
Zhuang An tinggal beberapa bulan lagi akan segera selesai menguasai kitab dewa langit. Namun masih ada beberapa jurus yang akan dipelajari di antaranya yaitu Energi Mata Penghacur.
Tehnik ini adalah jurus yang mengendalikan kekuatan dengan berpusat pada mata.
Bisa dengan energi murni, bisa juga dengan tenaga dalam. Setelah energi murni terpusat di mata kemudian mengubahnya menjadi sinar yang dapat menghancurkan sasaran yang diinginkannya, tetapi bukan semua yang sekedar dilihatnya.
Kesulitannya adalah karena mata memiliki sifat sensitif, jadi perlu melatih untuk membiasakan dengan rasa energi yang mengalir di kelopak mata.
Setelah terbiasa dengan bantuan mantra husus mata mendapatkan penglihatan lebih tajam dan energi ajaib yang mudah untuk mengendalikan tenaga dalam maupun energi murni.
Zhuang An dengan bakatnya yang hebat tidak terlalu kesulitan mempelajarinya, hanya butuh 1 minggu untuk dapat menggunakan tehnik ini.
" Eyang, ini terasa seperti melihat dalam air." Zhuang An berbicara dengan Zhuang Kun.
" Och iya, rasa bisa muncul berbeda-beda, sesuai dengan situasi dan suasana hatimu." Zhuang Kun memberikan pendapat dari pengalamannya.
" Apakah kau ingin melakukan uji coba.?" Zhuang Kun bertanya pada cucunya.
" Iya Eyang, tapi setelah makan rusa panggang, aku sudah tidak makan selama beberapa hari ini." Zhuang terlalu bersemangat berlatih hingga dia lupa tidak makan beberapa hari.
Memang dengan kekuatan tubuh yang hebat dan energi sebesar itu, Zhuang An kuat tidak makan berminggu-minggu bahkan bisa juga berbulan-bulan lamanya. Tetapi tetap saja selama nafsu makan masih dia miliki dia tak akan menyia-nyiakan menikmati lezatnya makanan.
Dengan pandangan mata yang begitu tajam dan jangkauan yang luar biasa, Zhuang An begitu mudah melihat di mana ada rusa yang terlihat paling nikmat untuk dipanggang yaitu rusa muda yang sudah mantab dagingnya.
Dengan kecepatan tinggi dia melesat menangkap rusa tersebut, tanpa disadari oleh hewan tersebut dia sudah berada di tangan Zhuang An.
Dan dengan beberapa tehniknya yang lain iapun telah menjadikan rusa panggang yang tampak nikmat, dengan beberapa rempah-rempah yang sering dia pakai Zhuang An pun sudah bisa menikmati hidangannya.
Zhuang An juga tidak lupa menikmati buah yang ia simpan di cincin mustikanya sebagai pelengkap makan siangnya.
Setelah selesai dengan hidangan-hidangannya Zhuang An mandi terlebih dahulu baru setelah segar dan rapi dia bersama Zhuang Kun memasuki dimensi alam batu untuk uji coba kemampuan tehnik mata penghancur.
__ADS_1
" An er, kita ke sebelah barat. Di sini tempatnya sudah kau hancurkan kemarin." Zhuang Kun mengajak Zhuang An ke lokasi yang masih utuh dan terdapat beberapa ratus batu raksasa dan juga 7 bukit batu, mereka berhenti di udara tepat di atas bukit batu yang paling besar.
" Baik, Eyang.." Zhuang An terbang mengikuti Zhuang Kun di belakangnya.
" Aku akan menghitung kecepatanmu dalam menghancurkan sasaran, ada kemungkinan kau akan menghadapi musuh yang cukup kuat dan dalam jumlah yang sangat banyak, sekarang lakukanlah." Zhuang Kun memberi instruksi.
" Siap Eyang ." Zhuang An memperhatikan sebentar sasarannya lalu dengan kedipan matanya ia mulai menghancurkan batu-batu raksasa satu persatu.
" Zuuut....JLAAR...Zuuut..JLAAR..."
Suara ledakan batu-batu besar yang hancur menggema dan terjadi setiap kedipan mata Zhuang An bukan lagi perdetik tetapi perkedipan mata.
