PENDEKAR DEWA LANGIT

PENDEKAR DEWA LANGIT
153. Tanding Bela Diri


__ADS_3

Fang Xiang dan Fang Dishi, bahkan! Terlihat sangat bahagia.


"Cici! An'gege, hebat!" Ucap Fang Xiang begitu, bersemangat.


"Gege mu, memang hebat!' Respon Fang Dishi dengan ceria.


"Baiklah! Ini, adalah hasil yang bagus. Kita bisa menganggap nya, sebagai hasil yang impas. Sekarang, kita lanjutkan dengan permainan Papan Catur!" Teriak Patriark Zhao Qin.


Patriark Zhao Qin, mengeluarkan papan catur yang begitu besar, dengan ukuran hingga tiga tombak.


Beberapa orang segera mempersiapkan tempat meja dan kursi, serta papan catur tersebut, sebagai tempat arena pertandingan.


Setelah ditata dengan rapi, Patriark Zhao Qin ,meminta satu Tetua dari Sekte Istana Bunga. Dan satu Tetua dari Sekte Srigala Kembar, sebagai Juru Pengadil alias Juri.


Kemudian Patriark Zhao Qin, berkata:


"Sekarang, kalian berdua, yang memimpin permainan!" Seru Patriark Zhao Qin.


"Baiklah! Sekarang Permainan Bidak Catur, antara Tuan Muda Zhao Yan, melawan Tuan Muda Zhuang An, dimulai....!" Suara lantang, dua Tetua menggema di Aula tersebut.


"Akan ku beri kau tiga poin! Silahkan duluan!" Ucap Zhao Yan, dengan sombong nya.


"Tidak perlu! Aku, akan bermain adil" Jawab Zhuang An, dengan santai nya.


"Baguslah! Kalau itu mau mu, aku juga yang akan bergerak duluan" Ucap Zhao Yan.


Permainan pun segera dimulai. Zhao Yan memajukan bidak nya, lebih dulu.


Zhuang An pun dengan segera, juga memajukan bidak nya.


Melihat langkah Zhuang An, yang tampak sederhana membuat Zhao Yan, tertawa-tawa meremehkan.


Namun, Zhuang An tak ambil peduli, masih dengan tenang Pendekar, yang masih tampak lebih muda dari Zhao Yan itu, terus melanjutkan gaya bermain nya, yang terkesan sederhana.


Dan Zhao Yan, masih dengan gaya PDOD (Percaya Diri Over Dosis), tertawa-tawa senang.


Hingga sampai 25 menit kemudian, Putra Patriark Zhao Qin itu, masih tertawa-tawa seperti semula.


Namun, ketika memasuki menit ke 30, pria muda yang terkenal Jenius nomer satu di Sekte Srigala Kembar itu, berhenti tertawa.


Ia tampak mulai serius, dan sangat serius, kening nya mulai menampak kan kerutan-kerutan.


Dan ketika sampai menit ke 45 lima. Zhao Yan benar-benar terdiam begitu lama.


Tangan kanan nya masih mengangkat satu bidak catur, hingga lebih dari lima menit, ia tak bisa meletakkan bidak catur itu.


Hingga akhirnya, ia berkata:


"Och! Aku kalah. Aku melakukan kesalahan" Ucap nya, dengan penuh penyesalan. Kedua tangan nya, mengepal dengan erat menahan emosi.


"Hadirin semuanya, kita melihat bersama sesi pertama ini, Permainan dimenangkan oleh Tuan Muda Zhuang An!" Teriak kedua Juru Pengadil.


Papan catur segera dibersihkan serta disusun kembali. Dan permainan yang kedua pun segera dimulai.


Namun, kali ini Tuan Muda Zhao Yan tampak sangat serius, dan menggunakan seluruh kemampuannya, sejak mulai dari awal.


Ia merasa, harga diri nya betul-betul dipertaruhkan, dalam permainan sesi ke dua tersebut.

__ADS_1


Sehingga Tuan Muda Zhao Yan, sungguh tampak berbeda kali ini.


Tuan Muda Zhuang An, langsung paham, lawan nya tak akan mudah menyerah untuk kali kedua.


Sehingga ia pun menjadi lebih serius lagi. Dan semakin lama permainan berlangsung, semakin serius mereka berpikir.


Bahkan! saking serius nya kedua pemuda itu, membuat semua yang menyaksikan, menjadi ikut merasakan tensi ketegangan yang terjadi.


Sampai-sampai ketika bernapas pun, mereka menjadi sangat berhati-hati.


"Hemh..! Mengapa aku, menjadi setegang ini? Kan setelah ini, masih ada adu kehebatan bela diri" Batin Patriark Zhao Qin.


Kedua Juru Pengadil, sampai merasakan ketidak nyamanan, karena khawatir terjadi kesalahan.


"Aku kan, hanya mengadili, mengapa jadi ikut tegang begini?" Batin Tetua Sekte Istana Bunga.


Setelah, permainan mencapai dua dupa lebih, bahkan! Hampir tiga dupa. Keringat dingin mulai menetes, di kening Tuan Muda Zhao Yan.


Dan tak lama kemudian, ia pun mulai berdiam diri begitu lama, dengan mengangkat satu bidak caturnya, sebagai tanda mati langkah. Setelah tujuh menit kemudian dia berkata:


"Kau menang!" Ucap Tuan Muda Zhao Yan, singkat.


