
Kenny dan Felly terbelalak saat melihat pria yang ada di hadapan mereka.
"Roy!!" pekik Felly. Kenny langsung menggenggam tangan Felly.
"Nah, ini nih Mas si pemilik rumah!" kata Pak RT sambil menunjuk tangannya ke arah Felly.
"Wah wah wah, bagus sekali kau ingin menjual rumah kakakku! Aku tidak salah kan jika ingin membelinya darimu?" tanya Roy dengan senyum yang menyeringai.
"Diam kau Roy! Rumah ini adalah hak ku dan Icha, Diego sendiri yang mengatakannya padaku, jadi kau tidak berhak mengatur apapun!" Sengit Felly. Tangannya sudah mulai terasa dingin.
"Lho, rupanya kalian sudah saling kenal?!" ujar Pak Rt terheran.
"Hei bung! Jangan ganggu calon istriku lagi!" Seru Kenny. Roy nampak tertawa menanggapinya.
"Calon istri? Berarti benar dugaan ku, pak RT juga baru mengatakannya padaku, Felly, apakah kau sudah mulai melupakan Diego kakakku? Untuk apa menikahinya? Lebih baik kau menikah denganku saja!" Seloroh Roy.
Bugghh!!
Sebuah bogem mentah mendarat di wajah Roy, pria itu meringis sambil memegang bibirnya yang mulai mengeluarkan darah.
Kenny berdiri menahan emosi sambil mengepalkan kedua tangannya, hendak kembali memukul Roy.
"Cukup Ken! Jangan ladeni orang itu, akan membuat waktumu terbuang saja!" seru Felly sambil menarik tangan Kenny.
"Berani kau bicara kurang ajar pada calon istriku! Kau akan terima akibatnya!" ancam Kenny.
"Sudah! Sudah! Kenapa jadi pada berkelahi disini? Jadi bagaimana kelanjutannya? Rumah ini jadi di jual tidak?" tanya Pak RT sambil berusaha melerai.
"Jadi Pak, tapi kalau orang ini yang akan membelinya, aku tidak mau!" sahut Felly.
"Kau sombong sekali Fell! Ingat, Icha itu adalah keponakanku, anak dari kakakku! Jadi aku juga berhak atas dia!" sentak Roy.
"Tidak! Enak saja! Icha itu anakku! Hanya aku yang berhak atas dia, kau bukan siapa-siapanya!" balas Felly.
"Aku tidak akan berhenti sebelum mendapatkanmu Fell!! Ingat itu!" ancam Roy.
Felly menarik tangan Kenny hendak menjauhi tempat itu menuju ke mobil Kenny, tiba-tiba Roy maju mendekati mereka.
Bugghh!!!
Kini pukulan keras dari Roy mendarat di wajah Kenny, Kenny langsung jatuh tersungkur.
"Kenny!!" teriak Felly histeris.
"Itu balasan orang yang akan merebut wanita yang kucintai!" dengus Roy sambil menyeringai.
__ADS_1
"Kurang ajar kau Roy! Kau selalu saja menggangguku yang membuat hidupku tidak tenang!!" berang Felly.
Kenny perlahan bangkit dari tempatnya, dia mengusap darah yang sempat mengalir dari mulutnya.
Tiba-tiba ada dua orang security yang datang menghampiri mereka, rupanya pak RT sudah mengontak security itu.
Kemudian security itu mulai membubarkan mereka.
"Tunggu pembalasanku!! Aku akan cari tau di mana keberadaan mu!" ancam Roy.
Kemudian dia segera mengendarai motornya dan pergi meninggalkan tempat itu. Pak RT juga nampak sudah berjalan pulang kerumahnya.
Felly memapah Kenny masuk dalam mobilnya.
"Maafkan aku Ken, lagi-lagi kau jadi korban urusanku dengan si Roy!" ucap Kenny.
"Apa yang jadi urusanmu adalah urusanku juga Fell, karena kau adalah calon istriku!" sahut Kenny.
Felly mengusap bibir Kenny dengan tissue.
"Kita pulang ya Ken, aku akan mengobati lukamu sampai di rumah nanti," kata Felly.
"Kau mau aku cepat sembuh Fell?" tanya Kenny. Felly Menganggukan kepalanya.
"Cukup kau cium saja bibirku, maka aku akan sembuh!" tambah Kenny.
"Aw! Siapa yang bercanda, aku serius Fell, kau tau betapa ciumanmu itu memabukkan buatku? Aku jadi kecanduan dan selalu menginginkannya lagi!" ucap Kenny sambil memandang lembut wajah Felly.
