
Zhuang An Segera menduduk kan Wang Li, setelah selesai membantu penyerapan obat penyembuh ia juga memberikan tambahan energi murni.
Selanjutnya Zhuang An segera membetulkan posisi tulang lengan Wang Li yang patah dan segera membalutnya, dan ia juga segera berusaha untuk menyadarkannya.
"Wang Li! Wang Li! Sadarlah!" Suara Zhuang An menyadarkan Wang Li dari pingsan nya.
"Uhuk-uhuk"
Wang Li terbatuk dan mengeluarkan sisa darah kental dari mulutnya.
"Terima kasih! Saudara Zhuang!" Wang Li berusaha berbicara dengan mulut masih berlumur darah.
"Tenang saja! Sekarang minumlah eliksir ini, agar lengan mu segera pulih. Jangan lupa aturlah energimu! Aku akan membantu Liang gege dulu" Ucap Zhuang An.
Zhuang An segera melesat kearah Huang Liang yang masih tergeletak dan tak bergerak, pemuda itu segera memberikan pil penyembuh kepada kakak seperguruannya itu, lalu menduduk kan nya.
Setelah membantu mencerna dengan energi murni Zhuang An juga memberikan tambahan energi melalui punggung Huang Liang.
"Ehuk-ehuk"
Suara batuk Huang Liang menandai kesadarannya yang telah pulih.
"Liang gege! Bersemedilah! Aku akan kedalam gedung sebentar" Ucap Zhuang An.
Setelah menuntaskan urusan tawanan dan membekali bekas tawanan tersebut dengan beberapa harta dan juga koin dari gedung tersebut, keempat pendekar muda Sekte Pedang Langit itu memutuskan untuk kembali ke sekte.
*
*
*
Dengan teknik teleportasi mereka berempat telah sampai di depan gerbang Sekte Pedang Langit.
"Kita langsung menghadap Patriark Zhuang Shing!" Ucap Han Fang tegas.
"Baiklah! Kami setuju!" Jawab Huang Liang, Zhuang An dan Wang Li.
Sesampainya di ruang pendapa Patriark Zhuang Shing, Zhuang An disambut oleh Patriark Zhuang Shing dengan pelukan hangat.
"An' er! Paman kangen sekali kepada mu! Kau tampak menjadi pemuda yang berbeda sekarang" Patriark Zhuang Shing merenggang kan pelukannya.
"Jia'er! Kemarilah ini adik sepupu mu! Kalian belum pernah bertemu" Patriark Zhuang Shing, memanggil putra pertama nya Zhuang Jia.
Zhuang An, cukup terkejut melihat pemuda tampan yang lumayan mirip dengan dirinya itu.
Ya Zhuang Jia putra Patriark Zhuang Shing, yang juga telah selesai dari latihan tertutupnya selama sepuluh tahun.
Cukup lama Zhuang An memperhatikan Zhuang Jia, mulai dari wajah, postur hingga ranah kependekaran nya.
Zhuang An, merasa benar-benar dibuat kaget ketika melihat tingkatan pendekar Zhuang Jia.
__ADS_1
Puncak gerbang delapan Pendekar Langit. Bukan lagi pendekar bumi.
Itu pertama kalinya, Zhuang An bertemu dengan pendekar pria dengan tingkat setinggi ini, di Kekaisaran Tang.
Bahkan! Patriark Zhuang Shing saat ini, baru mencapai Pendekar bumi gerbang delapan puncak.
Walaupun Zhuang Jia, belum mencapai Pendekar tingkat dewa seperti dirinya saat ini, namun dengan mengandalkan kitab pedang langit, prestasi ini sungguh luar biasa.
Zhuang An dan Zhuang Jia saling berpelukan, layaknya dua saudara yang lama tak berjumpa.
"An'er! Ikut aku! " Zhuang Jia mengajak Zhuang An ke taman belakang, di sana ada Zhuang Li Hua yang langsung berlari memeluk Zhuang An.
"An gege! Aku kangen sekali!" Suara gadis kecil begitu nyaring, Zhuang Li Hua memeluk Zhuang An dengan erat.
"Kau sudah besar, Hua'er! Ucap Zhuang An sambil mengelus ujung kepala, gadis kecil sebelas tahun tersebut.
"Tentu saja!Aku juga sudah menguasai jurus pedang angin sekarang" Ucap Zhuang Li Hua dengan bangga dan gembira.
"Och ya! Hebat dong!" Zhuang An memuji Si gadis kecil dengan tulus.
Hal itu, membuat Zhuang Li Hua tambah bahagia.
