
Di Sekte Pedang Langit....................
Sejak ditinggal Yang Chen menjalankan misi bersama para Tetua yang lain, Zhuang An menjadi sedikit kesepian, karena hanya ditemani Huang Liang saja.
Akan tetapi, itu tidak mengurangi semangatnya untuk berlatih lebih giat lagi.
Pagi-pagi sekali, Huang Liang mengajak berlatih beban untuk memperkuat tubuhnya dengan berlari ke kaki Gunung Walet.
Zhuang An diberi tugas membawa beban 40kg dengan jarak tempuh 1000 meter diulang 15 kali, ini tentu sangat berat, tetapi bukan Zhuang An namanya kalau menyerah sebelum berhasil.
Melihat Zhuang An yang berlatih begitu berat, beberapa anak dari Wisma Pedang Elemen Api yang usianya lebih tua, merasa terusik, dan menilai bocah itu pamer serta sombong. Jadi, mereka menantang untuk adu kecepatan dengan bertanding lari menempuh jarak 60 kilo meter.
" Wuah! Jauh banget.!?" Zhuang An, merasa khawatir karena terlalu jauh keluar dari sekte, yang dia pikirkan bukan masalah beratnya. Tetapi, masalah keluar dari sekte tanpa ijin pengurus sampai sejauh itu, hal ini pasti bisa bikin marah Zhuang Shing.
Namun, Luo Yin memberi jaminan hal itu tidak akan terjadi.
" Bagaimana Huang !?..Yunior mu melawan yunior ku.? ." Luo Yin memanas-manasi Huang Liang.
" Baiklah! Tetapi besok, lima hari dari sekarang. Dan juga kita undang perwakilan dari setiap wisma. Namun, untuk arah beserta aturannya harus jelas!." Huang Liang mempertegas jawabannya, dia bersemangat ingin menunjukkan bakat yang luar biasa dari Zhuang An.
" Baik! Kalau itu yang kau mau?!, aku sepakat." Luo Yin tidak kalah bersemangat.
Huang Liang, dan Luo Yin kemudian menghubungi pengurus sekte yang berwenang menangani kegiatan, dan kompetisi untuk mendapatkan izin kegiatan tersebut.
Pada ahirnya, acara tersebut diizinkan pengurus, karena tidak membahayakan dan justru bermanfaat untuk menambah motivasi, maka mereka menunjuk panitia khusus untuk acara itu.
Lima hari berikutnya, mereka berkumpul di halaman sekte, bersama 320 anak perwakilan dari wisma masing- masing, yang usianya hampir setara. Antara 7 tahun, dan 8 tahun.
Suasana sangat ramai dan meriah karena banyaknya anak dan seniornya yang begitu antusias, tidak ketinggalan Zhuang Li Hua juga ikut hadir dan menyemangati Zhuag An.
Dengan suaranya yang imut dan nyaring dia berteriak-teriak:
" An gegeee.....! Ayo semangat....! An gege pasti menaaang..!." Zhuang Li Hua memberi semangat pada Zhuang An dengan wajahnya yang ceria.
" Hua eeer...." Zhuang An melambaikan tangannya pada sepupunya itu.
Pengurus telah menentukan para anggota sekte untuk menjadi panitia dan juga menunjuk senior tiap wisma untuk mendampingi yuniornya, demi menghindari hal-hal yang tak diinginkan.
Lalu mereka membacakan aturan-aturan yang diterapkan, yaitu:
Tanpa membawa beban.
Finis balai desa Li Shan
Jarak 60 km.
Tidak boleh memotong jalur.
Boleh menggunakan tenaga dalam , jika punya.
Setelah semua peserta berbaris rapi, ahirnya empat orang panitia yang ditunjuk pengurus sekte mulai menghitung bersama, untuk melepas semua peserta.
" Satu.....Dua......Tiga......!"
" TOEEEEET " Suara terompet dibunyikan.
" Wuuus.."
Bocah-bocah umur 7 dan 8 tahun itu melesat bersamaan. Suara ratusan kaki menghentak tanah dibarengi debu-debu mengepul seperti asap.