Perlahan Felly maju dan mencium bibir Kenny dengan lembut, di kecupnya bibir itu beberapa kali, hingga Kenny lupa akan rasa sakitnya.
"Trimakasih sayang ..." ucap Kenny setelah Felly mengangkat wajahnya.
"Sudah ya, jangan minta lagi! Sekarang lebih baik kita pulang saja, hari sudah semakin malam!" ujar Felly.
Kenny menganggukan kepalanya dan dia mulai melajukan mobilnya perlahan meninggalkan tempat itu.
"Ken, aku takut Roy akan terus mengintai kita dan kembali berbuat onar!" kata Felly tiba-tiba.
"Jangan takut Fell, dia tidak akan tau dimana rumahku, sebaiknya rumah itu cepat kau jual saja, supaya tidak ada alasan dia selalu datang dan mengganggu!" jawab Kenny.
"Aku memang berniat menjualnya cepat, tapi tidak menyangka saja kalau Roy datang tiba-tiba, dia memang sejak lama mengincar rumahku Ken, dia tidak akan rela Diego memberikan hak warisnya untuk aku dan Icha!" ucap Felly. Ada raut kecemasan dari wajahnya.
Kenny mengelus pelan bibirnya yang kini membiru, dia meringis saat bibirnya tersentuh dengan tangannya.
"Masih sakit ya Ken, nanti di rumah aku kompres deh!" kata Felly.
__ADS_1
"Iya, sedikit nyeri, tapi tadi saat kau cium sakitnya hilang!" ujar Kenny.
"Itu karena Kenny sedang nafsu, orang kalau sedang nafsu itu mau sakit seperti apa juga tidak terasa!" jawab Felly. Kenny hanya tersenyum menanggapinya, kemudian dia menggenggam tangan Felly.
"Aku sangat tidak sabar untuk menikahimu Fell!" ucap Kenny sambil mengecup jemari Felly.
"Sabarlah Ken, sebentar lagi, segala sesuatu kan harus di persiapkan dengan baik!" sahut Felly.
Drrrt ... Drrrt ... Drrrrt ...
Tiba-tiba suara ponsel Kenny berbunyi. Kenny segera meraih ponselnya yang ada di dekat kemudi.
"Jangan angkat telepon saat kau mengendarai mobil Ken, bahaya, lebih baik kau berhenti dulu!" kata Felly mengingatkan.
"Iya sayang," sahut Kenny yang langsung menepikan mobilnya di pinggir jalan itu.
Dia melihat di layar ponselnya, Leo yang meneleponnya.
"Halo bro!" sapa Kenny.
"Ken, kau sudah tau belum? Si Dini kan sudah resign dari sekolah tempat dia ngajar!" kata Leo.
"Sudah tau Le, tadi mam Indah juga bilang!" sahut Kenny.
"Ken, besok pagi Dini sudah berangkat ke Malaysia Ken, katanya dia mau ngelanjutin studinya!" ujar Leo.
"Hah? Ke Malaysia? Kok mendadak Le? Aku malah baru tau ini!" seru Kenny.
"Kayaknya dia mau menghindari hari pernikahan lu deh Ken, makanya dia cepat-cepat pergi!" ucap Leo sedih.
"Le, kalau kau beneran cinta sama Dini, kau kejar dia Le, jangankan ke Malaysia, ke kutub juga kau kejar dia, supaya dia bisa lihat kalau kau serius dengannya!" ucap Kenny.
"Yah Ken, orang dia sakit hati gara-gara lu mau nikah, mana mau dia gue kejar?" tanya Leo frustasi.
"Mencoba kan tidak ada salahnya Le, aku juga akan coba untuk menghubungi dia, thanks ya informasinya!" ujar Kenny. Lalu dia menutup teleponnya.
Kenny terdiam setelah selesai menerima telepon dari Leo.
"Kau kenapa Ken? Dini memangnya sudah resign? Lalu dia akan pergi ke Malaysia?" tanya Felly beruntun. Kenny menganggukan kepalanya.
"Iya Din," jawab Kenny singkat.
"Sebelum dia pergi, kau temui dia Ken, supaya kita sama-sama enak, dan tidak ada yang mengganjal di hari pernikahan kita nanti," ucap Felly. Kenny menoleh ke arah Felly.
"Memangnya kau mengijinkan aku bertemu Dini?" tanya Kenny. Felly menganggukan kepalanya.
__ADS_1
Bersambung ....
****