
Di desa Li Shan...
Song Chen dan Han Fang mendekat mendengarkan pembicaraan kepala desa dengan Zhuang An.
" Bapak tahu lokasi markas mereka ?." Han Fang ikut bicara.
" Tahu, mereka mempunyai markas di pinggir hutan dekat desa Siu Jie, mereka sangat licin sulit di atasi." Kata kepala desa.
" Kepala desa, jangan ragu ceritakan saja, kami akan membantu." Zhuang An yang pernah menjadi tawanan para penjahat merasa termotivasi untuk bergerak memberantas mereka sampai tuntas.
Perlahan kepala desa Li Shan itu mulai menjelaskan masalah detailnya mulai dari penjarahan harta benda yang mereka lakukan sampai pembunuhan dan penculikan gadis-gadis desa.
Hal tersebut terjadi masih dalam kurun waktu 2 minggu ini, dulu mereka tidak separah itu, entah apa yang terjadi tiba-tiba para penjahat ini semakin menjadi-jadi.
Kepala desa tersebut menjelaskan titik lokasi markas mereka dia tahu karena pernah dipaksa para penyamun itu ikut ke markas mereka.
Selain hal tersebut. dia juga menjelaskan jumlah total anggota mereka sekita 300 an.
Jadi saat ini diperkirakan tersisa 260 anggota. Untuk kemampuan pimpinan mereka, kepala desa Li Shan itu tidak bisa mengukur batas kemampuannya.
" Terimakasih, ini informasi yang cukup bagi kami." Han Fang yang mulai tadi memperhatikan Zhuang An dan kepala desa Li Shan mulai mengambil kendali kelompok.
Di antara semua murid jenius generasinya, Han Fang memang yang paling tinggi kemampuan bela dirinya dan juga umurnya melebihi yang lain sehingga memiliki analisa dan kebijakan yang pantas diikuti.
Zhuang An yang memang beda generasi walaupun sangat cerdas dan berbakat jenius bela diri, namun ia masih membutuhkan pimpinan yang bijak dan cerdas seperti Han Fang.
Kelompok itu memang terdiri dari para pendekar muda yang jenius dan berpotensi tinggi. Sehingga setelah mendengar keterangan kepala desa mereka langsung tahu situasinya dan juga apa yang harus mereka lakukan.
Tidak lama setelah mereka berdiskusi Han Fang segera mengambil keputusan untuk menumpas kawanan penjahat yang menimbulkan kerusakan di masyarakat tersebut.
Mereka bergerak hari itu juga menuju hutan di pinggiran desa Siu Jie . Di perjalanan Han Fang banyak bicara
" Liang er, aku lihat adikmu memiliki kecerdasan dan bakat pemimpin yang luar biasa." Han Fang berbicara santai.
" Senior memperhatikannya?." Huang Liang bertanya.
" Iya, aku tertarik dengan gaya bicara dan kecerdasannya." Kata Han Fang.
" Dia juga jenius dalam bela diri." Huang Liang bangga pada adik seperguruannya.
" Iya, aku juga melihat itu." Han Fang menambahkan denga cepat.
" Dia itu masih keponakan ketua sekte." Huang Liang berbicara apa adanya.
" Apa...? keponakan?." Han Fang kaget.
" Benar." Huang Liang menjawab singkat.
******
Di Sekte Kelelawar beracun............
Pusaran angin yang menggulung Pan Liang tak berhenti untuk waktu yang lama. Hingga pria jahat ini kehabisan tenaga dalam.
__ADS_1
Han Wei menghentikan jurusnya, dan Pan Liang pun terjatuh ketanah seperti kayu kering dengan tubuh terkoyak dan hampir tak sadarkan diri.
Namun Baju Zirah Dewa masih utuh tak tergores apapun.
Han Wei mendekat :" Tamat sudah riwayatmu, Bro...".
Han Wei mengambil Baju Zirah Dewa dan memakainya. Kemudian mengayunkan Pedang Es ke leher pria kejam itu. dan terpisahlah kepala Pan Liang dari badannya.
Han Wei mengambil kepala itu, dan berteriak :" Lihatlah kepala Pemimpin kalian, apa lagi yang kalian harapkan.? Menyerahlah dan tinggalkan tempat ini.!"
