
Setelah menyimpan tongkat sonar ajaib ke dalam cincin mustika dimensi, Zhuang An kembali ke lokasi medan pertempuran.
Sementara Fang Jin masih bertarung dengan pimpinan kedua srigala malam.
Dengan kemampuannya yang tinggi tidak ada pukulan yang melukainya.
Sebaliknya ia sudah membuat musuhnya terluka dua kali, darah keluar dari mulut pria kekar yang rajin membunuh itu.
"Kau telah berhasil membuatku sedikit terluka, tetapi sebentar lagi kau akan merasakan balasanku..!." Salah satu dedengkot srigala malam itu menyeringai.
Kemudian dengan senjata tombak yang dimilikinya dia terbang ke udara.
Tombak itu diacungkan ke langit menjadi senjata induksi, yang menyerap energi matahari.
Fang Jin memahami perubahan energi dasyat tersebut.
Jadi, dia mulai menggunakan energi murni untuk melindungi diri menggunakan qubah es abadi.
Pria bertubuh gempal itu menarik tombaknya lalu dengan seluruh energi yang dikumpulkan melalui sinar matahari dia menyerang Fang Jin dengan penuh semangat.
" CRAAT...CRAAT.."
Percikan Api matahari bercampur petir keluar dari tombak sakti itu menghamtam kearah Fang Jin.
Pendekar sekte pedang langit itu sudah siap menghadapi serangan yang mengandalkan energi alam tersebut.
Dia tidak menyangka musuhnya punya tehnik kuat seperti ini. Petir dan Api menyambar bersamaan.
" CRAAT...CRAAT ."
" JLAAR...JLAAR ."
" BUUM...BUUM ."
Qubah es abadi diserbu kekuatan dasyat membuatnya bergetar hebat seolah-olah akan runtuh, Fang Jin yang berada di dalam qubah menambahkan lagi energi murni untuk mempertebal pertahanannya.
Namun, ketua kedua pembunuh srigala malam itu tidak berhenti, dia menyerang sekali lagi dengan kekuatan yang sama.
Membuat Fang Jin yang berada di dalam qubah pertahanan menjadi waspada.
Qubah es abadi merupakan tehnik yang efektif untuk meredam bahaya petir dan api matahari, karena itu Fang Jin tidak ragu untuk menambah ketebalan pertahanannya menjadi berlipat ganda.
Ketua kedua srigala hitam itu tak percaya tehnik andalannya tak mampu menembus qubah musuhnya.
Dia mengulanginya untuk yang ketiga kalinya, qubah itu bergetar hebat seakan mau runtuh, tetapi tidak runtuh.
__ADS_1
Hal ini membuat pria berwajah galak tersebut menjadi sangat emosi.
"Bedebah! Qubah sialan!" Pria itu menjadi geram.
Dengan amarah yang besar, dia mengamuk berusaha menghancurkan berkali-kali.
Diulang dan diulangi lagi, Fang Jin tidak menambahkan energi murninya sampai ahirnya qubah itupun retak.
Fang Jin membiarkannya seperti itu, karena dia menyadari kekuatan tenaga dalam musuh sudah mulai berkurang.
Walaupun tehnik alam itu begitu kuat, tetapi energi pemiliknya begitu terbatas, sehingga pada ahirnya kalah juga bila menghadapi pendekar yang memiliki basis energi murni yang cukup tinggi.
Melihat kekuatan musuhnya sudah melemah dan tak terlalu kuat mengendalikan tehnik alamnya, membuat Fang Jin bermaksud mengadu kesaktian secara langsung.
"Hancurlah kau qubah laknat..! Ketua kedua srigala hitam berteriak keras.
" WHUUT..."
" CRAAT..CRAAT.."
" BLAAR.."
Qubah itupun pada ahirnya hancur berantakan, meninggalkan senyum kepuasan di wajah ketua kedua srigala malam.
"Hahhahaa...! Sekarang kau akan mampus di tanganku." Pria itu menyeringai kearah Fang Jin.
Pria itu menahan mata bor es dengan tombaknya dan menghancurkan dengan tehnik alamnya.
Tetapi perbedaan kekuatan membuat mata bor es itu tidak mudah dihancurkan.
Pria jahat itu marah, ia mengeluarkan seluruh kekuatannya hingga petir tehnik alamnya menyambar dengan ganas.
