
Seorang wanita cantik berpenampilan modis dengan rambut pendek dan bergaya modern tersenyum ke arah Felly dan Kenny.
Perlahan wanita itu mendekati mereka.
"Apa kabar kalian? Lama tak jumpa!" sapa wanita itu.
"Dini? Kapan kau pulang ke Indonesia?" tanya Kenny terkesiap.
Ya, wanita itu adalah Dini yang kini mulai berubah penampilan.
"Aku baru saja tiba kemarin, pulang-pulang langsung mendengar kabar tentang kalian yang sedang di rumah sakit, Mbak Felly, gimana kondisimu?" tanya Dini sambil duduk di bangku yang ada di sisi ranjang Felly.
"Aku baik, operasinya berjalan lancar, hanya saja aku belum bisa menggerakkan tubuhku!" jawab Felly.
Dini meletakan bungkusan besar di atas nakas.
"Ini oleh-oleh buat kalian!" ujar Dini.
"Trimakasih Din!" ucap Kenny.
"Hei, kenapa kalian terlihat tegang seperti itu? Aku bukan hantu yang harus kalian takuti, lagi pula aku tak akan lama juga, aku ada janji dengan temanku!" kata Dini.
"Bukan begitu Din, kami hanya kaget saja, kau banyak berubah, kini kau lebih anggun dan elegan!" ucap Felly.
"Oh, jadi sebelumnya aku kampungan begitu? Pengalaman membuat aku belajar, segala sesuatu bisa berubah, karena tidak ada yang abadi di dunia ini!" kata Dini melembut.
Ada sesuatu yang tersembunyi dari pancaran bola matanya.
"Aku selalu berharap kau mendapatkan yang terbaik Din!" ucap Felly. Dia mengusap perutnya, ada gerakan-gerakan halus yang dia rasakan.
"Hmm, kapan bayi kalian lahir? Aku tak sabar ingin menggendong keponakanku itu!" kata Dini yang ikut mengelus perut Felly.
"Mungkin sekitar 4 bulan lagi, bayi Kenny laki-laki lho, pasti sangat mirip Papinya nanti!" ujar Felly.
"Yah, aku turut senang mendengarnya, Kenny pasti bahagia akan memiliki seorang anak laki-laki, iya kan Ken!?" tanya Dini membuyarkan lamunan Kenny.
"Eh, iya, aku bahagia, sebenarnya, laku-laki atau perempuan sama saja, yang penting dia lahir dengan selamat!" jawab Kenny.
"Oke, kalau begitu aku pamit, kau banyak istirahat Fell, supaya kau cepat pulih dan bisa menangani Kenny, kasihan juga dia berhati-hari di rumah sakit menunggumu, lihat saja tuh, bahkan dia tidak sempat mencukur wajahnya!" kata Dini sambil tersenyum.
Kemudian Dini bangkit dan langsung membalikan badannya, dan berjalan keluar dari ruangan itu.
Kenny meraba wajahnya, kumis dan jenggotnya memang sudah berapa hari ini tidak dia cukur, karena sibuk dan tidak sempat memperhatikan dirimu sendiri.
"Kau kenapa Ken?" tanya Felly yang melihat Kenny jadi bengong sambil memegangi wajahnya.
"Ah, tidak!" sahut Kenny.
__ADS_1
"Walau kau tidak mencukur wajahmu, kau masih tetap tampan Ken, malah lebih macho!" ujar Felly.
"Maafkan aku sayang, aku bahkan tidak memperhatikan diriku sendiri, kau pasti geli saat aku mencium mu!" kata Kenny.
"Kenny ... Kenny, kau ini lucu, bagaimanapun rupa mu, aku tetap sayang kamu tau tidak!" Felly mencubit gemas pipi Kenny.
"Baiklah, sekarang tutup mulutmu, pejamkan matamu, kau harus banyak istirahat oke?! Aku juga mau rebahan di sofa!" Kenny beranjak menuju ke sofa yang ada di samping tempat tidur pasien, dia lalu meluruskan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya.
****
Lima hari sudah Felly di rawat di rumah sakit. Kini keadaannya berangsur pulih.
Hari ini mereka akan pulang ke rumah, Kenny mendorong kursi roda Felly berjalan di sepanjang koridor rumah sakit itu.
Mereka terus berjalan menuju parkiran, lalu Kenny mengangkat tubuh Felly perlahan masuk ke dalam mobilnya.
