PENDEKAR DEWA LANGIT

PENDEKAR DEWA LANGIT
44. Bunga-bunga Hati Yuan Lian


__ADS_3

" Guru, malam bulan darah tinggal dua hari lagi, sebaiknya murid berangkat dengan ketua sekte, dan guru bisa konsentrasi di sini." Zhuang An berbicara dengan Yang Chen.


Mereka saat ini telah berada di sekte tebing inggi, dan mempersiapkan acara perkawinan Yang Chen dan Yuan Lian.


Zhuang An tidak bisa mengikuti acara tersebut karena dia harus menjalani latihan tertutup di alam dimensi energi, pengalamannya yang baru saja dia lewati saat tidak mampu mengalahkan lawannya membuat dia bertekat untuk menyempurnakan kemampuannya.


" An er, situasinya agak merepotkan kita, karena ada dua hal penting yang berbeda dan harus dilakukan dalam waktu dekat." Yang Chen memeluk muridnya.


" Och iya, tentang senior Zhao Chong yang tak dapat kamu kalahkan jangan terlalu dipikirkan, usianya sudah lebih dari 100 tahun sedangkan kamu baru 10 tahun, dan kamu dapat mengimbanginya itu luar biasa." Yang Chen menambahkan, ia memahami apa yang dipikirkan muridnya tersebut.


" Baik guru." Zhuang An keluar dari ruangan Yang Chen dan berbaur dengan Xie Shen dan Fan Wei serta lainnya.


Hari itu sekte tebing tinggi mulai disibukkan dengan kegiatan persiapan perkawinan Yuan Lian dan Yang Chen, nampak wajah-wajah cerah menghiasai semua anggota sekte baik pria ataupun wanita semua ikut bahagia.


" Eh Nona Lian benar-benar beruntung ya, pulang dari misi dapat calon suami tampan." Seorang anggota sekte wanita bersenda gurau dengan rekan-rekannya.


" Iya ya, jika begitu kedepan aku juga mau menjalankan misi dari sekte." Jawab salah satu rekannya.


" Aku juga mau ikut...Hahaa..." Mereka tertawa bersama dalam suasana ceria.


Zhuang Shing memanggil Zhuang An di ruangannya dia ingin bocah itu segera fokus mempersiapkan diri.


" An er, kau sudah benar-benar siap?." Tanya Zhuang Shing pada keponakannya.


" Sudah ketua, malam nanti saya akan bersemedi lagi." Zhuang An.


" Bagus, kau tidak boleh gagal dalam misi ini. Kita berangkat besok malam." Zhuang Shing menegaskan.


" Siap ketua !." Zhuang An kembali berkumpul dengan Teman-temannya.


Bocah itu memperhatikan kegembiraan suasana itu sungguh terasa, sayangnya dia harus meninggalkan acara gurunya tersebut.


" Pendekar Zhuang...mengapa engkau berkspresi seperti itu?." Xie Shen bertanya pada Zhuang An.


" Aku sangat bahagia dengan pernikahan guruku, tetapi aku harus pergi melaksanakan misi penting." Zhuang An menjawab dengan persaan berat.


" Och...ada misi yang berat?". Xie Shen menambahkan.


" iya, ini misi yang cukup berat." Kata Zhuang An.

__ADS_1


Sementara Yuan Lian di kediaman ditemani ibunya berbincang-bincang banyak hal, suasana hati gadis cantik itu sedang sangat baik, terlihat dari wajahnya yang selalu dihiasai senyuman.


" Ibu...dulu ayah dan ibu pertama kali bertemu di mana?." Yuan Lian bertanya penasaran.


Istri Yuan Fan tersenyum, dia memahami hati putrinya sedang berbunga-bunga.


" Emm....kalau itu di rumah kakek, kami dipertemukan oleh pihak keluarga ." Jawab ibu Yuan Lian.


" Och...gitu ya bu..., ibu aku mau ke wisma Chen gege." Yuan Lian bergegas keluar, ibunya bermaksud mengikuti, tetapi tidak jadi ia hanya tersenyum lebar melihat kebahagiaan putrinya.


Gadis cantik itu langsung menuju wisma Yang Chen. Ia melihat di halaman sekte orang-orang sibuk mempersiapkan pernikahan dirinya dengan wajah suka ria.


" Chen gege." Yuan Lian memanggil Yang Chen.


" Och Lian er, ada apa kau tiba-tiba kemari." Yang Chen sedikit heran.


" Chen gege, aku mau tanya." Kata Yuan Lian.


