
Di Sekte Pedang Langit....................
"An er! Jangan terlalu cepat! kita terlalu jauh meninggalkan yang lain." Huang Liang, memberi saran pada adik yuniornya tersebut.
Zhuang An terus berlari tanpa merasa kelelahan, walaupun dia belum mengeluarkan semua potensinya, tetapi dia sudah terlalu jauh meninggalkan peserta yang lain.
Setelah berlari terus menerus, sekitar kurang dari 1 jam lamanya ahirnya Zhuang An tiba di balai desa Li Shan
"Perwakilan dari wisma 20 pedang angin atas nama Zhuang An telah mencapai finis" Seorang panitia memberikan pengumuman.
Tanding lari itu pada ahirnya dimenangkan oleh Zhuang An yang masih berumur 7 tahun mengalah para peserta lain yang bahkan banyak yang sudah umur 8 tahun.
Disusul juara kedua dari wisma 1 pedang api Wang Li adik yunior Luo Yin yang berumur 8 tahun.
Semenjak hari itu nama Zhuang An menjadi lebih terkenal di lingkungan sekte pedang langit. Bocah itu sekarang melanjutkan program latihannya dengan berlatih dasar jurus Pedang Angin.
Sebenarnya ini terlalu awal untuk Zhuang An, karena biasanya sebelum belajar jurus Pedang Angin, murid Sekte harus belajar jurus lain dulu.
Agar memiliki dasar bela diri sebagai jurus pendamping ketrampilan kependekaran, sehingga mempermudah untuk belajar jurus tingkat tinggi tersebut.
Hanya saja Zhuang An terlalu penasaran, dengan jurus hebat itu, sehingga Huang Liang tak kuasa menolaknya, untuk belajar jurus Pedang Angin.
Untuk memberi pengalaman dan pengetahuan lain, Huang Liang sengaja mengajak Zhuang An, untuk mengunjungi Master Alkemis, Sekte Pedang Langit.
"Och! Kau Liang'er?" Sapa Master Alkemis Zhang Long.
"Salam! Master Zhang! Perkenalkan ini, adik yunior ku. Namanya Zhuang An" Ucap Huang Liang dengan sopan.
"Och! Tampan sekali, yunior mu?" Respon Master Zhang Long.
"Salam! Master Zhang Long!" Ucap Zhuang An seraya membungkuk, dan menyatukan kedua tangannya, untuk memberi hormat.
"Tidak perlu sungkan! Duduklah!" Jawab Master Zhang Long, dengan ramah.
"Marga mu, Zhuang? Apa hubungan mu, dengan Ketua Sekte?" Tanya Master Zhang Long, dengan sedikit penasaran.
"Dia, keponakan Ketua Zhuang Shing" Huang Liang, menjelaskan dengan semangat.
"Och! Ya! Pantas saja, ada kemiripan wajah dan nama" Ucap Master Zhang Long.
"Coba! Kemarilah Nak! Aku, ingin melihat potensi mu" Ucap Master Zhang Long, kepada Zhuang An.
Bocah kecil itu pun, segera mendekat kearah Pria sepuh, yang sudah memutih rambut kepala dan jenggotnya itu.
Master Zhang Long, memegang pergelangan tangan Zhuang An, dengan teliti.
Wajah Master Zhang Long, tiba-tiba berubah drastis. Namun, ia masih diam dan memejamkan bola matanya, karena fokus mendeteksi seluruh tubuh Zhuang An, yang masih sangat belia itu.
"Ada apa master? Apa ada yang salah, dengan tubuh An'er?" Tanya Huang Liang, yang merasa khawatir, dengan reaksi Master Zhang Long.
"Tidak ada! Tetapi, ini sungguh luar biasa. Adik yunior mu ini, memiliki tulang naga muda. Selain itu, ia juga memiliki tiga Dantian, masih ditambah jumlah meridian nya dua puluh satu. Ini betul-betul, bakat yang menentang surga" Jawab Master Zhang Long, dengan serius dan dipenuhi rasa kagum.
"Bakat menentang surga?" Wajah Huang Liang tampak menjadi sangat terkejut.
"Seumur hidupku, aku belum pernah melihat yang seperti ini. Pada umum nya, Pendekar berbakat sekalipun hanya memiliki satu Dantian. Namun, An'er ini di luar nalar. Ia memiliki tiga Dantian sekaligus dalam tubuhnya" Master Zhang Long memberikan penjelasan, tentang hal yang diketahui nya.
__ADS_1
Menurutnya, bakat jenius seperti Zhuang An ini jarang ada. Apa lagi, meridian yang berjumlah dua puluh satu, dengan kapasitas luar biasa. Diibaratkan Dantian adalah lautan di mana semua air bermuara ke sana.
Sedangkan meridian, ibarat aliran sungai yang menyalurkan air turun ke laut.