__ADS_1
Di sepanjang jalan yang mereka lalui, setiap per seratus meternya, di jaga para senior setingkat pendekar kelas satu.
Sekte Pedang Langit, terkenal karena orang-orangya jujur dan baik hati. Tetapi, selain itu mereka juga tertib dan disiplin.
Zhuang An ketika peluit berbunyi, dia langsung melesat begitu cepat meninggalkan yang lain. Dengan ditopang kwalitas Tulang Naga Muda sejak lahir, Ia betul-betul cepat dan kuat tanpa ada tanda-tanda melemah atau lainnya.
Dan bahkan, sekarang Zhuang An telah mencapai tulang naga angkasa berkat mengkonsumsi sumberdaya istimewa dan juga bantuan tenaga dalam tingkat tinggi milik Yang Chen dalam setahun terahir.
Kecepatan Zhuang An tidak masuk akal, padahal dia cuma mengandalkan tenaga fisik dan tulang saja. Hal ini membuat para senior termangu bahkan melongo.
" Ach..! Siapa anak itu ?! Bagaimana dia bisa melesat secepat itu ?." Seorang panitia berkomentar heran.
" Och...! Itu anak dari wisma 20 Pedang Angin. Melihat larinya begitu kuat, aku yakin dia akan memenangkan Latih tanding ini ." Seorang panitia lain menjawab dengan kagum.
Huang Liang yang bertugas mendampingi Zhuang An juga berlari mengiringi di pinggir jalan mengikuti Zhuang An.
Pemuda tanggung itu mampu berlari dengan tenang di belakang Zhuang An, karena ditopang tenaga dalam yang cukup tinggi mencapai 200 ME.
Selain itu, tulangnya juga sudah banyak meningkat semenjak mendapat limpahan sumberdaya dari sekte.
Sementara, Zhuang An terlalu jauh meninggalkan yang lain. Di belakang bocah itu, ada adik yuniornya Luo Yin, tetapi jarak antara keduanya terlalu jauh sekitar 300 meter lebih.
" Li er..! Jangan terlalu memaksakan diri! Jarak tempuh untuk finish masih terlalu jauh." Luo Yin menasehati Wang Li dari belakang.
Dia mulai menyadari kemampuan dan bakat besar yang dimiliki Zhuang An tidak bisa disaingi.
***********
Sementara itu, di Perguruan Harimau Terbang....................
Guo Sheng dan dua ribu pendekar yang dipimpinnya telah tiba di Perguruan Harimau Terbang. Song Jin dan Li Cheung menyampaikan hasil pertemuan para tetua dengan perasaan senang.
Salah satu inti hasil dari pertemuan, untuk memenangkan pertempuran adalah fokus melumpuhkan Ketua Sekte Naga Hitam dan Sekte Taring Naga yang menjadi pimpinan.
Dengan demikian, yang terjun langsung dalam pertempuran nanti adalah pendekar yang tinggi tingkatannya, yaitu Pendekar Ahli, Mahir, Mumpuni dan Satria. Sehingga tidak terlalu banyak korban jiwa dari kelompok mereka.
Kali ini Li Cheung lebih merasa percaya diri, kemenangan berada di pihaknya. Ia memerintahkan semua anggota Perguruan Harimau Terbang untuk terus memperbaiki situasi benteng agar lebih tertata dan kemudian memperkuat dengan berbagai senjata.
Sementara, tamu-tamu dari Sekte Pedang Langit dipersilahkan istirahat, agar tubuhnya lebih fit dan segar, mengingat mereka habis menempuh perjalanan yang cukup jauh.
*****
Di satu pihak Sekte Naga Hitam dan Sekte Taring Naga, sudah mendekati Benteng Perguruan Harimau Terbang. Mereka beristirahat untuk memulihkan diri dengan mendirikan perkemahan berjarak lima mil dari Benteng Perguruan sisi kiri.
Han Bo Ketua Sekte Taring Naga, bersama empat orang kepercayaannya, memasuki perkemahan besar. Di dalam Deng Weisheng Ketua Sekte Naga Hitam dan juga lima orang kepercayaannya sudah menunggu tidak sabar.
