
Fang Xiang berjalan- jalan di taman bersama neneknya. Semenjak menguasai jurus pedang bunga matahari gadis cantik itu lebih banyak bersama neneknya.
Karena tidak menemukan jurus atau tehnik ilmu tenaga dalam yang cocok dengan potensi tubuhnya.
Ahir-ahir ini dia sering merasa kangen dengan ayah dan juga ibunya di istana kekaisaran.
Sehari kemarin ia diberi tahu utusan dari kekaisaran agar datang ke istana karena adiknya atau putra mahkota yang merupakan calon pengganti ayahnya sedang sakit dan sudah beberapa minggu belum sembuh juga.
" Nenek tidak ingin ikut ke ibu kota?." Fang Xiang menatap neneknya dengan penuh rasa sayang.
" Tidak sayang, nenek di sini saja kalau nenek ikut siapa yang menemani kakek?." Kata wanita sepuh itu.
" Hehe..iya Nek." Fang Xiang tersenyum.
" Ya sudah, sana segera berkemas!." Neneknya memberi perintah.
" Siap Nek..!" Fang Xiang segera bergegas.
******
Song Chen dan Zhang Qian melesat di antara pepohonan di sebuah hutan pinggir danau, mereka tampak seperti sepasang burung merpati yang saling berkejaran di udara, hanya sekali- kali kakinya menjejakkan kecabang pohon, kemudian melesat lagi.
Mereka berdua sengaja memotong jalur agar lebih cepat dari semestinya.
Namun jalur yang mereka lewati masih sangat jarang dijamah manusia sehingga terasa sepi sekali, hanya suara-suara binatang tonggeret, jangkrik dan semacamnya yang menghiasi sebagai musik hutan.
" Qian er, kita sudah berlari dua hari lamanya sehari lagi kita sampai di sekte. Rasanya aku ingin segera menikmati makanan yang segar setelah kita menemukan sebuah desa." Song Chen membuka suara setelah lama saling berdiam.
" Hehe...Chen gege, Aku pasti akan menghabiskan satu ayam panggang dan satu guci anggur segar setelah ini." Zhang Qian tertawa bersemangat setelah ia melihat ada tanda-tanda desa dari jarak jauh.
" Baiklah, aku juga tidak akan menahan diri untuk menikmati daging kambing panggang dan juga anggur segar, hahaa." Song Chen tertawa setelah melihat sebuah kedai besar dengan aroma daging panggang.
Song Chen dan Zhang Qian segera berhenti melihat seorang pria yang sedang memanggang daging kambing segar di depan kedai.
" Wuah ini rejeki namanya, langsung dapat menu sesuai harapan haha.." Song Chen memasuki kedai.
Kemudian Song Chen dan Zhang Qian memesan anggur segar dua guci dan daging panggang sesuai selera masing-masing.
Setelah itu mereka memilih tempat duduk mereka di kursi yang mengelilingi meja agak pojok kanan.
__ADS_1
Beberapa pengunjung tampak begitu menikmati menu hidangan yang disajikan.
Sambil menunggu pesanan Song Chen dan Zhang Qian yang berpakaian indah, tetapi berhias keringat itu menikmati air putih penghilang dahaga.
" Huuh...Nikmatnya air putih ini.." Song Chen bergumam.
" Betul airnya jernih sekali, di tambah kita setengah hari tidak minum, sungguh terasa banget segarnya." Zhang Qian menimpali kata-kata Song Chen.
" ini Tuan Muda silahkan dinikmati pesanannya!." Seorang pria setengah baya menaruh dua guci anggur.
Kemudian disusul seorang wanita yang meletak nasi putih, sambal juga sayur segar dan terahir gadis cantik meletakkan daging kambing panggang dan ayam panggang yang telah siap disantap.
Kedua pendekar tampan itu begitu menikmati makanan yang dihidangkan dengan lahapnya, maklum sudah dua hari lamanya mereka tidak makan, hanya sedikit minum dan berlari.
Saking nikmatnya mereka tidak peduli dengan 6 orang berperawakan kasar yang memasuki kedai.
Setelah menghabiskan santapannya kedua anak muda itu segera menikmati anggur segar di guci.
" Huuh...puas rasanya, perut kenyang dan kemudian masih ditambah anggur ini..., sempurna." Song Chen begitu puas mengobati lelahnya dengan cara itu.