Dan akhirnya, tepuk tangan Para Tetua Sekte Istana Bunga pun, terdengar begitu meriah, menyambut kemenangan Tuan Muda Zhuang An, dalam permainan catur ini.


.


.


"Patriark Han Xiao! Tak terduga, jago yang engkau andalkan, ternyata mampu memenangkan permainan ini, setelah di awal tantangan, dapat mengimbangi trik putra ku" Ucap Patriark Zhao Qin dengan cukup tenang, walaupun sebenarnya, ia mulai emosi.


"Sekarang lah babak penentuan. Saat nya untuk menunjukkan, siapa sebenarnya yang paling hebat. Kita pastikan, dalam pertarungan bela diri" Lanjut Patriark Zhao Qin.


"Baiklah! Ayo semuanya!" Suara Patriark Zhao, merespon ajakan Patriark Han Xiao.


Mereka semua, segera mengikuti Patriark Han Xiao, dan Patriark Zhao Qin, ke halaman Sekte Istana Bunga.


Untuk menyaksikan tanding bela diri, sebagai penentu kemenangan dalam tantangan ini, di halaman yang luas itu.


"Baiklah! Dengarkan, semuanya! Kali ini, Aku dan Patriark Han Xiao, yang akan menjadi penilai dari tanding bela diri ini. Untuk itu, mari kita mulai!" Teriak Patriark Zhao Qin, yang berdiri sejajar dengan Patriark Han Xiao, di depan halaman Sekte Istana Bunga.


Semua orang menjadi lebih penasaran, karena kali ini melibatkan bidang seni bela diri, yang menjadi kegemaran semua orang yang ada di tempat itu.


Pada dasarnya, banyak orang yang tidak tahu, jati diri Zhuang An. Bahkan! Para Tetua Sekte Istana Bunga, juga banyak yang tidak tahu tentang anak muda, yang terlihat tampan dan tenang itu.


Tuan Muda Zhao Yan, langsung melompat ke tengah halaman, yang menjadi arena tanding bela diri. Sementara, Tuan Muda Zhuang An, hanya melangkah dengan tenang ke arah Zhao Yan.


Setelah saling memberi hormat, keduanya segera bersiap dengan kuda-kuda nya.


"Terima serangan ku!" Teriak Zhao Yan.


Dengan garang, dia menghantamkan pukulan energi. Dari bogeman tangannya, keluar sinar kuning menyala, menyambar kearah Zhuang An.


Pemuda itu menghilang dari tempatnya dan sudah berada di udara.


Sehingga, serangan Zhao Yan hanya mengenai tempat kosong.


Semua orang, tanpa terkecuali Zhao Yan dan Patriark Zhao Qin, menjadi terkejut, dengan tindakan Zhuang An itu.

__ADS_1


Zhao Yan mengejarnya ke udara, dan sekali lagi menghantam dengan pukulan energi jarak jauh.


" WHUUS..."


Kali ini Zhuang An tidak ingin menghindar, dia menghadang dengan tehnik Tameng Dewa Langit.


Tameng itu, berbentuk energi seperti logam meteor, yang menghadang serangan jarak jauh tersebut.


" BLAAR.."


Benturan keras terjadi, Zhao Yan terkejut tangannya bergetar hebat, ia heran serangannya mampu dipatahkan, dengan begitu mudahnya. Padahal Zhuang An, hanya mengeluarkan energi sedikit sekali.


Tetapi, hal itu tidak mengurangi semangat Zhao Yan, dia justru menyerang sekali lagi, dengan tambahan energi yang lebih tinggi dan semangat yang lebih besar.


"Jatuh kau, anak muda!! Teriak Zhao Yan.


Zhuang An, justru menarik energi tameng logam nya. Kemudian, mengganti dengan Perisai Kubus Pembalik Serangan. Seketika itu, setelah menabrak perisai, energi Zhao Yan kembali kearah dirinya.


" ZHUUT.."


" BLAAR.."


Ledakan keras terjadi, membuat Zhao Yan terlempar, meluncur dengan deras ketanah.


Namun sebelum Tubuh itu menyentuh tanah Zhuang An sudah melapisi nya, dengan selimut kabut.


Sehingga, tubuh Zhao Yan tidak menghantam tanah, secara langsung. Zhuang An segera menarik, kabut energi itu dengan cepat.


Zhao Yan, bersalto dan turun berdiri dengan gagah, seperti tak mengalami apa-apa.


Zhuang An, memperhatikan dari udara, kemudian turun di depan Zhao Yan.


Dengan tarikan nafas panjang, Zhao Yan hendak menyerang dengan seluruh energinya.


Zhuang An pun ingin segera mengahiri, tanding bela diri ini. Oleh karena itu, dia mengerahkan energinya, untuk membentuk elemen angin, yang kuat.


Dengan sekali hentakan, pusaran angin menerjang kearah Zhao Yan, Putra Patriark Zhao Qin itu, sengaja mengadu kekuatan dengan energi saktinya, berbentuk sinar kuning menyala.


Dan kemudian, terjadilah benturan yang sangat hebat.


" ZHUUUT...ZHUUUT."


" BLAAAR.."


Tangan Zhuang An bergetar hangat. Namun, tidak demikian dengan Zhao Yan.


Pria muda itu, tergulung pusaran angin,. hingga puluhan, bahkan! Mencapai lima puluh tombak. Kemudian tubuhnya, jatuh dengan tak sadarkan diri.


.


.


.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2