Batangan es tajam itu hancur berkeping-keping, tetapi pria itu juga terluka untuk ketiga kalinya, tubuhnya berdarah-darah karena benturan dengan batangan es yang berputar tajam.
Pedang Fang Jin mengeluarkan kabut es tebal yang mengurung ketua kedua srigala malam kemudian ia membentuk qubah yang mengurung pria itu.
Fang Jin bermaksut mengahiri pertarungan, dia membuat pria yang menjadi musuhnya terkurung dalam qubah.
Secara otomatis koneksi energi matahari dan petir terputus dari induksi tombak milik pimpinan kedua srigala malam yang bersambung mulai tadi.
Pria itu kalang kabut, dia meronta tetapi kesulitan bergerak bahkan nafasnya mulai terbatas karena Fang Jin mempertebal qubahnya hingga tak meninggalkan ruang udara.
Rasa panik dan nafas tersengal serta tubuh yang dijepit dinding es begitu keras membuat penderitaan pria itu begitu berat.
Sisa tenaga dalam yang sudah terkuras sejak tadi tidak banyak lagi, sehingga Fang Jin dengan mudah tambah menjepitnya lagi dengan qubah es yang sangat tebal.
__ADS_1
" KREK...KREEK..."
Suara tulang-tulang yang hancur mulai merata di bagian tubuh penjahat yang sering membobol nyawa orang tersebut. Mata dan wajahnya terlihat begitu menderita.
Dan ahirnya pria itu sudah tak bisa berteriak atau bergerak lagi, tewas. Darah mewarnai dinding es yang menjepitnya.
Fang Jin sampai tertegun melihat nasib musuhnya yang tragis itu.
Zhuang An datang mendekatinya : " Paman pertempuran sudah selesai."
" Ach..baiklah mari kita periksa bangunan ini..!." Fang Jin mengajak masuk kedalam bangunan tersebut.
Fang Jin memeriksa dan memegang senjata sonar milik ketua srigala malam.
Beberapa senjata dikumpulkan termasuk tombak milik lawannya Fang Jin.
" An er, kau simpan saja senjata ini, bisa berbahaya kalau di pegang penjahat..!." Fang Jin mengembalikan senjata tersebut.
" Baik paman.." Zhuang An mengambil kembali pusaka tersebut.
Seperti biasa markas-markas seperti itu selalu menyimpan barang berharga, uang emas, koin emas dan sumberdaya, bahkan pusaka atau senjata-senjata berharga lainnya.
Banyaknya benda berharga dan koin emas membuat hal itu menjadi pembahasan tersendiri. Kalau tidak diselesaikan secara adil dan bijak tentu hal tersebut bisa menimbulkan masalah baru.
Hal yang tak terduga adalah adanya beberapa tawanan di tempat itu.
Biasanya mereka hanya membunuh, tetapi ternyata ada juga yang menjadi tawanan.
Ahirnya setelah di bebaskan para tawanan diantarkan kembali ke tempat asalnya juga diberi bekal koin yang cukup.
Sedangkan harta perang itu ahirnya di bagi tiga yaitu para pendekar, para prajurit dan sebagian di bawa ke kaisaran.
Tidak ada yang protes tentang pembagian tersebut karena menyadari harta bisa menimbulkan permusuhan di antara teman.
Zhuang An ingin segera kembali ke sekte pedang langit, dia sudah sangat kangen dengan Gurunya dan beberapa orang lainnya seperti Zhuang Shing dan tentu sikecil imut Zhuang Li Hua.
Zhuang An masih belum tahu akan keberadaan Yang Fan alias Si Fan-fan yang lucu.
Sebelum pergi Zhuang An menemui kakak seperguruannya Huang Liang, ia cukup khawatir dengan saudara seperguruannya itu.
Dua kali dia melihat Huang Liang hampir celaka, di Kekaisaran Tang ini terlalu banyak pendekar tingkat tinggi yang mencapai tingkat satria gerbang 7 bahkan 8.
Sehingga cukup banyak musuh yang bisa membahayakan nyawa.
__ADS_1
Jadi, Zhuang An ingin segera memberikan Batu Bintang Energi miliknya pada kakak seperguruannnya tersebut.
Agar bisa segera meningkatkan kemampuannya menjadi lebih kuat lagi.