Seketika semua orang berhenti, mata mereka melotot tak percaya. Petinggi yang terkenal kesaktiannya telah tewas dipenggal musuh.
Mereka saling pandang di antara anggota aliansi. Setelah Peng Zheng tewas terhimpit Qubah Es sekarang Pan Liang terpenggal kepalanya. Perlahan muncul perasaan takut dan hawatir.
Tanpa disadari satu persatu pendekar-pendekar kelas bawah mulai meletakkan senjatanya.
" Pergilah kalian dari sini, bawa anggota kalian yang terluka dan jangan pernah kembali lagi." Zhang Jian menegaskan.
Para pendekar aliansi aliran hitam, mulai bergerak dengan lesu membawa rekan-rekan mereka yang terluka dan pergi dari tempat tersebut.
Jumlah mereka yang tersisa tidak sampai separuh karena banyak yang mati.
Ketika semua pendekar aliran hitam sudah pergi, tiba-tiba Shen Lian terjatuh kata nah, begitu juga dengan Luo Sheng disusul ratusan pendekar lainnya.
Fenomena ini mengagetkan para petinggi kedua sekte. Zhang Jian segera memeriksa mereka, hasilnya, ternyata ratusan pendekar tersebut terkena racun Penghantar Kematian , tubuh mereka kejang dan menggigil.
Para petinggi menjadi sedikit panik. Zhang Jian mengambil obat penawar segala racun dari Cincin Mustika. Untuk mengobati Luo Sheng dan Shen Lian.
Penawar yang dimiliki Zhang Jian cuma Dua belas butir, sementara yang terkena racun Penghantar Kematian mencapai ratusan pendekar.
Walaupun cara kerja penawar ini, tidak secepat milik Zhang Jian, tetapi penawar buatan Sekte Kelelawar Beracun cukup ampuh untuk menyembuhkan pendekar-pendekar yang terkena racun tersebut.
Han Wei mendapatkan Baju Zirah Dewa dari Pan Liang, sedangkan Jiang Chen mendapatkan Cincin Kristal Cahaya.
Zhang Jian mengatakan kepada Wang Ming Yue, untuk bisa mengendalikan Kipas Sayap Dewi Bulan harus memiliki Qi atau energi murni yang cukup.
Empat Kitab rujukan Sekte Pedang Langit, semua memiliki tehnik energi murni walaupun tak sehebat Tehnik yang terdapat di Kitab Pedang Langit, tetapi cukup mampu untuk mengendalikan pusaka-pusaka dewa.
Seperti yang dilakukan Tetua Han Wei. Akan tetapi tehnik energi murni hanya boleh dipelajari Tetua-tetua Pedang Sekte Pedang Langit saja. Murid belum diijinkan mempelajari tehnik tersebut.
Jika Wang Ming Yue ingin mempelajari tehnik energi murni, disilahkan menemui ketua Sekte Pedang Langit.
*****
Han Jiang bersama sepuluh Pendekar Satria Gerbang Tujuh, memasuki wilayah Hutan YungFu yang dikenal sebagai hutan Larangan. Sebuah tempat yang sangat jauh lokasinya dari Sekte Pedang Langit.
Hutan wingit ini, dihuni oleh mahluk-mahluk yang begitu buas dan ganas. Sejak pertama melangkah ke dalam hutan, mereka sudah dihadang lebih dari dua puluh empat siluman, yang berumur lebih dari lima ratus tahun.
Ganasnya hutan YungFu sebagai hutan larangan sudah terkenal kemana-mana. Bahkan bukan rahasia umum lagi, barang siapa berani memasuki hutan tersebut, maka dia tidak akan pernah kembali dalam keadaan hidup-hidup.
Setelah masuk lebih dalam lagi. Mereka dikejutkan oleh suara keributan. Di depan mereka saat ini, terjadi pertarungan yang sengit antara Petinggi Sekte Taring Naga dan Petinggi Sekte Naga Hitam, melawan empat Siluman Harimau berumur dua ribu tahun.
Jumlah pendekar-pendekar itu mencapai dua puluh lima orang, semuanya Pendekar Satria Gerbang tiga, empat, dan Tujuh.
__ADS_1
Sementara Empat Siluman Harimau yang umurnya mencapai Dua Ribu Tahun itu, memiliki tubuh raksasa. Tingginya lebih dari empat meter.