Setelah duduk, Han Bo mengutarakan uneg-unegnya ;
" Aku ingin memperjelas kesepakatan kita tentang dua Pusaka Dewa...!"
" Tentang hal itu, aku jamin tidak ada yang berubah. Masing-masing sekte dapat satu Pusaka Kincir Bintang Dewa, ditambah pembagian rampasan harta , dan berbagai macam sumberdaya.!" Deng Weisheng menegaskan keputusannya.
" Baiklah! Sekarang bagaimana strateginya?! Apakah kita langsung menyerang besok saat fajar menyingsing?," Han Bo melanjutkan.
" Itu bagus! Semakin cepat, maka akan semakin menguntungkan kita, agar mereka benar-benar tidak siap!. Tetapi, sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena di perguruan itu tidak ada yang bisa menggunakan Pusaka Dewa tersebut." Deng Weisheng memberi penjelasan.
Mereka segera menyusun strategi. Dari pertemuan tersebut, disepakati saat fajar menyingsing, aliansi sudah mengepung Perguruan Harimau Terbang dengan kekuatan penuh yang dimiliki.
*****
Li Cheung bangun tergesa-gesa, istri dan anaknya juga ikut panik dengan situasi yang ada.
" Perintahkan semua wanita dan anak-anak untuk menjauhi gerbang dan benteng tidak boleh ada yang mendekati kecuali para pendekar yang berkemampuan lumayan tinggi. Perintah Li Cheung pada asistennya.
__ADS_1
" Siap Ketua," He An, asisten Li Cheung bergerak cepat.
Dia paham situasi bisa lebih buruk dari yang bisa dibayangkan. Karenanya ia segera memimpin ribuan pendekar kelas tiga untuk mengkoordinir wanita dan anak-anak agar berlindung di tempat yang paling aman dan menenangkan.
Guo Sheng sudah lebih dulu memimpin pasukannya yang terdiri dari gabungan para pendekar ahli, mahir, mumpuni dan satria Linuwih Sekte Pedang Langit dan Perguruan Harimau Terbang untuk keluar benteng dan menyelinap di tempat tersembunyi.
Song Jin bersama Tetua Bai Kun serta Li Cheung naik ke atas, diikuti ribuan pendekar kelas satu dan dua untuk menyambut serangan dari posisi atas benteng.
Suara gemuruh ribuan kuda musuh menggema menimbulkan badai debu yang beterbangan. Pasukan itu menggebrak kudanya dengan semangat menggebu seakan ingin segera memastikan kemenangan.
" Ayo majuu...hancurkan gerbangnya.!" Han Bo memberi komando.
Dua belas pendekar satria linuwih memimpin di depan untuk menjebol gerbang, pendekar-pendekar itu mengangkat senjatanya masing-masing berupa pedang, tombak dan tongkat yang bersinar terang, sebuah perubahan energi gabungan dengan tenaga penuh siap menghancurkan pintu gerbang.
Akan tetapi, mereka dikejutkan oleh suara berdesing yang menderu dari atas gerbang. Spontan mereka menoleh dan melihat dua Kincir Bintang menyerang mereka dengan garang.
" Whuuss ...blaaar.." dua benturan keras terjadi, dua belas pendekar satria aliran hitam mundur beberapa langkah kebelakang, pedangnya hampir saja terpental, tangannya bergetar.
" Apa yang terjadi?." Deng Weishang kaget melihat pusaka dewa menyerang dua belas pendekar andalannya.
Dia tidak percaya ada yang bisa mengendalikan Kincir Bintang Dewa.
" Bukankah engkau mengatakan bahwa Perguruan Harimau terbang tidak ada yang mampu mengendalikan pusaka itu?." Han Bo merasa bingung.
" Benar, aku sudah menyelidikinya. Jikalau sekarang tiba-tiba ada yang mampu, aku yakin itu hanya sementara, tidak akan bisa bertahan lama." Deng Weishang mencoba meyakinkan.
Di saat Deng Weishang memikirkan Kincir Bintang, di belakang sedang terjadi gaduh. Mereka di kagetkan dengan sergapan musuh.
Guo Sheng memberi komando pada semua pendekar satria yang lebih jago, untuk segera melumpuhkan musuh yang memiliki berkemampuan ampuh.