Satu menit kemudian ratusan batu telah hancur menjadi debu bahkan 7 bukit batu juga tak luput dari kehancuran tersebut.
Zhuang Kun dan Zhang An naik lebih tinggi menghindari debu-debu yang beterbangan.
" Bagaimana Eyang.?" Zhuang An bertanya.
\*\*\*\*\*
Semenjak mempelajari beberapa kitab yang disewa dari pustaka kitab sekte pedang langit Xie Shen, Fan Wei dan Zhu Lin telah mengalami kemajuan yang signifikan.
Dari tingkatan pendekar ahli setelah 1/2 tahun mempelajari kitab pedang bayangan mereka telah mencapai tingkatan pendekar mahir.
Satu tahun kemudian mereka juga mengalami kemajuan hebat dan sekarang telah berada pada permulaan tingkatan pendekar mumpuni.
Kemajuan yang begitu pesat. Selama 2 tahun mereka bisa naik ketingkat ini merupakan hal yang luar biasa.
" Tidak percuma kita bertahan di sini selama 2 tahun, sekarang kekuatanku terasa berbeda dari sebelumnya." Fan Wei tersenyum bangga atas perkembangannya.
" Wei er, aku sependapat denganmu, kita tidak sia-sia tinggal di sekte pedang langit ini sekarang lihatlah Lin er, dia yang paling muda dari kita juga sudah berada pada tingkatan pendekar mumpuni. Luar biasa kan ?." Xie Shen memperhatikan dua yuniornya itu.
__ADS_1
" Hehe..Shen gege ...kan sudah aku bilang kita akan mendapat berkah dari pernikahan Nona Lian." Zhu Lin tersenyum puas.
Setelah menyewa beberapa kitab sakti Xie Shen dan Fan Wei serta Zhu Lin tinggal di wisma pedang elemen angin.
Atas saran Yang Chen mereka mempelajari kitab yang sama satu persatu yaitu kitab Pedang Bayangan, Tendangan Angin Topan dan Tombak Bermata Dua.
Tujuannya agar Yang Chen lebih mudah memberikan bimbingan kepada ketiganya dan agar mereka bisa fokus belajar kitab itu bersama-sama.
Pesatnya kemajuan tiga orang itu tidak lepas dari faktor bimbingan Yang Chen yang memang telaten dan juga sumberdaya yang melimpah di sekte pedang langit.
Mereka bertiga memiliki dana yang besar untuk membeli sumberdaya yang tersedia di sekte pedang langit setelah ikut menjalankan misi di Huitong beberapa waktu yang lalu.
Selain itu faktor sarana latihan simulasi pedang boneka kayu yang tersedia di asrama sekte pedang langit juga memiliki peran besar.
Dan terahir faktor kitab yang mereka pelajari bukanlah kitab kaleng-kaleng, karena kitab-kitab itu juga merupakan kitab unggulan di pustaka kitab milik sekte pedang langit.
Berkumpulnya 4 faktor tersebut membuat mereka bertiga menjadi lebih kuat dan lebih kerasan tinggal di sekte pedang langit selama 2 tahun terahir.
Sementara di Wisma Guru pedang angin. Putra Yang Chen yaitu Yang Fan atau yang sering dipanggil Fan-fan sekarang telah berumur 2 tahun. Bocah kecil itu sedang lucu-lucunya.
" Fan-fan...sini sayang.." Yuan Lian memanggil putranya.
" Aa..hahaa.." Fan-fan berlari gembira menuju Yuan Lian dan langsung memeluknya sambil tertawa lucu.
" Kakek dan nenek pasti gembira kalau melihat kamu sayang." Yuan Lian mencium putranya dengan gemas.
" Atu..atu pingin nenek." Fan fan berbicara masih dengan cadelnya.
" Emmhh...pingin ketemu nenek...?." Yuan Lian mencium dan menggendong putranya.
Di tempat lain Huang Liang selalu menyibukkan diri dengan berlatih keras pedang elemen angin dan tehnik tenaga dalamnya.
__ADS_1
Pemuda itu sudah berkali-kali berlatih dengan simulasi pedang kayu. Tak terhitung berapa kali dia sudah mengulangi simulasi tersebut. Saat ini pemuda tampan itu telah mencapai tingkatan pendekar satria gerbang kedua.