
" Hahaa....Zhuang Shing istilah pensiun dalam dunia kependekaran itu hanyalah karena tidak pernah muncul di permukaan, jadi jangan kaget kalau tiba-tiba ada yang muncul lagi setelah lama tidak terdengar kabarnya." Zhao Han tertawa.
Zhuang Shing tidak menanggapi, ia justru menaikkan tempo permainan jurus tangan kosong dengan tenaga dalam lebih tinggi lagi, namun Zhao Han merespon dengan senang hati, bagi dirinya adu kesaktian ini merupakan hiburan yang menyenangkan dan permainan tersendiri.
Perlahan pertarungan menjadi semakin keras, walaupun belum menggunakan senjata tetapi dampak kerusakannya begitu besar tidak ada seorangpun yang berani mendekat.
" Zhuang Shing...hadapi apiku..." Zhao Han menggunakan Jurus Nafas Naga Api yang menyembur dari mulut dan tangannya.
Zhuang Shing mengimbangi dengan tehnik Api jurus Pedang Langit...
" ....BUUUMM ..."
Benturan dua kekuatan berapi yang besar menyebabkan hawa panas yang menyengat, semua anggota sekte burung hantu dan tebing tinggi semakin menjauh.
" Aku sudah lama tidak bertemu dengan orang yang mampu menandingi nafas naga apiku, ini sungguh menyenangkan." Zhao Han tertawa riang.
" Senior, kemampuanmu luar biasa." Zhuang Shing memuji.
" Hahahaa.." Zhao Han tambah tertawa.
Sementara itu, Yuan Fan ahirnya berhadapan dengan Hua Xie ( Hua Si ) ketua sekte burung hantu.
" Kembalikan kitab pusaka sekte kami..! ." Yuan Fan berbicara keras pada ketua sekte burung hantu, Hua Xie.
" Kau ingin mengambil Kitab Pedang Pelukis Darah ?, lakukanlah kalau kau memang mampu." Hua Xie memberikan tantangan pada Yuan Fan.
" Kau benar-benar memaksaku." Yuan Fan mencabut pedangnya dan menyerang Hua Xie dengan sengit.
Serangan Yuan Fan begitu berbahaya dan berenergi, tetapi Hua Xie sudah siap sejak awal sehingga mudah untuk menghindari.
__ADS_1
Yuan Fan tidak berhenti di situ, ia menyalurkan tenaga dalam lebih banyak dan menggunakan jurus yang lebih tinggi, tehnik pedang melukis dalam air, pedangnya terus berputar menimbulkan gelombang angin ujung pedang tersebut seperti sebuah kuas yang mencoba menggores, melukis tubuh musuh dengan beberapa sayatan.
Hua Xie terlambat menghindar, ia terlalu percaya diri sampai meremehkan lawan....
" Whuut...Whuut..."
" Chrass...chrass."
Dada Hua Xie tergores luka walaupun tidak terlalu dalam, tetapi beberapa sayatan telah menembus bajunya hingga robek dengan warna merah. Dia menyengir menahan perih, darahnya keluar merembes membasahi jubahnya.
" Huch...kurang ajar kau..". Hua Xie betul-betul marah, wajahnya nampak meradang dan memerah, ia menyalurkan tenaga dalamnya untuk mengurangi rasa perih.
"" Itu baru permulaan, jika kau tak segera mengembalikan kitab kami maka, aku tidak sungkan untuk berbuat lebih kejam." Yuan Fan mengancam.
" Kau tidak akan pernah mendapatkan kitab itu, karena aku tidak sudi mengembalikannya kepadamu." Hua Xie mengucapkan kata-kata dengan perasaan geram.
Setelah berhasil mengurangi rasa sakitnya Hua Xie menyerang Yuan Fan dengan garang, ia bermaksut membalas luka-lukanya dengan tehnik yang sama pedang melukis dalam air.
Pertarungan pun terus berlanjut dengan sengitnya, keduanya sama-sama menggunakan jurus yang sejenis Jurus Pedang Pelukis Darah.
Setelah sekian lama bertarung nampak kemampuan keduanya tidak terlalu jauh berbeda, tetapi setelah melewati ratusan jurus mulai kelihatan Yuan Fan lebih menguasai tehnik Pedang Pelukis Darah.
