PENDEKAR DEWA LANGIT

PENDEKAR DEWA LANGIT
15. Tetua Jiang Chen & Han Wei


__ADS_3

Di desa Li Shan....


Zhuang An bergerak cepat kearah Wang Li yang sedang di keroyok 5 orang berwajah garang, pedang Zhuang An menggores, dan menusuk lawan-lawannya.


Kecepatan gerak pedang bocah itu, memakan korban tiga orang, mereka terluka serius, tetapi Zhuang An tak mau mengambil resiko dia segera menusuk jantung musuh- musuhnya. Dan ahirnya 3 orang itupun tewas tertembus pedang Zhuang An.


Wang Li yang tinggal menghadapi dua musuh dengan cepat mulai melukai lawannya.


Dan ahirnya bocah itu juga membunuh seorang lawannya yang terluka.


Zhuang An tidak berhenti dia membuang pedang yang hampir rusak lalu mengambil dua pedang musuhnya dan dengan cepat dia mulai mencari musuh yang dia anggap lemah.


" Crass...crass."


Dua orang tumbang terkena sabeten pedangnya. Satu-persatu Zhuang An terus menghabisi lawan-lawannya tanpa ragu lagi, ia mulai menunjukkan kekuatan hasil latihannya selama ini.


Huang Liang kaget melihat keganasan adik seperguruannya itu. Dalam waktu singkat dia telah membunuh puluhan musuh tanpa ada keraguan.


Pertempuran itu tidak berlangsung begitu lama , karena jumlah para bandit itu terus berkurang.


Huang Liang melompat di hadapan pemimpin komplotan penjahat dengan pedang terhunus.


" Kau manusia biadab tukang menjual manusia, hari ini kau harus mati!." Huang Liang menatap mata bandit itu dengan tajam.


Zhuang An bersikap waspada dan teliti dia tidak mau gegabah, oleh karenanya dia memilih lawan-lawan yang sekiranya berkemampuan rendah dan tidak terlalu bahaya, dengan demikian dia lebih mudah menghabisinya.


Sementara Huang Lianh masih bertarung dengan pimpinan penjahat itu, pemuda itu berhasil menusuk perut pria jahat tersebut, menyebabkan pendarahan yang hebat.


" Saatnya ajal menjemputmu, Huang Liang menyabetkan pedangnya ke arah pinggang pria pimpinan penjahat itu.


" Whuut....Jraaasss"


" Aack.."


Penjahat itu roboh dengan pinggang hampir putus, dan kemudian tak bergerak lagi .


Sementara Zhuang An menyabetkan pedangnya mengarah pada pundak komplotan penjahat yang berkemampuan cukup tinggi.


Namun dengan mudah pria berwajah seram itu menangkis dengan mengangkat pedangnya, hal itu menjadikan pinggangnya terbuka tidak terlindungi, kesempatan itu dimanfaatkan Wang Li menusuk pinggang pria tersebut.


" Aaack..."


Pria jahat itu berteriak keras karena menahan sakit, kepalanya mendongak keatas, Zhuang An tidak menyianyiakan kesempatan tersebut dengan Kwalitas tulang yang dimilikinya beserta tenaga dalam yang cukup Zhuang An menebas leher penjahat sombong itu sekuatnya.


" Jraass.."


Leher itupun putus dan kepalanya jatuh ketanah, tubuhnya roboh dengan leher memancarkan darah segar.


Huang Liang tertegun menyaksikan hal tersebut, ia tidak menyangka adik seperguruannya mampu melakukan hal itu tanpa terbebani perasaan. Zhuang An memiliki sisi ketegasan yang cukup keras.


Zhuang An mengambil pedang putihnya yang menancap di tanah saat menyelamatkan nyawa kepala desa tadi.


Kemudian ia membantu kepala desa Li Shan untuk melepas ikatan tangannya.


Huang Liangpun ikut membantu pria setengah baya tersebut agar bisa dimintai keterangan. Dan setelah mereka menoleh kearah Song Chen pertempuran telah usai.


" Terimakasih atas bantuan kalian, karena telah menyelamatkanku. Tetapi masalah ini tidaklah sederhana." Kepala desa Li Shan mulai berbicara.

__ADS_1


" Maksud bapak kepala desa masalah ini masih belum tuntas?." Zhuang An menanggapi dengan pertanyaan.


" Benar, yang kalian bunuh itu adalah pimpinan kedua, pimpinan pertamanya ada di markas jauh dari sini dengan jumlah anggota lebih banyak." Kepala desa Li Shan memberi keterangan.