Kemudian Kenny mulai melajukan mobilnya meninggalkan rumah sakit itu menuju ke rumahnya.
"Masih sakit perutnya sayang?" tanya Kenny saat mereka melewati jalanan yang agak bergelombang.
"Masih sedikit nyeri Ken, pelan-pelan saja jalannya!" sahut Felly.
"Iya sayang!" Kenny melambatkan laju mobilnya.
Tak lama kemudian mereka sudah tiba di tempat kediamannya.
Kenny langsung menggendong Felly turun dan mendudukkannya di sofa.
Mbok Sumi dan Mbak Nur sibuk mengatur meja makan, mereka memasak menu spesial khusus hari ini untuk menyambut kepulangan Felly.
"Ada masalah sebesar ini kau malah menyembunyikannnya dari Ayah Ken!" hardik Pak Banu.
"Maaf Ayah, aku hanya takut Ayah Anfal lagi!" sahut Kenny.
"Tapi toh pada akhirnya Ayah tau juga Ken!" kata Pak Banu.
Icha muncul dari kamarnya dan langsung menghambur ke arah Kenny.
"Aku kangen Mami dan Papi!" seru Icha.
"Jangan keras-keras Cha peluknya, kasihan adik bayinya!" seru Kenny.
"Huh Papi, sekarang malah lebih sayang sama adik bayi dari pada aku!" cetus Icha cemberut.
"Siapa bilang sayang, Papi sayang kok sama Icha, tapi kan adik bayi masih kecil!" sergah Kenny sambil mulai memangku Icha.
Setelah makan siang siap, mereka semua beranjak ke meja makan.
__ADS_1
Mereka terlihat sangat gembira makan dengan lahapnya, hingga Mbok Sumi datang dengan seseorang di belakangnya.
Dini datang lagi bertandang ke rumah Kenny.
"Hei Dini, ayo ikut makan bersama kami!" seru Pak Banu.
Dini tersenyum sambil mengambil tempat di sebelah pak Banu.
"Aku baru makan, aku menemani kalian saja!" kata Dini.
"Bagaimana kabar Bapak dan Ibumu Din?" tanya Pak Banu.
"Mereka baik Om, ada dalam juga buat Om Banu!" jawab Dini.
"Sudah lama aku dan orang tuamu tidak bertemu, rasanya rindu sekali!" ucap Pak Banu sambil menghela nafas panjang.
"Sudahlah Om, nanti lain waktu, akan ku ajak orang tuaku datang kemari!" kata Dini.
"Tapi mereka tidak marah kan sama Om gara-gara gagalnya perjodohanmu dengan Kenny dulu?" tanya Pak Banu.
Dini tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
Tiba-tiba ada yang terusik di sudut hati Felly, dia merasa kurang nyaman mendengar pembicaraan ini.
"Ken, bisa antarkan aku ke kamar? Sepertinya aku butuh istirahat!" kata Felly sambil mencoba berdiri dari duduknya.
"Baik, biarkan aku menggendongmu!" dengan sigap Kenny mengangkat tubuh Felly, lalu membawanya naik ke atas menuju ke kamarnya.
Dini yang melihat pemandangan itu hanya bisa menggigit bibirnya.
Sesampainya di kamar, Kenny langsung membaringkan Felly di tempat tidurnya lalu menyelimutinya.
"Kau capek ya sayang, istirahatlah!" ucap Kenny sambil mencium kening Felly.
"Ken ..." Felly menarik tangan Kenny saat hendak beranjak dari tempat tidurnya.
"Ada apa Fell?" tanya Kenny.
"Kau mau turun ke bawah?" Felly menatap dalam wajah Kenny.
"Ya, masih ada Dini di bawah, masa aku tinggal ke atas, walau bagaimana, Dini itu kan temanku!" sahut Kenny.
"Ken, maafkan aku, aku merasa kalau Dini, masih mencintaimu, aku lihat dari sorotan matanya terhadapmu!" ucap Felly.
"Sayang, siapapun yang mencintai aku, toh aku tetaplah milikmu, jadi, mengapa kau begitu khawatir?" tanya Kenny sambil membelai rambut Felly.
"Ken, aku hanya takut ... akan benar-bemar kehilanganmu!" lirih Felly yang mulai menitikkan air matanya.
__ADS_1
"Tidak sayang, kau tidak akan mungkin kehilangan aku, tidak mungkin!" ucap Kenny sambil memeluk erat tubuh Felly.
****