Dari jarak agak jauh, Han Jiang dan rekan-rekannya memperhatikan pertarungan antara anggota sekte naga hitam dibantu sekte taring naga melawan empat siluman tingkat raja.
Menurut analisa Han Jiang kekuatan pendekar-pendekar itu, sulit menandingi empat siluman tingkat tinggi tersebut.
Dari serangan-serangan yang mereka lakukan, tidak ada yang mampu melukai siluman-siluman ini.
Salah satu pimpinan mereka dari Sekte Taring Naga Xu Huang, mengeluarkan tombak pusaka. "Tombak Mata Berlian" .
Sementara Petinggi Sekte Naga Hitam Mengeluarkan Busur Andalannya. " Gendewa Mustika".
" Tetua Han, apakah kita akan menunggu sampai pertarungan itu selesai ?." Salah satu Tetua Pedang Es bertanya.
" Sebaiknya begitu, dengan demikian siapapun pemenangnya, musuh yang kita hadapi sudah pasti berkurang, setidaknya berkurang energinya." Han Jiang menjawab.
"Pusaka tombak yang mereka gunakan, apakah bisa menembus kulit Siluman dua ribu tahun.?" Salah satu Tetua Pedang Angin penasaran.
" Sebenarnya, dengan dilapisi tenaga dalam atau energi murni yang tinggi bisa, tetapi, jika menggunakan serangan jarak dekat, itu sangat beresiko." Kata Han Jiang.
Siluman Harimau menyerang musuhnya secara terkoordinasi, Sehingga menyulitkan para pendekar aliran hitam untuk melukainya.
Selain karena tubuhnya besar dan kebal dari pusaka biasa, juga karena kerjasama yang bagus di antara mereka. Ditambah kekuatan magis yang dimiliki membuat kecepatan gerak luar biasa menjadikannya lawan yang sulit dikalahkan.
Sudah lima pendekar aliran hitam yang terluka karena cakaran, sementara empat siluman itu belum sedikitpun terluka.
Petinggi Sekte Naga Hitam Deng Wang menjadi geram, dia melompat tinggi dan menarik Gendewa Mustika, anak panah meluncur dengan kecepatan tinggi menembus kaki belakang Siluman Harimau.
" GERRRRR" Siluman itu menjadi murka.
Salah satu Siluman Harimau yang paling lebat bulunya, Sang Jantan menyaksikan hal itu matanya menyala mengeluarkan sinar panas, menyerang Deng Wang dengan cepat.
Serangan dari pancaran mata itu semakin merepotkan kelompok tersebut.
" GHERRRR...GHERRRR"
Siluman-siluman itu mengamuk semakin ganas, menyebabkan banyak yang terluka. Bahkan dua pendekar satria gerbang lima terkena terkaman Siluman tersebut hingga tewas.
Pertarungan berlangsung berjam-jam hingga kedua belah pihak sama-sama berdarah-darah.
Namun Siluman-siluman di atas seribu tahun itu tidak nampak melemah ataupun kelelahan. Yang tampak adalah emosinya yang semakin tidak terbendung.
Di tempat yang berjarak sekitar 500 meter, para pendekar Sekte Pedang Langit menyaksikan pertarungan tersebut, ikut merasa tegang. Ternyata begitu tangguh lawan yang akan mereka hadapi.
Menurut analisa mereka minimal butuh pendekar satria gerbang delapan untuk mengalahkan Siluman-siluman tersebut.
" Tetua Han, apakah anda punya strategi untuk mengalahkan Siluman-siluman itu?." Salah satu Tetua Pedang Api bertanya.
" Emm...tentu saja, harimau biasanya takut dengan benda yang membakar, karena bulunya sensitif terhadap api. Jadi kita bisa gunakan kombinasi jurus-jurus jarak jauh. Api dengan Angin dan Es dengan Petir, atau menggabungkan semua jadi satu."
Han Jiang menjelaskan rencana-rencananya untuk menghadapi Siluman-siluman berbahaya itu.
Terutama memaksimalkan peran Pedang Petir dan energi murni. Intinya pertarungan harus mengandalkan serangan jarak jauh, untuk membuat siluman itu frustasi dan kehilangan fokusnya.
__ADS_1
Saat mereka sedang membahas strategi, di sisi lain kelompok pendekar aliran hitam mulai kualahan dan banyak pendekar yang terluka cukup parah.