************


Anggota Sekte yang sedang bertugas sejak awal, cukup banyak yang terluka, karena serangan mendadak.


Beberapa di antaranya ada yang kritis. Bahkan ada yang tewas.


Jiang Chen, memerintahkan pendekar-pendekar kelas dua untuk mengevakuasi mereka yang terluka untuk dirawat.


Zhang Jian turun ke luar benteng dan langsung mengibaskan Kipas Pusaka, membuat Pendekar-pendekar Aliansi Aliran Hitam terlempar jauh terkena badai magis dari kipas, terutama yang tenaga dalamnya pas-pasan.


Han Wei membuka gerbang dan keluar bersama Pendekar-pendekar Satria, Mumpuni, Mahir dan paling belakang adalah para Pendekar Ahli.


Mereka langsung menggebrak musuh-musuh, membuat Aliansi Aliran Hitam kualahan.


Para pendekar yang berkemampuan tinggi itu bergerak tanpa ada hambatan, walaupun jumlah musuh lebih banyak.


Dua puluh lima pendekar satria Aliran Hitam bergerak maju dan bentrokan antar Pendekar Satriapun terjadi. Han Wei langsung mencari Petinggi Sekte Naga Hitam.


" Kau dari Sekte Pedang Langit bagaimana bisa ada di sini?." Wakil Ketua Sekte Naga Hitam heran.


" Aku sengaja menunggumu di sini, kita tuntaskan masalah kita." Han Wei menjawab garang.


" Haha..kau masih dendam rupanya?." menyeringai


" Hutang nyawa, harus dibayar dengan nyawa." Han Wei menghunus Pedang Es.


" Jangan terlalu sombong, aku tahu kau mengandalkan Baju Zirah Dewa." Han Wei memperingatkan.


" Hahhahaa...kalau sudah tahu, mengapa masih menantangku." Pan Liang tertawa dengan pongahnya.


Han Wei tak menunggu lagi, dia menyalurkan energi murni kedalam Pedang Es dan mengarahkan pedang kearah Pan Liang. Pedang itu mengeluarkan kristal-kristal es yang tajam dan menghujam kearah lawan.


Pan Liang tak menghindar, bahkan dia tak bergerak. Kristal-kristal itu menerjang seluruh bagian tubuh Pan Liang, mulai dari mata, kepala, leher sampai kaki.


Tetapi sebelum kristal tersebut menyentuh tubuh pria itu, Baju Zirah Dewa mengeluarkan pelindung ajaib yang melapisi seluruh tubuh Pan Liang. Sehingga tidak satupun kristal tajam yang mampu menembusnya.


Pan Liang tambah tertawa menyaksikan hal tersebut :" Hahaa... Bagaimana, masih mau dilanjutkan?."


Han Wei tidak menanggapi, Ia memutar pedang menciptakan badai salju kuat, menerjang tubuh Pan Liang.


Tubuh pendekar aliran hitam ini, terlempar puluhan meter, Namun dia bangkit lagi, dan tersenyum sambil membersihkan tubuhnya dari salju.


***


Sementara itu Zhang Jian, terus mengibaskan salah satu Kipas Sayap Dewi Bulan, sedangkan Kipas sebelahnya dia lepas ke arah musuh dan berputar mencari sasaran, puluhan pendekar menjadi korban ketajaman Kipas tersebut.


Zhang Jian mencari para pendekar ahli racun. Satu persatu musuh yang dicarinya dapat ia temukan.


Dengan pusaka dewa di tangan Ia tidak kesulitan menghabisi mereka hingga ahirnya tersisa tiga pendekar yang sulit ditemukan.


Jiang Chen, di atas benteng mengarahkan pendekar kelas dua bersama ketua Sekte Wang Ming Yue, mereka dari atas, melihat pergerakan musuh tidak terlalu mengkhawatirkan.


Hanya sepak terjang Wakil Ketua Sekte Taring Naga, yang tampak membahayakan anggota Sekte Kelelawar Beracun.

__ADS_1


" Siapa pria itu, dia kelihatan begitu haus darah." Jiang Chen bertanya pada Wang Ming Yue.


" Mungkin dia petinggi Sekte Taring Naga, aku pernah mendengar cerita sedikit tentang dia." Wang Ming menjawab sambil mengingat-ingat.


" Apa saja kelebihan pria itu.?" Jiang Chen bertanya lebih detail.


