
Zhuang An pada ahirnya memberikan Batu Bintang Energi miliknya pada Huang Liang.
Batu berukuran sebesar telapak tangan itu adalah salah satu batu pusaka tempaan/ciptaan Zhuang Kun yang berfungsi untuk membentuk energi tenaga dalam atau energi murni dalam tubuh pendekar.
"An er! Aku tidak bisa menerima batu ini." Huang Liang enggan menerima batu pusaka, yang menurutnya terlalu berharga untuk diberikan padanya.
"Liang gege! Apa alasanmu menolak batu ini..?." Zhuang An, yang sudah tahu perasaan saudara seperguruannya itu, bertanya untuk mempertegas.
"Batu ini, adalah milikmu aku tidak pantas memilikinya." Huang Liang menyampaikan alasan.
"Liang gege! Aku memiliki beberapa batu bintang energi. Bahkan! Aku bisa membuatnya jika memang butuh. Jadi, sudah sepatutnya batu ini aku berikan padamu" Ujar Zhuang An.
"Dunia kependekaran begitu berbahaya, di kekaisaran Tang ini terlalu banyak orang yang berkemampuan tinggi dan memiliki pusaka yang hebat. Kau harus bisa melindungi diri sendiri dengan cara menjadi lebih kuat ." Zhuang An memberi penjelasan dan sarannya.
"Baiklah! Jika memang begitu, aku tidak sungkan menerimanya." Ahirnya Huang Liang menerima pusaka batu bintang energi pemberian Zhuang An.
Zhuang An memeluk kakak seperguruannya, kemudian dia pamit kepada para pendekar sekte pedang langit, baik yang senior maupun yang masih muda-muda.
"An er, hati-hatilah..! Juga perhatikan beberapa wilayah yang kau lewati. Saat ini banyak masalah yang terjadi, dengan kemampuanmu mungkin kau akan banyak membantu..!." Fang Jin memberi saran yang cukup bermanfaat.
"Baik paman...!Terimakasih saran dan nasihatnya...!." Zhuang An segera meninggalkan rombongan yang masih berada di markas srigala pembunuh tersebut.
Pemuda rupawan itu melayang keudara dengan kecepatan tinggi, sesekali dia memperhatikan daerah-daerah yang dilaluinya.
*****
Sementara di istana Kekaisaran Tang, Sang Permaisuri sedang mengunjungi putra mahkota yang sedang sakit di kamarnya.
Sudah hampir 3 minggu bocah umur 4 tahun itu mengalami demam yang pasang surut, kadang sore tampak mulai sehat, tetapi paginya kembali sakit lagi.
Hal itu sangat menghawatirkan Permaisuri, karena perkembangan tubuh anak itu semakin lemah dan kurus.
" Bibi, bagaimana perkembangan putraku hari ini..?." Permaisuri menanyakan kesehatan putra mahkota kepada dayang senior yang mengepalai urusan putra mahkota.
" Maaf yang mulia, tadi malam sudah tampak sehat tetapi pagi ini panasnya kambuh lagi, menurut tabib yang memeriksa tadi pagi, semua itu karena dipengaruhi suhu udara yang terlalu dingin." Dayang senior menjelaskan apa saja yang terjadi dalam 24 jam terahir.
" Apa tidak ada penjelasan lain dari tabib, selain karena perubahan cuaca yang ekstrim ini..?." Permaisuri bertanya lebih detail tentang situasi putranya.
__ADS_1
" Tabib mengatakan putra mahkota tanpa disadari seperti sedang berpikir yang berlebihan, sehingga pencernaannya menjadi tidak stabil dan tubuhnya sebentar-sebentar menjadi panas." Dayang senior menyampaikan hasil analisis tabib yang memeriksa putra mahkota.
" Emm...jadi begitu. Ayo ikut masuk di kamarnya..!." Permaisuri berjalan ke ruang istirahat putra mahkota.
Setelah di dalam Permaisuri melihat putranya membuka mata ia terbangun dari tidurnya.
" Sudah bangun sayang..?." Permaisuri bertanya pelan.
Bocah itu hanya berkedip dan sedikit menoleh, tetapi tidak bersuara.
Melihat reaksi putranya, Permaisuri memandang kearah dayang senior.
