnya permanen.
"Mami! Aku kan cuma mau ngomong sama Mister, masa tidak boleh??" Sahut Icha.
"Icha sekarang sudah berani jawab Mami?! Itu Mbak Nur menangis karena ponselnya rusak ada di kolong tempat tidur, itu perbuatan Icha kan!! Icha yang sudah merusak ponsel Mbak Nur, untuk mencari nomor Mister! Mami tau Cha!!" Sentak Felly.
Icha menunduk dan terdiam tanpa bisa menyanggah lagi perkataan Felly, air matanya mulai mengalir membasahi pipinya.
"Maafkan aku Mami, Maaf!" Ucap Icha sambil menangis.
Tiba-tiba Felly memeluk tubuh Icha sambil menangis, dia menumpahkan seluruh perasaannya, punggungnya berguncang menahan tangis yang kian meledak.
"Mami tau perasaanmu Cha, Mami ngerti, Icha sayang sekali sama Mister, tapi Icha harus belajar melupakan Mister, dia bukan milik kita Cha ... Dia milik Ayahnya, kita tidak berhak merebut dia dari orang tuanya ... !" Bisik Felly.
"Mami, tapi kan Mister sayang sama kita, dia pasti akan cari kita, tadi saja waktu aku telepon Mister kelihatan kuatir banget sama kita ... Mami juga sayang kan sama Mister?" tanya Icha sambil menatap wajah Felly yang kini basah oleh air mata.
Dengan sedih Icha Menganggukan kepalanya.
"Iya Mami ... " Lirih Icha.
"Sekarang Icha minta maaf sama Mbak Nur, karena Icha sudah merusak ponselnya Mbak Nur!" Kata Felly.
Kemudian Icha beranjak keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Mbak Nur.
*****
Sementara Kenny masih tertegun saat Icha meneleponnya, dia terus memandangi nomor ponsel yang ada di dalam panggilan masuk teleponnya.
Dia mencoba beberapa kali telepon balik, namun nomornya tidak aktif.
Kenny terlihat makin frustasi, terlebih saat Leo sudah tidak ada lagi bersama Kenny, Leo sudah pulang sedari tadi.
__ADS_1
Ceklek!
Tiba-tiba pintu kamar Kenny terbuka, Pak Banu masuk dan mulai berjalan ke arah Kenny perlahan, lalu dia duduk di sisi ranjang Kenny.
"Makan dulu Ken, sejak tadi kau belum makan!" Ucap Pak Banu sambil menepuk lembut bahu Kenny.
"Aku tidak lapar Ayah, Ayah makan saja duluan!" Cetus Kenny.
"Ayah juga tidak lapar, kau masih marah pada Ayah Ken?" tanya Pak Banu.
"Untuk apa aku marah pada Ayah, apakah bisa merubah keadaan? Sekarang Felly dan Icha sudah pergi dariku, Ayah puas kan??" Jawab Kenny.
Pak Banu terdiam sambil menarik nafas panjang.
Sesungguhnya dia tidak bermaksud mengecewakan putra semata wayangnya itu.
Hatinya begitu sedih saat melihat Kenny yang saat ini terlihat sangat terpuruk.
"Maafkan Ayah Ken ... Ayah memang sudah keterlaluan, Maafkan Ayah!" Ucap Pak Banu sungguh-sungguh.
"Sudahlah Ayah, aku memaafkanmu, Felly dan Icha juga sudah pergi ... " Sahut Kenny.
"Kenny, kalau kau memang sungguh-sungguh mencintai Felly dan Icha, pergilah mencari mereka ... Ayah merestuimu Ken ... !" Ucap Pak Banu.
Kenny terkesiap mendengar ucapan Pak Banu, dia memandang intens pada Ayahnya yang kini duduk di hadapannya.
"Ayah tidak sedang bercanda kan? Bukanlah Ayah begitu membenci mereka? Karena Felly itu janda??" Tanya Kenny seolah tak percaya.
"Ayah memang tidak suka dengan status janda, tapi kalau putra Ayah bahagia dengan janda, Ayah tidak ada hak lagi untuk melarangmu Ken, apalagi kau adalah putra Ayah satu-satunya, Ayah sangat ingin melihat kau bahagia ... Walaupun dengan seorang janda ... Ayah ikhlas Ken!" Ucap Ayahnya sungguh-sungguh.
Tiba-tiba Kenny memeluk Ayahnya dengan erat.
"Trimakasih Ayah, kalau Ayah sudah merestuiku, aku akan cari Felly dan Icha, aku akan membawa mereka kesini Ayah, kehadapan Ayah!" Seru Kenny antusias.
"Ya Ken, kau bawalah mereka kemari, Ayah juga ingin masa tua Ayah ramai di kelilingi cucu-cucu ... Kau pergilah mencari mereka, tapi Ayah minta, sekarang kau makan dulu Ken, Ayah tidak ingin kau sakit lagi!" Ucap Pak Banu.
"Iya Ayah, tiba-tiba perutku sangat lapar! Ayo kita makan sama-sama Ayah!" Kenny segera berdiri dan menuntun Ayahnya keluar dari kamar dan menuju ke meja makan.
__ADS_1
Bersambung ...
****