" Dia memiliki Cincin Kristal Cahaya, sehingga musuh akan dibuat perih mata jika berhadapan dengannya, selain itu tombak bermata dua yang dipegangnya memiliki kecepatan yang sulit di tandingi." Wang Ming Yue mencoba menjelaskan.


" Hemh...Perpaduan senjata yang idial, baiklah aku akan menghentikan keganasannya." Jiang Chen melompat turun di belakang Peng Zheng, Wakil Ketua Sekte Taring Naga.


Jiang Chen adalah Tetua Pedang Es Wisma Tiga, Selain berkemampuan tinggi, kecerdasan dan ketajaman penglihatannya sangat hebat.


Sehingga ia tahu tombak bermata dua yang dipegang Peng Zheng dilapisi racun yang ganas.


Racun itu memang tidak langsung membunuh, tetapi membuat tubuh kaku sulit bergerak.


" Kau...berhenti di situ dan hadapi aku." Jiang Chen menantang Peng Zheng.


Petinggi Sekte Naga Hitam itu menoleh kebelakang, dia mengamati Jiang Chen :" Sekte Pedang Langit, beraninya ikut campur."


" Bukan hanya ikut campur, tetapi aku juga akan mengambil nyawamu." Jiang Chen menggertak.


" Huahahhaa...pagi-pagi sudah ngelantur kemana-mana." Peng Zheng tertawa terbahak-bahak.


" Ahir-ahir ini, aku jarang menemukan lawan yang bagus, tapi tiba-tiba ada yang mau merampok nyawaku memang punya kemampuan apa kau..?" Peng Zheng merendahkan.


Jiang Chen menghunus pedangnya dan menyalurkan tenaga dalam, lalu muncullah kabut es menyelimuti dirinya dan juga Peng Zheng, saat kabut itu semakin menebal penglihatan Peng Zheng menjadi buram.


Jiang Chen menggunakan kesempatan itu, untuk menyerang Peng Zheng menggunakan jarum kristal salju yang tajam dan kuat. Serangan mendadak itu tak dapat dihindari pendekar aliran hitam tersebut.


Tubuhnya tertembus beberapa kristal es cukup dalam. Tetapi dia berusaha bertahan menggunakan tenaga dalam yang tinggi.


Peng Zheng menggunakan Cincin Kristal Cahaya untuk menerangi penglihatannya, tetapi Jiang Chen mengurungnya dengan Kubah Kristal Salju, sehingga cahaya Cincin itu memantul kearah dirinya sendiri.


Jiang Chen menambah ketebalan Kubah Kristal Salju dengan energi murni, hingga menjepit dan menekan tubuh lawannya. Membuat Peng Zheng betul-betul tersudut di dalam, dan kesulitan bernafas.


Dia berusaha mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, tetapi terlambat.


Gabungan tenaga dalam dan energi murni Jiang Chen jauh lebih tinggi dan lebih kuat dari tenaga dalam milik Peng Zheng.


Perlahan namun pasti, Peng Zeng tewas kehabisan nafas dan terjepit Kubah Kristal, sebelum dia bisa menunjukkan kemampuannya.


Dari atas benteng Wang Ming Yue tertegun menyaksikan Jiang Chen begitu cepat mengalahkan Peng Zheng.


Zhang Jian ahirnya berhasil menemukan dan menghabisi semua ahli racun aliran hitam yang menyerang mereka hari ini.


Han Wei masih bertarung sengit dengan Pan Liang, menghadapi musuh yang memiliki Baju Zirah Dewa, memang merepotkan.


Berbagai jurus sudah dicoba, tetapi ternyata Pan Liang memiliki tenaga dalam yang cukup besar. Sehingga belum ada tanda-tanda dia mulai kehabisan tenaga dalam.


Han Wei tak kehabisan langkah, dia memutar Pedang Es untuk memaksimalkan jurus Pusaran Badai Salju, pedang itu terus berputar mengeluarkan Salju Abadi yang menggulung keras kearah Pan Liang.


Wakil Ketua Sekte Naga Hitam itu bermaksud menghindar, tetapi kecepatan jurus Han Wei membuat dirinya tak dapat berbuat banyak.


Badai Salju Abadi menggulung dirinya sehingga pendekar aliran hitam ini terbawa arus badai yang berputar-putar semakin cepat dan semakin cepat.


Putaran badai itu berubah menjadi angin beliung yang semakin membesar dan ganas.

__ADS_1


__ADS_2