
Setelah membantu kemajuan para Tetua dan ikut menata Sekte Merak Emas.
Zhuang An, meninggalkan pulau Hainan menuju Sekte Pedang Langit.
Namun, di tengah perjalanan ia tiba-tiba memiliki firasat buruk.
'Ada apa ini? Mengapa hati ku merasa tidak tenang' Zhuang An, bertanya-tanya dalam hati.
"Sebaiknya, aku mengaktifkan Tekhnik yang aku miliki" Ucap Zhuang An, pada dirinya sendiri.
Akhirnya, Zhuang An mengaktifkan Mantra Dewa dan Sinar Mata Dewa, dalam penglihatannya ia melihat Fang Dishi dan Fang Xiang dalam bahaya.
Mereka keluar dari kota Xian, menuju kota Madian di bayang-bayangi oleh musuh yang sangat banyak.
Namun, posisinya cukup jauh, Zhuang An segera melesat terbang menuju lokasi tersebut.
*
*
*
Sementara itu, Fang Xiang yang didampingi Fang Dishi dan empat Pendekar yang selalu mengawalnya, telah berada di perbatasan antara Kota Xian dengan Kota Madian.
"Xiang'er! Hatiku merasa gelisah, sebaiknya dipercepat keretanya!" Ucap Fang Dishi.
"Iya! Perasaan ku, juga tidak enak, seperti ada bahaya!" Jawab Fang Xiang.
"Paman Qiao! Keretanya, segera dipercepat saja Paman!" Teriak Fang Xiang.
"Baik! Nona!" Qiao Jin, segera menggebrak kudanya.
Sementara, Wu Ming yang sedang mengendalikan kereta di belakang mereka, juga ikut menggebrak kudanya sekencang mungkin.
Dua kereta kuda meluncur dengan sangat cepat, hingga melewati beberapa desa.
Namun, ketika mereka melewati pinggiran desa yang sepi, mereka dihentikan oleh beberapa Pendekar berjubah hitam. Dua kuda yang menarik kereta meringkik keras saking kagetnya.
"Siapa kau?" Qiao Jin, berteriak keras.
Namun, tidak ada jawaban, mereka justru melempar jarum-jarum beracun, kearah Qiao Jin.
Namun, Qiao Jin berhasil menghindarinya, akan tetapi tidak dengan kuda yang dikendalikannya.
Dua ekor kuda tersebut terkena jarum beracun sehingga tewas di tempat.
Bersama dengan hal tersebut, dua bayangan turun dari langit
"Hiaat"
"Hiaat"
Dengan pedang yang terhunus keatas satu bayangan membelah kereta yang ditempati Fang Xiang dan Fang Dishi.
Dan satu bayangan lagi menghancurkan kereta kuda yang ditempati Wu Ming, Zhu Fai dan Zhao Sheng.
Dua gadis tersebut melesat berhamburan keluar.
"Xiang'er! Kau tak apa-apa?" Fang Dishi, mengkhawatirkan Fang Xiang.
"Tidak apa-apa! Cici!" Ucap Fang Xiang cepat.
"Serang!" Suara Pendekar berjubah hitam memberi komando.
"Lindungi! Tuan Putri!" Wu Ming berteriak keras.
"Baik! Gege! Qiao Jin segera bergerak melindungi Fang Xiang dan Fang Dishi.
"Nona! Hati-hati!" Zhu Fei, memperingatkan Fang Xiang dari serangan jarum beracun.
Namun, serangan yang bertubi-tubi membuat mereka berempat kualahan.
Akhirnya, Fang Dishi mencabut pedangnya.
Saat ini Fang Dishi, telah mencapai ranah Pendekar Satria gerbang kedua.
Sehingga kepercayaan dirinya sangat tinggi.
Dengan kecepatannya Fang Dishi bergerak melibas dua pendekar mahir sekaligus.
__ADS_1
" Hiiaat"
"Slass"
""Slass"
Dengan cepat dua orang pendekar tewas terkena pedang nya.
Akan tetapi, musuh sangat banyak jumlahnya terus berdatangan yang menyerangnya.
Sementara empat pendekar pengawal Fang Xiang, juga menghadapi musuh yang tidak sedikit, walaupun tidak terlalu kuat.
Melihat hal ini, mau tak mau, Fang Xiang juga ikut bertarung mempertahankan diri.
"Menyerah lah! Percuma kau melawan" Ujar Pendekar Satria, yang mengeroyok Fang Xiang.
"Huuff" Fang Xiang, mendengus.
Setelah pertarungan telah mencapai setengah dupa lamanya, mereka sudah mulai terdesak dengan jumlah lawan yang sangat banyak.
Fang Dishi menghadapi lima pendekar, dua di antaranya Pendekar mumpuni dan sisanya pendekar mahir.
"Sial! Musuh terlalu banyak" Fang Dishi, mulai emosi.
Sementara Fang Xiang, menghadapi dua pendekar Satria dan tiga pendekar mumpuni. Sungguh kenyataan yang menyakitkan.
Melihat, adik sepupu nya dikeroyok banyak musuh, Fang Dishi betul-betul marah.
Dia mengeluarkan tenaga murni memancar melalui pedangnya, lalu dengan tekhnik pusaran angin topan dia mengamuk.
"Hiaaaaat"
"Huuuss"
"Blaaar"
Lima musuh Fang Dishi, melesat dengan keras dan tewas seketika dihantam angin topan.
Nafas Fang Dishi sendiri, terasa berat karena menguras energi murninya.
Namun, ia tidak peduli. Gadis itu langsung menghambur kearah Fang Xiang.
Sedangkan dua pendekar mumpuni amblas tewas, terkena badai angin ciptaan gadis tersebut.