" Lepaskan...lepaskan..! " Suara teriakan seorang gadis.
" Kau harus ikut, kami sudah lama mendengar kecantikan mu, hari ini kami sudah membuktikannya. Jadi kami tak akan menyianyiakannya hahahaa." Pria yang paling besar tubuhnya menarik tangan gadis tersebut.
" Chen gege, kita harus bertindak!. Zhang Qian mengingatkan Song Chen.
" Tunggu sebentar lagi, sampai waktunya tepat!." Song Chen memberi kode.
Setelah agak jauh dua orang yang mengancam pemilik kedai itu segera mengikuti ketua mereka meninggalkan tempat itu.
Song Chen dan Zhang Qian segera melesat kearah dua orang anggota kawanan bandit itu dengan melayangkan bogeman mentah tepat di kepala mereka...
" Grak..Grak.."
Kedua kepala bandit tersebut retak kemudian roboh dan tak berkutik lagi.
Song Chen dan Zhang Qian melesat mengejar 4 orang berikutnya.
" Jangan mimpi bisa pergi dari sini dengan selamat!." Song Chen menggretak dengan nada marah.
__ADS_1
Ke 4 bandit itu menjadi sedikit ragu....
" Kepalang tanggung, siapa pun kalian aku tidak takut." Pria besar itu menarik pedangnya, lalu dengan garang dia membabat Song Chen.
Melihat serangan yang dipenuhi dengan emosi pendekar muda itu tak bergerak sama sekali, dan ketika pedang itu hampir menyentuh keningnya, Song Chen menangkap ujung pedang tersebut dengan kedua jari telunjuk dan jari tengahnya.
Ujung pedang bandit itu terjepit dua jari Song Chen, lalu dengan sekali sentakan lepas lah pedang itu dari genggaman ketua bandit tersebut.
Dengan gerakan cepat Putra Song Jin itu mengembalikan pedang tersebut kearah bandit itu.
" Whuuss...Jreeb.."
" EAACK.."
Pria itu menjerit dadanya di tembus pedangnya sendiri, dia roboh bersimbah darah dan ahirnya tewas di tempat.
Ke 3 orang anggota penjahat yang sedang bertarung dengan Zhang Qian mengalami nasib yang tak berbeda jauh dengan pimpinannya tersebut.
Mereka terkena sabetan pedang Zhang Qian tubuhnya bersimbah darah dan sekarat.
Gadis cantik yang dibawa para penjahat itu jatuh terduduk, dia ketakutan.
" Nona tidak apa-apa..?." Song Chen menyapa gadis tersebut.
Gadis itu hanya menggeleng dia masih diliputi rasa takut.
" Qian er, kau bantu dia..!, aku akan membayar makanan kita." Song Chen segera melesat untuk membayar biaya hidangan dan anggur segar yang mereka berdua nikmati.
Zhang Qian tidak mau ruwet, dia langsung mengangkat gadis itu dan melesat ke arah kedai yang yang hanya berjarak 500 meter itu.
Ketika suami istri pemilik kedai melihat putrinya selamat, mereka menjadi begitu gembira, rasa beruntung memenuhi hati dan pikiran mereka.
" Terimakasih...Terimakasih Tuan Muda, Anda berdua sungguh berhati mulia." Pria dan wanita setengah baya itu begitu antusias untuk berterimakasih pada Song Chen dan Zhang Qian.
" Jangan terlalu sungkan...ini sudah sepatutnya kami lakukan." Song Chen memberikan keping emas sebagai pembayaran makanan yang telah dinikmati.
Pria dan wanita pemilik kedai menolaknya mereka terlalu sungkan untuk menerimanya.
" Kami betul-betul tak layak menerimanya, pertolongan Tuan Muda berdua lebih berharga dari sekedar kambing atau ayam panggang kami." Pria setengah baya itu begitu menghargai arti keselamatan.
__ADS_1
" Baiklah...tetapi kami masih butuh bekal air putih atau anggur segar untuk perjalanan kami." Song Chen memberitahu kebutuhan mereka berdua.
" Jangan khawatir kami akan menyiapkan semuanya." Pria itu segera menyiapkan apa yang menjadi kebutuhan sebagai bekal di perjalanan mereka berdua.