PENDEKAR DEWA LANGIT

PENDEKAR DEWA LANGIT
42. Pertarungan Sengit II


__ADS_3

Yang Chen menggunakan berbagai tehnik untuk dapat melukai lawannya, dia benar-benar tidak ingin memberi ampun kepada Pendekar keji brangasan itu.


Pedangnya telah berhasil menusuk pundak lawan cukup dalam, tetapi sebaliknya lengan kirinya juga terkena goresan tombak walaupun tidak terlalu dalam tetapi terasa begitu perih, masalahnya senjata pria brewok ini mengandung racun yang jahat, sehingga tangan kirinya terasa kebas mati rasa.


" Kau memang hebat anak muda, tetapi kau sungguh meremehkanku, tangan kirimu sebentar lagi menjadi kebas mati rasa dan kemudian tidak bisa digerakkan." Pria itu berbicara sambil berusaha menghentikan pendarahan di pundaknya.


Setelah merasakan tangan dan tubuh sebelah kirinya terasa mati dan mulai sulit digerakkan tak urung Yang Chen mulai mencerna dan memperhatikan kata-kata musuhnya.


Sebenarnya ia sudah mencoba menghentikan pengaruh racun itu kearah jantung dengan tenaga dalam, akan tetapi reaksinya masih mengkhawatirkan, jadi agar semua tidak terlambat ia segera mengambil sebuah Butir Mutiara Energi dari sakunya dan kemudian menelannya sekaligus.


Tubuh Yang Chen bereaksi hawa hangat mulai dia rasakan menjalar keseluruh tubuhnya tangan dan tubuh bagian kiri terasa panas karena menjadi medan pertarungan racun dan penawarnya.


Yang Chen berkeringat dingin tubuhnya bergetar.


' Ach racun ini kuat sekali, untung aku segera bertindak tepat jika tidak kedepan bisa membahayakan organ tubuhku.' Yang Chen bergumam dengan dirinya sendiri.


Ketika sudah selesai mengatasi pendarahannya pendekar satria tingkat tujuh itu segera menyalurkan tenaga dalam yang tinggi dan menyerang Yang Chen dengan serangan jarak jauh.


Sebuah perubahan energi berbentuk api menyambar Yang Chen, pemuda tampan itu tak sempat menghindar, ia menyambutnya dengan tehnik pedang angin topan, api besar itu tidak buyar tetapi terlempar melesat ke arah bangunan dan...


" JLAARR..".


Bangunan itu meledak terbakar terkena Tehnik Tombak Api, Yang Chen segera bersiap untuk membalas serangan itu dengan jurus badai Angin Topan, seluruh pedangnya mengeluarkan cahaya putih menyilaukan kemudian perlahan muncul angin besar yang begitu kuat melesat memburu pendekar brangasan tersebut...


" WHUUSS....."

__ADS_1


Pria setengah baya itu menghalau dengan jurus Api Tombak Pusakanya dan mengerahkan tenaga dalam yang tinggi.


" BLUUMM"


Ledakan yang diakibatkan dua kekuatan besar menyebabkan semua benda di sekitar tempat itu berantakan, ada yang terbakar hangus ada yang melenting ketempat lain. Namun, pria setengah baya itu masih mampu bertahan di tengah kepungan angin tersebut.


Yang Chen merubah langkahnya, dia menyalurkan energi murni dalam jumlah yang cukup banyak, pedang pusakanya bersinar lebih terang, kemudian dengan tehnik perubahan energi dia menyerang menggunakan tehnik angin beliung atau angin puyuh.


Sebenarnya jangkauan dan diemeter jurus angin beliung lebih kecil dari pada tehnik badai angin topan, tetapi karena titik pusarannya lebih fokus membuatnya lebih padat dan jauh lebih kuat serta lebih cepat.


Suara gemuruh pusaran angin muncul bersamaan angin beliung yang menggulung kearah pendekar brangasan tersebut.


Pria itu awalnya menduga bahwa serangan ini sama seperti yang sebelumnya, jadi dia bermaksud mengadu dan bertahan dengan kekuatan jurus tombak apinya, tetapi setelah melihat gulungan angin yang membesar dan lebih padat,lebih cepat bersama suara gemuruh membuat dia berubah pikiran dan bermaksud menghindarinya.


Namun pendekar tersebut terlambat tubuhnya terbawa arus pusaran angin, ia berusaha bertahan dengan tenaga dalamnya, akan tetapi itu menjadi sia-sia karena sisa energinya sudah tidak sebanyak yang tadi.


Tubuh pendekar brewok terjatuh seperti sepotong kayu bakar dengan nafas megap-megap, Yang Chen mendekatinya.


" Kau menggunakan racun yang keji dan juga hampir saja membunuh calon istriku, kau tidak tahu betapa sulitnya mendapatkan istri cantik yang baik hati." Yang Chen mengarahkan pedangya tepat di jantung pria itu.


" JREEB."


Ahirnya dengan sekali tusukan Yang Chen mengahiri nyawa pria kejam berwajah brangasan tersebut.


Sementara itu Zhuang An dan Zhao Chong masih terus bertarung dengan sengitnya mereka beradu kecepatan, kekuatan dan kehebatan tehnik yang dimiliki.

__ADS_1


" Bocah, jurus-jurusmu memang luar biasa, tetapi dalam hal kecepatan kau jelas masih kalah denganku." Zhao Chong terkekeh-kekeh.


Zhuang An lama-lama merasa kehabisan cara untuk mengalahkan pria berjanggut putih di depannya, karena selain hebat dalam tehnik, kecepatan dan tenaga dalam pengalaman bertarungnya jauh mengungguli dirinya.


" Kali ini aku akan menguji kemampuanmu menghadapi tehnik tingkat tinggi, Nafas Api Naga." Zhao Chong menyalurkan tenaga dalam yang hebat.


Dari mulut dan tangannya mengeluarkan cahaya berkilau lalu keluar api yang menyala menyembur kearah Zhuang An....


"WHUUUSSSS..."


Api besar itu memburu tubuh Zhuang An, tetapi anak itu sudah siap dengan jurus-jurusnya.


" Inilah kesempatanku." Zhuang An menyalurkan tenaga dalam yang begitu banyak dan menggunakan tehnik angin beliung.


Dua kekuatan besar meluncur..


" WHUUUSSS.....BBLAARR."


Benturan Nafas Api Naga dan tehnik Angin Zhuang An berbenturan dengan dasyatnya.


Tubuh Zhuang An terdorong kebelakang beberapa meter, sedangkan Zhao Chong terlempar kebelakang lebih jauh lagi namun masih dengan posisi berdiri.


Pria sepuh itu batuk-batuk kecil lalu tertawa terkekeh-kekeh lagi.


Tangan Zhuang An terasa seperti terbakar bahkan dia menjatuhkan pedangnya karena kedua tangannya nyeri panas dan sakit.

__ADS_1


" Aku memberimu kesempatan beradu tenaga dalam dan tehnik jurus, aku harus mengakui kau lebih kuat, tetapi untuk mengalahkan aku itu lain persoalan." Zhao Chong masih terlihat riang dengan berkacak pinggang, bagi dirinya ini adalah permainan yang menyenangkan.


__ADS_2