"Xiang'er! Bantu Paman Wu Ming dan segera tinggalkan tempat ini! Aku akan menahan mereka!" Ucap Fang Dishi kepada Fang Xiang.
"Tapi, Cici!" Fang Xiang, masih ragu.
"Cepaaat! Jangan, tapi-tapi!" Fang Dishi, berteriak keras.
Fang Xiang , segera bergerak cepat. Dengan jurus perisai bunga matahari, dia menghunuskan pedangnya kearah musuh-musuh Wu Ming dan tiga rekannya.
Dalam beberapa waktu saja mereka sudah tergeletak bersimbah darah.
"Paman! Mari tinggalkan tempat ini, musuh terlalu banyak tak henti-hentinya berdatangan" Ujar Fang Xiang.
"Trus bagaimana dengan Nona Dishi?" Wu Ming, agak ragu.
"Cici akan menahan mereka sementara, nanti akan segera menyusul" Fang Xiang, berkata dengan suara berat.
Mereka segera meninggalkan tempat itu, saat Fang Xiang menoleh kearah Fang Dishi, kakak sepupunya itu malah berteriak keras.
"Cepaat! Pergiiii!" Teriakan Fang Dishi, menggema.
*
*
*
Sementara Fang Dishi, bertarung habis-habisan dia mengamuk mengandalkan jurus elemen pedang angin.
Puluhan pendekar yang mengeroyoknya tewas, tinggal dua lawan kuat yang masih bertahan.
Namun, demikian sehenarnya Fang Dishi juga sudah kelelahan dan energinya menipis.
"Kalian akan mati, setelah ini!" Fang Dishi, menyeringai.
Menghadapi dua pendekar satria aliran hitam, dia masih sangat percaya diri, walaupun tingkatan keduanya sama dengan tingkatan dirinya.
__ADS_1
Namun, tekhnik elemen pedang angin memang luar biasa.
Hanya saja, tenaga dalam dan energi murni yang dimiliki nya, masih terbatas.
Melihat seringai Fang Dishi, kedua musuhnya menjadi panik, keduanya mengeluarkan jarum-jarum beracun nya.
Dan dengan sekuat nya, melemparkan ratusan jarum beracun kearah Fang Dishi.
"Hiaat"
"Tring...tring...tring..!"
Fang Dishi menangkis semua jarum beracun tersebut, namun ternyata ada satu yang mengenai tangannya.
Gadis itu, menjadi lebih murka dia mengalirkan energi kurni begitu banyak kemudian dia berteriak..
"Pusaran angin topan" Teriakan Fang Dishi, dibarengi muncul angin yang menderu dari pedangnya.
Dua pendekar satria aliran hitam itu, terhempas menabrak batu dan pohon lalu memuntah kan darah dan tewas.
Ketika Fang Dishi, mulai lemah tubuhnya bergetar karena racun mulai bekerja.
"Ak...Aku! Sudah sampai batas ku" Dengan gemetar, tubuh Fang Dishi roboh ketanah.
Muncul Team kedua dari Pendekar Aliran Hitam, mereka melihat Fang Dishi roboh dan tak sadarkan diri ataukah sudah mati, mereka tak peduli.
Melihat hal itu, mereka segera meninggalkan nya dan mengejar Fang Xiang.
"Kita tinggalkan saja mayat tak berguna itu! Kita kejar, target utama!" Pendekar Satria aliran hitam, memberi instruksi pada anak buahnya.
Setelah kepergian Team kedua pendekar aliran hitam, tidak lama muncul bayangan putih dari langit turun perlahan.
"Och! Senior Fang! " Zhuang An, terkejut melihat mayat Fang Dishi tergeletak di tanah.
Ada getaran, kesedihan yang mendalam merasuk di hatinya.
Zhuang An, terdiam membeku. Gadis baik hati, yang selama ini menemani saat berlatih di Sekte Pedang Langit, kini terbujur kaku biru kehitaman. Nafas dan detak jantungnya benar-benar berhenti.
Tanpa terasa mata Zhuang An, memanas dan meneteskan air mata..
.
.
.
"Cici Dishi! Mengapa harus seperti ini?!" Air mata Zhuang An betul-betul menetes, menahan kesedihan yang mendalam.
Zhuang An, menyentuh nadi Fang Dishi. Tetapi nafas dan detak jantungnya tetap berhenti.
Zhuang An menarik nafas kesedihan.
"Apa sudah tidak ada kemungkinan?" Zhuang An bertanya pada dirinya
Tetapi, Zhuang An tidak ingin menyerah. Jika masih ada harapan sekecil apa pun dia akan berusaha.
Tangannya menyentuh bagian kening Fang Dishi, ada sisa hangat di kening tersebut.
Zhuang An mentransfer energi kehidupan dengan tangan kirinya memancar sinar putih jernih seperti berlian.
Sementara tangan kanan mengeluarkan sinar kuning keemasan yang menyerap racun di tubuh gadis yang selalu baik kepadanya itu.
Lama ia berusaha, sampai tangannya gemetar. Kesedihan justru bertambah karena tidak ada hasil.
Setelah beberapa waktu belum ada tanda-tanda.
Tetapi hawa hangat di kening adalah salah satu tanda.
Jadi, Zhuang An masih ingin berusaha. Oleh sebab itu ia mengirim energi murni, langsung kejantungnya untuk membantu bergerak.
Dan setelah beberapa saat betul-betul mulai nyata tanda itu, tubuh Fang Dishi mulai hangat menyeluruh, kemudian detak jantun nya walaupun samar tetapi sudah mulai nyata.
"Uhuk...uhuk..." Tiba-tiba suara batuk, muncul dari mulut gadis cantik itu.
Lalu kelopak mata mulai terbuka.
.
.
__ADS_1
.