" Kemarilah..!. Tempelkan telapak tanganmu di dada putra mahkota..! Permaisuri memberi instruksi pada dayang senior.
" Baik, Yang Mulia." Dayang senior segera melakukan perintah Permaisuri dengan menempelkan tangannya pada dada putra mahkota.
" Perhatikan dan rasakan perubahan detak jantungnya..!." Permaisuri memberi perintah.
" Siap..! Yang Mulia." Jawab dayang senior.
" Putraku, apa yang kau pikirkan..?. Katakanlah..! Permaisuri ingin menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya sebagai seorang ibu.
" Anakku..lihatlah ibunda sayang..!. Apakah kau ingin ditemani ibunda..?." Tanya Permaisuri.
Bocah imut itu hanya berkedip.
" Apakah kamu ingin selalu bersama Ayahanda Kaisar..?." Kata Permaisuri.
Sekali lagi bocah itu hanya diam dan kadang berkedip.
" Apakah kamu ingin bermain di luar istana..?." Tanya Permaisuri.
Lagi-lagi putra mahkota hanya diam saja.
" Kamu pernah dengar istana bunga..?." Kata Permaisuri.
Perlahan bocah itu menoleh dan memandang ibunya dengan penuh makna.
" Apakah kamu kangen dengan kakakmu..?." Tanya permaisuri sekali lagi.
__ADS_1
Bocah imut itu tiba-tiba nafasnya menjadi memburu, wajahnya berubah dari pucat menjadi agak memerah.
" Yang Mulia, jantung putra mahkota berdetak begitu cepat..! Dayang senior berseru gugup.
" Sayang... apakah kamu mengkhawatirkan kakakmu Fang Xiang ..?." Permaisuri bertanya lebih serius kearah dugaannya.
Selama beberapa minggu ini Putra Mahkota mendengar banyak kabar kekacauan.
Sementara Fang Xiang kakak kandung yang selalu menyayanginya sudah 1 tahun tidak muncul di istana kekaisaran, sudah pasti itu menjadi hal yang mengkhawatirkan.
Tanpa sadar Sang Pangeran berpikir terlalu jauh kesana.
Mendengar pertanyaan tersebut membuat putra mahkota bereaksi yang mengejutkan dengan nafas memburu dan jantung berdetak begitu cepat bocah itu tiba- tiba menangis dan bangun memeluk ibunya.
" Bundaa....kakaaak...kakaaak...." Suara tangisan putra mahkota terdengar pecah di kamarnya.
Permaisuri segera memeluk putranya yang imut tersebut.
Sebagai seorang ibu, permaisuri memahami perasaan putra yang disayanginya itu.
" Och sayang...kamu sangat mengkhawatirkan kakakmu ya..?. Jangan khawatir sayang..!Kakakmu tidak apa-apa besok siang sudah ada di sini kog." Permaisuri memberi kabar yang cukup menyenangkan untuk sang pangeran kecil.
Kaisar Fang Zhang yang sedang menuju ke kamar putra mahkota, menjadi kaget mendengar suara tangisan putranya.
Dia bergegas setengah berlari menuju ke kamar tersebut.
" Ada apa...ada apa...?!." Seru Kaisar Fang Zhang.
" Yang Mulia, putra mahkota terlalu mengkhawatirkan kakaknya." Wanita cantik itu menoleh dan memberi penjelasan.
Setelah mengetahui sebab sakitnya sang pangeran Permaisuri memberikan beberapa nasihat dan kabar yang baik tentang Fang Xiang.
Sang Pangeran kecil yang hampir dua minggu tidak mau bicara, kini sudah mulai berbicara lancar terutama pada ibundanya dan kadang dengan kaisar Fang Zhang atau dayang senior.
Sedikit demi sedikit bocah imut yang tampan itu mulai mau makan dengan cukup lahap.
Besoknya setelah siang dan matahari mulai bergeser dari tempat duduknya, Fang Xiang datang bersama 4 pendekar pengawalnya ya itu Wu Ming, Qiao Jin dan dua lainnya.
Setelah dikabari kondisi putra mahkota Fang Xiang tidak menunda lagi untuk menemui adik laki-laki kecil yang sangat dia sayangi tersebut.
__ADS_1