Sementara di sisi lain pertarungan Zhuang An dengan Zhao Chong juga tidak kalah sengitnya, bocah itu sudah menggunakan banyak trik dan beberapa tehnik yang berbeda, tetapi lawannya kali ini memang benar-benar berkemampuan luar biasa.
Selain tenaga dalamnya yang tinggi ia juga memiliki tehnik jurus yang mampu mengimbangi semua jurus-jurusnya, ditambah dengan pengalaman yang begitu banyak membuatnya mudah mematahkan semua serangan Zhuang An.
" Bocah, kau ini masih belia tapi sudah menguasai banyak jurus hebat dan tenaga dalammu sangat tinggi, aku sungguh terkesan padamu." Zhao Chong mengomentari kemampuan Zhuang An.
" Senior walaupun aku punya banyak jurus tapi kenyataannya aku belum bisa mengalahkanmu." Zhuang An berbicara sambil terus menganalisa kemampuan lawannya.
__ADS_1
Zhuang An merasa Aura lawannya ini tidaklah sepekat para pembunuh aliran hitam, hal ini membuat ia berpikir Zhao Chong mungkin saja orang yang baik, tetapi mengapa dia membela sekte burung hantu.
" Senior, mengapa engkau membela sekte burung hantu ?." Zhuang An bertanya dengan wajah penasaran.
" Tentu, mereka membayarku, dan yang kedua, aku tidak ingin kalian membunuh dan menghancurkan sekte tanpa sebab yang kuat." Zhao Chong menjelaskan.
Zhuang An ingin menjawab tetapi sesepuh itu sudah bergerak menyerangnya dengan kibasan sayap naga, kuatnya serangan tersebut membuat Zhuang An terdorong kebelakang sampai beberapa meter.
Zhuang An sedikit jengkel, kali ini dia ingin menggunakan tehnik angin beliung, pemuda tanggung itu mengalirkan energj murni dalam jumlah banyak kemudian mencipta angin ****** beliung atau disebut juga angin puyuh dan kemudian menyerang Zhao Chong...
" Whuuuuus."
Angin beliung berputar menggilas apa saja yang ada di depannya. Namun Zhao Chong dengan ringan dan cepat sudah berpindah di belakang Zhuang An.
Bocah itu menarik jurusnya dan mengarahkan pada Zhao Chong, sekali lagi pendekar janggut putih itu menghilang dari pandangan dan sudah berada di tempat lain.
Zhuang An menjadi kesal dan bertambah jengkel ia mengerahkan energi lebih tinggi serta lebih cepat, angin beliung menghantam, menggulung kearah Zhao Chong, namun sesepuh itu kembali menghilang secepat kilat menyambar bocah itu dari samping dengan kepakan dua sayap naga.
Zhuang An terkejut dan dia terlempar 10 meter kemudian, namun bocah itu segera berdiri mengatur nafas dan memperbaiki kuda-kudanya.
" Bocah, berapa umurmu? sepertinya kau jenius bela diri ya.?.Zhao Chong melempar sebuah pertanyaan.
" Aku masih muda, tapi itu tidak penting bagiku, yang perlu kau ketahui kami menyerang sekte burung hantu karena alasan yang kuat, mereka mencuri kitab pusaka sekte tebing tinggi, melakukan perampokan, dan menjual anak-anak sebagai budak." Zhuang An berusaha menjelaskan duduk perkaranya.
Mendengar penjelasan Zhuang An pendekar sepuh itu terdiam, ia seperti mencerna dan berusaha berpikir jernih.
" Jika apa yang kau katakan itu benar, aku tak akan menghalangi langkah-langkahmu, tetapi bagaimana caramu membuktikannya.?". Zhao Chong kembali melempar sebuah pertanyaan yang lain.
" Pertama tanyakan pada dua orang ketua sekte yang sedang bertarung itu, kedua mari bersama kita geledah ruang tahanan sekte burung hantu, itu dua cara untuk membuktikannya." Jawab Zhuang An.
__ADS_1
Sementara Yang Chen masih bertarung seru dengan pendekar satria tingkat tujuh berwajah brewok brangasan, keduanya benar-benar tampak saling ingin membunuh lawannya.
Yang Chen masih merasa gregetan dengan perbuatan pendekar brewok ini karena secara licik hampir membunuh Yuan Lian.