Namun, meridian milik Zhuang An ini sangat besar dan tebal, dengan jumlah yang tidak biasa.
Ibarat sungai, sungai raksasa yang dapat menamping air, sangat banyak.
Sehingga meridian Zhuang An, juga dapat menampung aliran energi murni atau pun tenaga dalam, dengan jumlah yang sangat besar.
Itu, betul-betul sangat-sangat luar biasa, dan langka.
"Mulai sekarang jaga dia, jangan sampai ada yang tahu rahasia ini! Agar dia tidak diincar orang. Sekarang bawa dia kembali ke asrama! Kalau ada waktu, sering-seringlah kemari Nak!" Ucap Master Zhang Long.
"Baik! Master!" Jawab Huang Liang serius.
"Siap! Master!" Jawab Zhuang An dengan hormat.
******
Sementara di Perguruan Harimau Terbang: Satria Gerbang Delapan.
Tetua Bai Kun memimpin pasukan di atas benteng,
"Arahkan panah dan tombak kalian dengan baik, jangan terburu-buru. Hilangkan perasaan takut. Lakukan dengan yakin dan percaya diri." Bai Kun memberi instruksi. Pria sepuh yang sudah kenyang pengalaman tersebut, begitu cermat mengamati musuh-musuhnya.
Dalam analisa pribadinya pihaknya unggul dalam faktor posisi benteng, senjata pusaka, kwalitas pendekar. Sehingga walaupun lawan lebih banyak, kemenangan akan tetap memihak kepada Perguruan. Tinggal menunggu waktu untuk kehancuran musuh.
Akan tetapi, ia tidak ingin gegabah dalam bertindak. Jadi ia berusaha mengarahkan pasukannya agar lebih efektif dalam setiap serangan, pukul dalam satu kali tembak.
" Tetua Bai...aku akan turun kebawah." Song Jin merasa harus segera menangani Han Bo agar tidak memakan korban yang lebih lemah.
" Han Bo..., kau mencariku...?" Song Jin melayang turun dari udara mendekati ketua Sekte Taring naga.
Tindakan Song Jin menarik perhatian banyak pendekar. Mereka sudah sering mendengar pendekar terbang tinggi, tapi ini pertama kali mereka melihatnya sendiri.
Melihat reaksi para pendekar, Han Bo tidak tinggal diam. Ia menyusul terbang ke udara menghadang Song Jin dengan pandangan tajam.
" Kau kah yang mengendalikan pusaka Kincir Bintang Dewa ?". Han Bo bertanya dengan nada kecewa.
" Kalau iya mengapa?, kalau bukan mengapa ?" Jawab Song Jin menanggapi dengan teka-teki buta.
" Kalau iya, aku akan pisahkan kepalamu dari tempatnya. Dengan demikian kami akan segera mendapatkan kemenangan.". Han Bo dengan geram berbicara penuh keyakinan.
" Lihatlah sekelilingmu, kelompokmu sudah terdesak, sebaiknya segera bawa mereka pergi dari sini, kalau tidak mereka akan habis digilas pusaka sakti." Song Jin menggertak sekaligus memperingati.
" Hahaa, kami sudah menemukan solusinya. Jika aku segera memotong kepalamu, maka aku yakin kami bisa mengendalikan Kincir Bintang dan mendapatkan kemenangan." Han Bo menjawab dengan arogan.
" Kalau begitu, lakukanlah,! jika kamu memang punya kemampuan." Tantang Song Jin dengan tenang.
" Apakah kau tidak sadar telah meremehkanku?, aku Pimpinan Sekte Taring Naga yang baru, tidak terima diremehkan olehmu." Han Bo marah gengsinya terganggu.
Dia segera mengerahkan tenaga dalam, mengakses Cincin Mustika Dimensi miliknya, dan mengeluarkan sebuah Pusaka Dewa yaitu: "Tombak Mata Dewa".
Walaupun Cincin Mustika Dimensi yang dimiliki Han Bo tidak sebagus milik Song Jin, tetapi itu cukup mengejutkan dirinya.
__ADS_1
Song Jin tidak menyangka Han Bo juga memiliki yang seperti itu, lebih-lebih dia juga mempunyai Tombak Mata Dewa pusaka legendaris yang telah lama menghilang dari dunia kependekaran, bagaimana mungkin penjahat keji ini bisa memiliki pusaka sehebat itu.
" Mengapa termangu, kaget ya karena telah meremehkan aku...?" Han Bo tertawa puas melihat reaksi Song Jin.
Song Jin segera menarik Pedang Pusaka Elemen Angin dari tengah medan pertempuran, dia sadar tidak boleh lengah sedikitpun.
Tepat saat pedang itu berada di tangannya, Han Bo sudah bergerak cepat menyerangnya dengan tombak mengarah pada jantungnya.