Menyaksikan kegembiraan adiknya Zhuang Jia hanya tersenyum.
"Hua'er! An gege mu, mungkin belum makan, apa kamu ga ingin menunjukkan bakat memasak mu?" Ujar Zhuang Jia sambil tersenyum.
"Och ya! An gege! Tunggu sebentar ya!" Zhuang Li Hua langsung bergegas ke dapur utama.
"Emm!" Jawab Zhuang An singkat, sambil tersenyum.
"Jia gege! Hua'er ini begitu energik dan lucu" Ucap Zhuang An.
"Benar! Dia pandai membuat suasana menjadi lebih hidup dan menyenangkan" Jawab Zhuang Jia.
Dua pemuda tampan itu tersenyum membicarakan Zhuang Li Hua, yang memiliki perangai indah menurut mereka.
*
*
*
*
*
Sementara di ruang pertemuan, Han Fang melaporkan beberapa kejadian dan situasi yang terjadi di perjalanan nya.
"Jadi, orang-orang dari negeri Tibet juga ikut mengacau di masyarakat kita?" Patriark Zhuang Shing, ingin menegaskan apa yang didengarnya
"Itu benar! Namun, sejauh yang kami tahu mereka tidak terlalu merepotkan, justru orang-orang dari negeri Jie Xia yang sangat mengkhawatirkan" Ucap Han Fang
__ADS_1
"Patriark Zhuang! Apa yang dikatakan Senior Han, memang benar, karena kemampuan orang-orang Jie Xia sangat tinggi, ditambah kebrutalan tindakan mereka sangat mengerikan" Huang Liang menambahkan.
Mendengar penjelasan Han Fang, dan Huang Liang Patriark Zhuang Shing menarik nafas dalam.
Ia sudah beberapa kali menerawang dengan mantra dewa dan hasilnya kurang lebih sama dengan laporan Han Fang, Huang Liang dan Wang Li.
"Lalu, sekarang di mana Tetua Fang Jin dan teamnya berada?" Tanya Patriark Zhuang Shing.
"Tetua Fang Jin, membagi empat kelompok selain kami, kemudian menghancurkan beberapa markas yang menjadi sarang pengacau, mungkin beberapa hari lagi sudah pulang ke sekte" Han Fang memberikan penjelasan.
*
*
*
*
*
"Makanan datang!" Teriak Zhuang Li Hua dengan suara indah, disertai wajah manisnya.
"Hemm...!Aromanya lezat sekali" Ucap Zhuang An dan Zhuang Jia menyambut adik kecil mereka.
"Tentu saja! Masakan Koki berbakat Zhuang Li Hua!" Teriak Zhuang Li Hua dengan ekspresi gembira dan bangga.
"Ayo! Silahkan dinikmati! Aku masak besar kali ini" Ucap Zhuang Li Hua.
Dari arah ruang depan Patriark Zhuang Shing, diikuti Han Fang, Huang Liang dan Wang Li datang untuk bergabung.
"Ayahanda! Mari-mari Hua'er masak besar kali ini, ada kambing panggang, sop buntut, gulai kijang dan angsa cincang!" Ucap Zhuang Li Hua, mempromosikan masakannya.
"Hua'er yang masak? Di mana ibunda mu?" Tanya Patriark Zhuang Shing.
"Ibunda, sedang melatih murid elit di asrama putri" Jawab Zhuang Li Hua dengan cepat, sambil menikmati gulai kijang nya.
"Emm...! Ya sudah mari kita nikmati!" Patriark Zhuang Shing, mempersilahkan semuanya.
Han Fang dan dua teman nya segera menikmati hidangan, mereka sudah hampir dua hari tidak makan, jadi mendapat rejeki yang besar tentu harus disyukuri dan dinikmati.
Zhuang Li Hua, yang sudah bertahun-tahun tak bertemu Zhuang An menjadi sangat kangen, jadi dia merefleksikan perasaan nya dengan menyuapi kakak sepupu nya itu.
Zhuang An hanya menerima perlakuan gadis kecil itu dengan tersenyum, dia memaklumi gadis kecil yang dulu selalu ada dalam gendongan nya itu, pasti sedang kangen berat.
"An'er! Kelihatannya Hua' er terlalu kangen pada mu" Patriark Zhuang Shing, berkomentar sambil tersenyum melihat putri kecilnya itu.
"Tak masalah Paman! Dia memang selalu imut dan lucu!" Ujar Zhuang An sambil mengelus pucuk kepala Si gadis kecil.
.
.
__ADS_1
.
.