PENDEKAR DEWA LANGIT

PENDEKAR DEWA LANGIT
25. Latihan Jurus Baru


__ADS_3

" An er, kamu di mana ?, kami sudah siap berlatih." Han Mei dan Fang Dishi bersama dengan teman-temannya sudah siap menunggu untuk berlatih bersama.


Kemudian Zhuang An muncul dengan membawa dua kitab sakti.


12 gadis belia itu, antusias melihat kitab itu, pada dasarnya sifat anak-anak memang selalu tertarik dengan hal Yang baru.


Temasuk pada kitab yang di pegang Zhuang An.


" An er itu kitab yang dulu kita bahas.?"..Han Mei langsung bertanya


" Benar, ini dua dari lima kitab yang dulu itu." Zhuang An sedikit menjelaskan.


" Apa kita akan mempelajarinya.?" Fang Dishi sedikit ragu.


" Tentu aku akan mempelajarinya, jika kalian berminat kita bisa belajar bersama." Kata Zhuang An.


" Tetapi, ada beberpa anak yang masih menguasai 60 persen dari dua kitab sebelumnya." Fang Dishi memperjelas keraguannya.


" Tidak masalah, lambat laun mereka akan bisa menguasai 100 persen. Tapi keputusan ada pada kalian bukan padaku." Zhuang An menjawab dengan tersenyum.


" Iya..iya..aku mau." beberapa anak yang lebih kecil menjawab kompak, ahirnya Han Mei dan Fang Dishi mengikuti.


Yang Chen datang dan segera menghampiri mereka : " Oke..kalau sudah diambil keputusannya, mari kita mulai."


Yang Chen menjelaskan dasar-dasar prinsip dari jurus yang akan dipelajari.


Sementara Huang Liang di ruang simulasi sudah berkeringat cukup banyak, pemuda itu sudah satu jam lebih memulai simulasi sistem boneka pedang mahir, itu simulasi ke 21 yang dia lakukan, sejak dua bulan ini, jadi tanpa didampingi Yang Chen tidak akan mengkhawatirkan.


Dalam latihan hari pertama jurus tombak delapan penjuru angin Zhuang An menunjukkan kemampuan luar biasa.


Pada hari keenam dan ketujuh gerakan bocah itu semakin begitu cepat, lincah dan atraktif.


Dengan kekuatan yang begitu hebat Zhuang An mengeksplorasi potensi kelebihan jurus tersebut dari semua sisi.


Yang Chen mengawasi semua gerakan muridnya dengan decak kagum, ia berpikir bocah itu tidak butuh waktu sampai satu bulan untuk bisa menguasai kitab Tombak Delapan Penjuru Angin.


" An er jangan keburu mengeluarkan tenaga dalam tinggi, berlatihlah untuk lebih luwes dan fleksibel." Yang Chen menasehati.


" Baik Guru.." Zhuang An mengulang beberapa kali gerakan demi gerakan hingga mendapatkan kenyamanan ritme dan reflek yang tepat dari setiap gerakan.


Han Mei, Fang Dishi dan 10 murid Wisma 19 terus memperhatikan semua gerakan Zhuan An dari waktu ke waktu tanpa bosan.

__ADS_1


Ada semacam ketertarikan tersendiri bagaimana Zhuang An tampak bisa mendapatkan ketepatan gerakan dari setiap bagian jurus-jurus itu.


Gadis-gadis itu mencoba untuk meniru dan mengulangi gerakan-gerakan Zhuang An, awalnya agak sulit tetapi lama-lama mereka bisa mendapatkan ritme mereka sendiri.


" Ach ternyata enak juga meniru An er, kalau berlatih sendiri ini pasti lebih sulit," Ham Mei berkomentar.


" Benar, di depan kita ada contoh yang cocok dan sesuai, jadi mudah untuk diadaptasi dengan kemampuan kita." Fang Dishi menambahkan.


Apa yang dikatakan kedua gadis tersebut memang benar, itu bisa dibuktikan oleh 10 anak gadis lain yang ternyata juga bisa menyerap pemahaman ilmu jurus tersebut.


Dalam satu minggu tersebut Zhuang An mampu menguasai kitab Tombak Delapan Penjuru Angin mencapai 40 persen sementara anak-anak gadis bisa mengikuti sampai 30 dan 25 persen.


Tentu itu juga tak lepas dari peran berbagai sumberdaya yang mereka konsumsi selama ini.


Yang Chen tersenyum melihat perkembangan mereka : " Hemmh...ini situasi saling menguntungkan dan saling memberi motivasi."