Banyaknya lawan yang berkekuatan hebat membuat anggota aliansi aliran hitam tidak bisa menang lebih cepat, walaupun jumlah mereka berlipat.
Bahkan situasi tidak berpihak kepada mereka, serangan merepotkan dirasakan dari beberapa arah, membuat konsentrasinya terpecah belah. Dari belakang para pendekar hebat merusak pertahanan sangat parah dari atas ada tombak dan anak panah.
Sementara dari depan Kincir Bintang Dewa berputar-putar menderu mencari mangsa, sudah ratusan pendekar mahir yang terluka, bahkan pendekar kelas satu dan dua banyak yang tewas jadi korbannya, tidak satupun yang mampu menghentikan keganasan dua pusaka.
Dua belas pendekar tingkat satria sudah merasakan kehebatan pusaka sakti tersebut, bahkan gabungan energi mereka saja tidak mampu mengimbangi kekuatan Kincir dimaksut.
Perlahan Guo Sheng mengeluarkan Pusaka Pedang Api dari Cincin Mustika Dimensi, setelah menyalurkan energi murni dalam jumlah besar, pedang tersebut dibiarkan terbang berputar-putar hebat bagai baling-baling yang menggilas musuh yang tersasar hingga terkapar.
Bersamaan dengan itu,
tiba-tiba muncul pedang lain yang juga ikut berputar hebat seperti baling-baling di tengah pendekar Sekte Naga Hitam. Jadilah dua pedang itu berlomba membantai semua yang terkena putaran pedang.
Ketajamannya sungguh tidak masuk akal, semua senjata yang digunakan menangkis terbabat habis, patah jadi dua. Ya dua pedang itu adalah milik Guo Sheng dan Song Jin.
Kepanikan dirasakan anggota aliansi Sekte Aliran hitam. Bagaimana tidak, selain menghadapi dua kincir bintang, mereka masih disibukkan dengan sergapan musuh dari belakang.
Ditambah panah-panah serta tombak dari atas benteng dan gerbang membuat korban berjatuhan bertambah sekarang. dan dua pedang pusaka sedang mengamuk membuat keberanian mereka menghilang. Korban berjatuhan terus bertambah tiap detiknya menjadikan jumlah mereka terus berkurang.
Kombinasi empat pusaka terbang, betul- betul membuat banyak nyawa melayang. Ini adalah situasi yang tak pernah terbayang di benak Deng Weishang.
Deng Weishang menjadi geram dia memasang sepasang Cakar Naga Hitam di kedua tangan dan mengerahkan tenaga dalam tinggi, senjata yang panjangnya sekitar seratus dua puluh senti, mengeluarkan cahaya biru kehitaman. Dan berikutnya dia menyerang pendekar satria linuwih dari Sekte Pedang.
" Cakar Naga Hitam.." Deng Weishang berteriak dengan wajah masam.
" Tring..." Yang Chen yang menjadi sasaran Deng Weishang sedikit terkejut, dia menangkis serangan tersebut. Pedangnya bergetar, tangannya terasa seperti digigit ratusan semut.
Dalam pertempuran, apapun bisa terjadi, namun demikian, Yang Chen tetap merasa ngeri untuk hari ini. Dikarenakan Dia harus berhadapan dengan pendekar Satria Linuwih gerbang delapan.
Yang Chen berusaha fokus dan tenang, menghadapi dedengkot aliran hitam. Dia tidak mau gegabah mendahului menyerang, jadi berusaha menghindar dan menangkis dengan pedang.
" Sekte Pedang Langit, selalu ikut campur urusan orang. Hari ini, aku akan membuat nyawamu melayang." Deng Weishang dengan ringan bergerak menyerang.
__ADS_1
Serangan demi serangan terjadi, tetapi Yang Chen bisa menangkis dan menghindari, sampai tangannya bergetar hebat, jubahnya robek beberapa tempat, untungnya dia masih selamat.
" Deng Weishang, bertarunglah denganku, jangan cuma melawan anak muda seumuran cucu." Guo Sheng mengagetkan pria yang menjadi musuhnya sejak dulu.