Song Jin menelan ludah karena kaget, dia menghindar sambil menangkis tombak tersebut, ia merasakan energi kekuatan tombak itu luar biasa.
Untung dia bertindak cepat menarik Pedang Angin, kalau tidak dia pasti terluka.
Tetapi Han Bo tidak berhenti sampai di situ. Dia terus memainkan Tombak Mata Dewa dengan cepat dan ganas membuat Song Jin hanya bisa bertahan dengan pedangnya.
Benturan kekuatan berulangkali terjadi menimbulkan suara memekakkan telinga dan mengeluarkan percikan api, walaupun pertarungan terjadi di udara, akan tetapi suaranya terdengar keras sampai kebawah.
Song Jin berpikir mengapa Han Bo tidak mengeluarkan senjata ini mulai tadi, apa dia takut kehabisan tenaga dalam. Jika memang seperti itu, maka kesempatan untuk mengalahkannya adalah dengan menguras energi dan tenaga dalamnya.
Tombak Mata Dewa sangat mengerikan, Song Jin hampir saja celaka, untung dia sedikit unggul tenaga dalam dan energi murni yang dipelajari dari Kitab Pedang Langit.
Sementara Guo Sheng dan Deng Weishang sudah bertarung mencapai ratusan jurus, tetapi belum menggunakan pusaka andalannya masing-masing.
" Lihatlah orang-orangmu sudah banyak yang terluka dan juga tewas. Aku memberimu kesempatan pergi dari sini dan bawa mereka." Guo Sheng memperingatkan
" Hahaa...kau mulai takut tidak bisa menang melawanku ya.?" Deng Weishang percaya diri.
Guo Sheng tidak menanggapinya. Dia menarik pedangnya dari medan pertempuran.
Deng Weishang segera mengakses Cincinnya dan mengeluarkan Pusaka Dewa yang di dapatnya dalam beberapa bulan ini yaitu: "Tongkat Mustika Dewa"
Deng Weishang menguasai jurus tongkat delapan penjuru angin, ditambah tehnik tenaga dalam Kitab Naga Hitam, plus pusaka Tongkat Mustika Dewa. Dia yakin dapat mengalahkan Guo Sheng dengan mudah.
'Penjahat tua ini, ternyata benar-benar berhasil mengumpulkan banyak pusaka bertuah dalam. beberapa waktu. Jika dibiarkan dia akan tambah menjadi-jadi.' Guo Sheng bergumam pada dirinya sendiri.
" Guo Sheng, selama ini orang-orang Sekte Pedang Langit selalu menghalangi langkahku, hari ini aku akan mengakhirinya." Deng Weishang dengan optimis tersenyum penuh kemenangan.
" Lakukanlah apa yang bisa kau lakukan," jawab Guo Sheng tenang.
Deng Weishang memutar tongkatnya berputar cepat dan tambah cepat seperti kincir angin menimbulkan badai kecil yang kuat. Guo Sheng menghindar terbang melayang ke udara.
Deng Weisheng mengikutinya, sehingga keduanya sekarang berada diatas udara seperti Song Jin dan Han Bo.
Semua orang dibuat kagum dengan Keempat Pendekar Gerbang Delapan itu, mereka terbang melayang dengan ringan tanpa beban.
" Dugaanku benar, kau mulai tidak percaya diri menghadapiku." Deng Weishang tersenyum mengejek.
" Baiklah, kalau kau menganggapnya demikian, tetapi bagaimana dengan ini." Guo Sheng mengerahkan tenaga dalam tinggi dan memutar Pusaka Pedang Api hingga mengeluarkan api besar yang menyembur musuh.
Deng Weishang menghadang dengan jurus delapan penjuru angin. Api tersebut mengurung dan menyembur, tetapi angin yang di bentuk jurusnya mampu melindungi tubuh, sehingga api itu tidak mampu membakar atau melukai dirinya.
Namun Guo Sheng tidak berhenti, dia mengeluarkan jurus yang lebih tinggi
Alasan Guo Sheng menghindar dan terbang ke udara bukan takut pada Deng Weishang, tetapi mencari tempat agar dia bisa mengeluarkan potensi kekuatan Pedang Api secara maksimal tanpa hawatir mengenai atau membakar rekan-rekannya yang lain.
Jurus yang dikeluarkan Guo Sheng kali ini lebih kuat dari sebelumnya. Api keluar bergelombang dari seluruh bagian pedang menggulung lawan yang ada didepan.
__ADS_1
Deng Weisheng dengan tenang mengeluarkan energi lebih tinggi dan memutar tongkat pusaka dewa menghadang api, terjadi pusaran angin membuyarkan gulungan api besar.
Praktis ini menjadi pertarungan antara kekuatan Angin dan Api. Guo Sheng sengaja menguras tenaga dalam lawan, dengan banyaknya energi yang dibutuhkan, untuk mengendalikan Pusaka Hebat yang digunakan.