" Iya, mau tanya apa?. Yang Chen menjawab dengan pertanyaan.


" Chen gege bahagia dengan pernikahan kita?." Yuan Fan bertanya dengan antusias, wajahnya penuh harap.



Yang Chen tersenyum memperhatikan calon istrinya itu, ia mulai paham arah pembicaraan gadis manis, tinggi dan bertubuh bagus tersebut.


" Kog tanya gitu, kamu sendiri bahagia apa ga.?" Yang Chen sedikit menggoda.


" Emm...jawab dulu dong...!" Yuan Lian tambah penasaran.


" Tentu saja aku bahagia, bagaimana tidak ?, aku mendapatkan gadis yang begitu cantik dan baik hati. Jadi sepertinya aku harus banyak bersyukur." Yang Chen menjawab dengan mantab.


" Hehe...Terimakasih Chen gege, aku sangat bahagia." Jawab Yuan Lian dengan senyum puas.


" Chen gege, aku mau kembali ke ibu dulu, boleh peluk tidak ?." Yuan Lian agak tegang.


" Boleh, kemarilah." Kata Yang Chen.


Yuan Lian memeluk Yang Chen karena bahagia.

__ADS_1


" Pulanglah, dan jangan lupa selalu bahagia !." Yang Chen mengelus kepala Yuan Lian dengan lembut.


" Emmm...." Yuan Lian mengangguk.


**


Malam berikutnya Zhuang Shing membawa Zhuang An terbang ke hutan siluman. Mereka langsung menuju titik gua alam dimensi.


Setelah duduk bersemedi sekitar 1 jam mereka berdiri, tepat tengah malam rembulan perlahan berubah menjadi merah darah sedikit demi sedikit ahinya bulan tersebut menjadi bulan merah darah.


Zhuang An menyalurkan energi murninya dalam jumlah besar ke pintu gerbang goa raksasa tersebut dia merasakan ketebalan pintu yang terbuat dari batu itu bermeter-meter tebalnya.


Zhuang Shingpun melakukan hal yang sama kemudian perlahan kedua orang itu mendorong pintu gerbang goa raksasa dan terdengar suara berderak batu besar yang bergeser.


Suara yang begitu keras mirip gemuruh di timbulkan pintu raksasa itu, setelah beberapa saat pintu raksasa berhenti. Zhuang An memandang lorong yang muncul setelah pintu bergeser lurus di depannya.


" Ketua ikut masuk..?". Zhuang An bertanya


" Tidak, aku cukup mengantar sampai di sini, kau masuklah !." Jawab Zhuang Shing.


Zhuang An memasuki goa raksasa mengikuti lorong arah bergesernya pintu goa, pintu goa itu bergeser hingga mencapai 50 meter, setelah itu lorong arah goa tersebut berbelok kekanan 50 meter lagi belok ke kiri terus seperti itu hingga 9 kali.


Zhuang An mengikuti lorong-lorong tersebut hingga menemukan sebuah pintu batu yang besar, kemudian ia mengerahkan energi murni untuk membuka pintu batu tersebut.


Dan muncullah lorong berikutnya lalu ada pintu raksasa lagi dan terus seperti itu hingga 7 kali, tanpa terasa Zhuang An mulai merasakan energi murninya mulai berkurang.


" Ach jadi seperti ini, pantas saja kalau dibutuhkan energi murni yang begitu tinggi." Zhuang An bergumam dengan sendiri.


Setelah melewati pintu batu raksasa yang ketujuh Zhuang An melihat pintu hitam seperti malam. Bocah itu memasuki pintu tersebut. Pintu tu tidak bisa di sentuh tapi bisa di masuki.


Jadi Zhuang An seperti memasuki ruang hampa udara yang gelap gulita seperti malam.


" Ach ruang ini menyedot energi murniku, aku harus cepat melewatinya." Zhuang An bergerak cepat melewati lorong malam tersebut dan setelah ratusan lamgkah ia melihat pintu yang terbuat dari intan berlian.


Tempat yang gelap itu menjadi lebih terang terkena cahaya pintu intan berlian tersebut.


" Och berlian ini begitu besar" Kata Zhuang An.


Zhuang An mencoba membukanya namun pintu itu tidak bergerak sedikitpun, tetapi setelah ia menyalurkan energi murni cukup besar baru pintu tersebut bisa di buka perlahan-lahan.

__ADS_1


Saat Zhuang An memasuki pintu tersebut, bocah itu tersedot dengan kuatnya menuju sebuah alam yang terasa begitu jauh jaraknya. Dia terkejut dan berteriak.


__ADS_2