Di minggu kedua Zhuang An merasa mendapatkan motivasi tambahan dengan kedatangan Zhuang Li Hua.


Bocah kecil itu begitu giat dan antusias memberi semangat pada Zhuang An.


" An gege.... ayo lebih semangat." Huang Li Hua berteriak.


Saat ini Zhuang Li Hua sudah berumur 4 tahun. Perkembangan mental dan fisiknya sangat bagus.


Dikarenakan sering melihat Zhuang An berlatih pedang dan tombak, membuat jiwa kependekaran Zhuang Li Hua muncul.


Bocah itu sering meminta Xie Wen untuk mengajarinya beberapa jurus baik pedang maupun tombak, tentu saja ukuran pedang dan tombaknya disesuaikan dengan tubuhnya yang masih kecil.


Kedepan gadis imut itu akan menjadi salah satu tokoh penting yang hebat dan terkenal karena prestasi dan kecerdikannya.


Seharian itu Zhuang Li Hua terus ditemani gadis-gadis Wisma 19 hingga sore hari.


Han Mei dan Fang Dishi beserta 10 gadis lain berebut pendekatan pada Li Hua.


Bagi mereka anak itu bagaikan penyejuk jiwa yang menyenangkan hati.


" Hua er, apa kesukaanmu?". Kata Fang Dishi.


" Hua er, Kamu cantik sekali." Han Mei memuji.


" Hua er, Kamu menggemaskan." anak-anak yang lain tidak ketinggalan.

__ADS_1


" Emm.." Zhuang Li Hua tersenyum senang menanggapi kata-kata mereka.


Begitulah sikap para gadis muda tersebut, mereka memanjakan dan merayu Zhuang Li Hua. Tentu saja Zhuang Li Hua sangat gembira.


Sudah menjadi rahasia umum bahwa anak kecil selalu punya rasa suka pada gadis cantik ataupun pria muda tampan.


Hal itu adalah insting normal yang dimiliki anak-anak sejak lahir, polos dan apa adanya.


Sementara itu Zhuang An Setelah melewati minggu kedua, ia telah mendapatkan kemampuan yang begitu mengagumkan.


80 persen dari isi Kitab Tombak Delapan Penjuru Angin telah dikuasainya dengan mahir.


" An er, apa kamu masih perlu bantuanku, kemampuanmu sudah sangat tinggi." Yang Chen bertanya tentang latihan Zhuang An.


" Guru, murid memang sudah banyak berkembang, tetapi tidak bisa dipungkiri murid masih memiliki banyak kelemahan, jadi mohon bimbingannya," Zhuang An menyadari kelemahan dirinya sendiri.


" Kamu memang rendah hati, ini menunjukkan bahwa kamu adalah anak yang baik."


Yang Chen memang menyukai perkembangan kemampuan muridnya. Tetapi ia lebih menyukai prilaku bocah itu, yang rendah hati, tidak sombong, dan berbudi luhur.


Dalam dunia kependekaran watak membawa dampak yang besar. Pendekar yang berwatak jahat akan banyak menimbulkan kerusakan lebih dari orang yang berkemampuan biasa.


Tetapi pendekar berwatak mulia dan berbudi luhur juga akan membawa kebaikan yang jauh lebih besar pada lingkungan dan masyarakat yang lebih luas.


*****


Di kediaman Zhuang Shing para Tetua berkumpul membahas beberapa hal.


Mereka mengumpulkan pusaka, kitab, sumberdaya dan lainnya yang mereka dapatkan dari beberapa misi sebelumnya.


Dari kumpulan Pusaka tersebut, di bicarakan siapa-siapa yang patut untuk memegangnya sebagai penanggung jawab, sekaligus dapat menggunakan untuk kebaikan dan semacamnya.


Zhuang Shing membuka Kitab Dewi Bulan. Di bagian tengah kebelakang Ketua Sekte Pedang Langit itu melihat tulisan-tulisan yang menarik hingga membuat keningnya mengkerut.


Di dalam kitab itu disebutkan peristiwa-peristiwa besar yang akan terjadi, salah satunya adalah peristiwa munculnya kekuatan besar luar biasa.


Kekuatan itu menimbulkan kekacauan yang akan menyebabkan Perang Besar melanda wilayah Kaisar Timur Raya.


Peristiwa itu terjadi pada tanggal 17, bulan srawanamasa, 117 tahun saka.


Dikatakan perang tersebut begitu mengerikan hingga menimbulkan banjir darah dan kematian yang merenggut ratusan ribu nyawa.

__ADS_1


__ADS_2